Selasa, 21 Januari 2014

In Memoriam : 30 DE SOCIAL CLUB



Hari itu hujan masih turun dengan derasnya di luar. Melalui twitter saya melihat bahwa akses untuk ke apartemen saya sudah tertutup oleh banjir. Tapi saya memutuskan untuk tetap pergi ke apartemen saya sekedar untuk membereskan barang-barang saya dan isteri ke dalam kardus-kardus yang sudah saya beli hari kemarin. Saya pun memutuskan untuk pergi dengan bersepeda menuju 30 DESocial Club. 

Perasaan saya menjadi sentimentil ketika saya harus memasukkan satu-persatu barang-barang saya kedalam kardus. Saya memilah-milah mana yang akan tetap menemani saya dan mana yang harus saya buang. Setiap barang punya kenangan tersendiri di hati saya, sekecil apapun itu. Tidak hanya barang-barang yang mempunyai kenangan, tempat ini, 30 DE Social Club adalah hal yang terberat yang terpaksa harus saya tinggalkan.  Sambil membereskan barang-barang, saya kembali mengingat semua peristiwa yang terjadi di tempat itu.

Sebelum menjadi 30DE Social Club, tempat itu (kalau tidak salah) bernama The Awang-Awang Residence.  Dulu tempat ini dihuni oleh seorang artist tato dan pasangannya. Mereka adalah pasangan yang cukup kinky. Terbukti dari sebuah borgol warna pink yang tertinggal tergantung di tembok. Sebagai bentuk penghormatan bagi mereka, maka kami memutuskan untuk tetap membiarkan borgol pink itu tetap pada tempatnya. Sampai suatu hari keika keluarga saya datang untuk berkunjung, maka terpaksa borgol itu saya sembunyikan agar mereka tidak berpikir yang aneh-aneh tentang saya.

Adapun alasan saya menamakan apartemen itu menjadi 30DE Social Club adalah karena selain memang letaknya di lantai 30 unit DE, bagi saya tempat itu sudah menjadi ajang berkumpul sahabat-sahabat dan handai taulan kami untuk bisa berbagi suka maupun duka. 
Hampir tiap kali selalu saja ada bunyi suara gitar dan lantunan lagu-lagu sumbang yang terdengar dari mulut kami yang sedang mabuk. Mungkin satu-satunya suara merdu yang terdengar hanyalah dari mulut istri saya, Itta. Maklum saja, namanya juga penyanyi. Musik dan alkohol hampir selalu saja menyemarakkan tempat itu layaknya sebuah bar atau club.  

Kini semuanya harus berlalu. Atas nama masa depan yang lebih baik, maka saya dan istri memutuskan untuk pindah. Jujur saja, penghasilan saya yang tak seberapa, ditambah lagi dengan akan hadirnya buah hati kami dalam waktu dekat, membuat saya harus dengan sangat terpaksa meninggalkan tempat itu. 
Segala kenangan baik yang pernah terjadi juga rasanya tidak sebanding dengan biaya listik, air serta uang kebersihan dan keamanan yang selalu mengalami kenaikan. Atas dasar itulah maka kami memutuskan untuk pindah. 

Keesokan harinya, hujan masih juga turun dengan derasnya. Bersama Bang Jejen, sahabat lama keluarga kami, secara bertahap kami berdua membawa barang-barang yang telah dikarduskan itu untuk menuju truk yang sudah menunggu di lantai bawah. Selain memang kardus-kardus itu memiliki beban yang cukup berat, namun hal yang terberat bagi saya ialah ketika harus menyaksikan ruangan yang pernah menjadi tempat saya berteduh selama 3 tahun ini perlahan-lahan kosong.  Ada suatu perasaan sedih yang makin lama semakin berkecamuk di dalam dada saya. 

Sampai ketika 30 DE Social Club benar-benar kosong dan saya harus benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, saya meminta waktu sebentar untuk sekedar berdiam diri dan membakar sebatang rokok sambil mengingat -ingat segala hal yang pernah terjadi di tempat ini. 
Dalam keheningan tiba-tiba hp saya berbunyi. "Masih lama mas? Sebab kita harus segera berangkat!" tanya sopir truk yang sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi.
Saya kembali memandangi seluruh bagian ruangan, mematikan rokok, dan lantas bergegas pergi menutup dan mengunci pintu.  












Terimakasih 30 DE SOCIAL CLUB, semoga kelak dikemudian hari nanti engkau bisa menjadi berkat bagi penghuni baru mu.



Hormat kami,



Agan Harahap & Ita S Mulia










Selasa, 24 Desember 2013

Selamat Natal





Salah satu yang membedakan natal tahun ini dengan natal-natal sebelumnya adalah makin sepinya ucapan-ucapan selamat melalui sms.  

Saya terkenang 2-3 tahun lalu ketika handphone saya belum memiliki piranti sosial media. Bisa sampai ratusan  sms natal yang masuk dan tidak mungkin saya balas semua. Bahkan tak jarang juga ada 2-3 ucapan yang sama (standar sms berantai). Saya pun acap kali bertanding dengan adik saya tentang siapa yang paling banyak menerima sms selamat natal. 

Sekarang teknologi sudah semakin berkembang dan sampai saat ini, saya belum menerima satupun ucapan natal via sms di handphone saya. Sebagai gantinya, hampir seluruh sosial media yang saya ikuti marak dengan puluhan bahkan ratusan notifikasi berbagai ucapan selamat hari natal yang dengan mudah (dan tanpa biaya sms), bisa saya balas satu per satu.

