Rabu, 23 Juli 2014

Perihal 'Respon Kritis-Kreatif' Di Media Sosial





Siang tadi saya cukup terusik dengan pernyataan Tantowi Yahya, juru bicara calon presiden Prabowo Subianto, yang mengeluhkan banyaknya netizen yang membully Prabowo perihal keputusannya yang mengejutkan untuk menolak hasil rekapitulasi KPU. Sebuah pernyataan yang menurut saya mencerminkan sikap 'primitif' untuk seorang politisi sekaliber mereka dalam menyikapi timbulnya berbagai reaksi yang terjadi di jejaring sosial media. 

Tidak seperti dengan media-media konvesional yang masih bergantung pada jumlah cetak, oplah atau bahkan mungkin kolom pembaca dalam membentuk interaksi dengan pemirsanya, khalayak pengguna jejaring sosial dengan serta-merta dapat langsung merespon, menanggapi dan menyebarkan hal apapun yang berlaku di medan sosialnya.
Memang tidak ada patokan normatif yang digunakan sebagai tolak ukur dalam merespon berbagai hal yang terjadi dalam jejaring sosial. Semua orang bisa dengan serta-merta dan semena-mena menyuarakan isi hatinya. Masih segar di ingatan saya ketika ribuan pengguna media sosial menyuarakan 'pendapat kritisnya' (bullying?)  terhadap seorang ketua panitia acara yang dianggap gagal merealisasikan perhelatan musik akbar yang akhirnya menyebabkan korban memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah mengalami 'penghakiman massal' di jejaring sosial media. Tidak ada proses hukum dan peradilan yang berlaku terhadap kejadian tersebut. Sebaliknya, fenomena ini justru berbanding terbalik ketika seorang Prita Mulyasari dipaksa untuk bertanggung jawab' karena menyuarakan ketidakpuasannya atas pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional di milis. Dan saya rasa kita tidak perlu berpanjang lebar membicarakan UU ITE yang masih harus terus 'dimodifikasi' disana-sini sesuai dengan perkembangan teknologi.
Setiap orang tentu mempunyai pendapat dan respon yang berbeda dalam memproduksi atau menanggapi suatu hal atau fenomena yang sedang terjadi, tergantung dari berbagai latar belakang dan kepentingannya. Sudah semestinya, sebagai pengguna jejaring sosial mengetahui dan bisa menyikapi hal-hal yang mendasar seperti ini. Apalagi para elit politik disana yang kerap menjadi sorotan publik, sudah seyogyanya mengetahui bahwa setiap tindak tanduk dan perbuatannya dapat menimbulkan reaksi baik positif maupun negatif di jejaring media sosial.

Perkembangan teknologi informatika yang sedemikian pesatnya, tanpa disadari sudah turut berkontribusi dalam pembentukan karakter masyarakat dalam suatu medan sosial tertentu dalam menyikapi suatu persoalan. Keadaan ini dipertegas (atau diperparah) lagi dalam masa kampanye pilpres, ketika begitu banyak oknum atau instansi yang dengan sengaja meniupkan isu-isu miring secara massive seputar pribadi capres demi merebut atau menjatuhkan simpati publik terhadap calon pasangan tertentu. Beberapa golongan dalam masyarakat yang masih lemah dan lugu akan aktualisasi dan akurasi informasi, dapat dengan mudah terpengaruh dan secara otomatis justru malah memperbesar efek negatif dari berita/isu yang tidak jelas asal-usulnya tersebut. Alhasil kedua kubu yang berseberangan menjadi semakin fanatik dan militan terhadap jagoannya masing-masing. Setiap berita tentang capres-cawapres yang dibaca dapat dengan mudah dijadikan bahan untuk memicu gesekan dan benturan antar netizen.

Berbagai interaksi yang terjadi di berbagai jejaring sosial semasa pilpres tidak melulu marak diisi oleh tulisan atau berita-berita miring seputar capres-cawapres terkait. Bahasa gambar (fotografi, video, meme dsb) juga turut memegang peranan penting atas dinamika yang terjadi di jejaring sosial belakangan ini. Tidak hanya berperan sebagai pelengkap berita, tapi gambar juga bisa berdiri sendiri untuk membentuk, meluruskan atau bahkan membelokkan opini publik. Akhirnya, perang visual pun tak dapat terelakkan lagi. Kedua kubu saling menyerang dengan berlomba-lomba menyebarkan gambar-gambar baik itu foto asli maupun foto rekayasa. Baik itu yang bersifat parodi ataupun fitnahan keji. Untuk gambar-gambar yang berada di ranah parodi, jelas dibutuhkan spontanitas dan kreatifitas dalam membaca situasi yang terjadi dan kemudian menggubahnya dalam bahasa komedi visual. Alih-alih terbakar karena emosi yang membabi buta,  'Perang Badar' yang terjadi di ranah parodi visual justru banyak menarik minat netizen untuk meramaikan atau bahkan terkadang malah meredakan ketegangan yang kerap terjadi di antara kedua kubu yang berseberangan. Sayangnya, perbandingan jumlah produsen gambar-gambar parodi itu tidak seimbang. Karena begitu gencarnya serangan gambar parodi kreatif ini, sehingga membuat salah satu kubu merasa dibully oleh kubu lainnya.

Kembali kepada pernyataan Tantowi Yahya perihal keluhan timnya terhadap berbagai 'respon kreatif' yang ditujukan kepada Prabowo Subianto. Saya rasa tidak sepantasnya bila sekelompok politikus kawakan yang mempunyai puluhan atau bahkan ratusan ribu followers, merasa tersinggung dan lantas mengeluh atas berbagai respon kreatif yang datang dari berbagai penjuru. Belum lagi bila kita mengingat perilaku beberapa elit pendukung koalisi yang kerap 'nyinyir' dan acap kali melontarkan statement-statement provokatif tak berdasar di lini masa yang tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mengaku negarawan. Berbagai 'respon kreatif' yang anda terima, kiranya jangan melulu dipandang sebagai suatu hal yang buruk, melainkan bisa dijadikan sebagai bahan refleksi permenungan untuk bersikap dan berlaku dengan lebih baik lagi di masa-masa yang akan datang. 



Agan Harahap









Kamis, 10 Juli 2014

Antara Sting, Jokowi Dan Saya



Dini hari, di penghujung Pemilu Presiden 2014 yang baru saja berlalu, jutaan rakyat Indonesia yang masih terjaga menunggu waktu sahur, tiba-tiba dikagetkan oleh sebuah berita yang tersebar di media sosial tentang adanya dukungan dari Sting, musisi legendaris asal Inggris, yang ditujukan untuk salah satu kandidat presiden, Joko Widodo. 
Selain Sting, musisi Jason Mraz dan grup band Arkarna pun menyatakan dukungannya kepada Jokowi. Tak hanya itu, Vicky Vette, bintang film porno yang selama ini 'cukup akrab' dengan segala permasalahan di Indonesia, turut menyatakan dukungannya untuk Jokowi. 

Berita tentang berbagai dukungan dari publik figur luar negeri itu tersebut langsung tersebar dengan cepat di berbagai jejaring sosial di Indonesia. Begitu banyak reaksi yang timbul pada dini hari itu. Sebagian pendukung Jokowi yang masih bangun (termasuk saya) lantas menyebarkan kabar gembira itu di berbagai lini masa medan sosial saya. Untuk para pendukung kandidat presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto, berita tersebut mungkin menjadi momok bagi mereka. Banyak tudingan-tudingan miring yang dilontarkan atas dukungan musisi tersebut.


KATA SIAPA DUKUNGAN STING UNTUK JOKOWI ITU HOAX?!? ini fotonya!!

Sebagai seniman yang kerap menggunakan media sosial sebagai medium dalam berkarya, saya langsung tanggap akan situasi yang terjadi pada dini hari itu dan segera merespon kehebohan itu. 
Saya segera membuat 'pembenaran hiperbolis' akan adanya dukungan Sting kepada Jokowi dengan membuat 'realita baru' sekedar untuk meramaikan suasana saat itu. Tak disangka, karya tersebut banyak mendapat respon dari netizen pada dini hari itu. Foto saya dengan cepat langsung tersebar luas di jejaring sosial. Beberapa teman yang memang sudah cukup akrab dengan gaya berkesenian saya, terhibur senang. Dan saya pun tertidur dengan pulas. Setidaknya, karya saya sudah bisa membahagiakan orang. 

