Tuesday night, the opening of the exhibition SUPERHEROS , welcomed the visitors to the Forum Meyrin . The
works exhibited were designed by a dozen exhibitors: Installation
François Burland (ch) & collages , Marvellini Brothers ( i) , old
photographs retouched , Vincent Cavaroc (en ) What's your superpower ? sound
installation , Grégoire Guillemin (fr), The Secret Life Of Heroes ,
paintings, Agan Harahap ( Indonesia ), Super Hero, photomontages , David
Lloyd ( gb ), V for Vendetta , illustrations, Dulce Pinzón ( mexico ) ,
True stories superhero , photographs, Ségolène Romier (ch ) Lavomatix ,
installation and Freeka Tet (fr), Metamorph , interactive installation.Appeared in the world of American comics in the early forties, superheroes are now ubiquitous in our real world.For ten years , Hollywood devotes a growing number of (super) productions, the public response to the appeal . Therefore
, television series psycho- socio- cultural analyzes , through
derivatives and countless advertising uses superheroes remember almost
daily our good memories . They accompany generations of fans by addressing universal challenges and support contemporary causes.Through bd boards , interactive installations , works of artists and
photographers , the exhibition offers a kaleidoscopic , entertaining and
multidisciplinary portrait of the modern myths that are super heroes .The exhibition continues until 28 February 2014 at the Forum Meyrin .
All photos from Demir SONMEZ
Rabu, 29 Januari 2014
Selasa, 21 Januari 2014
In Memoriam : 30 DE SOCIAL CLUB
Hari itu hujan masih turun dengan derasnya di luar. Melalui twitter saya melihat bahwa akses untuk ke apartemen saya sudah tertutup oleh banjir. Tapi saya memutuskan untuk tetap pergi ke apartemen saya sekedar untuk membereskan barang-barang saya dan isteri ke dalam kardus-kardus yang sudah saya beli hari kemarin. Saya pun memutuskan untuk pergi dengan bersepeda menuju 30 DESocial Club.
Perasaan saya menjadi sentimentil ketika saya harus memasukkan satu-persatu barang-barang saya kedalam kardus. Saya memilah-milah mana yang akan tetap menemani saya dan mana yang harus saya buang. Setiap barang punya kenangan tersendiri di hati saya, sekecil apapun itu. Tidak hanya barang-barang yang mempunyai kenangan, tempat ini, 30 DE Social Club adalah hal yang terberat yang terpaksa harus saya tinggalkan. Sambil membereskan barang-barang, saya kembali mengingat semua peristiwa yang terjadi di tempat itu.
Sebelum menjadi 30DE Social Club, tempat itu (kalau tidak salah) bernama The Awang-Awang Residence. Dulu tempat ini dihuni oleh seorang artist tato dan pasangannya. Mereka adalah pasangan yang cukup kinky. Terbukti dari sebuah borgol warna pink yang tertinggal tergantung di tembok. Sebagai bentuk penghormatan bagi mereka, maka kami memutuskan untuk tetap membiarkan borgol pink itu tetap pada tempatnya. Sampai suatu hari keika keluarga saya datang untuk berkunjung, maka terpaksa borgol itu saya sembunyikan agar mereka tidak berpikir yang aneh-aneh tentang saya.
Adapun alasan saya menamakan apartemen itu menjadi 30DE Social Club adalah karena selain memang letaknya di lantai 30 unit DE, bagi saya tempat itu sudah menjadi ajang berkumpul sahabat-sahabat dan handai taulan kami untuk bisa berbagi suka maupun duka.
Hampir tiap kali selalu saja ada bunyi suara gitar dan lantunan lagu-lagu sumbang yang terdengar dari mulut kami yang sedang mabuk. Mungkin satu-satunya suara merdu yang terdengar hanyalah dari mulut istri saya, Itta. Maklum saja, namanya juga penyanyi. Musik dan alkohol hampir selalu saja menyemarakkan tempat itu layaknya sebuah bar atau club.
Kini semuanya harus berlalu. Atas nama masa depan yang lebih baik, maka saya dan istri memutuskan untuk pindah. Jujur saja, penghasilan saya yang tak seberapa, ditambah lagi dengan akan hadirnya buah hati kami dalam waktu dekat, membuat saya harus dengan sangat terpaksa meninggalkan tempat itu.
Segala kenangan baik yang pernah terjadi juga rasanya tidak sebanding dengan biaya listik, air serta uang kebersihan dan keamanan yang selalu mengalami kenaikan. Atas dasar itulah maka kami memutuskan untuk pindah.
Keesokan harinya, hujan masih juga turun dengan derasnya. Bersama Bang Jejen, sahabat lama keluarga kami, secara bertahap kami berdua membawa barang-barang yang telah dikarduskan itu untuk menuju truk yang sudah menunggu di lantai bawah. Selain memang kardus-kardus itu memiliki beban yang cukup berat, namun hal yang terberat bagi saya ialah ketika harus menyaksikan ruangan yang pernah menjadi tempat saya berteduh selama 3 tahun ini perlahan-lahan kosong. Ada suatu perasaan sedih yang makin lama semakin berkecamuk di dalam dada saya.
Sampai ketika 30 DE Social Club benar-benar kosong dan saya harus benar-benar pergi meninggalkan tempat itu, saya meminta waktu sebentar untuk sekedar berdiam diri dan membakar sebatang rokok sambil mengingat -ingat segala hal yang pernah terjadi di tempat ini.
Dalam keheningan tiba-tiba hp saya berbunyi. "Masih lama mas? Sebab kita harus segera berangkat!" tanya sopir truk yang sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi.
Saya kembali memandangi seluruh bagian ruangan, mematikan rokok, dan lantas bergegas pergi menutup dan mengunci pintu.