Sebelum ucapan melalui sms atau bahkan melalui piranti sosial media menjadi trend, kartu natal dan telegram sudah tentu menjadi pilihan favorit untuk menyampaikan ucapan sukacita ini. Saya ingat, dulu, setiap natal, pemerintah selalu menyediakan berbagai seri telegram ucapan natal. Dan karena ada saudara yang bekerja di kantor pos (dulu untuk mengirim telegram, kita bisa melalui kantor pos), maka kami pun kerap mendapatkan telegram natal dengan berbagai serialnya.
Saya juga teringat, dulu, kurang-lebih seminggu setiap menjelang natal, rumah kami selalu dibanjiri oleh kartu natal dari handai taulan dan sanak famili. Salah satu kebiasaan di rumah kami yang cukup menarik, setiap hari natal ibu selalu menggantung puluhan kartu natal dan telegram di jendela rumah sebagai bagian dari dekorasi natal di rumah kami. Dekorasi itu tetap bertahan sampai beberapa hari setelah tahun baru. Dan saya selalu saja malas ketika harus membereskan ratusan kartu natal yang menggantung di jendela itu.

Bicara soal sms natal, saya selalu punya sms ucapan natal andalan yang setiap tahun selalu saya kirimkan untuk membalas semua sms-sms natal yang standard template itu. 
( hampir selama 4-5 tahun, ucapan natal via sms saya selalu sama). Sms natal itu saya kutip dari sajak berjudul 'Natal' karya Sitor Situmorang. Ucapan itu tanpa sengaja saya ketemukan di buku kumpulan puisi Sitor Situmorang kepunyaan alm. Bapak saya. Saya merasa ucapan natal itu cukup gagah dan cocok untuk saya sebab saya kurang suka ucapan-ucapan natal yang mengandung sinterklas, salju-salju dan unsur-unsur natal klise lainnya yang tidak cocok untuk negara tropis kita. 
Sampai kemarin siang saya mencoba mengingat-ingat puisi itu secara lengkap  namun sulit rasanya. Karena puisi itu cukup panjang. Saya sudah coba search di google, tapi tidak saya temukan. Lantas saya membongkar gudang dan peti-peti berisi buku-buku saya, namun buku itu tidak kunjung saya temukan juga. Entah dimana buku itu sekarang. Tapi kalau tidak salah, kira-kira beginilah bunyi sms ucapan Natal saya selama bertahun-tahun silam:

Tiap kelahiran adalah revolusi.
Tiap kelahiran dunia menjadi baru.
Kristus, jendral pemberontak segala zaman,
dilahirkan untuk memperbaharui dunia.

Menyambut Kristus, kita menyambut revolusi.
Menyambut Kristus, kita membangun dunia baru.


Pagi ini saya bangun. Dan seperti pagi-pagi yang lain, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka handphone dan melihat notifikasi sambil merokok. Memang saya akui, bahwa saya sudah tidak pernah lagi berdoa setiap kali bangun tidur kecuali ada hal-hal khusus yang meresahkan hati saya. Pagi ini, ada sekitar 70-an notifikasi di path, 200-an notifikasi di instagram dan sekitar 30-an notifikasi di twitter di tambah belasan email ucapan selamat natal. Tanpa satu-pun sms natal apalagi kartu natal atau bahkan telegram. 

Ucapan selamat Natal sudah termodifikasi dengan sendirinya sesuai dengan perkembangan jaman. Natal kali ini dipenuhi oleh ratusan notifikasi. Entah bagaimana pula bentuk ucapan selamat natal di tahun-tahun mendatang. 
Namun apapun bentuk modifikasinya kelak, tapi kiranya damai dan sukacita natal selalu tetap dan tidak berubah di hati kita sekalian. 

Selamat Natal! 

* Agan Harahap yang tidak begitu suka dengan Santa Claus

Senin, 09 Desember 2013

Aku Berfoto, Maka Aku Ada






A: "Ih.. Narsis banget seh loch?!? dikit-dikit poto selfie.."
B: "Ihhhh..Biarin ajah keleuss.. Mau guwe aplot di path nech!"
A: "Eh, Tag guwe juga keleuss..?!? " 
B: "Okeh say.."
*Percakapan antara 2 karyawati di atas berlangsung di sebuah warung Indomie tadi pagi.