Keesokan harinya, saya mendapati ratusan notifikasi perihal foto yang saya unggah beberapa waktu yang lalu. Dan saya pun tersenyum akan berbagai tanggapan yang masuk. Baik itu dengan nada yang memuji maupun dengan nada yang mencemooh. Sebagian pendukung Jokowi yang percaya, secara otomatis langsung mempertahankan perihal keabsahan foto itu. Sementara pendukung Prabowo terlihat mati-matian menampik dengan berbagai cara sampai meminta justifikasi dari promotor yang mendatangkan Sting dalam konsernya di Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Pendek kata, foto Sting dan Jokowi bikinan saya cukup menghebohkan lini masa orang-orang di pagi dan siang hari itu.

"@panca66 : Iba kita :) RT @SuleTegepe : @panca66 ini bro yang lu maksud editan. Jelas banget #editanmurahan

@BagusMarwoto hasil sotosop dari gambar Roger Friedman and Sting

Alih-alih semakin mereda, menjelang sore sebuah media memberitakan kabar bahwa foto Jokowi dan Sting itu adalah 100% rekayasa photoshop. Rupa-rupanya, untuk sebagian orang butuh waktu seharian untuk meneliti tentang orisinalitas foto ini. Dan sebagai konsekuensinya, ratusan netizen langsung bereaksi dengan merespon kembali foto tersebut dengan berbagai ekspresi. Tidak ada yang salah dengan ratusan respon itu, karena itu adalah bagian konsekuensi dan dinamika dalam berkehidupan di jejaring sosial media. 

Yang menarik disini adalah bagaimana cara pandang dan tindakan kita dalam menyikapi suatu 'realita baru' yang kadang bertentangan atau bahkan terlalu sejalan dengan hati nurani yang membutakan akal sehat, sehingga dapat dengan mudah diperdaya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab (termasuk saya?). Ditambah lagi dengan animo massa yang begitu menggelora dari kedua kubu kandidat presiden, sehingga apapun yang sesuai dengan harapannya, langsung ditelan bulat-bulat dan semua yang tidak sejalan dengan harapannya akan diterjang dan ditentang habis-habisan. 

Pemilu Presiden sudah selesai dengan segala problematikanya. Kini kita memasuki masa-masa penantian akan kandidat mana yang akan keluar sebagai pemenang, pengemban amanat rakyat Indonesia. 
Karya ini hanyalah sebagian kecil dari ratusan atau bahkan ribuan kabar hoax yang beredar seputar urusan pilpres ini. Dan di dalam masa-masa penantian yang dipenuhi berbagai kecemasan dan harapan ini, hendaknya kita selalu mengedepankan logika dan akal sehat dalam menghadapi sebuah realita baru.


Agan Harahap



Senin, 07 Juli 2014

KARTU POS UNTUK JOKOWI-JK







A: 'Massa pendukung Jokowi itu besar loh!' B: 'Oyah? Gak percaya ah!' A: 'Ini bukti fotonya..'

Dalam dua hari lagi, Indonesia akan menjalani Pemilihan Umum Presiden (pilpres). Sebuah keputusan besar yang melibatkan seluruh bangsa Indonesia untuk menentukan masa depannya. Berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, kali ini animo masyarakat sangat menggebu-gebu untuk mengikuti ajang pesta demokrasi 5 tahunan ini. Saya, sebagai orang yang tidak pernah antusias dan peduli dengan pemilu atau pilpres, kali ini bersama-sama dengan jutaan masyarakat Indonesia lainnya dengan semangat turut berpartisipasi untuk menyukseskan pemilihan umum. Adapun semangat ini muncul karena kami, rakyat Indonesia sudah terlalu muak dengan berbagai sistem pemerintahan dan situasi politik yang terjadi selama puluhan tahun di negara ini. Bersembunyi di balik Pancasila dan semangat reformasi, petinggi-petinggi ini justru merampok dan mengeruk kekayaan negara ini di segala sektor. Tak hanya urusan korupsi, berbagai organisasi masyarakat tumbuh menjamur dan bisa berlaku anarkis terhadap yang tak sepaham dengan ideologinya.

Setelah melalui berbagai tahapan, pemilihan presiden kali ini hanya menyisakan 2 pasang kandidat calon presiden dan wakil presiden yang akan maju menuju tampuk kepemimpinan tertinggi di negara ini. Pertarungan para elit politik di atas sana berimbas ke segala lini kehidupan sosial masyarakat.
Bahkan media yang seharusnya bersifat netral, mau tidak mau, jadi ikut berpihak untuk kemenangan calon presidennya. Banyaknya media-media baru yang tidak kredibel dan tidak jelas sumbernya pun banyak bermunculan dan melulu menebar fitnah pada salah satu capres sehingga memperkeruh suasana. Akibatnya, banyak kalangan masyarakat yang dengan mudah percaya dan akhirnya turut membantu penyebaran berbagai fitnah ini di medan sosialnya. Berbagai gesekan dan benturan antar kelompok pendukung kedua capres tidak dapat dihindari lagi. Begitu banyak sahabat, saudara bahkan keluarga yang selama ini menjalin hubungan yang harmonis menjadi bertentangan karena berbeda pendapat dan ideologi dalam mengusung calon presiden favoritnya.

Sebagai seorang seniman yang kerap berkarya dengan menggunakan jalur distribusi media sosial, saya cukup akrab dengan berbagai berita miring maupun kabar fitnah yang beredar di berbagai lini masa jejaring sosial semasa pemilihan presiden ini. Saya mencoba untuk merespon situasi ini dengan menjadikannya sebagai sebuah rangkaian karya parodi disertai berbagai petuah-petuah bijak, sekaligus menyuarakan dukungan saya untuk salah satu kandidat presiden.


Berfoto bersama salah satu warga Amerika yang merupakan pendukung fanatiknya

"Bro, persahabatan dan silaturahmi itu nomor satu. Kalau presiden itu nomor dua".
Kekuatan dan kedigdayaan bukanlah faktor utama agar bangsa kita dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain

Bukti bahwa Jokowi adalah antek Amerika. Terlihat dari baju yang dikenakannya bergambar bendera Amerika


Bersama rekan-rekan dari Tiongkok. Cai Guo-Qiang, Ai Weiwei dan Zhang Huan

Usia bukanlah halangan utama untuk akrab dengan para pemuda
"Bicara soal rasa, itu cuma masalah selera. Yang terutama adalah asupan gizi dan vitamin yang cukup. Urusan presiden, itu nomor dua sajalah"
Semua akan berjalan dengan baik bila dikerjakan oleh orang yang kompeten di bidangnya

Yang dibutuhkan oleh bangsa ini bukanlah orang yang piawai dalam bersilat lidah menebar kata-kata indah dan membuai, tapi bukti kerja yang nyata.
SBY: 'Duh..Kok gelap yaa? Apa ISO-nya kurang gede yaa?' JKW: 'hmm..Nganu mas, mungkin tutup lensanya bisa dibuka dulu..' Ucapnya sambil tersenyum bijak menenteramkan hati
Bahwa semua yang terekam, tidak akan pernah mati, dik..

Kesederhanaan dan kejujuran adalah kunci utama agar kita bisa menjalin kerjasama dan tali silaturahmi dengan negara-negara di dunia
Kekayaan serta kekuatan hanyalah bersifat sementara di dunia fana ini mas.. Kesemuanya itu tak akan berarti apa-apa tanpa ketulusan dan niat baik serta kepedulian terhadap sesama.
Gelimang harta memang kerap menyilaukan mata. Namun pribadi yang jujur, sederhana dan merakyat ditambah hati yang tulus serta semangat untuk membangun, itulah yang abadi di dalam hati.
Segala kekuatan dan keberanian yang kau teriakkan itu akan sia-sia tanpa diikuti dengan tekad bulat yang bersumber dari hati nurani yang tulus dan ikhlas




Waktu masih ada, walau tinggal sedikit lagi. Tapi hendaklah kita tinggalkan sentimen agama dan berbagai isu, rumor dan kabar burung yang beredar. Mari kita sukseskan Pemilu 2014 ini dengan memilih calon presiden dengan didasari oleh hati nurani dan akal yang sehat untuk menentukan nasib bangsa kita di kemudian hari. 
Berikut saya sertakan tautan untuk mengunduh rangkaian serial ini. Masih ada sedikit waktu untuk mencetak dan membagikannya kepada orang-orang terkasih anda.
Dan kalaupun pemilu yang meriah ini kelak akan berakhir, kiranya karya-karya ini bisa disimpan sebagai kenangan, bahwa kita pernah menjalani dan terlibat dalam sebuah pesta demokrasi yang paling meriah dalam sejarah bangsa Indonesia.