Terimakasih 30 DE SOCIAL CLUB, semoga kelak dikemudian hari nanti engkau bisa menjadi berkat bagi penghuni baru mu.
Hormat kami,
Agan Harahap & Ita S Mulia
Selasa, 24 Desember 2013
Selamat Natal
Salah
satu yang membedakan natal tahun ini dengan natal-natal sebelumnya
adalah makin sepinya ucapan-ucapan selamat melalui sms.
Saya
terkenang 2-3 tahun lalu ketika handphone saya belum memiliki piranti
sosial media. Bisa sampai ratusan sms natal yang masuk dan tidak
mungkin saya balas semua. Bahkan tak jarang juga ada 2-3 ucapan yang
sama (standar sms berantai). Saya pun acap kali bertanding dengan adik
saya tentang siapa yang paling banyak menerima sms selamat natal.
Sekarang
teknologi sudah semakin berkembang dan sampai saat ini, saya belum
menerima satupun ucapan natal via sms di handphone saya. Sebagai
gantinya, hampir seluruh sosial media yang saya ikuti marak dengan
puluhan bahkan ratusan notifikasi berbagai ucapan selamat hari natal
yang dengan mudah (dan tanpa biaya sms), bisa saya balas satu per satu.
Sebelum
ucapan melalui sms atau bahkan melalui piranti sosial media menjadi
trend, kartu natal dan telegram sudah tentu menjadi pilihan favorit
untuk menyampaikan ucapan sukacita ini. Saya ingat, dulu, setiap natal,
pemerintah selalu menyediakan berbagai seri telegram ucapan natal. Dan
karena ada saudara yang bekerja di kantor pos (dulu untuk mengirim
telegram, kita bisa melalui kantor pos), maka kami pun kerap mendapatkan
telegram natal dengan berbagai serialnya.
Saya
juga teringat, dulu, kurang-lebih seminggu setiap menjelang natal,
rumah kami selalu dibanjiri oleh kartu natal dari handai taulan dan
sanak famili. Salah satu kebiasaan di rumah kami yang cukup menarik, setiap hari natal
ibu selalu menggantung puluhan kartu natal dan telegram di jendela
rumah sebagai bagian dari dekorasi natal di rumah kami. Dekorasi itu
tetap bertahan sampai beberapa hari setelah tahun baru. Dan saya selalu
saja malas ketika harus membereskan ratusan kartu natal yang menggantung
di jendela itu.
Bicara
soal sms natal, saya selalu punya sms ucapan natal andalan yang setiap
tahun selalu saya kirimkan untuk membalas semua sms-sms natal yang
standard template itu.
(
hampir selama 4-5 tahun, ucapan natal via sms saya selalu sama). Sms
natal itu saya kutip dari sajak berjudul 'Natal' karya Sitor
Situmorang. Ucapan
itu tanpa sengaja saya ketemukan di buku kumpulan puisi Sitor
Situmorang kepunyaan alm. Bapak saya. Saya merasa ucapan natal itu cukup
gagah dan cocok untuk saya sebab saya kurang suka ucapan-ucapan natal
yang mengandung sinterklas, salju-salju dan unsur-unsur natal klise
lainnya yang tidak cocok untuk negara tropis kita.
Sampai
kemarin siang saya mencoba mengingat-ingat puisi itu secara lengkap
namun sulit rasanya. Karena puisi itu cukup panjang. Saya sudah coba
search di google, tapi tidak saya temukan. Lantas saya membongkar gudang
dan peti-peti berisi buku-buku saya, namun buku itu tidak kunjung saya
temukan juga. Entah dimana buku itu sekarang. Tapi kalau tidak salah,
kira-kira beginilah bunyi sms ucapan Natal saya selama bertahun-tahun
silam:
Tiap kelahiran adalah revolusi.
Tiap kelahiran dunia menjadi baru.
Kristus, jendral pemberontak segala zaman,
dilahirkan untuk memperbaharui dunia.
Menyambut Kristus, kita menyambut revolusi.
Menyambut Kristus, kita membangun dunia baru.
Pagi ini saya bangun. Dan seperti pagi-pagi yang lain, hal pertama yang saya lakukan adalah membuka handphone dan melihat notifikasi sambil merokok. Memang saya akui, bahwa saya sudah tidak pernah lagi berdoa setiap kali bangun tidur kecuali ada hal-hal khusus yang meresahkan hati saya. Pagi ini, ada sekitar 70-an notifikasi di path, 200-an notifikasi di instagram dan sekitar 30-an notifikasi di twitter di tambah belasan email ucapan selamat natal. Tanpa satu-pun sms natal apalagi kartu natal atau bahkan telegram.
Ucapan
selamat Natal sudah termodifikasi dengan sendirinya sesuai dengan
perkembangan jaman. Natal kali ini dipenuhi oleh ratusan notifikasi.
Entah bagaimana pula bentuk ucapan selamat natal di tahun-tahun
mendatang.
Namun apapun bentuk modifikasinya kelak, tapi kiranya damai dan sukacita natal selalu tetap dan tidak berubah di hati kita sekalian.
Selamat Natal!
* Agan Harahap yang tidak begitu suka dengan Santa Claus
Senin, 09 Desember 2013
Aku Berfoto, Maka Aku Ada
A: "Ih.. Narsis banget seh
loch?!? dikit-dikit poto selfie.."
B: "Ihhhh..Biarin ajah
keleuss.. Mau guwe aplot di path nech!"
A: "Eh, Tag guwe juga
keleuss..?!? "
B: "Okeh say.."
*Percakapan antara 2 karyawati di
atas berlangsung di sebuah warung Indomie tadi pagi.