Dewasa ini, ketika teknologi komunikasi sudah sedemikian canggihnya, cukup sering kita mendengar istilah-istilah seperti narsisme, selfie, tongsis dan segala hal yang berhubungan dengan ke-egoan kita. Dan perilaku selfportrait menjadi sesuatu fenomena yang semakin sering terjadi di sekeliling medan sosial kita. 
Teknologi komunikasi pun semakin ramah untuk ekonomi masyarakat kita yang (konon katanya) sedang dalam kondisi prihatin. Berbagai perusahaan handphone dan provider berlomba-lomba untuk menawarkan berbagai kemudahan (atau kerumitan) ini kepada kita denga harga yang semakin lama semakin terjangkau. Sekarang, kita dapat dengan mudahnya memberi tahu posisi keberadaan kita sekaligus menginformasikan hidangan apa yang sedang kita nikmati dan berbagai 'hal-hal penting' lainnya. Pendek kata, hampir tidak ada ruang privasi lagi antara kita dan medan sosial di sekeliling kita. 
Pada dasarnya, bercermin atau melihat diri sendiri merupakan 'perilaku purba' manusia. Tak bisa dipungkiri bahwa kita senang melihat diri kita berada dalam berbagai media baik itu lukisan, foto atau bahkan hanya sekedar terlihat numpang lewat dalam  liputan televisi.
Sampai pada (kurang-lebih) satu dekade lalu, sebelum teknologi kamera digital mulai menjamur, istilah self portrait hanya dimiliki oleh kaum fotografer atau seniman. Karena hanya dengan skill tertentu-lah seseorang bisa menghasilkan potret dirinya baik itu dengan media lukisan maupun fotografi. Dan ketika mereka  (kaum seniman) menggunakan dirinya sebagai salah satu media untuk representasi dari pemikiran-pemikirannya, maka self-portrait menjadi lekat hubungannya dengan karya-karya seni.
Lantas, bagaimana dengan selfie? Fenomena selfie mulai muncul seiring sejalan dengan perkembangan teknologi komunikasi yang mulai merasuki hampir di segala lini kehidupan sosial kita. Istilah selfie merupakan pengembangan dari self portrait walau pada prakteknya adalah sama. Saat ini  semua orang bisa memotret dan fotografi sudah tidak lagi dimiliki oleh kalangan fotografer saja.  Fotografi sudah menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Dan ketika semua orang bisa memotret, tentu 'perilaku purba' yang saya jabarkan di atas tadi akan muncul dan mewabah dengan sendirinya. 
Selfie adalah tindakan memotret diri sendiri tanpa tendensius apapun ke arah seni. Baik itu sekedar mendokumentasikan raut wajah, hidangan yang sedang disantap, kebersamaan dengan handai taulan, maupun sebagai ajang eksistensi di berbagai lokasi. Perilaku dan fenomena selfie muncul sebagai konsekuensi dari berbagai kemajuan teknologi yang tumbuh dengan pesat. Walau terkadang berbagai kemajuan teknologi ini tidak bertumbuh seiring sejalan dengan pola pikir dan mentalitas sebagian orang. 

Dan sudah barang tentu, bahwa tidak ada yang salah sama sekali dengan perilaku selfie ini. Hidup adalah pilihan. Dan kini, semuanya kembali kepada diri kita sendiri. Tinggal darimana dan bagaimana cara kita menyikapi fenomena selfie ini. 

Agan Harahap


Tulisan di atas dibuat untuk merespon sebuah acara pameran bertema 'selfie' yang telah berlangsung di Galeri Cemara 6 beberapa waktu yang lalu. Saya bersama dengan Narpati Awangga ( Oom Leo) dan Jimi Multhazam bertindak sebagai narasumber dalam acara talkshow dan workshop yang diadakan guna menyikapi dan mensiasati fenomena selfie yang mewabah dewasa ini.
Jimi Multhazam mencoba merespon tema selfie ini dengan kemampuannya dalam drawing dan melukis. Sementara OomLeo menggunakan teknik pixel art untuk menghasilkan sebuah bentuk selfie yang kreatif dan berseni. Saya sendiri, memperkenalkan teknik montase digital dengan photoshop.
Adapun pameran, talkshow dan workshop tersebut merupakan hasil kerjsama yang solid antara kami sebagai seniman dengan Sampoerna A yang memang kerap mendukung berbagai perhelatan kreatif seperti ini


Beberapa karya dari peserta pameran yang didisplay di dalam ruang galeri

Suasana Talkshow yang berlangsung pada siang hari yang berbahagia itu
Oom Leo, Jimi Multhazam, saya dan Saleh Husein






Minggu, 08 Desember 2013

Sejarah_X (Klipping)







 

Silakan klik untuk memperbesar.
Selamat membaca! :) 

Sejarah_X

-->



 
Buku ini adalah 'tribute' bagi seorang saksi sejarah yang bernama Amrizal Chaniago. Lahir di Bukit Tinggi, Sumatera Barat pada tahun 1935, Amrizal sejak kecil sudah memiliki ketertarikan dan bakat pada dunia seni dan fotografi. Walau memang fotografi pada jaman itu tidak semarak seperti sekarang. Fotografi masih merupakan barang mewah yang hanya mampu dimiliki oleh kaum borjuis pada masa itu. Berbekal doa restu dan rahmat Illahi, serta teguh berpegang pada ajaran adat dan agama, Amrizal akhirnya memberanikan diri untuk merantau mengadu nasib ke Ibu Kota untuk memulai hidup baru dan berkarir dan sebagai fotografer. Berawal dari pekerjaannya di sebuah studio foto di bilangan Jakarta Barat, akhirnya Amrizal Chaniago mampu menjadi salah satu fotografer kepresidenan Republik Indonesia.
Tidak hanya menjadi fotografer di lingkungan istana negara saja, Amrizal pun berkelana melintasi samudera dan benua demi mendokumentasikan segala kegiatan kepresidenan dan kenegaraan yang ditugaskan kepadanya.
Buku ini merangkum sekelumit kisah 'sepak-terjang' Amrizal Chaniago dalam memulai kariernya, sampai menjadi saksi dari berbagai peristiwa, skandal dan konspirasi-konspirasi yang terjadi di penghujung masa pemerintahan Orde Lama. 

Pada Jakarta Biennale 2013 kali ini, Sejarah_X menghadirkan kembali beberapa koleksi foto Amrizal Chaniago yang dibuatnya dari tahun 1959-1964. Dalam kesempatan yang sama, Sejarah_X sekaligus juga mengadakan launching serta pembagian buku Membidik Sejarah secara cuma-cuma bagi para hadirin yang datang pada malam yang berbahagia itu.
Kiranya buku serta pameran ini dapat menjadi sumbangsih yang berarti bagi sejarah Indonesia pada umumnya dan menjadi pedoman bagi penggiat fotografi pada khususnya.