Salam dua jari.


Agan Harahap




















Rabu, 25 Juni 2014

DERETAN TANGGA LAGU PARTAI POLITIK INDONESIA 2014





Pemilu legislatif baru saja berlalu dan sebentar lagi kita akan memasuki pemilihan presiden untuk menentukan nasib bangsa ini selama lima tahun kedepan. Banyak partai yang mendulang suara jauh di bawah target sehingga terpaksa berkoalisi dengan partai lain guna tercapainya berbagai maksud dan tujuan. Bicara soal perolehan suara dalam pemilu, tentu kita tidak bisa lepas dari pengaruh sosok atau tokoh yang digadang partai untuk menjadi kandidat presiden. Tapi mengandalkan ketokohan capres saja tidaklah cukup. Militansi kader tetap harus diperhatikan, semangat juga harus tetap dijaga untuk memaksimalkan kerja mesin partai. Salah satu alat untuk memacu semangat militan kader partai adalah musik. Dalam berbagai sejarah bangsa di seluruh dunia, telah terbukti bahwa musik adalah senjata yang ampuh untuk mengiringi derap langkah para patriot dan memacu semangat juang untuk merebut kemenangan.

Lalu bagaimana dengan lagu mars partai-partai peserta pemilu 2014 kemarin? Apakah lagu-lagu itu sudah cukup untuk menjadi bahan bakar yang ampuh untuk menggerakkan mesin partai? ataukah malah melempem sehingga mempengaruhi raihan suara yang tidak optimal? Ataukah untuk era sekarang ini lagu mars penyemangat kader sudah beralih fungsi, atau sekedar merupakan formalitas pelengkap dari syarat berdirinya sebuah partai?

Saya bukanlah seorang pengamat musik profesional yang mengerti seluk-beluk sejarah musik mars. Saya juga bukan pakar politik yang paham akan seluk-beluk urusan partai dan pemilu. Saya hanya mencoba melihat kembali fungsi lagu mars partai dalam peta perpolitikan tanah air di era modern ini dari kacamata pribadi saya. Bisa jadi ulasan ini menjadi terlalu naif atau mungkin juga terlalu sentimentil.

Selamat menikmati! 



1. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)


Partai yang diidentikkan dengan pesantren, kiyai dan santri ini ternyata mempercayakan urusan lagu mars partainya terhadap seorang komposer yang beragama Kristen. Tidak bisa dipungkiri kepiawaian seorang komposer Alfred Simanjuntak dalam merangkai kata dan nada menjadi sebuah mars yang humanis namun sekaligus tetap megah dan menggugah untuk mengiringi sebuah kebangkitan bangsa. Setelah lagu Bangun Pemudi Pemuda yang tersohor itu, maka bagi saya, Mars PKB inilah yang menjadi highlight dalam karier bermusik Alfred Simanjuntak.


2. Partai Demokrat


Sepanjang berdirinya, Partai Demokrat seperti tak pernah putus dirundung masalah korupsi. Rasanya tidak akan mampu untuk saya ceritakan secara terperinci berbagai kasus yang melibatkan para petinggi dan elit partai ini. Walaupun tokoh utama partai ini, Susilo Bambang Yudhoyono dikenal gemar menciptakan lagu, bahkan sudah menelurkan beberapa album sepanjang masa jabatannya sebagai Presiden Indonesia, namun saya menyangsikan keterlibatan beliau dalam pembuatan lagu mars Partai Demokrat yang begitu megah dan gagah ini. Kemegahan lagu mars partai ini sanggup membuat kita takjub dan berbagai kasus dan pelanggaran yang telah dibuat para petinggi dan elit partai, sejenak bisa terlupakan.


3. Partai Amanat Nasional (PAN)


Dengan irama yang terasa biasa-biasa saja dan opening lagu yang cukup berlebihan untuk ukuran sebuah partai yang katanya mengemban amanat nasional, namun lirik lagu mars partai ini dengan lugas dan jelas menggambarkan semangat cita-cita luhur kaum reformis ketika partai ini didirikan. Namun lirik lagu partai yang cukup puitis ini bisa saja sewaktu-waktu berubah menjadi lebay dan berlebihan apabila kita mengingat wajah Amien Rais. Walaupun 'dosa-dosa' partai ini tidak sedahsyat PKS dan Demokrat, tapi lagu mars Partai Amanat Nasional ini justru malah mengingatkan saya pada kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat para petinggi partai ini. Sekecil apapun itu.


4. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)


Bila dibandingkan dengan lagu 'Prabowo-Hatta' gubahan Ahmad Dhani, saya jelas lebih memilih lagu ini. Selain memang karena masalah orisinalitas dan unsur-unsur fasis yang terkandung di dalamnya, lagu ini jelas lebih baik untuk dijadikan lagu latar untuk berbagai tayangan iklan partai yang bertubi-tubi belakangan ini.
Tapi entah kenapa begitu pertama kali saya mendengarkan lagu mars Gerindra ini, yang pertama kali terbayang oleh saya adalah sekelompok taruna yang sedang menjalani ospek yang dipaksa untuk bernyanyi di bawah tekanan. Walau secara keseluruhan saya cukup menyukai lagu mars partai ini, tapi untuk sebuah partai besar yang dipimpin oleh seorang mantan Jenderal Kopasus, lagu mars Partai Gerindra ini masih kurang jantan dan kurang gagah.


 5. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)


Setelah bisa dikata cukup berjaya pada beberapa pemilu yang lampau, namun seiring waktu berjalan, citra PKS yang awalnya dikenal jujur dan militan perlahan tergerus. Mulai dari kebijakan-kebijakannya yang terkadang tak masuk akal, kontroversi Tifatul Sembiring dengan berbagai tingkah polahnya, sampai ketua partai Lutfhi Hasan Ishaaq dan beberapa elit partai yang ditangkap KPK akibat keterlibatannya dalam korupsi dalam kasus impor daging sapi.
Tapi di luar segala centang- perenang urusan partai, saya menilai bahwa lagu mars PKS punya nilai tersendiri dibandingkan lagu-lagu mars peserta pemilu 2014 ini. Citra partai yang sedang ternoda seolah-olah tertutup oleh lantunan syahdu sekaligus kemegahan barisan nasyid militan yang berbaris dengan gagah mengusung panji-panji partai.  Dan seperti Partai Demokrat, mars PKS sukses menutupi kebobrokan partainya sendiri. Bravo!


6. Partai Pembangunan Persatuan (PPP)


Sebelum kita mendengarkan lagu mars partai ini, pertama-tama kita harus membuang jauh-jauh imej Surya Dharma Ali yang terlalu identik dengan partai berlambang Ka'bah ini. Tinggalkan dosa-dosanya, lupakan wajahnya dari benak kita. Sudah? Kalau belum bisa juga melepaskan imej SDA, sebaiknya anda tidak perlu bersusah payah mendengarkan lagu mars partai ini karena hanya akan membuat anda merasa kecewa. Keluar dari lirik lagu yang begitu mulia, lagu yang mars gagah dan berirama cepat ini sangat cocok untuk mengiringi kegiatan baris-berbaris jawara-jawara Tanah Abang binaan H. Lulung. Bernasib sama dengan PAN, lagu mars PPP ini tidak mampu memunculkan imej positif dari partai maupun petinggi-petingginya.


