Tampilkan postingan dengan label Alay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alay. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Desember 2015

Mulan Jameela Dan Potret Suram Masyarakat Gagal Paham



Sebagai seorang laki-laki yang hidup bersama dua orang ibu-ibu (kebetulan ibu saya sedang berlibur Jogja), tentu saja saya tidak bisa menghindar dari yang namanya infotainmen. Berita seputar selebriti adalah topik yang selalu menarik untuk dibahas oleh istri dan ibu saya. Ibu saya yang memang sangat fasih dalam melahap berita-berita seputar selebriti, seolah mendapat kawan bicara yang sepadan ketika berbincang dengan istri saya. Dan berita paling hangat minggu ini adalah peristiwa minta maaf Mulan Jameela yang marak beredar di seantero media. Saya yang tadinya tidak pernah mau tau soal urusan rumah tangga orang, perlahan mulai bisa 'menikmati' prahara ini. Tapi terus terang saya tidak sanggup menyaksikan video wawancara Mulan dan Deddy Corbuzier yang penuh dengan cengangas-cengenges dan derai air mata. Selain juga durasinya yang menurut saya terlalu lama. Saya lebih tertarik untuk menyaksikan komentar-komentar orang baik di Youtube maupun di postingan-postingan lain di dunia maya.

Mencermati drama wanita asal Malangbong ini, tiba-tiba saya teringat akan Thenzara Zaidt, atau yang lebih dikenal sebagai  Ibu Subangun, tokoh antagonis di sinetron TVRI 80an 'Keluarga Rahmat' yang pernah benar-benar ditampar orang ketika sedang berbelanja di pasar hanya karena peran antagonisnya di film itu. Sangat mungkin terjadi bahwa pada zaman itu ada sebagian orang yang begitu terpukau dalam melihat teknologi layar kaca, sehingga tidak mampu lagi membedakan antara fiksi dan realita. Dan memang sangat disayangkan bila Ibu Subangun mendapat tamparan dari orang yang logikanya telah terbutakan oleh tayangan televisi.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa salah satu imbas utama dari kemajuan teknologi adalah timbulnya perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Dan bagi sebagian orang yang tidak siap menerima percepatan teknologi dan dampak sosialnya, teknologi selalu saja dianggap sebagai kambing hitam penyebab terjadinya segala degradasi moral di masyarakat. Walau memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada begitu banyak tayangan-tayangan yang tidak mendidik yang dibuat demi mengejar rating dan iklan, yang semakin melenakan dan membutakan akal sehat pemirsanya. Tapi bagaimanapun juga, kita tidak bisa melulu menyalahkan teknologinya.

Hari ini televisi sudah bukan lagi merupakan satu-satunya media yang mampu membutakan logika dan hati nurani. Kemunculan sosial media seperti Instagram, nampaknya sudah menjadi 'sihir' tersendiri bagi banyak orang. Dan seperti halnya televisi dan sinetron di era 80-90an yang disikapi dengan berlebihan, begitu pula yang terjadi dengan Instagram. Ketika publik bisa secara langsung bertindak sebagai produsen materi dari sebuah drama kehidupan yang bisa semena-mena menampilkan berbagai hal yang terjadi dalam kehidupannya, baik itu hal yang pantas untuk di pamerkan, maupun hal pribadi remeh-temeh yang hanya menimbulkan rasa muak bagi pemirsanya.  Dan orang-orang kembali terlena dengan' realitas semu' yang ditemui dari balik layar ponselnya. Orang-orang jadi terlalu sibuk memamerkan citra diri mereka secara hiperbolis, sehingga lupa akan realita disekelilingnya. Tak hanya itu, sebagian masyarakat bahkan menjelma menjadi polisi-polisi moral yang bisa dengan membabi-buta menghakimi hal-hal yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya walaupun itu sama sekali tidak ada kaitan dengan dirinya.

Kembali kepada cerita Mulan Jameela yang sampai hari ini masih marak berlalu lalang di berbagai media tanah air. Mulan dan para pembencinya jelas tidak mampu lagi membedakan realitas yang terjadi di dunia nyata dan di dunia maya. Media sosial yang kerap dijadikan media pelampiasan demi mengukuhkan eksistensinya di jagat hiburan, malah akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya yang terlalu larut dalam drama yang dibuatnya sendiri. Kisah Mulan Jameela beserta ribuan polisi-polisi moral beserta 'petuah-petuah bijaknya' yang dilayangkan tak lain hanyalah potret suram kehidupan masyarakat kita hari ini yang sibuk menenggelamkan diri dalam realitas semu di berbagai sosial media. Dan saya hanya bisa berharap agar para polisi moral itu tidak buta logika dan gelap mata, supaya Mulan Jameela tidak mengalami nasib serupa seperti yang dialami Ibu Subangun.