*Sejarah _X adalah sebuah kelompok studi yang mengkhususkan diri untuk meneliti, mempelajari serta mendata kisah-kisah yang tidak tercatat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sejarah_X juga menghimpun serta merangkum penggalan-penggalan kisah kehidupan dari saksi-saksi pelaku sejarah itu sendiri.

Senin, 30 September 2013

Berziarah Ke Tanah Merah (3)


Blitar 

Pemuda itu tampak gelisah. Berkali- kali ia merubah posisi duduknya seraya sebentar-sebentar merapihkan poni lemparnya. Dari Earphone yang dipasang di telinganya, terdengar lagu 'Diari Depresi ku' yang dibawakan oleh Last Child. Sebuah band yang kini sedang digandrungi 'para remaja lintas lapisan'. Itulah pemandangan yang terpaksa harus saya saksikan selama hampir 4 jam ketika duduk di sebelahnya menuju kota Blitar. Sesampainya disana, atas instruksi dari pak Handoko, saya pun menemui pak Budi. SMS dari pak Handoko mengatakan bahwa, untuk menemui pak Budi, saya harus mencari toko jam dan kacamata di depan stasiun Blitar. "Alamak, bagaimana pula saya bisa menemui orang yang benama Budi? Bukankah ada jutaan orang yang bernama Budi di negara ini?" pikir saya. Seturunnya di terminal, saya langsung meminta ojek untuk mengantar saya ke stasiun Blitar. Dan ternyata, di depan stasiun Blitar terdapat puluhan toko yang menjual jam dan kacamata. Sungguh sulit sekali mencari orang yang benama Budi diantara puluhan toko serupa. "Mas, kenal yang namanya pak Budi?" tanya saya pada seorang mas-mas yang menunggu pelanggan di tokonya. "Wah,. Budi yang mana nih mas? Ada tiga orang yang namanya Budi disini". Dengan spontan saya pun langsung menjawab, " Oh.. Pak Budi yang sudah Tua". Sudah tentu pak Budi yang saya maksudkan, pasti sudah sepuh. "Ohh.. Itu mas tokonya" sambil menunjuk sebuah toko yang terletak beberapa belas meter dari tokonya. Ketika saya temui, beliau sedang melayani pelanggannya. Pak Budi tampak sedang memasang lensa kacamata yang baru selesai di buatnya. 

" Kamu Agan yaa? Saya sudah tunggu kamu. Duduk saja dulu disitu." 
Pak Budi adalah seorang ahli kacamata dan jam tangan. Selesai melayani pelanggan, kami mengobrol sebentar seputar maksud dan tujuan saya datang ke kotaBlitar. 
Dengan mengendarai sepeda motor, kami berdua menuju rumah pak Yatman yang berada di sebuah desa di Blitar Selatan. Cukup jauh jarak yang harus kami tempuh untuk mencapai rumah pak Yatman. Kurang lebih sekitar 1 jam berkendara menuju arah selatan Blitar. 

Rumah pak Yatman yang menjadi 'base camp' saya selama di Blitar Selatan
Bapak Suyatman atau biasa dipanggil dengan nama pak Yatman
Rumah itu cukup menyenangkan. Sebagaimana layaknya seorang yang tumbuh di kota besar, saya pun terkesima dengan kehidupan agraris yang di jalani oleh pak Yatman dan keluarga. Di halaman depan, tampak hamparan padi dan jagung yang sedang dijemur. Dan di dalam rumah dipenuhi oleh karung-karung beras. Setelah menaruh barang-barang di kamar yang telah disiapkan oleh pak Yatman, kami pun segera larut dalam sejarah kelam di kota Blitar. Tahun 65, di kota Blitar tidak begitu banyak anggota/ simpatisan PKI yang di tangkap dan di bunuh. Bahkan rumah keluarga pak Yatman pun sempat dijadikan 'pos bayangan' untuk petugas keamanan yang beroperasi disana. Keadaan justru bertambah kacau 3 tahun kemudian. Tepatnya tahun 68. Menurut penuturan pak Yatman, akibat berbagai peristiwa pembunuhan yang terjadi di tahun 65, sebagian besar anggota PKI yang masih tersisa mencoba melarikan diri dan membangun kekuatan di Blitar Selatan. Maka dari itu digelarlah sebuah operasi besar-besaran untuk menumpas habis PKI di daerah itu. Operasi itu dikenal dengan nama Operasi Trisula. Begitu banyak kisah-kisah tragis yang diceritakan pak Yatman. Para aparat bisa dengan sembarang menangkap dan membunuh siapapun yang dicurigai sebagai anggota dan simpatisan PKI. Seorang peternak sapi dihabisi di depan keluarganya hanya karena semata-mata di kebunnya ditemukan arit. Oleh aparat, peternak itu dituduh PKI lantas dibunuh dan sapi-sapi nya kemudian diambil dan dijual. 
Pada masa itu penduduk Blitar Selatan berkurang drastis. Dan yang lebih menyedihkan, bahwa sebagian yang ditangkap dan dibunuh adalah para guru ( terkait dengan PGRI Kongres dan PGRI Non Vaksentral). Sehingga banyak siswa yang terlantar karena tidak adanya tenaga guru pengajar. Tidak hanya guru, namun para pejabat aparatur desa pun mengalami nasib yang sama. Ditangkap, ditahan dan hilang begitu saja.
Sebagai tindak lanjutan dalam rangka re-stabilisasi, tentara pun menunjuk seseorang yang dinamakan 'caretaker', untuk menjaga ketertiban di daerah itu. Pada prakteknya, caretaker, yang notabene adalah seorang perwira tentara, dapat bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk. Bibi dari mantan pacar pak Yatman pada waktu itu, terpaksa harus rela menikah dengan caretaker setelah suaminya dibunuh. Namun cerita belum selesai sampai disitu. Rupanya sang caretaker itupun menikahi keponakan istrinya yang notabene adalah kekasih pak Yatman pada masa itu. Singkat cerita Pak Yatman yang mengaku hanya sebagai simpatisan pada masa itu ikut di tangkap dan dipenjarakan di penjara Kali Sosok, Surabaya. Kami terus berbincang sampai dini hari ditemani kacang rebus dan kopi panas. 