7. Partai Bulan Bintang (PBB)


"Waktu terang bulan udara bersinar terang, teranglah sekali di kotalah Surabaya..dst dst.." Demikian sepenggal bait dari lagu yang berjudul Tanjung Perak yang dipopulerkan oleh Waljinah. Kenapa saya menghubungkan lagu Tanjung Perak dengan lagu mars Partai Bulan Bintang? Saya pun tak tahu. Mungkin saya melihat ada kemiripan nada di awal-awal lagu. Selebihnya saya tidak bisa berkomentar banyak. Menurut catatan, PBB adalah partai paling bersih dengan nomor urut paling bawah (hanya 1,14%) dalam kiprahnya di ajang korupsi nasional. Tidak banyak yang bisa saya komentari dari lagu mars PBB ini. Dengan nada yang monoton dan lirik yang datar-datar saja, mungkin kedepannya PBB bisa bekerjasama dengan musisi untuk mengaransemen ulang mars partainya supaya bisa menarik simpati publik serta meraup suara lebih banyak di pemilu-pemilu mendatang.


8. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)


Setelah saya mendengar lagu mars Partai Hanura, maka saya memaklumi bila di awal pilpres kemarin Partai ini terpecah. Wiranto bergabung dengan PDIP mendukung Jokowi, sementara Harry Tanoe merapat ke dalam poros koalisi GERINDRA yang mendukung Prabowo. Selain sebagai cerminan jiwa semangat partai, fungsi lagu mars adalah sebagai pemersatu yang mengiringi derap langkah barisan para anggota partai untuk berjuang bersama menuju Indonesia yang lebih baik. Dan dalam hal ini, lagu mars Partai Hanura telah gagal dalam fungsinya. Mungkin untuk di masa yang akan datang, lagu mars partai bisa didaur ulang atau mungkin sekalian diganti dengan lagu yang baru.


9. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)


Setelah mendengarkan lagu mars PDIP sampai selesai, saya merasa seperti seekor banteng yang sedang tersenggal-senggal di tengah arena, menunggu untuk menerima tikaman pencabut nyawa dari matador. Dengan tempo yang terlalu bersemangat dan nada yang menyentak-nyentak seperti itu, beberapa politisi PDIP yang perokok berat, pasti akan cukup susah payah menyelesaikan lagu mars partainya sendiri. Seperti lagu-lagu mars partai lainnya, tidak ada satupun catatan mengenai pencipta lagu mars PDIP ini, sehingga saya sulit mencari latar belakang atau motif sang komposer untuk menciptakan lagu dengan irama seperti ini. Saran saya, ada baiknya kalau mars PDIP ini janganlah terlampau sering dinyanyikan. Sebab bisa membahayakan kesehatan jantung para anggota partainya.


10. Partai Golongan Karya (Golkar)


Partai Golkar adalah salah satu partai tertua yang ikut dalam pemilu kali ini. Tidak perlu dikupas lagi tentang sepak terjang dan kebobrokan partai ini selama puluhan tahun berdiri. Durasi yang cukup lama untuk ukuran sebuah lagu mars partai (3 menit 10 detik), ditambah tempo dan semangat tinggi, maka kita akan sulit sekali menghafal atau bahkan memaknai tiap bait lirik lagu ini. Niat yang baik, tulus dan ikhlas sering kali tertutupi oleh semangat juang semu. Belum lagi kalau kita melihat dari tinjauan kesehatan, sudah jelas ini merupakan alasan utama partai Golkar selalu menyertakan kelompok paduan suara dari pemuda-pemudi yang sehat untuk menyanyikan lagu mars partainya. Setali tiga uang dengan PDIP, lagu mars Partai Golkar hampir-hampir tidak mungkin dinyanyikan oleh para anggota partainya yang rata-rata sudah berumur. Menimbang dari sisi kesehatan, maka ada baiknya supaya tempo lagu ini bisa diperlambat dan durasinya diperpendek. Atau alangkah lebih baik jika Golkar melibatkan Tantowi Yahya dalam menggubah lagu partainya.


11. Partai Nasional Demokrat (Nasdem)


Purwacaraka dan Inggrid Wijanarko adalah dua nama yang sudah tidak asing lagi dalam blantika musik tanah air, namun lagu mars jelas jauh berbeda dengan lagu pop, baik itu dari susunan kata, nada dan iramanya. Alih-alih menciptakan lagu yang gagah dan penuh semangat, lagu mars Partai Nasdem justru malah melempem. Dari suara bariton yang cukup dominan di dalam lagunya, saya mencurigai adanya keterlibatan ketua partai, Surya Paloh dalam lagu mars Nasdem. Kita jelas tidak akan mendapatkan hasil dan kepuasan yang maksimal ketika kreatifitas seniman dibatasi oleh aturan yang baku dan kaku. Namun benarkah ada intervensi Surya Paloh dalam pembuatan lagu mars partainya? Wallahu a'lam...


12. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI)


Dari semua lagu mars partai peserta pemilu 2014, hanya lagu mars dari PKPI yang bisa membuat saya bernostalgia dengan kenangan-kenangan masa kecil saya dahulu. Ketika setelah selesai mandi, saya harus duduk manis di depan radio dan mendengarkan kaset sandiwara 'Sanggar Cerita'. Ada kemiripan di bagian refrain lagu mars PKPI dengan lagu sandiwara Sanggar Cerita. Alih-alih menjadi lagu mars yang gagah dan membahana, lagu PKPI justru terdengar jenaka. Cocok sekali untuk mengiringi anak-anak sekedar sarapan atau berolahraga. Mungkin untuk di masa yang akan datang, PKPI tidak perlu ikut-ikutan megah dan gagah sehingga menimbulkan militansi semu seperti partai-partai lain. Cukup dengan melibatkan Papa T Bob atau Ria Enes, maka anak-anak dengan sendirinya akan meminta agar orang tuanya untuk memilih PKPI.


Demikianlah ulasan yang saya lakukan ketika anak saya, Merdu, sedang tidur siang.


Agan Harahap

*Penikmat politik dan pemerhati musik yang sok tau

Senin, 16 Juni 2014

Indonesia Menangis




Ini adalah slide show sederhana dari foto-foto yang saya temukan di instagram dengan menggunakan hashtag #sedih, #duka, #pedih,  #galau dan #airmata


Song : Surat Undangan
By : Poppy Mercury




Jumat, 16 Mei 2014

Sing Fest #4 : Realisme Dalam Lagu Anak-Anak



Tadi sore, saya dan istri menyempatkan diri untuk menyanyikan lagu anak-anak dalam upaya menenangkan anak saya yang sedang rewel seharian karena habis diberi vaksin. Rasa-rasanya sudah hampir semua lagu anak-anak yang kami tahu, sudah kami nyanyikan. Namun Merdu, nama anak kami, masih saja rewel. Tiba-tiba saja saya teringat akan sebuah lagu anak-anak yang dulu pernah hits di masa saya masih kecil. Sebuah lagu yang berjudul 'Anak Jalanan' yang dipopulerkan oleh penyanyi cilik bernama Fadly di era awal 90-an.

"Di jalan ku dicaci dimaki, ku hanya bagai sampah kota ini.. Hujan panas kuberatap langit
Siang malam kemana ku pulang.. " dst dst.. 

Lagu itu bercerita tentang seorang anak jalanan yang hanya bisa menatap sedih ketika melihat kawan-kawannya bersekolah, karena dia harus segera berjualan koran demi untuk sesuap nasi. Saya lupa-lupa ingat dengan liriknya. Hanya beberapa lirik bridge dan reffrainnya yang masih saya ingat. Pokoknya, ini adalah sebuah lagu dengan lirik yang 'cukup berat' untuk dinyanyikan seorang anak yang masih berusia dini.
Dengan bantuan Youtube, saya berhasil menemukan lagu tersebut dan menyanyikannya dengan lantang di depan anak saya yang baru berusia 2 bulan.
 
Setelah lagu 'Anak Jalanan' itu selesai, saya pun langsung tergoda untuk memutar lagu-lagu lain sejenis yang ditawarkan oleh situs itu. Lagu dengan judul 'Selamat Tinggal Lampu Merah' yang juga dinyanyikan oleh Fadly menjadi pilihan saya.

