Jumat, 16 Oktober 2015

(Album Kenangan) Rihanna: Masa Lalu Dan Makanan Favorit


Masa kecil Rihanna dalam sebuah pentas menyambut Hari Kartini, 1994


Siapa yang menyangka, Rihanna, sang pelantun lagu 'Umbrella' yang hidup dengan bergelimang kemewahan serta ketenaran, ternyata pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya. Berada dalam keadaan serba kekurangan, memaksa Rihanna harus turut bekerja sepulang sekolah demi membantu keluarganya. Namun segala kesusahan itu tak membuatnya larut keadaan. Rihanna justru makin semangat mengejar impiannya sebagai seorang diva.

Lagu Umbrella yang sukses menghantar dirinya ke tangga popularitas, justru tercipta pada masa-masa sulit itu. Rihanna sempat terdiam cukup lama ketika saya menanyakan inspirasinya ketika menciptakan lagu Umbrella. "Mergo kahanan aku kepekso nyambut gawe nggo keluargaku mas.. Nek musim udan, aku dadi ojek payung.." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca, terkenang masa lalunya. Di lagu tersebut, Rihanna bercerita tentang seorang sahabatnya sesama pengojek payung yang tersambar petir dan demi kesembuhannya, sahabatnya tersebut terpaksa harus menjalani terapi di sebuah klinik pengobatan alternatif.

( Wawancara sempat terhenti sejenak karena Rihanna menangis terkenang akan masa lalunya).

Agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan, saya pun mencoba mengalihkan pembicaraan seputar menu diet dan kiat-kiat menjaga kebugaran tubuh di tengah aktivitasnya yang padat. Bagi seorang Rihanna, menjaga kebugaran tubuh adalah sebuah kewajiban. Sebab menurutnya, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Rihanna kembali terdiam, larut akan kenangan masa lalunya ketika saya menanyakan tentang makanan favoritnya.  "Bali sekolah aku dodolan kacang rebus  neng terminal Giwangan  mas....." Ujar Rihanna kembali menangis sambil meraung-raung sehingga saya terpaksa harus segera menyudahi sesi wawancara ini.

Seraya membereskan alat rekam, saya memberikan sebuah pertanyaan terakhir terkait dengan persiapan-persiapan menjelang peluncuran album barunya, "Kabeh ikhlas tak lakoni sing penting halal mas.." Ujarnya setengah berbisik sembari menyeka air matanya yang masih mengalir di pipi.


Rabu, 14 Oktober 2015

(Album Kenangan) Illuminati Dalam Kancah Musik Dunia


Dave Grohl dengan t-shirt yang menggambarkan 'Eye of Horus'. Di sebuah studio rekaman. Seattle 1994




Illuminati seolah menjadi bahasan yang tak pernah lekang dimakan jaman. Illuminati seolah terlibat di hampir semua peristiwa besar yang terjadi di dunia mulai dari bencana alam, perang, krisis, sampai kematian tokoh politik dan selebriti, kerap dikaitkan dengan kelompok ini.

Bukan suatu hal yang baru bila ada beberapa teori yang mengatakan bahwa kelompok ini ingin menanamkan pengaruhnya kepada anak-anak muda melalui musik dan dunia hiburan. Banyaknya bukti-bukti yang mengarah kepada sejumlah musisi akan keterlibatannya dalam illuminati, seolah semakin memperjelas keberadaan kelompok ini. Walau masih dalam wujud yang samar-samar.

Kematian Michael Jackson pada 2009 lalu masih menyisakan kabut misteri akan latar belakang dan motif kematiannya. Tidak sedikit pula orang yang mengatakan bahwa illuminati berada dibalik kematian sang raja pop itu. Beberapa media sempat melansir, bahwa sesaat sebelum kematiannya, MJ sedang berada dalam keadaan depresi dan penuh tekanan. Bahkan MJ juga sempat mengatakan bahwa ada sebuah kekuatan besar yang ingin menjatuhkannya dengan menjatuhkan nama baik dan popularitasnya. Michael Jackson meninggal dunia pada 25 Juni 2009.