Kami berboncengan bertiga mengelilingi Blitar Selatan


Keesokan paginya, setelah mandi dan sarapan kami pun berkendara menuju lokasi kuburan massal dengan menyewa ojek. Karena saya dan pak Yatman tidak bisa mengendarai motor kopling, maka kami pun berboncengan bertiga menuju ke sebuah daerah perbukitan perkebunan tebu. Jarak yang harus kami tempuh cukup jauh, sementara kondisi jalan yang kami lalui begitu buruk. Tidak jarang kami pun harus turun dulu supaya motor bisa menanjak membelah jalan setapak menuju perkebunan tebu itu. Sesampainya disana, saya tidak melihat adanya tanda-tanda bekas kuburan massal. Hanya ribuan pohon tebu yang tumbuh dengan subur. 
"Masuk saja dik ke dalam, lurus saja" ujar pak Yatman. Saya yang bersemangat langsung saja menerobos kerimbunan pohon-pohon tebu itu. "Bah, tau gitu gue pakei jeket" ujar saya dalam hati setelah tangan saya lecet-lecet tergores pinggiran daun tebu yang memang cukup tajam. Setelah berjalan beberapa meter, saya menemukan sebuah 'kandang' (adapun kandang disini merupakan sebuah kuburan yang diberi atap sebagaimana layaknya rumah kecil). Setelah memotret dan berjalan lebih dalam lagi, saya menemui beberapa nisan dan kandang lain. Rupanya, inilah lokasi yang diceritakan oleh pak Yatman. Saya pun lansung dengan sigap memotret komplek kuburan massal tersebut. Menurut cerita seorang buruh tebu yang kami temui disana, dalam satu lubang, bisa diisi antara 10-15 jenazah. Dengan berdasarkan cerita itu, saya kalkulasikan kurang-lebih ada sekitar 70 an orang yang dibantai di tempat itu. 
Cukup 'puas' dengan lokasi tadi, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat yang cukup 'legendaris'. Tempat itu bernama Gua Tikus. Adapun sejarah Gua Tikus itu sendiri dimulai ketika ada hama tikus yang menyerang daerah Blitar Selatan sehingga memusnahkan hampir seluruh hasil panen di daerah tersebut. Warga pun secara bergotong royong membasmi tikus-tikus itu. Ketika dikejar dan dibasmi, tikus-tikus itu lari dan menghilang di bawah batu besar. Dan ketika batu besar itu digeser, ternyata terdapat gua kecil yang menjadi sarang dari tikus-tikus tersebut. Itulah asal-muasal kenapa tempat itu dinamakan Gua Tikus.
Jarak yang harus di tempuh untuk menuju gua Tikus itu cukup jauh dan kondisi jalan tidak kalah buruknya ketika kami pergi ke ladang tebu tadi. Terkadang kami harus turun dari motor untuk sekedar berbasa-basi dengan penduduk sekitar yang sedang mencari kayu atau berladang. Pak Yatman nampaknya cukup dikenal di daerah yang terpencil ini.
Setelah turun dari motor, kami harus berjalan kaki cukup jauh menembus ladang dan menyeberangi sungai kecil untuk mencapai Gua Tikus itu. Di atas gua itu tampak pohon bambu yang besar sekali. Konon pohon bambu itu sengaja ditanam sebagai penanda agar tidak ada orang atau ternak yang terjerembab masuk ke dalam lubang itu. 
Gua itu sangat kecil. Dengan diameter kira-kira 1,5 - 2 meter namun dalam sekali. Saya tidak bisa melihat dasar gua itu. Di dasar gua itu terdapat aliran sungai bawah tanah. Kembali menurut penuturan pak Yatman, para tersangka anggota atau simpatisan PKI yang di 'bon dari rumah-rumah tahanan sekitar, digiring ke gua itu pada subuh dini hari kemudian disuruh berjongkok di mulut gua itu lalu dipukul dengan besi di belakang kepalanya sehingga para korban secara otomatis jatuh ke dasar gua. 
Beberapa tahun yang lalu rupanya telah ada LSM dan mahasiswa pecinta alam yang sudah melakukan evakuasi. Mereka turun ke dasar gua dengan tali, memotret dan mengangkat tulang belulang manusia untuk dikuburkan secara normal. Saya tidak berlama-lama di lokasi itu, selain udara yang cukup panas, saya pun tidak bisa memotret banyak karena harus menghemat memory card. 