Dewasa ini, ketika teknologi
komunikasi sudah sedemikian canggihnya, cukup sering kita mendengar
istilah-istilah seperti narsisme, selfie, tongsis dan segala hal yang
berhubungan dengan ke-egoan kita. Dan perilaku selfportrait menjadi sesuatu fenomena
yang semakin sering terjadi di sekeliling medan sosial kita.
Teknologi komunikasi pun semakin
ramah untuk ekonomi masyarakat kita yang (konon katanya) sedang dalam kondisi
prihatin. Berbagai perusahaan handphone dan provider berlomba-lomba untuk menawarkan
berbagai kemudahan (atau kerumitan) ini kepada kita denga harga yang semakin
lama semakin terjangkau. Sekarang, kita dapat dengan mudahnya memberi tahu
posisi keberadaan kita sekaligus menginformasikan hidangan apa yang sedang kita
nikmati dan berbagai 'hal-hal penting' lainnya. Pendek kata, hampir tidak ada
ruang privasi lagi antara kita dan medan sosial di sekeliling kita.
Pada dasarnya, bercermin atau
melihat diri sendiri merupakan 'perilaku purba' manusia. Tak bisa dipungkiri
bahwa kita senang melihat diri kita berada dalam berbagai media baik itu
lukisan, foto atau bahkan hanya sekedar terlihat numpang lewat dalam
liputan televisi.
Sampai pada (kurang-lebih) satu
dekade lalu, sebelum teknologi kamera digital mulai menjamur, istilah self
portrait hanya dimiliki oleh kaum fotografer atau seniman. Karena hanya dengan
skill tertentu-lah seseorang bisa menghasilkan potret dirinya baik itu dengan
media lukisan maupun fotografi. Dan ketika mereka (kaum seniman)
menggunakan dirinya sebagai salah satu media untuk representasi dari
pemikiran-pemikirannya, maka self-portrait menjadi lekat hubungannya dengan
karya-karya seni.
Lantas, bagaimana dengan selfie?
Fenomena selfie mulai muncul seiring sejalan dengan perkembangan teknologi
komunikasi yang mulai merasuki hampir di segala lini kehidupan sosial kita.
Istilah selfie merupakan pengembangan dari self portrait walau pada prakteknya
adalah sama. Saat ini semua orang bisa memotret dan fotografi sudah
tidak lagi dimiliki oleh kalangan fotografer saja. Fotografi sudah
menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Dan ketika semua orang bisa
memotret, tentu 'perilaku purba' yang saya jabarkan di atas tadi akan muncul
dan mewabah dengan sendirinya.
Selfie adalah tindakan memotret diri
sendiri tanpa tendensius apapun ke arah seni. Baik itu sekedar
mendokumentasikan raut wajah, hidangan yang sedang disantap, kebersamaan dengan
handai taulan, maupun sebagai ajang eksistensi di berbagai
lokasi. Perilaku dan fenomena selfie muncul sebagai konsekuensi dari berbagai
kemajuan teknologi yang tumbuh dengan pesat. Walau terkadang berbagai kemajuan
teknologi ini tidak bertumbuh seiring sejalan dengan pola pikir dan mentalitas
sebagian orang.
Dan
sudah barang tentu, bahwa tidak ada yang salah sama sekali dengan perilaku selfie
ini. Hidup adalah pilihan. Dan kini, semuanya kembali kepada diri kita sendiri.
Tinggal darimana dan bagaimana cara kita menyikapi fenomena selfie
ini.
Agan Harahap
Tulisan di atas dibuat untuk
merespon sebuah acara pameran bertema 'selfie' yang telah berlangsung di Galeri
Cemara 6 beberapa waktu yang lalu. Saya bersama dengan Narpati Awangga ( Oom
Leo) dan Jimi Multhazam bertindak sebagai narasumber dalam acara talkshow dan
workshop yang diadakan guna menyikapi dan mensiasati fenomena selfie yang
mewabah dewasa ini.
Jimi Multhazam mencoba merespon
tema selfie ini dengan kemampuannya dalam drawing dan melukis. Sementara OomLeo
menggunakan teknik pixel art untuk menghasilkan sebuah bentuk selfie yang
kreatif dan berseni. Saya sendiri, memperkenalkan teknik montase digital dengan
photoshop.
Adapun pameran, talkshow dan
workshop tersebut merupakan hasil kerjsama yang solid antara kami sebagai
seniman dengan Sampoerna A yang memang kerap mendukung berbagai perhelatan
kreatif seperti ini
| Beberapa karya dari peserta pameran yang didisplay di dalam ruang galeri |
| Suasana Talkshow yang berlangsung pada siang hari yang berbahagia itu |
| Oom Leo, Jimi Multhazam, saya dan Saleh Husein |
Minggu, 08 Desember 2013
Sejarah_X
-->
*Sejarah _X adalah sebuah kelompok studi yang mengkhususkan diri untuk meneliti, mempelajari serta mendata kisah-kisah yang tidak tercatat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sejarah_X juga menghimpun serta merangkum penggalan-penggalan kisah kehidupan dari saksi-saksi pelaku sejarah itu sendiri.
Buku ini adalah 'tribute' bagi seorang
saksi sejarah yang bernama Amrizal Chaniago. Lahir di Bukit Tinggi, Sumatera
Barat pada tahun 1935, Amrizal sejak kecil sudah memiliki ketertarikan dan
bakat pada dunia seni dan fotografi. Walau memang fotografi pada jaman itu
tidak semarak seperti sekarang. Fotografi masih merupakan barang mewah yang
hanya mampu dimiliki oleh kaum borjuis pada masa itu. Berbekal doa restu dan
rahmat Illahi, serta teguh berpegang pada ajaran adat dan agama, Amrizal akhirnya
memberanikan diri untuk merantau mengadu nasib ke Ibu Kota untuk memulai hidup
baru dan berkarir dan sebagai fotografer. Berawal dari pekerjaannya di sebuah
studio foto di bilangan Jakarta Barat, akhirnya Amrizal Chaniago mampu menjadi salah
satu fotografer kepresidenan Republik Indonesia.