Begitu juga yang terjadi dengan  legenda musik grunge, Kurt Cobain, yang masih menyisakan sejumlah pertanyaan akan kematiannya. Dalam keterkaitannya dengan kelomok Illuminati,  beberapa pendapat mengatakan bahwa Kurt pada awalnya adalah anggota dan merupakan salah satu motor propaganda dari illuminati. Namun entah kenapa beberapa saat menjelang kematiannya, Kurt memutuskan untuk keluar dari kelompok ini karena semakin tidak kuat memikul beban dan tanggung jawab sebagai konsekuensi dari kepopularitasannya. Hengkangnya Kurt dari Illuminati jelas dianggap sebagai sebuah bahaya laten yang bisa membahayakan kelompok ini sehingga dibutuhkan sebuah tindakan tegas untuk mengakhiri ancaman ini. Kurt Cobain diketemukan tewas pada 8 April 1994.

Kematian tragis Kurt Cobain secara otomatis mengakhiri perjalanan band legenda musik grunge, Nirvana. Di tahun yang sama, sang drummer, Dave Grohl, juga membentuk sebuah band yang bernama Foo Fighters. Sebuah band yang juga melegenda dalam kancah rock dunia.

Foto Dave Grohl di atas diambil pada medio 1994 di sebuah studio rekaman di Seattle, beberapa minggu setelah kematian Kurt Cobain. Foto di atas seolah menjadi bukti yang mempertegas keberadaan kelompok Illuminati dibalik nama besar Nirvana dan Foo Fighters. Dalam foto, nampak Dave Grohl sedang mengenakan t-shirt yang menggambarkan sebuah mata. Dalam sejarah mitologi Mesir kuno, mata itu dikenal sebagai 'Eye of Horus' yang melambangkan kekuatan dalam satu kepemimpinan, yang juga menjadi salah satu ciri pokok dari kelompok Illuminati, selain jangka, obelisk dan piramida. Gambar Eye of Horus tersebut juga dapat ditemui dalam berbagai bentuk dan perwujudan seperti mata uang Dollar Amerika Serikat, album Dangerous Michael Jackson dan masih banyak lagi.

Sampai saat ini, keberadaan kelompok illuminati seolah masih menjadi misteri. Begitu juga halnya akan keterlibatan kelompok ini dalam berbagai peristiwa dunia yang juga masih menyisakan sejumlah tanya yang tak terjawab. Apakah kelompok ini akan menjadi ancaman bagi peradaban manusia? Entahlah.

Sebagai manusia biasa, kita tentu kerap dihantui oleh berbagai kekhawatiran akan kehidupan kita di dunia fana ini. Namun hendaknya, sebagai orang yang beriman, seyogyanya kita dapat terus meningkatkan kadar keimanan serta ketaqwaan kita, sambil terus memohon kepada Yang Kuasa agar senantiasa berada dalam lindunganNya.

Selasa, 13 Oktober 2015

(Album Kenangan) Kiprah Deddy Dores Di Panggung Hiburan Internasional


Deddy Dores bersama Ryan Gosling. Jakarta 1993



Nama Deddy Dores tentu sudah tidak asing lagi di jagad hiburan tanah air. Sebut saja Nike Ardilla, Nafa Urbach dan beberapa nama lain lagi yang sukses menorehkan tinta emas di blantika musik nasional berkat sentuhan tangan dinginnya.

Tidak banyak diketahui publik bahwa di awal tahun 90an, Deddy Dores pernah mencoba mengorbitkan seorang bintang idola cilik asal Canada. Kerap terlibat perselisihan dengan rivalnya, Papa T Bob dan Jefry Bule, Deddy Dores pun tidak mau ketinggalan untuk merambah ke jalur musik pop anak-anak. Namun kiprahnya di musik pop anak tidaklah secemerlang di jalur pop dewasa. Mencoba membuat breakthru dengan mengangkat tema-tema sosial, Album perdana "Ayah Kawin Lagi" yang bernuansa dangdut menuai kritik keras karena tidak sesuai dengan program pemerintah yang sedang gencar-gencarnya menggalakkan Keluarga Berencana. 

Seolah tak jera dengan album pertama, Deddy Dores bersama bocah Canada itu kembali mencoba menggebrak blantika musik tanah air dengan album keduanya yang berjudul "Malam Satu Suro" yang sekaligus juga merupakan judul single dari album tersebut. Tak berbeda jauh dengan album perdananya, album kedua  yang kental dengan unsur misteri itu ternyata tidak banyak menarik minat pembeli. Walau sempat hendak dirilis ulang oleh sebuah perusahaan rekaman dari Brunei Darussalam, namun album tersebut batal dipasarkan di Brunei karena Deddy tak rela bila judul dan lirik lagu 'Malam Satu Suro' harus diganti dengan bahasa Melayu.