Kandang/ penanda kubur yang berbentuk seperti rumah kecil di tengah ladang tebu
Sebuah makam yang berisi 10-15 jenazah tersembunyi di tengah-tengah ladang tebu
Gua Tikus
Pusara yang tersembunyi di tengah ladang milik pak Markus Talam

Kami pun meneruskan perjalanan untuk beristirahat dan makan siang di monumen Trisula yang hanya berjarak setengah jam dari lokasi Gua Tikus tadi. Sesampainya disana, lokasi itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak sekolah yang sedang belajar merokok. Saya pun mendengarkan penjelasan pak Yatman tentang nama-nama 'pahlawan' yang terukir di monumen itu. Menurut penuturan beliau, beberapa nama anggota TNI yang meninggal disana, ternyata bukan mati terbunuh akibat kontak senjata dengan PKI. Melainkan mati tenggelam ketika sedang terjadi musibah banjir besar pada waktu itu. Sementara ada seorang anggota tentara lagi yang meninggal karena sakit. Saya pun hanya tertawa kecil setelah mendengarkan penjelasan pak Yatman yang cukup menggelikan itu. 
Setelah memotret dan beristirahat di monumen itu, kami pun melanjutkan perjalanan dengan memutar kembali menuju daerah Tambak Rejo. Disana pak Yatman mempertemukan saya dengan temannya, sesama eks tapol yang bernama Markus Talam. Adapun pak Markus ini dulu bekerja di dinas perkebunan di daerah Blitar. Dan tanpa sebab yang jelas, pak Markus pun di tangkap dan di buang ke pulau Buru. Setelah bercerita tentang pengalamannya, pak Markus pun mengantar kami menuju lokasi kuburan massal berikutnya. 
Ladang itu cukup asri, pohon-pohon jagung dan singkong terlihat ditata dengan rapih. Sekitar 30 meter di belakang ladang itu, terdapat rerimbunan semak dan pepohonan yang oleh pak Markus, sang empunya ladang dibiarkan begitu saja. Di pinggiran ladang, tampak 2 buah nisan tanpa nama yang saling berdekatan. Menurut cerita pak Markus, para anggota/simpatisan yang tertangkap dalam operasi Trisula, dibawa dan dihabisi di lokasi ini yang dulunya adalah hutan. Jumlah korban pun kurang lebih sama seperti di tempat-tempat lain. Antara 10-15 orang dalam 1 lobang. Setelah memotret kuburan itu, kami pun berpamitan karena pak Markus harus segera pergi ke Jakarta karena ada adiknya yang sedang sakit keras. 
Menjelang maghrib, kami pun kembali tiba di rumah kediaman pak Yatman. Setelah mandi dan makan malam, saya pun berkenalan dengan anak pak Yatman yang baru datang dari desa sebelah. Anak pak Yatman itu bernama sama dengan nama saya, Yohanes. Walaupun dia beragama Islam. Beliau menamai anaknya Yohanes, untuk mengingat nama seorang sahabatnya semasa dipenjara dahulu. 

Jari saya yang melepuh karena tidak terbiasa mengupas jagung.
Nasi pecel, dan tahu goreng yang menjadi sarapan kami pagi itu.

Sekitar pukul 9 malam Yohanes kembali ke rumahnya. Di ruang tamu terdengar suara acara talkshow yang ditayangkan di televisi swasta. Saya lebih memilih untuk duduk di halaman depan menemani pak Yatman dan istri untuk mengupas jagung yang baru selesai dijemur siang tadi. Saya lebih tertarik untuk mengobrol untuk menggali secara lebih dalam tentang peristiwa Trisula 68 serta kehidupan keseharian keluarga pak Yatman.
Pak Yatman kembali bercerita tentang operasi Trisula serta penangkapan tokoh-tokoh PKI di Blitar. Sebagian petinggi-petinggi dan simpatisan PKI melarikan diri dan bersembunyi di gua-gua kapur selatan Blitar. Para petinggi dan simpatisan itu menggunakan taktik ngalah, ngalih, ngalas dan ngantem yang kurang lebih artinya, mundur, pindah, mengalah, masuk hutan, lalu kemudian melawan. Menurut pemaparan beliau, para anggota dan simpatisan PKI yang bertahan masih beberapa kali mengadakan perlawanan dan kontak senjata sebelum akhirnya kalah akibat kekuatan yang tidak seimbang. Para petinggi yang tertangkap dan dibunuh antara lain adalah Ir. Surahman dan Oloan Hutapea. Pak Yatman pun bercerita tentang penangkapan ibu Putmainah yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Gerwani. Menurutnya, ibu Putmainah merupakan salah satu 'kloter terakhir' yang ditangkap tentara dari perbukitan kapur Blitar Selatan. 
Selain sejarah 65 dan 68, pak Yatman bercerita tentang keistimewaan telur di daerah Blitar Selatan. Menurutnya, telur ayam yang di produksi di daerah itu kulitnya cukup keras dan lebih bergizi karena air dan makanan ayam-ayam itu mengandung kadar mineral yang tinggi. Hari semakin larut dan kami pun mulai mengantuk. Saya izin untuk beristirahat karena keesokan paginya saya harus segera menuju stasiun Blitar untuk pulang ke Jakarta.

Pagi itu udara cukup dingin, tapi saya memberanikan diri untuk mandi ala kadarnya, sebab hari itu akan menjadi hari yang cukup panjang dan membosankan. Yak, saya akan kembali ke Jakarta. Setelah menyantap sarapan nasi pecel yang sudah dibuat oleh bu Yatman, saya pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih atas segala 'materi kuliah sejarah' yang sudah saya terima dari pak Yatman.  