Tidak hanya menjadi fotografer di lingkungan
istana negara saja, Amrizal pun berkelana melintasi samudera dan benua demi
mendokumentasikan segala kegiatan kepresidenan dan kenegaraan yang ditugaskan
kepadanya.
Buku ini merangkum sekelumit kisah
'sepak-terjang' Amrizal Chaniago dalam memulai kariernya, sampai menjadi saksi
dari berbagai peristiwa, skandal dan konspirasi-konspirasi yang terjadi di
penghujung masa pemerintahan Orde Lama.
Pada Jakarta Biennale 2013 kali ini, Sejarah_X menghadirkan kembali beberapa koleksi foto Amrizal Chaniago yang dibuatnya dari tahun 1959-1964. Dalam kesempatan yang sama, Sejarah_X sekaligus juga mengadakan launching serta pembagian buku Membidik Sejarah secara cuma-cuma bagi para hadirin yang datang pada malam yang berbahagia itu.
Kiranya buku serta pameran ini dapat menjadi sumbangsih yang
berarti bagi sejarah Indonesia pada umumnya dan menjadi pedoman bagi penggiat
fotografi pada khususnya.
*Sejarah _X adalah sebuah kelompok studi yang mengkhususkan diri untuk meneliti, mempelajari serta mendata kisah-kisah yang tidak tercatat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sejarah_X juga menghimpun serta merangkum penggalan-penggalan kisah kehidupan dari saksi-saksi pelaku sejarah itu sendiri.
Senin, 30 September 2013
Berziarah Ke Tanah Merah (3)
Blitar
Pemuda itu tampak gelisah. Berkali- kali ia merubah posisi duduknya seraya sebentar-sebentar merapihkan poni lemparnya. Dari Earphone yang dipasang di telinganya, terdengar lagu 'Diari Depresi ku' yang dibawakan oleh Last Child. Sebuah band yang kini sedang digandrungi 'para remaja lintas lapisan'. Itulah pemandangan yang terpaksa harus saya saksikan selama hampir 4 jam ketika duduk di sebelahnya menuju kota Blitar. Sesampainya disana, atas instruksi dari pak Handoko, saya pun menemui pak Budi. SMS dari pak Handoko mengatakan bahwa, untuk menemui pak Budi, saya harus mencari toko jam dan kacamata di depan stasiun Blitar. "Alamak, bagaimana pula saya bisa menemui orang yang benama Budi? Bukankah ada jutaan orang yang bernama Budi di negara ini?" pikir saya. Seturunnya di terminal, saya langsung meminta ojek untuk mengantar saya ke stasiun Blitar. Dan ternyata, di depan stasiun Blitar terdapat puluhan toko yang menjual jam dan kacamata. Sungguh sulit sekali mencari orang yang benama Budi diantara puluhan toko serupa. "Mas, kenal yang namanya pak Budi?" tanya saya pada seorang mas-mas yang menunggu pelanggan di tokonya. "Wah,. Budi yang mana nih mas? Ada tiga orang yang namanya Budi disini". Dengan spontan saya pun langsung menjawab, " Oh.. Pak Budi yang sudah Tua". Sudah tentu pak Budi yang saya maksudkan, pasti sudah sepuh. "Ohh.. Itu mas tokonya" sambil menunjuk sebuah toko yang terletak beberapa belas meter dari tokonya. Ketika saya temui, beliau sedang melayani pelanggannya. Pak Budi tampak sedang memasang lensa kacamata yang baru selesai di buatnya.
" Kamu Agan yaa? Saya sudah tunggu kamu. Duduk saja dulu disitu."
Pak Budi adalah seorang ahli kacamata dan jam tangan. Selesai melayani pelanggan, kami mengobrol sebentar seputar maksud dan tujuan saya datang ke kotaBlitar.
Dengan mengendarai sepeda motor, kami berdua menuju rumah pak Yatman yang berada di sebuah desa di Blitar Selatan. Cukup jauh jarak yang harus kami tempuh untuk mencapai rumah pak Yatman. Kurang lebih sekitar 1 jam berkendara menuju arah selatan Blitar.
![]() |
| Rumah pak Yatman yang menjadi 'base camp' saya selama di Blitar Selatan |
![]() |
| Bapak Suyatman atau biasa dipanggil dengan nama pak Yatman |
Pada masa itu penduduk Blitar Selatan berkurang drastis. Dan yang lebih menyedihkan, bahwa sebagian yang ditangkap dan dibunuh adalah para guru ( terkait dengan PGRI Kongres dan PGRI Non Vaksentral). Sehingga banyak siswa yang terlantar karena tidak adanya tenaga guru pengajar. Tidak hanya guru, namun para pejabat aparatur desa pun mengalami nasib yang sama. Ditangkap, ditahan dan hilang begitu saja.
Sebagai tindak lanjutan dalam rangka re-stabilisasi, tentara pun menunjuk seseorang yang dinamakan 'caretaker', untuk menjaga ketertiban di daerah itu. Pada prakteknya, caretaker, yang notabene adalah seorang perwira tentara, dapat bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk. Bibi dari mantan pacar pak Yatman pada waktu itu, terpaksa harus rela menikah dengan caretaker setelah suaminya dibunuh. Namun cerita belum selesai sampai disitu. Rupanya sang caretaker itupun menikahi keponakan istrinya yang notabene adalah kekasih pak Yatman pada masa itu. Singkat cerita Pak Yatman yang mengaku hanya sebagai simpatisan pada masa itu ikut di tangkap dan dipenjarakan di penjara Kali Sosok, Surabaya. Kami terus berbincang sampai dini hari ditemani kacang rebus dan kopi panas.