Gagal di dua albumnya, penyanyi cilik asal Canada itu dikabarkan banting stir ke dunia akting. Setelah membintangi iklan obat nyamuk bakar dan iklan minyak gosok, karier bocah tampan itu semakin meredup dan perlahan menghilang dari ranah hiburan tanah air. Menurut sumber terpercaya, bocah tampan itu terpaksa pulang ke negaranya karena terkait masalah finansial.

Roda hidup memang tak selamanya berhenti di bawah. Kembali ke negara asalnya, bocah malang itu justru meraih sukses besar. Kariernya semakin bersinar di jagad perfimlan internasional. Film-film seperti The Note Book, Blue Valentine, Crazy Stupid Love, Drive, Gangster Squad dan puluhan film layar lebar lainnya telah sukses ia bintangi sehingga melambungkan namanya menjadi salah satu aktor dengan bayaran termahal di dunia.

Sebagai salah satu orang yang pernah berkiprah mengasah bakat serta akhlak si bocah tampan tersebut, nasib Deddy Dores justru berbanding terbalik dengan kesuksesan si bocah pelantun tembang 'Ayah Kawin Lagi' itu. Banyaknya artis-artis pendatang baru semakin menenggelamkan nama besarnya di kancah percaturan musik Indonesia.Menanggapi pertanyaan perihal artis cilik asuhannya yang kini menuai sukses di panggung internasional, Deddy Dores hanya menjawab pendek bahwa beliau turut bangga serta selalu mendoakan agar bocah tampan yang pernah diasuhnya itu bisa selalu berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa, serta dijauhkan dari perbuatan-perbuatan yang melanggar perintah agama.


Senin, 12 Oktober 2015

(Album Kenangan) Selembar Foto Dari Dunia Fantasi


Bitney dan Christina berfoto di depan maskot Dunia Fantasi, Ancol. 1994

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah ibu saya di bilangan Kampung Ambon, Pulomas. Ketika sedang membuka2 lemari pakaian, saya menemukan album-album foto lama keluarga kami. Kebetulan ibu adalah wanita yang sangat teliti dalam mengumpulkan arsip keluarga.
Dari sekian banyak foto yang terdapat di album itu, ada sebuah foto yang menarik perhatian saya.
Foto ini saya ambil di Dufan, Ancol th 94. Waktu itu saya masih siswa kelas 2 di SMP 1 PSKD. Ibu saya sengaja membekali saya kamera poket untuk mengabadikan momen2 bahagia bersama teman-teman.

Berbeda dengan kami yang masih terlihat takut-takut ketika ingin menaiki wahana Kora-Kora, saat itu ada sekelompok anak-anak bule yang terlihat sangat antusias dan bersemangat. Mereka berteriak-teriak kegirangan dan bahkan berani melepas tangan ketika perahu Kora-Kora sedang meluncur kencangnya. Diantara anak-anak bule itu, ada seorang anak perempuan yang mencuri perhatian saya. Wajahnya yang cantik dan senyumannya yang menawan membuat saya tidak bisa berhenti meliriknya.

Sebenarnya saya ingin sekali untuk berfoto berdua dengannya tapi sebagai anak kelas 2 SMP, tentu saja saya tidak berani mengutarakan maksud saya kepadanya. Selain juga saya takut ditertawakan oleh kawan-kawan saya yang lain. Akhirnya dengan berat hati saya membuang jauh-jauh keinginan saya untuk berfoto bersamanya. Dan gadis cantik itupun menghilang di tengah kerumunan.

Menjelang malam, rombongan kami pun bergerak ke arah pintu keluar untuk pulang. Tanpa sengaja saya kembali berpapasan dengannya. Tidak mau kehilangan momen untuk yang kedua kalinya, saya segera menghampirinya. Dengan bahasa Inggris yang terkontaminasi dengan bahasa Tarzan, saya beranikan diri untuk mengajaknya untuk berfoto berdua.