Agan Harahap


* Sengaja menggunakan terminologi 'gagal paham' untuk mengikuti tren bahasa hari ini



Minggu, 28 Juni 2015

Tentang 'Jalan Setapak' Yang Terlalu Berliku







Berbeda dengan Twitter, Facebook dan Instagram, aplikasi Path awalnya memang terasa lebih 'intim' dan 'jujur' dari kebanyakan media sosial lainnya. Sebab hanya orang-orang terpilih yang dianggap mampu menjaga relasi pertemananlah yang bisa melihat segala tindak tanduk kita di media sosial itu. Kita seolah merasa bisa membagi segala macam perasaan dan pengalaman apapun yang dirasakan untuk 'orang-orang terpilih' itu. Walau seringkali, 'kejujuran-kejujuran' yang kerap kita bagikan dan kita temui di Path, kerap cukup mengganggu ritme keseharian kita.

Namun, selain menjadi media sosial yang menyampaikan berbagai perasaan, pengalaman dan keluh kesah yang jujur, tulus apa adanya, Path perlahan menjelma menjadi sebuah media sosial yang sensitif. Pertemanan yang sejatinya terbentuk di dunia yang nyata, bisa retak atau bahkan hancur berkeping-keping karena berbagai masalah sepele. Seperti lupa 'me-love', atau salah 'menanggapi' dengan memberi emoticon yang tidak tepat dsb. Path yang mustinya sederhana dan jujur tiba-tiba terasa begitu kompleks. Dengan adanya fasilitas untuk 'menunjukkan perasaan' (smile, love, gasp dan frown), orang cenderung menjadi lebih sensitif dan mudah terpancing  terkait dengan 'tanggapan perasaan' yang diterimanya.

Dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak. Kita tentu harus bisa pandai-pandai membawa diri sekaligus harus bisa menjaga perasaan orang lain melalui berbagai postingan dan tanggapan. Tapi tentu saja semua harus pada kadar dan takaran yang pas. Tidak perlu berlebihan.
Belum lagi bila bicara soal berbagai bentuk pencitraan diri yang kerap ditayangkan di Path. Salah menanggapi sedikit, bisa tentu berujung dengan sakit hati yang akhirnya malah merusak relasi yang sudah terjalin. Dan bagi orang yang kurang bisa berbasa-basi di media sosial seperti saya, sikap ini tentu bisa menimbulkan masalah  bagi orang-orang yang terlalu perasa.

Ya, sebetulnya memang jadi konyol ketika kita terlalu membawa-bawa perasaan, sesuatu yang bersifat deep dan personal di ranah media sosial. Tapi inilah kenyataannya, bahwa gesekan-gesekan atau bahkan benturan-benturan yang terjadi, disebabkan karena banyak pengguna yang terlalu larut, percaya dan terlena oleh bentuk sosialisasi di lingkaran pertemanan yang dirasa intim tersebut. Sehingga mereka tidak lagi bisa membedakan batasan-batasan antara ilusi dan kenyataan yang semakin tersamarkan oleh berbagai postingan dan tanggapan.

Bagi saya, Path adalah sebuah media sosial yang jauh lebih kompleks dan sulit dibanding dengan tampilannya yang mudah dan sederhana. Path adalah aplikasi yang jelas bersifat ekslusif, karena selain memang lingkup sosialnya yang kecil (orang-orang terpilih), Path hanya cocok bagi orang-orang yang telah 'khatam' tentang pergaulan di dunia maya.
Path hanya akan bisa berjalan dengan baik jika digunakan oleh orang-orang yang bisa dengan mudah mengenali atau bahkan tidak peduli lagi tentang  batasan-batasan antara realita dan ilusi.

Nikmati saja pemandangan di jalan setapak itu. Tidak usah terlalu pedulikan berbagai tanggapan orang lain yang hanya mengganggu perjalanan wisata anda.



Agan Harahap