![]() |
| Kami berboncengan bertiga mengelilingi Blitar Selatan |
Keesokan
paginya, setelah mandi dan sarapan kami pun berkendara menuju lokasi
kuburan massal dengan menyewa ojek. Karena saya dan pak Yatman tidak bisa mengendarai motor
kopling, maka kami pun berboncengan bertiga menuju ke sebuah daerah
perbukitan perkebunan tebu. Jarak yang harus kami tempuh cukup jauh,
sementara kondisi jalan yang kami lalui begitu buruk. Tidak jarang kami
pun harus turun dulu supaya motor bisa menanjak membelah jalan setapak
menuju perkebunan tebu itu. Sesampainya disana, saya tidak melihat
adanya tanda-tanda bekas kuburan massal. Hanya ribuan pohon tebu yang
tumbuh dengan subur.
"Masuk saja dik ke dalam, lurus saja" ujar pak Yatman. Saya yang bersemangat langsung saja menerobos kerimbunan pohon-pohon tebu itu. "Bah, tau gitu gue pakei jeket" ujar saya dalam hati setelah tangan saya lecet-lecet tergores pinggiran daun tebu yang memang cukup tajam. Setelah berjalan beberapa meter, saya menemukan sebuah 'kandang' (adapun kandang disini merupakan sebuah kuburan yang diberi atap sebagaimana layaknya rumah kecil). Setelah memotret dan berjalan lebih dalam lagi, saya menemui beberapa nisan dan kandang lain. Rupanya, inilah lokasi yang diceritakan oleh pak Yatman. Saya pun lansung dengan sigap memotret komplek kuburan massal tersebut. Menurut cerita seorang buruh tebu yang kami temui disana, dalam satu lubang, bisa diisi antara 10-15 jenazah. Dengan berdasarkan cerita itu, saya kalkulasikan kurang-lebih ada sekitar 70 an orang yang dibantai di tempat itu.
Cukup 'puas' dengan lokasi tadi, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat yang cukup 'legendaris'. Tempat itu bernama Gua Tikus. Adapun sejarah Gua Tikus itu sendiri dimulai ketika ada hama tikus yang menyerang daerah Blitar Selatan sehingga memusnahkan hampir seluruh hasil panen di daerah tersebut. Warga pun secara bergotong royong membasmi tikus-tikus itu. Ketika dikejar dan dibasmi, tikus-tikus itu lari dan menghilang di bawah batu besar. Dan ketika batu besar itu digeser, ternyata terdapat gua kecil yang menjadi sarang dari tikus-tikus tersebut. Itulah asal-muasal kenapa tempat itu dinamakan Gua Tikus.
Jarak yang harus di tempuh untuk menuju gua Tikus itu cukup jauh dan kondisi jalan tidak kalah buruknya ketika kami pergi ke ladang tebu tadi. Terkadang kami harus turun dari motor untuk sekedar berbasa-basi dengan penduduk sekitar yang sedang mencari kayu atau berladang. Pak Yatman nampaknya cukup dikenal di daerah yang terpencil ini.
Setelah turun dari motor, kami harus berjalan kaki cukup jauh menembus ladang dan menyeberangi sungai kecil untuk mencapai Gua Tikus itu. Di atas gua itu tampak pohon bambu yang besar sekali. Konon pohon bambu itu sengaja ditanam sebagai penanda agar tidak ada orang atau ternak yang terjerembab masuk ke dalam lubang itu.
Gua itu sangat kecil. Dengan diameter kira-kira 1,5 - 2 meter namun dalam sekali. Saya tidak bisa melihat dasar gua itu. Di dasar gua itu terdapat aliran sungai bawah tanah. Kembali menurut penuturan pak Yatman, para tersangka anggota atau simpatisan PKI yang di 'bon dari rumah-rumah tahanan sekitar, digiring ke gua itu pada subuh dini hari kemudian disuruh berjongkok di mulut gua itu lalu dipukul dengan besi di belakang kepalanya sehingga para korban secara otomatis jatuh ke dasar gua.
Beberapa tahun yang lalu rupanya telah ada LSM dan mahasiswa pecinta alam yang sudah melakukan evakuasi. Mereka turun ke dasar gua dengan tali, memotret dan mengangkat tulang belulang manusia untuk dikuburkan secara normal. Saya tidak berlama-lama di lokasi itu, selain udara yang cukup panas, saya pun tidak bisa memotret banyak karena harus menghemat memory card.
"Masuk saja dik ke dalam, lurus saja" ujar pak Yatman. Saya yang bersemangat langsung saja menerobos kerimbunan pohon-pohon tebu itu. "Bah, tau gitu gue pakei jeket" ujar saya dalam hati setelah tangan saya lecet-lecet tergores pinggiran daun tebu yang memang cukup tajam. Setelah berjalan beberapa meter, saya menemukan sebuah 'kandang' (adapun kandang disini merupakan sebuah kuburan yang diberi atap sebagaimana layaknya rumah kecil). Setelah memotret dan berjalan lebih dalam lagi, saya menemui beberapa nisan dan kandang lain. Rupanya, inilah lokasi yang diceritakan oleh pak Yatman. Saya pun lansung dengan sigap memotret komplek kuburan massal tersebut. Menurut cerita seorang buruh tebu yang kami temui disana, dalam satu lubang, bisa diisi antara 10-15 jenazah. Dengan berdasarkan cerita itu, saya kalkulasikan kurang-lebih ada sekitar 70 an orang yang dibantai di tempat itu.