" Di sudut jalan ini, di bawah lampu merah.. Bermandi peluh membasah tubuh, ku meringankan beban orang tuaa.." dst dst.. 

Istri saya, Itta S Mulia, yang sejak tadi diam saja melihat kelakuan suaminya, langsung menyatakan keberatannya terkait lirik yang terlalu sedih untuk dinyanyikan di depan anak kami. Tapi bagaimanapun juga, itu adalah lagu anak -anak yang saya pelajari dan saya nyanyikan sewaktu saya masih kecil dulu. Dengan balutan nuansa rock yang kental, sang penyanyi cilik mengisahkan kebulatan tekadnya untuk meninggalkan kegiatannya mencari nafkah di lampu-lampu merah demi masa depan. Walau di lagu itu tidak dijelaskan bagaimana upayanya untuk keluar dari kehidupan jalanan itu.
Merdu nampaknya makin gelisah mendengar bapak-nya bernyanyi. Rupanya lagu-lagu bertemakan realisme sosial itu tak mampu menenangkan hatinya. Saya pun keluar kamar dan menuju komputer guna meneruskan nostalgia musikalitas saya. Saya terpancing untuk membuka sebuah link video yang menampilkan Charly ST12. Ah.. Rupa-rupanya Charly pun mengalami masa anak-anak yang sama dengan saya. Di video itu tampak Charly dengan lancar menyanyikan lagu 'Selamat Tinggal Lampu Merah' dan diapun mengutarakan bahwa inilah lagu anak-anak yang menyertai pertumbuhannya masa kecilnya.

Menurut penyelidikan saya, rupa-rupanya lagu 'Anak Jalanan' dan 'Selamat Tinggal Lampu Merah' berada dalam satu album yang berjudul sama. Selain itu terdapat juga lagu 'Asongan', 'Balada Anak Desa' dan lagu-lagu lain dalam besutan nada dan lirik yang begitu menyayat-nyayat bagi seorang anak kecil.


Setelah puas bernostalgia dengan Fadly, saya pun berselancar ke era yang lebih lawas lagi. Era 80-an.
Ini adalah era-nya Julius Sitanggang. Saya memang tidak begitu akrab dengan lagu anak-anak yang dinyanyikan Julius Sitanggang karena saya baru mulai mendengarkan, menghafal dan menyukai musik anak-anak, justru di era 90an. Era dimana sang penyanyi cilik bersuara emas itu telah beranjak menjadi remaja dan mulai meniti karier dengan menyanyikan lagu-lagu cinta. Maka wajar saja, ketika menyebut nama Julius Sitanggang, yang langsung teringat oleh saya adalah lagu 'Maria'. Saya rasa, hampir semua orang pada masa itu pasti tau lirik maha sedih lagu itu :  
" Mariaa.. Akhirnya Tuhanpun memanggilmuuu.. Walau kau tlah tiadaa.. pergi untuk slamanyaa..dst dst.. "
Maaf, saya terkadang suka menjadi sentimentil kalau mendengarkan lagu Maria. Sebab saya ingat ketika pertama kali mendengar lagu Maria di radio (saya masih SD), tanpa sengaja air mata saya pun menetes tanpa sebab yang pasti. Padahal saya tidak punya satu pun kawan yang bernama Maria. Hanya karena nada dan lirik lagu yang terlalu sedih bagi saya pada waktu itu. Walaupun ketika saya mendengarkannya lagi, ada sedikit tanya yang timbul dalam hati. Kok bisa-bisanya dulu saya sampai menangis mendengar lagu Maria?

Ehemm.. Ok. Mari kita kembali ke pokok bahasan tentang 'lagu-lagu berat' anak-anak 80-90an.
Pilihan saya berikutnya jatuh pada lagu 'Doa Penyemir Sepatu'. Suara Julius Sitanggang yang begitu jernih, serta ditambah lagi dengan lirik yang membius tentang kisah seorang anak yang mencari nafkah di sebuah terminal tua dengan menggantungkan harapan pada setiap pendatang yang mau menyemirkan sepatunya. Walaupun di awal lagu sekilas terdengar mirip Ebiet G Ade, dan di bagian reffrain mirip Deddy Dores, tapi saya suka lagu ini.

"Dalam kesibukan dan bisingnya kota..Matamu sibuk mencari pendatang.
Sepasang sepatu suatu harapan bagi dirimu.. dst dst.."

Di akhir lirik lagu tersebut, terdapat kata-kata, 
" Sebait doa ku ucapkan, semoga cerah masa depan mu nanti.."
Ah.. Manis sekali. Setidaknya di lirik penghabisan itu mengajak anak-anak kita agar bisa lebih berempati terhadap orang lain.

Saya pun beralih kepada playlist berikutnya. Masih dengan suara jernih Julius Sitanggang. Lagu kedua berjudul : 'Balada Anak Nelayan'. Lagu ini bercerita tentang kehidupan keseharian anak-anak nelayan. "Seharian ini telah kulewati dengan bubu dan kail ditanganku".Saya kagum bahwa keranjang bubu pun dimasukkan kedalam lirik lagu ini. Saya teringat tahun 80-90an, ketika saya masih tinggal di Cempaka Putih, saya dan kawan-kawan membuat bubu dengan menggunakan botol bekas dan tempat cat untuk menangkap ikan di empang-empang. Dan alangkah 'cupu-nya' bila pada saat itu, kami tidak bisa merangkai kail untuk mencari belut di got. Saya rasa tidak mungkin lagi anak-anak sekarang tahu tentang keranjang bubu. Bahkan istri saya pun tidak tau keranjang bubu untuk menangkap ikan.
Ah, sungguh beruntung saya melewati masa kanak-kanak saya di era itu. Ketika kami masih bisa bermain dengan bebas di kolam dan kebun. Dan jujur saja saya terkadang iri hati dengan kawan-kawan yang melewatkan masa kecilnya di laut, desa bahkan di hutan sekalipun.

Playlist terus berputar secara otomatis menemani saya melanjutkan tulisan ini. Lagu-lagu sejenis seperti : 'Cita-Cita Anak Petani', 'Doa Untuk Mu Kawan', dst terus mengalun pelan seraya membangkitkan memori saya pada kehidupan masa kecil saya.



Tiba-tiba terdengar lagu yang cukup familiar di telinga saya. Saya pun segera mengecek siapa yang menyanyikannya. Rupa-rupanya Janter Simorangkir lah sayang empunya suara emas itu. Lagu berjudul 'Katakan Mama' bercerita tentang kepedulian seorang anak kecil yang bertekad untuk membatu ibu nya bekerja.

"Ingin ku membantu Mamaaa.. Menyemir pun mau.. Sambil ku menjual koraann.. Sepulang sekolah..dst dst".

Dan sayapun kembali terlena dan tenggelam dalam lirik-lirik humanis yang menyayat hati tersebut.
Setelah Julius Sitanggang beranjak remaja dan menjelma menjadi penyanyi pop dewasa, Janter Simorangkir nampaknya sukses meneruskan kiprah 'senior'nya dalam menyanyikan lagu anak-anak dengan lirik yang 'berat' itu. Namun ada satu lagu dari Janter Simorangkir yang bagi saya cukup 'wow' yaitu lagu berjudul 'Kanker Ganas'. Saya tidak menemukan data apapun tentang lagu ini di internet. Hanya ada 1 link lagu ini di youtube. Walaupun kualitas rekaman digitalnya buruk sehingga liriknya tidak terdengar jelas, tapi sungguh mengejutkan bagi saya ketika ada lagu anak-anak yang berkisah tentang kanker ganas. Mungkinkah tema kanker pada waktu itu tengah menjadi momok di masyarakat kita? Karena pada era yang kurang lebih sama, seorang penyanyi senior, Tommy J Pisa menyanyikan lagu serupa dengan judul 'Akibat Kanker Ganas'. Dan rupa-rupanya di dunia film, ada pula sebuah film 'hits' yang berjudul 'Akibat Kanker Payudara' yang dibintangi Cok simbara dan Chintami Atmanegara. Tapi seorang anak kecil seperti Janter menyanyikan lagu 'Kanker Ganas' ? Entahlah..