Dalam perjalanan pulang


Sesampainya di kota Blitar, saya pun segera memesan tiket ke Jakarta. Karena jadwal keberangkatan kereta masih lama, saya pun mampir ke kios pak Budi yang terletak di depan stasiun.
Seperti biasa, pak Budi sedang sibuk melayani pelanggan yang hendak membuat kacamata ataupun hendak membeli jam. Cukup lama saya menemani beliau. Diusianya yang tidak lagi muda, dengan kacamata tebalnya ia tampak masih tangkas dan kecekatan membuka dan memasang mur-mur kecil untuk pengunci lensa kacamata. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya berpamitan dan segera bergegas menaiki kereta.
Kereta yang menuju Jakarta sangat ramai. Saya dikelilingi oleh serombongna keluarga dari Malang yang hendak menghadiri pernikahan di daerah Keramat Jati, Jakarta. Alih-alih bisa tertidur, saya terpaksa melayani obrolan mereka yang duduk di sekeliling saya. 

Menjelang pagi, saya beranjak ke bordes untuk mencari kesempatan supaya bisa merokok. Rupanya sudah tidak boleh lagi merokok di sambungan kereta itu. Tapi saya tidak peduli. Sekian jam tanpa asap rokok rasanya sungguh menyiksa buat saya. Saya membuka pintu bordes dan segera menyulut sebatang rokok.
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Nampaknya saya sudah berada di Jawa barat, dan beberapa saat lagi saya akan tiba di Jakarta.
Dari pintu bordes yang terbuka, saya melihat sekelebatan tampak anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Sepintas saya teringat akan pelarangan dan pembakaran buku-buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI di peristiwa G30S. Dan entah apapula yang dikatakan oleh guru-guru sekolah terhadap murid-muridnya seputar peristiwa 65. Entah sampai kapan kebohongan ini akan terus berlanjut. Semoga di masa-masa yang akan datang masyarakat perlahan-lahan mulai bisa membuka diri dan menerima fakta-fakta yang terjadi tentang G30S dan 65 supaya kebenaran dapat terkuak dan keadilan dapat ditegakkan.
Pemandangan sawah dan gunung pagi itu tampak seperti fragmen-fragmen yang terlihat samar berjalan dengan cepat seiring laju kereta. Saya menghisap asap rokok terakhir, menutup pintup pintu bordes dan kembali ke tempat duduk.



Agan Harahap





Berziarah Ke Tanah Merah (2)

Surabaya

Saya kembali terguncang-guncang di dalam bus patas. Butuh waktu 4 jam untuk mencapai Surabaya. Narasumber saya di surabaya memang belum memberikan tanggapan atas kedatangan saya. Tapi saya harus tetap ke Surabaya. Karena, untuk masuk ke wilayah-wilayah di Jawa Timur, saya harus mendapatkan izin dari ketua di Surabaya. Saya menghabiskan malam pertama saya di kota Surabaya dengan browsing dan minum bir di kamar hotel. Sinyal XL yang burukpun menambah parah hubungan saya dengan kekasih nun jauh di Kota Kembang.

Keesokan harinya, saya mendapat telepon dari ketua di Jawa Timur. Beliau akan datang dan menjemput saya di hotel, sekaligus mereka akan mengajak saya kepertemuan ex tapol yang diadakan di kantor KONTRAS Surabaya. Setelah memperkenalkan diri di hadapan para sesepuh itu, saya pun duduk dan mengikuti rapat. Rapat itu membicarakan tentang pendataan ulang korban-korban eks 65 karena data yang lama sudah tidak valid. Rapat berlangsung dengan cukup alot dengan berbagai tanggapan yang masuk di akal. Tapi saya tidak begitu ambil pusing. Maklum saja, para peserta rapat itu adalah orang-orang yang rata-rata sudah berusia di atas 70an. Mengingat faktor usia, dan trauma atas siksaan-siksaan yang mereka alami di era 65, wajar saja bila pembicaraan itu terkesan berputar- putar. Rapat ditutup, saya beserta pak Handoko ( ketua Jawa Timur), dan mas Yoyok, seorang anggota termuda berkendara menuju kediaman bapak Oey Hiem Hwie. Seorang ex tapol yang sekaligus tokoh sejarahwan di Surabaya. Entah apa pula maksud mereka mengajak saya kesini. Mungkinkah hendak'mencerahkan' saya, atau malah 'menguji' pengetahuan sejarah saya,.. Entahlah. Saya nikmati saja kunjungan itu dengan riang hati. 


Adapun pak Hwie, (panggilan akrab beliau), pada jamannya adalah seorang wartawan surat kabar Terompet Masyarakat. 
Karena dianggap pro-Soekarno, beliau akhirnya ditangkap dan di buang ke Pulau Buru. Disanalah beliau menjalin pertemanan dengan seorang penulis legendaris yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Dan oleh Pramoedya, beliau dipercayakan untuk menyimpan naskah asli (tulisan tangan dan cetak) beberapa buku-buku Pram. 