Cukup 'puas' dengan lokasi tadi, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat yang cukup 'legendaris'. Tempat itu bernama Gua Tikus. Adapun sejarah Gua Tikus itu sendiri dimulai ketika ada hama tikus yang menyerang daerah Blitar Selatan sehingga memusnahkan hampir seluruh hasil panen di daerah tersebut. Warga pun secara bergotong royong membasmi tikus-tikus itu. Ketika dikejar dan dibasmi, tikus-tikus itu lari dan menghilang di bawah batu besar. Dan ketika batu besar itu digeser, ternyata terdapat gua kecil yang menjadi sarang dari tikus-tikus tersebut. Itulah asal-muasal kenapa tempat itu dinamakan Gua Tikus.
Jarak yang harus di tempuh untuk menuju gua Tikus itu cukup jauh dan kondisi jalan tidak kalah buruknya ketika kami pergi ke ladang tebu tadi. Terkadang kami harus turun dari motor untuk sekedar berbasa-basi dengan penduduk sekitar yang sedang mencari kayu atau berladang. Pak Yatman nampaknya cukup dikenal di daerah yang terpencil ini.
Setelah turun dari motor, kami harus berjalan kaki cukup jauh menembus ladang dan menyeberangi sungai kecil untuk mencapai Gua Tikus itu. Di atas gua itu tampak pohon bambu yang besar sekali. Konon pohon bambu itu sengaja ditanam sebagai penanda agar tidak ada orang atau ternak yang terjerembab masuk ke dalam lubang itu.
Gua itu sangat kecil. Dengan diameter kira-kira 1,5 - 2 meter namun dalam sekali. Saya tidak bisa melihat dasar gua itu. Di dasar gua itu terdapat aliran sungai bawah tanah. Kembali menurut penuturan pak Yatman, para tersangka anggota atau simpatisan PKI yang di 'bon dari rumah-rumah tahanan sekitar, digiring ke gua itu pada subuh dini hari kemudian disuruh berjongkok di mulut gua itu lalu dipukul dengan besi di belakang kepalanya sehingga para korban secara otomatis jatuh ke dasar gua.
Beberapa tahun yang lalu rupanya telah ada LSM dan mahasiswa pecinta alam yang sudah melakukan evakuasi. Mereka turun ke dasar gua dengan tali, memotret dan mengangkat tulang belulang manusia untuk dikuburkan secara normal. Saya tidak berlama-lama di lokasi itu, selain udara yang cukup panas, saya pun tidak bisa memotret banyak karena harus menghemat memory card.
![]() |
| Kandang/ penanda kubur yang berbentuk seperti rumah kecil di tengah ladang tebu |
![]() |
| Sebuah makam yang berisi 10-15 jenazah tersembunyi di tengah-tengah ladang tebu |
![]() |
| Gua Tikus |
![]() |
| Pusara yang tersembunyi di tengah ladang milik pak Markus Talam |
Kami
pun meneruskan perjalanan untuk beristirahat dan makan siang di monumen Trisula yang hanya
berjarak setengah jam dari lokasi Gua Tikus tadi. Sesampainya disana,
lokasi itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak sekolah yang sedang
belajar merokok. Saya pun mendengarkan penjelasan pak Yatman tentang
nama-nama 'pahlawan' yang terukir di monumen itu. Menurut penuturan beliau, beberapa nama anggota
TNI yang meninggal disana, ternyata bukan mati terbunuh akibat kontak
senjata dengan PKI. Melainkan mati tenggelam ketika sedang terjadi
musibah banjir besar pada waktu itu. Sementara ada seorang anggota tentara lagi yang meninggal
karena sakit. Saya pun hanya tertawa kecil setelah mendengarkan
penjelasan pak Yatman yang cukup menggelikan itu.
Setelah memotret dan beristirahat di monumen itu, kami pun melanjutkan perjalanan dengan memutar kembali menuju daerah Tambak Rejo. Disana pak Yatman mempertemukan saya dengan temannya, sesama eks tapol yang bernama Markus Talam. Adapun pak Markus ini dulu bekerja di dinas perkebunan di daerah Blitar. Dan tanpa sebab yang jelas, pak Markus pun di tangkap dan di buang ke pulau Buru. Setelah bercerita tentang pengalamannya, pak Markus pun mengantar kami menuju lokasi kuburan massal berikutnya.
Ladang itu cukup asri, pohon-pohon jagung dan singkong terlihat ditata dengan rapih. Sekitar 30 meter di belakang ladang itu, terdapat rerimbunan semak dan pepohonan yang oleh pak Markus, sang empunya ladang dibiarkan begitu saja. Di pinggiran ladang, tampak 2 buah nisan tanpa nama yang saling berdekatan. Menurut cerita pak Markus, para anggota/simpatisan yang tertangkap dalam operasi Trisula, dibawa dan dihabisi di lokasi ini yang dulunya adalah hutan. Jumlah korban pun kurang lebih sama seperti di tempat-tempat lain. Antara 10-15 orang dalam 1 lobang. Setelah memotret kuburan itu, kami pun berpamitan karena pak Markus harus segera pergi ke Jakarta karena ada adiknya yang sedang sakit keras.
Menjelang maghrib, kami pun kembali tiba di rumah kediaman pak Yatman. Setelah mandi dan makan malam, saya pun berkenalan dengan anak pak Yatman yang baru datang dari desa sebelah. Anak pak Yatman itu bernama sama dengan nama saya, Yohanes. Walaupun dia beragama Islam. Beliau menamai anaknya Yohanes, untuk mengingat nama seorang sahabatnya semasa dipenjara dahulu.