Syukurlah dia tidak marah atau takut, mengingat perawakan saya pada waktu itu cukup memprihatinkan. Gadis cantik itu hanya mengangguk dan tersenyum manis seolah paham akan maksud saya. Namun rupanya si gadis manis itu salah mengerti. Dia malah merangkul temannya dan langsung berpose di depan saya yang gemetar memegang kamera. Tanpa banyak pikir panjang, saya langsung saja memotretnya. Sesudah memotretnya, diluar dugaan gadis cantik itu malah merangkul saya dan menyuruh temannya untuk memotret kami. Tapi sayang seribu sayang, foto tadi adalah jepretan terakhir dari film Fuji isi 36 itu berikut bonusnya. Seolah mengerti akan kekecewaan saya, gadis itu mengulurkan tangannya mengajak saya berkenalan. Setelah berkenalan, gadis itu mengucapkan selamat tinggal dan berlari menyusul kawan-kawannya yang sudah menantinya di pintu keluar.

Masih jelas teringat dalam benak saya ketika gadis itu menyibakkan rambut pirangnya, menoleh kembali ke arah saya seraya melemparkan senyuman manis untuk yang terakhir kalinya sebelum menghilang di pengkolan jalan. Meninggalkan saya yang masih terkesima dibuatnya.


Agan Harahap

Selasa, 06 Oktober 2015

KATAKAN DENGAN BUNGA





"Selamat berbahagia"
- Dari aku yang masih mencintaimu

Demikian tulisan yang tertera di atas karangan bunga di sebuah resepsi pernikahan.

Memberi bunga untuk maksud/tujuan tertentu sudah menjadi hal yang biasa dan sering kita temui di hampir semua budaya di dunia. Mulai dari ucapan selamat, sampai ucapan turut berdukacita, semua di sampaikan dengan bunga. Tapi entah kenapa selalu saja bunga yang disertakan sebagai penyerta dalam berbagai ucapan. Saya rasa kayu atau batu tentu tidak kalah puitisnya bila dijadikan sebagai penyerta dalam berbagai ucapan selamat. Tapi apa hendak dikata, memberi bunga untuk penyerta ucapan atau maksud-maksud lain sudah menjadi konvensi global sejak jaman dahulu.

Bagi beberapa kalangan, bunga atau karangan bunga menjadi ajang tersendiri untuk menunjukkan posisi dan kedudukan dalam strata sosial tertentu. Banyaknya karangan bunga yang dipajang sampai jauh di luar dari lokasi resepsi, seoalah menunjukkan bahwa sang penerima karangan bunga tadi menduduki posisi tertentu dalam masyarakat sampai menerima ucapan selamat yang begitu banyaknya. Belum lagi bila kita bicara soal orang yang mengirim karangan bunga. Dalam bebagai kesempatan, kita sering kali menjumpai karangan bunga yang nama pengirimnya justru lebih menonjol ketimbang kata-kata ucapannya maupun nama orang yang dituju. Dan tentu saja, gelar/ jabatan/ predikat tertentu dari sang pengirim bunga seringkali menjadi alasan untuk mengesahkan tindakan diskriminatif terhadap karangan-karangan bunga.

Pada upacara kematian opung boru (nenek) saya beberapa tahun yang lalu, nampak sebuah karangan bunga yang cukup mentereng di bandingkan karangan-karangan bunga lainnya. Karangan bunga yang diletakkan tepat di depan pintu masuk rumah duka bertuliskan: 'Turut berduka cita atas berpulangnya Ny. H. Harahap Br Hutabarat' dari MENTRI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA: JERO WACIK. Saya tidak habis pikir, kenapa bisa-bisanya karangan bunga dari orang yang sama sekali tidak kami kenal malah ditempatkan tepat di depan pintu masuk, hanya karena orang itu menjabat sebagai mentri. Kenapa justru karangan-karangan bunga dari handai taulan dan kerabat dekat yang jelas mengenal baik opung kami malah diletakkan dipinggir. Inilah yang saya maksudkan dengan tindakan diskriminatif terhadap bunga. Tapi sebagai cucu, tentu saja saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima dan memakluminya. Untung saja waktu itu Jero Wacik belum ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK. Andaikan waktu itu dia sudah menjadi posisi tersangka korupsi, apakah karangan bunga darinya itu masih diletakkan di posisi mentereng itu? Saya rasa tidak.

Tentu saja, karangan bunga dengan ucapan selamat dari sang mantan tadi jauh terasa lebih tulus dan syahdu ketimbang karangan bunga pemberian pejabat atau presiden sekalipun. Dan sudah sepantasnya karangan bunga yang jujur dan syahdu tadi mendapat tempat khusus melebihi segala ucapan-ucapan dari mentri dan apartur negara walaupun hanya di dalam hati.