Dan setelah Fadly, Julius Sitanggang dan Janter Simorangkir, saya pun menemukan beberapa lagu-lagu anak-anak dengan lirik-lirik yang berat namun realistis dari periode yang acak.
Ada Ben Silitonga yang memposisikan dirinya sebagai 'Aku Anak Orang Tak Punya'. Penyanyi cilik Jachri Fisher ikut mewarnai 'era kegelapan lagu anak-anak' ini dengan lagunya yang berjudul 'Tanah Merah', yang bercerita tentang kematian kedua orang tuanya. John Tanamal, muncul dengan lagu berjudul 'Katakan Papa' yang menceritakan tentang perpisahan kedua orang tuanya. 
Belum lagi Abiem Ngesti yang populer dengan lagu 'Pangeran Dangdut', tak ketinggalan menyanyikan lagu-lagu bertema 'berat' ini dengan lagunya yang berjudul 'Tirai Kehidupan'

Saya rasa, di tiap beberapa lagu yang muncul dalam satu periode, tentu punya beberapa kemiripan yang mewakili era-nya sendiri. Sehingga kita bisa menarik sebuah benang merah yang menggambarkan suatu gejolak sosial yang terjadi dalam satu periodisasi zaman. Kemiripan-kemiripan tadi tidak hanya melulu dari nada, tema atau lirik semata. Tapi bisa juga dilihat dari jenis musiknya sendiri.

Bila kita mendengarkan lagi lagu anak-anak pada era Adi Bing Slamet, Ira Maya Sofa, Cicha Koeswoyo dll. Hampir di tiap lagu pada era tersebut nuansa pop yang ceria mulai terasa. Lagu-lagu seperti 'Mak Inem Tukang Latah', 'Hely', 'Sepatu Kaca', 'Bebek-Bebek Ku' dan sebagainya, dipenuhi nuansa ceria dengan pemakaian efek sound yang jenaka pada era itu. Bahkan untuk musik dengan tempo yang lebih pelan, seperti 'Aku Sedih Duduk Sendiri', kita masih bisa mendapatkan nuansa positif yang menggambarkan keceriaan seorang anak ketika kedua orang tua yang pulang ke rumah setelah kembali dari bepergian. Entah gejolak sosial apa yang terjadi di tanah air pada waktu itu, mungkinkah pertumbuhan perekonomian serta meningkatnya daya beli di masyarakat secara tidak langsung turut berperan serta dalam warna musik anak-anak pada era itu? bisa saja.. Sebab konon, Operet Cinderella yang dibintangi oleh Ira Maya Sopha dengan Dina Mariana mendulang kesuksesan yang luar biasa dengan membludaknya penonton-penonton cilik yang harus mengeruk uang dari kantong orang tua mereka dengan jumlah  yang tidak sedikit pada waktu itu untuk bisa menyaksikan pagelaran atau membeli kasetnya.

Ciri lain yang bisa terbaca dengan cukup jelas adalah bila kita menarik mundur beberapa puluh tahun sebelum Adi Bing Slamet dkk lahir. Lagu anak-anak ciptaan Ibu Soed, Ibu dan Pak Kasur, Koesbini, sedikit-banyak kita bisa merasakan 'warna-warna patriotik' di tiap lagunya. Mungkin warna patriotik ini tidak tergambarkan melalui lirik-lirik di lagu-lagu itu. Tetapi nada dan irama lagu-lagu tersebut mengingatkan saya pada jenis musik march yang bersemangat yang biasa dipakai dalam lagu-lagu perjuangan. Coba kita perhatikan, lagu 'Menanam Jagung', 'Naik Kereta Api', 'Tik Tik Tik Bunyi Hujan' dll, tempo atau ketukan lagu-lagu tersebut mirip dengan lagu-lagu Berkibarlah Bendera Ku, Bangun Pemudi Pemuda, Maju Tak Gentar dan lainnya.
Sementara pada lagu anak-anak yang berirama lambat seperti 'Kupu-Kupu Yang Lucu', 'Oh Amelia', 'Ambilkan Bulan Bu' dll, mengingatkan saya pada lagu-lagu hymne seperti 'Indonesia Tanah Air Beta', 'Padamu Negeri' dsb.

Lalu, apa yang terjadi pada lagu anak-anak era 80-90an ? Apa yang membuat pencipta-pencipta lagu anak-anak pada masa itu malah menciptakan lagu-lagu tentang kematian, perceraian, serta berbagai kesulitan hidup untuk dibawakan oleh penyanyi-penyanyi ciliknya? 
Mungkin saja tema-tema gelap itu adalah titipan pemerintah yang pada era itu sedang gencar-gencarnya menggalakkan program Keluarga Berencana, agar para orang tua bekerja lebih keras demi kesejahteraan anaknya. Atau mungkin juga masyarakat pada era itu sudah letih dengan segala keceriaan-keceriaan semu dan ingin agar anak-anaknya lebih realistis dalam menghadapi kehidupan.
Ataukah jangan-jangan ini adalah upaya propaganda bangsa asing yang bertujuan untuk merusak generasi bangsa kita?
Entahlah, saya tidak bisa menemukan sebab musabab terciptanya lirik-lirik nan menyayat hati itu. 
Namun setidaknya saya bisa menemukan nilai-nilai positif dari lagu anak-anak yang 'realistis' itu. Dengan mendengarkan lagu 'Selamat Tinggal Lampu Merah', 'Anak Jalanan', 'Doa Penyemir Sepatu' dll atau bahkan lagu anak-anak yang berjudul 'Kanker Ganas' sekalipun, saya bisa belajar untuk lebih realistis dalam menyikapi kehidupan ini serta bisa lebih menaruh empati terhadap sesama.

Bila sejak tadi sudah membicarakan panjang lebar tentang lagu anak-anak dari jaman ke jaman, lantas bagaimana pula dengan lagu anak-anak era 2000-an sampai sekarang? Bagaimana dengan lagu-lagu hits dari Puput Melati, Enno Lerian, Trio Kwek-Kwek, Agnes Monica, Joshua Suherman, Tasya dan ribuan lagi pendatang baru lain di blantika musik anak tanah air? Entahlah, sebab ketika mereka mulai bermunculan, saya sudah menyibukkan diri dengan menabung agar bisa membeli kaset Iwan Fals.


Agan Harahap

*Pemerhati musik anak dan bukan penggemar Papa T Bob


PS: Lalu bagaimana pendapat mu tentang lagu anak-anak masa kini? 

Tambahan : Menurut Denny Sakrie, pengamat musik, 'realisme kelam' dalam lagu anak-anak era 80-90an itu disebabkan karena dipengaruhi oleh lagu-lagu balada yang memang pada saat itu tengah booming di Tanah Air. Kemunculan 'Power Ballads' dan diikuti dengan slow rock Melayu, yang ditandai dengan hits Isabella dari Search dan Suci Dalam Debu dari /Iklim sedikit banyak juga memberi kontribusi dalam 'realisme' lagu anak-anak di era itu.






Senin, 28 April 2014

Antara Saya Dan Bola Basket



Pada era 90-an, olahraga bola basket sempat merasuki anak-anak muda di Indonesia.
Hampir semua orang mengenakan atribut basket. Sepatu yang terkenal pada era itu adalah Reebok Pump ( selain Nike Air Jordan, tentunya). Tak hanya dari segi fashion, demam basket ini pun semakin menggila dengan munculnya lagu ‘Nombok Dong’ yang dinyanyikan oleh rapper legendaris Indonesia, Iwa K. Video klip lagu ini berisikan aksi-aksi dunk (nombok) mutakhir yang diperagakan oleh pemain-pemain top nasional. 
Sementara NBA Action yang ditayangkan pada hari Sabtu, sudah menjadi tontonan wajib yang tak mungkin dilewatkan. Karena tayangan NBA games pada waktu itu hanya bisa dinikmati melalui antenna parabola, maka Liga Kobatama pun menjadi sarana pelampiasan kami. Bahkan saya dulu bisa menghafal semua starter-starter dari seluruh tim yang berlaga di kompetisi basket nasional itu.
Selain itu, brand semacam Upper Deck, Flairs, Finest, Hoops menjadi primadona. Yak, nama-nama tadi adalah merk kartu basket. Hampir semua anak-anak pada era itu memiliki kartu basket. Baik itu untuk di koleksi sendiri atau bahkan untuk diperdagangkan di tempat-tempat tertentu.
Berikut adalah sekelumit ‘kisah percintaan’ saya dan bola basket yang telah berlangsung selama puluhan tahun sampai sekarang dan tetap tidak akan luntur sedikitpun sampai nanti akhir menutup mata.