Setelah memotret dan beristirahat di monumen itu, kami pun melanjutkan perjalanan dengan memutar kembali menuju daerah Tambak Rejo. Disana pak Yatman mempertemukan saya dengan temannya, sesama eks tapol yang bernama Markus Talam. Adapun pak Markus ini dulu bekerja di dinas perkebunan di daerah Blitar. Dan tanpa sebab yang jelas, pak Markus pun di tangkap dan di buang ke pulau Buru. Setelah bercerita tentang pengalamannya, pak Markus pun mengantar kami menuju lokasi kuburan massal berikutnya.
Ladang itu cukup asri, pohon-pohon jagung dan singkong terlihat ditata dengan rapih. Sekitar 30 meter di belakang ladang itu, terdapat rerimbunan semak dan pepohonan yang oleh pak Markus, sang empunya ladang dibiarkan begitu saja. Di pinggiran ladang, tampak 2 buah nisan tanpa nama yang saling berdekatan. Menurut cerita pak Markus, para anggota/simpatisan yang tertangkap dalam operasi Trisula, dibawa dan dihabisi di lokasi ini yang dulunya adalah hutan. Jumlah korban pun kurang lebih sama seperti di tempat-tempat lain. Antara 10-15 orang dalam 1 lobang. Setelah memotret kuburan itu, kami pun berpamitan karena pak Markus harus segera pergi ke Jakarta karena ada adiknya yang sedang sakit keras.
Menjelang maghrib, kami pun kembali tiba di rumah kediaman pak Yatman. Setelah mandi dan makan malam, saya pun berkenalan dengan anak pak Yatman yang baru datang dari desa sebelah. Anak pak Yatman itu bernama sama dengan nama saya, Yohanes. Walaupun dia beragama Islam. Beliau menamai anaknya Yohanes, untuk mengingat nama seorang sahabatnya semasa dipenjara dahulu.
![]() |
| Jari saya yang melepuh karena tidak terbiasa mengupas jagung. |
![]() |
| Nasi pecel, dan tahu goreng yang menjadi sarapan kami pagi itu. |
Sekitar
pukul 9 malam Yohanes kembali ke rumahnya. Di ruang tamu terdengar
suara acara talkshow yang ditayangkan di televisi swasta. Saya lebih
memilih untuk duduk di halaman depan menemani pak Yatman dan istri untuk
mengupas jagung yang baru selesai dijemur siang tadi. Saya lebih
tertarik untuk mengobrol untuk menggali secara lebih dalam tentang
peristiwa Trisula 68 serta kehidupan keseharian keluarga pak Yatman.
Pak Yatman kembali bercerita tentang operasi Trisula serta penangkapan tokoh-tokoh PKI di Blitar. Sebagian petinggi-petinggi dan simpatisan PKI melarikan diri dan bersembunyi di gua-gua kapur selatan Blitar. Para petinggi dan simpatisan itu menggunakan taktik ngalah, ngalih, ngalas dan ngantem yang kurang lebih artinya, mundur, pindah, mengalah, masuk hutan, lalu kemudian melawan. Menurut pemaparan beliau, para anggota dan simpatisan PKI yang bertahan masih beberapa kali mengadakan perlawanan dan kontak senjata sebelum akhirnya kalah akibat kekuatan yang tidak seimbang. Para petinggi yang tertangkap dan dibunuh antara lain adalah Ir. Surahman dan Oloan Hutapea. Pak Yatman pun bercerita tentang penangkapan ibu Putmainah yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Gerwani. Menurutnya, ibu Putmainah merupakan salah satu 'kloter terakhir' yang ditangkap tentara dari perbukitan kapur Blitar Selatan.
Selain sejarah 65 dan 68, pak Yatman bercerita tentang keistimewaan telur di daerah Blitar Selatan. Menurutnya, telur ayam yang di produksi di daerah itu kulitnya cukup keras dan lebih bergizi karena air dan makanan ayam-ayam itu mengandung kadar mineral yang tinggi. Hari semakin larut dan kami pun mulai mengantuk. Saya izin untuk beristirahat karena keesokan paginya saya harus segera menuju stasiun Blitar untuk pulang ke Jakarta.
Pagi itu udara cukup dingin, tapi saya memberanikan diri untuk mandi ala kadarnya, sebab hari itu akan menjadi hari yang cukup panjang dan membosankan. Yak, saya akan kembali ke Jakarta. Setelah menyantap sarapan nasi pecel yang sudah dibuat oleh bu Yatman, saya pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih atas segala 'materi kuliah sejarah' yang sudah saya terima dari pak Yatman.
Pak Yatman kembali bercerita tentang operasi Trisula serta penangkapan tokoh-tokoh PKI di Blitar. Sebagian petinggi-petinggi dan simpatisan PKI melarikan diri dan bersembunyi di gua-gua kapur selatan Blitar. Para petinggi dan simpatisan itu menggunakan taktik ngalah, ngalih, ngalas dan ngantem yang kurang lebih artinya, mundur, pindah, mengalah, masuk hutan, lalu kemudian melawan. Menurut pemaparan beliau, para anggota dan simpatisan PKI yang bertahan masih beberapa kali mengadakan perlawanan dan kontak senjata sebelum akhirnya kalah akibat kekuatan yang tidak seimbang. Para petinggi yang tertangkap dan dibunuh antara lain adalah Ir. Surahman dan Oloan Hutapea. Pak Yatman pun bercerita tentang penangkapan ibu Putmainah yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Gerwani. Menurutnya, ibu Putmainah merupakan salah satu 'kloter terakhir' yang ditangkap tentara dari perbukitan kapur Blitar Selatan.