Agan Harahap

Selasa, 29 September 2015

Hari Hoax Nasional






Hoax/ Sebuah pemberitaan palsu, adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. 


Mungkin karena terlalu sering menggunakan photoshop dalam berkarya, sehingga apapun yang saya posting atau bahkan yang saya tuliskan, terlanjur dianggap hoax oleh followers saya di sosial media. Bahkan beberapa kerabat dekat sampai keluarga saya juga kerap meragukan apapun yang saya sampaikan kepada mereka.
Tapi tentu saja, (gambar dan narasi) hoax yang saya hasilkan selama ini berbeda secara praktik dan tujuannya dengan segala macam hoax yang dilancarkan oleh saudara-saudara dari Piyungan dan Trio Macan, misalnya. Tapi bagaimanapun juga hoax adalah hoax. Apapun bentuknya itu.

Sama halnya dengan hal-hal lain yang menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak, saya rasa kita sebagai bangsa yang besar, perlu membuat satu hari agar dirayakan (diperingati) sebagai Hari Hoax Nasional. Dan waktu yang tepat untuk memperingati Hari Hoax Nasional adalah tanggal 1 Oktober. Ya, hari yang sama dengan Hari Kesaktian Pancasila yang setiap tahunnya digelar berbagai ritual (upacara)  guna mengenang wafatnya 7 pahlawan revolusi sekaligus mengikrarkan kebulatan tekad agar terus waspada akan berbagai bahaya laten yang mengancam kepentingan orang-orang tertentu di pemerintahan yang sudah merugikan negara demi kepentingannya sendiri.

Omong-omong, entah kenapa mereka malah mencantumkan kata 'kesaktian'. Yaa memang sih tidak bisa dipungkiri bahwa kita adalah bangsa penggemar klenik. Tapi ada sedikit rasa kurang nyaman di hati saya ketika harus mengakui dan mempercayai kesaktian dari sebuah paham atau ideologi yang menjadi dasar negara kita. Sebab bagi saya, kata sakti atau kesaktian itu kesannya lebih pantas bila disandangkan dengan praktik-praktik klenik dan ritual-ritual magis dari seorang dukun. Buat saya, kata kesaktian itu juga erat kaitannya dengan tokoh-tokoh fiksi superhero yang memiliki kemampuan supranatural diluar nalar.

Setelah reformasi, dan keruntuhan rezim Orde Baru, rangkaian peristiwa seputar 65 yang selama ini diselimuti kabut misteri, secara perlahan namun pasti mulai terungkap. Bahwa pada tanggal 1 Oktober, 50 tahun yang lalu, adalah hari dimulainya tahapan kudeta terhadap pemerintahan Soekarno dengan serangkaian hoax. Ya, hoax dengan skala dan efek yang jauh lebih besar dan dahsyat dari hoax-hoax yang saya atau saudara-saudara Piyungan itu pernah lakukan (da aku mah apa atuh..). Hoax yang mengakibatkan menurunnya populasi bangsa ini secara drastis dalam waktu singkat. Hoax yang membutakan hati nurani dan akal sehat selama puluhan tahun. Hoax yang menyebabkan bangsa kita terpuruk dalam belitan hutang luar negeri yang efeknya masih kita rasakan dengan jelas sampai hari ini. Tapi saya tidak akan berpanjang lebar perihal hoax tentang kesaktian mandra guna serta efeknya maha dahsyat itu dalam tulisan ini.

Intinya, kita tidak butuh embel-embel kesaktian atau ungkapan lebay lain untuk mempertahankan dasar dan ideologi negara. Itu malah hanya akan membuat kita terdengar semakin pandir. Hoax, bagaimanapun bentuknya, hanya akan bisa diretas dengan menggunakan nurani dan akal sehat. Apakah kita akan tetap merayakan hoax itu sembari berikrar untuk tetap membenci dan membasmi saudara-saudara kita sendiri sampai ke akar-akarnya? Ataukah kita akan mulai menggunakan hati nurani dan akal sehat untuk bergerak membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik? Nah! Selagi kamu memutuskan pilihan mu, ijinkan saya mengucapkan selamat Hari Hoax Nasional! Semoga Tuhan memberkati.







Yogyakarta, 30 September 2015


Agan Harahap