Berpose bersama kostum basket kebanggaan saya. PSKD 3 #14

Mengawali Karier Sebagai Pemungut Bola Dari Got

Kisah ini dimulai tahun 1991 ( 23 tahun yang lalu). Saat itu saya hanyalah seorang anak bawang di daerah Cempaka Putih Timur. Saban sore saya selalu menyaksikan anak-anak komplek yang lebih besar bermain bola basket di lapangan kecil yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah saya.
Selain mengamati jagoan-jagoan itu beraksi, sebagai anak bawang, tugas saya adalah mengambil bola basket yang tercebur ke got atau masuk ke pekarangan rumah orang. Maklum saja, lapangan yang saya maksudkan disini tak lebih dari sebuah ring yang dipasang di pinggir jalan di depan rumah seorang jawara basket komplek itu.
Setiap hari saya selalu saja dibuat terkesima dengan gerakan-gerakan mereka yang begitu piawai dalam memasukkan bola ke dalam keranjang. Karena tidak pernah diberi kesempatan untuk mencoba dan bermain, maka saya memutuskan untuk membeli bola basket saya sendiri. Bola basket pertama yang saya miliki itu bermerk Mikasa. Bola seharga 20 ribu rupiah itu saya beli di toko olahraga di Pasar Cempaka Putih. Akhirnya, saya pun bisa mencoba bermain di lapangan itu. Sepulang sekolah (pk. 1-2 siang), saya langsung mengganti seragam dan bermain basket di lapangan itu seorang diri. Dan pada sore harinya, saya kembali ‘dinas’ dengan  menyaksikan senior-senior itu bermain sambil meniru berbagai gaya mereka. Saat itu saya masih duduk di kelas 5 SD. Dan SD BPK Penabur 3, sekolah saya pada waktu itu, tidak ada pengenalan tentang basket sedikitpun dalam kurikulum mata pelajaran olahraga. Kegiatan sebagai pemungut bola di got itu tetap saya jalani dengan sukacita sampai saya tamat SD.

Karena mungkin memang otak saya yang kurang sesuai untuk belajar di SDK Penabur, maka orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya ke sekolah yang jauh lebih ‘toleran’. Sekolah itu bernama SMP 1 PSKD.
Saya yang datang dari SD yang bergengsi, wajar saja bila sedikit shock karena kelakuan kawan-kawan sekolah yang sungguh berbeda dari apa yang selama ini saya alami. Tawuran, narkotika bahkan seks (kecuali tawuran, semuanya masih dalam kadar yang bisa ditolerir) rasanya sudah menjadi hal yang lumrah ditempat itu. Sejujurnya dalam beberapa hari pertama, saya cukup merasa tertekan dan sempat memohon kepada orang tua saya agar saya dipindahkan dari sekolah itu guna menyusul kawan-kawan intelektual saya ke SMP Penabur.

Tapi keinginan itu berubah seketika setelah hari pertama pelajaran olahraga. Yak, hari pertama pelajaran olahraga diisi dengan bermain basket 2 jam penuh. Kebetulan juga sekolah kami mempunyai lapangan yang lebih layak daripada lapangan yang selama ini saya pakai untuk berlatih di rumah.
Saya masih ingat, pada tahun ajaran pertama di SMP itu, setelah bel istirahat berbunyi, maka saya bersama Ronald Tampubolon, Joey Basiha, Rubein Novelino dan beberapa kawan lain segera bergegas ke kantin untuk memesan makanan dan langsung duduk mengambil tempat yang terbaik di sisi lapangan guna menyaksikan senior-senior itu bermain basket.
Yang membuat saya cukup bangga adalah, bahwa sekolah itu mempunyai tim basket yang cukup disegani di kejuaraan-kejuaraan SMP pada jaman itu. Senior-senior anggota tim basket sekolah menjelma menjadi selebrit-selebriti kecil. Hampir semuanya memiliki pacar yang cantik. Sehingga saya yang bertampang pas-pasan ini pun  diam-diam menyimpan ambisi besar, supaya kelak saya bisa bergabung dalam jejeran orang-orang terpandang itu. Dan sebagai langkah awal, saya pun segera mendaftar dalam kegiatan ekstrakurikuler bola basket. Lantaran bola basket, saya tidak pernah lagi berlatih sendiri siang-siang di lapangan komplek. Sepulang sekolah, saya langsung bermain basket dan baru pulang ke rumah menjelang sore hari. Otomatis, karier saya sebagai pemungut  bola yang tercebur di got selesai!

Setiap sehabis ujian catur wulan, sekolah kami selalu mengadakan pertandingan olahraga antar kelas. Dan tentu saja, pertandingan basket 3 on 3 menjadi ajang yang selalu disesaki penonton. Terutama wanita-wanita cantik yang ada di sekolah itu. Saya bersama kawan-kawan kelas 1A, sukses mengantarkan kelas kami maju sampai ke babak perempat final. Sebuah prestasi yang cukup membanggakan karena kelas kami adalah satu-satunya kelas 1 yang bisa menembus babak itu dengan mengalahkan kakak kelas. Seluruh siswa kelas 1 tak putus bersorak-sorai menyemangati kami ketika bertanding. Walau akhirnya perjuangan kami terhenti oleh 3 orang jagoan sekolah, namun hari itu adalah hari pertama saya merasa bangga akan prestasi basket saya.

Saya melewati tahun pertama di SMP itu dengan gilang gemilang. Selain masuk ranking 10 besar, saya pun sukses dalam olahraga bola basket. Memasuki kelas 2, saya pun akhirnya dipanggil untuk masuk dalam jejeran tim bola basket SMP kami. Walaupun saya tidak bermain di dalam pertandingan, tapi saya cukup bangga bisa berlatih bersama ‘para selebriti’ di sekolah itu.

Selain bermain di rumah dan di sekolah, saya pun kerap bermain di lapangan Don Bosco di daerah Sunter. Ronald Tampubolon, sahabat saya dari SMP ini lah yang pertama mengajak saya bermain di lapangan itu.
Itu adalah kali pertama saya untuk bermain di lapangan besar (ukuran sebenarnya). Di lapangan Don Bosco itu pulalah saya berkenalan dengan kawan-kawan baru.
Setiap hari, rasa cinta saya terhadap bola basket semakin besar. Dan hampir tidak ada hari tanpa bola basket. Baik itu panas atau hujan, saya selalu menyempatkan diri untuk berlatih. Baik itu latihan dilapangan maupun latihan fisik. Latihan fisik yang saya lakukan di rumah rupa-rupanya cukup membuat pusing kedua orang tua saya karena plafon atau langit-langit rumah penuh dengan bekas jari-jari saya. Yak, setiap hari saya selalu melatih lompatan saya dengan menyentuh plafon rumah saya. Bila hari hujan dan tidak ada waktu yang tepat untuk bermain di lapangan, saya pun melatih assit dan dribbling di garasi. Alhasil, seluruh tembok garasi penuh dengan bekas pantulan bola basket yang membuat ayah saya geleng-geleng akibat kelakuan anaknya ini.


Sepatu Basket

Seiring waktu berjalan, posisi sebagai anak bawang di komplek rumah pun sudah saya tinggalkan. Selain beberapa kawan komplek yang sudah masuk dunia kuliah, saya pun sekarang punya beberapa ‘petugas’ yang selalu memungut bola saya yang masuk ke got. Ya, saya sudah menjadi senior di komplek itu. Saya sukses meladeni pemanin-pemain dari komplek lain yang sengaja datang menantang kami. Begitupun sebaliknya.
O iya, asal tahu saja, bahwa permainan basket di komplek kami tidak menggunakan sepatu. Hanya menggunakan sandal jepit merk swallow atau bahkan dengan kaki telanjang. Maka dari itu, permainan bisa terhenti apabila ada kaki yang berdarah atau bahkan kuku yang copot karena tergesek aspal. Dan lirik lagu Nombok Dong dari Iwa K itu pun kami pelesetkan menjadi “hidup di lapangan, dengan darah bercucuran..dst dst..”