Selain sejarah 65 dan 68, pak Yatman bercerita tentang keistimewaan telur di daerah Blitar Selatan. Menurutnya, telur ayam yang di produksi di daerah itu kulitnya cukup keras dan lebih bergizi karena air dan makanan ayam-ayam itu mengandung kadar mineral yang tinggi. Hari semakin larut dan kami pun mulai mengantuk. Saya izin untuk beristirahat karena keesokan paginya saya harus segera menuju stasiun Blitar untuk pulang ke Jakarta.
Pagi itu udara cukup dingin, tapi saya memberanikan diri untuk mandi ala kadarnya, sebab hari itu akan menjadi hari yang cukup panjang dan membosankan. Yak, saya akan kembali ke Jakarta. Setelah menyantap sarapan nasi pecel yang sudah dibuat oleh bu Yatman, saya pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih atas segala 'materi kuliah sejarah' yang sudah saya terima dari pak Yatman.
![]() |
| Dalam perjalanan pulang |
Sesampainya di kota Blitar, saya pun segera memesan tiket ke Jakarta. Karena jadwal keberangkatan kereta masih lama, saya pun mampir ke kios pak Budi yang terletak di depan stasiun.
Seperti biasa, pak Budi sedang sibuk melayani pelanggan yang hendak membuat kacamata ataupun hendak membeli jam. Cukup lama saya menemani beliau. Diusianya yang tidak lagi muda, dengan kacamata tebalnya ia tampak masih tangkas dan kecekatan membuka dan memasang mur-mur kecil untuk pengunci lensa kacamata. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya berpamitan dan segera bergegas menaiki kereta.
Kereta yang menuju Jakarta sangat ramai. Saya dikelilingi oleh serombongna keluarga dari Malang yang hendak menghadiri pernikahan di daerah Keramat Jati, Jakarta. Alih-alih bisa tertidur, saya terpaksa melayani obrolan mereka yang duduk di sekeliling saya.
Menjelang pagi, saya beranjak ke bordes untuk mencari kesempatan supaya bisa merokok. Rupanya sudah tidak boleh lagi merokok di sambungan kereta itu. Tapi saya tidak peduli. Sekian jam tanpa asap rokok rasanya sungguh menyiksa buat saya. Saya membuka pintu bordes dan segera menyulut sebatang rokok.
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Nampaknya saya sudah berada di Jawa barat, dan beberapa saat lagi saya akan tiba di Jakarta.
Dari pintu bordes yang terbuka, saya melihat sekelebatan tampak anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Sepintas saya teringat akan pelarangan dan pembakaran buku-buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI di peristiwa G30S. Dan entah apapula yang dikatakan oleh guru-guru sekolah terhadap murid-muridnya seputar peristiwa 65. Entah sampai kapan kebohongan ini akan terus berlanjut. Semoga di masa-masa yang akan datang masyarakat perlahan-lahan mulai bisa membuka diri dan menerima fakta-fakta yang terjadi tentang G30S dan 65 supaya kebenaran dapat terkuak dan keadilan dapat ditegakkan.
Pemandangan sawah dan gunung pagi itu tampak seperti fragmen-fragmen yang terlihat samar berjalan dengan cepat seiring laju kereta. Saya menghisap asap rokok terakhir, menutup pintup pintu bordes dan kembali ke tempat duduk.
Agan Harahap
Seperti biasa, pak Budi sedang sibuk melayani pelanggan yang hendak membuat kacamata ataupun hendak membeli jam. Cukup lama saya menemani beliau. Diusianya yang tidak lagi muda, dengan kacamata tebalnya ia tampak masih tangkas dan kecekatan membuka dan memasang mur-mur kecil untuk pengunci lensa kacamata. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya berpamitan dan segera bergegas menaiki kereta.
Kereta yang menuju Jakarta sangat ramai. Saya dikelilingi oleh serombongna keluarga dari Malang yang hendak menghadiri pernikahan di daerah Keramat Jati, Jakarta. Alih-alih bisa tertidur, saya terpaksa melayani obrolan mereka yang duduk di sekeliling saya.
Menjelang pagi, saya beranjak ke bordes untuk mencari kesempatan supaya bisa merokok. Rupanya sudah tidak boleh lagi merokok di sambungan kereta itu. Tapi saya tidak peduli. Sekian jam tanpa asap rokok rasanya sungguh menyiksa buat saya. Saya membuka pintu bordes dan segera menyulut sebatang rokok.
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Nampaknya saya sudah berada di Jawa barat, dan beberapa saat lagi saya akan tiba di Jakarta.
Dari pintu bordes yang terbuka, saya melihat sekelebatan tampak anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Sepintas saya teringat akan pelarangan dan pembakaran buku-buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI di peristiwa G30S. Dan entah apapula yang dikatakan oleh guru-guru sekolah terhadap murid-muridnya seputar peristiwa 65. Entah sampai kapan kebohongan ini akan terus berlanjut. Semoga di masa-masa yang akan datang masyarakat perlahan-lahan mulai bisa membuka diri dan menerima fakta-fakta yang terjadi tentang G30S dan 65 supaya kebenaran dapat terkuak dan keadilan dapat ditegakkan.
Pemandangan sawah dan gunung pagi itu tampak seperti fragmen-fragmen yang terlihat samar berjalan dengan cepat seiring laju kereta. Saya menghisap asap rokok terakhir, menutup pintup pintu bordes dan kembali ke tempat duduk.
Agan Harahap
Langganan:
Postingan (Atom)

