Sekembalinya dari Buru, pak Hwie bekerja menjadi tangan kanan Haji Masagung. Pak Hwie diberi kepercayaan untuk mengelola sebuah perpustakaan yang cukup istimewa karena diperpustakaan itu, kita dapat mencari segala buku yang dilarang beredar oleh rezim Soeharto. Tidak hanya buku, diperpustakaan itu (bisa juga dikatakan museum mini), kita pun dapat menyaksikan berbagai memorabilia peninggalan bung Karno seperti foto-foto, catatan pidato sampai poster dan ballpoint. Saya pun semacam mendapat pelajaran sejarah baru yang tidak pernah saya dapatkan di sekolah. Mulai dari 65, Supersemar, bahkan sampai pemberontakan Poh An Tui di Semarang dan etnisitas Wali Songo. Sebagai wartawan, beliau juga pernah berkesempatan untuk mengunjungi Peking ( Beijing) dan berfoto bersama ketua Mao Ze Dong.
Cukup lama kami berbincang-bincang dengan pak Hwie. Tanpa terasa waktu sudah semakin sore dan mas Yoyok harus menjemput anak-anaknya. Malam itu saya tinggal di tempat mas Yoyok. Kebetulan beliau memiliki sejumlah kamar yang disewakan untuk kos-kosan.

Salah satu koleksi pak Hwie ( naskah asli Pramoedya Anantatoer yang dibuat ketika di Pulau Buru)
Saya berfoto bersama pak Hwie
Keesokan harinya, saya dijemput pak Handoko untuk berkeliling kota Surabaya. Kami berdua mengendarai motor membelah kota Surabaya yang panas dan macet. Tujuan pertama adalah penjara Kalisosok. Penjara yang dibangun pada era kolonial ini sudah tidak terpakai. Namun oleh pemerintah bangunannya dijadikan semacam cagar budaya. Namun sayangnya bangunan itu nampak seperti tidak terawat dan kamipun tidak bisa masuk ke dalam. 
Pak Handoko sendiri pernah dipenjara di Kalisosok akibat dituduh terlibat dalam G30S. 
Karena kehidupan di dalam penjara yang begitu berat, hampir ada 4-6 orang yang mati setiap harinya. Bahkan menurut cerita, pernah ada sampai 12 orang yang mati dalam 1 malam. Baik itu karena disiksa ataupun mati karena kelaparan. Adapun para tahanan hanya diberi nasi jagung yang sudah bercampur dengan kerikil dan pasir sebagai konsumsi sehari-hari. 
Pak Handoko pun menuturkan, apabila ada rekan 1 sel yang meninggal, maka rekan-rekannya tidak akan segera melapor kepada petugas. Jenazah itu didiamkan begitu saja sampai beberapa hari agar jatah makanan tidak berkurang. Setelah jenazah mulai membusuk, barulah mereka melapor kepada petugas agar jenazah itu dibawa keluar sel.
Setelah dari Kalisosok, kami kembali berkendara menuju pekuburan umum ditengah kota Surabaya. Kuburan itu bernama Njarak. Pada tahun 65, setiap ada tahanan yang meninggal di Kalisosok, baik itu karena siksaan atau (kebanyakan) meninggal karena kekurangan gizi, pasti dikuburkan di areal belakang pekuburan ini. Saya pergi kesana dan melihat beberapa gundukan-gundukan yang ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Tak hanya itu, di area ini pun tampak juga beberapa nisan-nisan yang tidak bernama. Dulu daerah ini adalah daerah 'tempat jin buang anak'. Begitulah kira-kira istilah Betawi untuk menggambarkan daerah yang sepi dan jauh dari pemukiman. Namun seiring berjalannya waktu, maka daerah sekekeliling pekuburan itu kini sudah berubah menjadi daerah pemukiman padat penduduk. 
Saya dan pak Hadoko kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju ke arah hilir sungai Brantas di pinggiran kota Surabaya. Pak Handoko berkisah, semasa dia di dalam penjara, hampir setiap malam ada saja tahanan yang di 'bon' (dipanggil untuk dipindah). Namun istilah bon itu hanya sebatas istilah saja. Sebagaimana yang sudah diketahui, apabila ada  seseorang yang di 'bon, artinya, keesokan paginya hampir bisa dipastikan kalau ia sudah mati dibunuh. Dan sebagian besar para tahanan yang di 'bon dari Kalisosok, akan berakhir riwayatnya di hilir sungai Berantas ini.
Pada akhir 60-an sampai awal 70-an, hampir semua penduduk Surabaya tidak ada yang mau memakan ikan hasil tangkapan dari sungai Brantas. Konon, ikan-ikan sungai itu tumbuh sedemikian gemuk dan besar karena mengkonsumsi bangkai manusia yang dibuang di sungai Brantas itu.


Salah satu pojok penjara Kali Sosok
Pintu gerbang beserta salah satu tembok dari Penjara Kali Sosok
Suasana di Pemakaman Njarak

Hilir sungai Berantas, pelabuhan terakhir bagi orang-orang yang di 'bon dari Kalisosok.
Sayang sekali saya tidak bisa bercerita banyak tentang sejarah 65 di kota ini. Karena selain materi dan bahan yang saya pelajari sebelumnya, tidak begitu banyak yang menyinggung kota Surabaya. Dan beberapa titik situs yang berkaitan dengan sejarah 65 di kota ini pun sudah beralih fungsi bahkan sudah berubah sama sekali. Tapi bagaimanapun juga Surabaya adalah pintu masuk saya untuk meng-explore lebih jauh ke Jawa Timur. 
Keesokan paginya, ada sms dari pak Handoko, 'Dik Agan silakan menuju Blitar, nanti tinggal cari pak Budi di depan stasiun Blitar. Nanti beliau yang akan mengurus perjalanan anda selanjutnya'. 
Tanpa menunggu lama, mengingat waktu dan biaya yang semakin menipis, saya langsung berpamitan dengan mas Yoyok sang tuan rumah atas kebaikannya meminjamkan kamar kos-kosannya dan segera beranjak menuju terminal Bungurasih untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Blitar.

Bersambung,..