Sepatu seperti ini lah yang menjadi sepatu basket pertama saya

Saya dibesarkan dalam keluarga yang sederhana. Pada era itu, sepatu basket merupakan barang bergengsi. Seseorang akan terlihat ‘wah’ bila ia mengenakan sepatu Air Jordan, LA Gear-nya Hakeem Olajuwon, Reebok O’neal atau Adidas Kobe Bryant. Tak heran harganya pun selangit sehingga saya tidak sampai hati untuk merengek kepada orang tua saya dan untuk dibelikan sepatu basket.  Waktu itu saya hanya punya satu sepatu terkadang merk Spotec atau lebih sering mengenakan Eagle. Baik itu untuk sehari-hari bersekolah dan bermain basket.
Untuk sekedar bermain dan bertanding, saya kerap meminjam sepatu milik kawan saya. Rupa-rupanya, ayah saya diam-diam menaruh simpati terhadap anaknya yang kerap meminjam sepatu basket ketika bermain. Pada suatu hari yang berbahagia, tanpa disangka-sangka ayah mengajak saya ke Mall Kelapa Gading. Dan beliau mempersilakan saya untuk memilih sepatu basket. Dengan menimbang berbagai kemungkinan dan prihatin akan faktor ekonomi keluarga, maka pilihan saya jatuh pada sepatu basket merk nike berwarna hitam karena bisa sekaligus dipakai untuk bersekolah sehari-hari. Harga sepatu itu cukup mahal, 250 ribu rupiah. Sebuah nominal yang cukup fantastis pada era itu. Namun harga sepatu itu masih jauh lebih murah dibanding sepatu-sepatu lain yang kerap digunakan oleh pemain-pemain NBA.
Tidak ada yang special dengan sepatu basket pertama saya itu. Bentuknya sederhana, tidak ada desain yang aneh-aneh bahkan lampu yang menyala-nyala. Selang beberapa waktu kemudian, saya mendapat ‘kabar baik’ dari seorang sahabat saya. Rupa-rupanya ,Anfernee ‘Penny’ Hardaway (tandem Shaquille O’Neal dari Orlando Magic) juga mengenakan sepatu yang sama dengan yang saya pakai. Dan semenjak hari itu ,saya bangga mengenakan sepatu itu.

Sepatu Adidas Kobe Bryant

Sepatu basket lainnya yang cukup mempunyai kenangan adalah sepatu merk Adidas edisi Kobe Bryant. Sebagai penggemar basket dari kalangan menengah ke bawah, untuk menggali info seputar NBA, saya pun berlangganan tabloid Bola. Memang tidak banyak informasi yang saya dapatkan disana, tapi setidaknya ulasan-ulasan Eko Widodo, Reinhard Tawas, Ary Sudarsono atau bahkan Helmy Yahya cukup memberi informasi yang saya butuhkan.
Dari tabloid itu pula lah saya mendapatkan informasi tentang adanya bazaar barang-barang olahraga bekas atlet. Saya bersama beberapa kawan pergi menuju kantor Kompas-Gramedia di Pal Merah guna mengais rejeki. Siapa tahu ada barang memorabilia basket bekas yang bisa kami miliki disana. Siang itu rupanya bintang keberuntungan saya sedang bersinar. Dan saya pun sukses membawa pulang sepatu Adidas Kobe dengan harga yang sangat murah. Dan menurut tulisan yang tertera disana, sepatu yang saya beli itu bekas digunakan oleh Ali Budimansyah. Seorang pemain basket professional Tanah air. Sepatu itu terus saya gunakan sampai solnya lepas. Walaupun sepatu itu sudah pesiun, namun sepatu itu tetap saya simpan dan saya bawa sampai kuliah di Bandung.


Pertemanan, Kacamata Dan Kartu Basket

Saya juga mempunyai sahabat yang bernama Yohanes Basiha Siagian atau akrab dipanggil dengan nama Joey. 
Joey merupakan perpaduan yang unik antara ayah Batak dan ibu dari Amerika. Sedikit berbeda dari kawan-kawan yang lain, Joey memiliki ‘akses’ yang lebih terhadap dunia basket karena memang dia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Saya bersama Parulian Sitanggang, kawan kami yang lain, kerap bermain bahkan sampai menginap di rumahnya di Jalan Lamandau Blok M. Sebuah jarak yang cukup jauh dari Cempaka Putih mengingat usia saya yang masih belia pada saat itu.
Selain bisa bermain basket sepuasnya, karena Joey memang memiliki lapangan basket pribadi di belakang rumahnya, saya pun kerap membaca berbagai majalah basket terbitan luar negeri seperti majalah SLAM, Sports Illustrated, Becket dsb. 

Basketball Google yang masih saya simpan sampai hari ini

Kartu-kartu basket yang masih tersimpan rapih dalam album khusus
Pada saat itu penggunaan google (kacamata minus yang didesain khusus untuk basket) menjadi cita-cita yang mustahil yang hanya bisa diimpikan oleh saya yang berkacamata minus ini. Karena ‘akses lebih’ dari Joey Basiha inilah, saya bisa tampil bak  James Worthy, Horace Grant atau Kareem Abdul Jabar dengan menggunakan kacamata khusus basket ini.
Selain itu, Joey juga sukses meracuni saya dengan hobi baru. Yakni, mengumpulkan kartu basket. Setelah berkenalan dengan kartu basket, maka trayek saya menjadi lebih jauh lagi. Selain ke Senen (sekolah kami) dan ke jalan Lamandau, saya kerap pergi ke Mall Citra Land untuk membeli kartu basket.
Kartu-kartu basket itu saya dapatkan dari menyisihkan uang jajan dan transport saya. Sehingga, setiap hari sabtu, sepulang sekolah saya pasti berburu sebungkus kartu basket. Merk-merk seperti Upper Deck, Flairs, Tops, Finest, Hoops  dsb pun jadi akrab bagi saya. Pada waktu itu, memiliki kartu basket dengan gambar pemain basket terkenal bisa menghasilkan pendapatan tersendiri. Saya kerap beberapa kali menjual koleksi kartu-kartu saya dengan beberapa kawan. Dan uang hasil penjualan kartu itu saya tabung supaya bisa membeli kartu yang lain lagi. Jumlah koleksi kartu basket yang saya miliki mencapai jumlah ratusan. Dan seiring berjalannya waktu saya pun kerap menyortir kartu-kartu tersebut sehingga lambat-laun jumlahnya berkurang. Sampai hari ini, saya masih menyimpan satu album yang penuh berisi dengan kartu-kartu bergambar pemain NBA idola saya.

Pembicaraan saya dan Joey hampir tidak pernah lepas dari dunia basket. Bahkan kami sempat berangan-angan memiliki sekolah dengan system draft pick seperti di Amerika yang bisa memuluskan pemainnya sampai ke liga NBA. Namun hayalan tinggalah hayalan. Saya kini banting stir menjadi seorang seniman. Sebuah profesi yang kontras dari dunia olahraga. Sementara Joey Basiha menempuh jalan yang sangat jauh berbeda dengan saya. Beliau kini sukses menjadi kepala sekolah yang menyediakan pendidikan gratis bagi siswa-siswi di seluruh Indonesia yang berprestasi dalam bidang basket.


Cita-Cita Saya Pada Waktu Itu: Tampil Di Liga Kobatama

Menurut orang tua saya, sekolah ini merupakan SMA yang terbaik dari SMA-SMA PSKD lainnya. Maka saya pun melanjutkan jenjang pendidikan saya disana. Beberapa kawan seperti Rubein, Joey, Cyrus, Meiske dan beberapa kakak-kakak dari SMP 1 PSKD pun bersekolah di sekolah ini sehingga saya tidak begitu merasa asing dengan suasana baru di bangku SMA.
Beberapa kawan yang setiap hari bermain basket di lapangan Don Bosco Sunter pun menjadi pemain inti sekolah kami. Oleh sebab itu, karier basket saya di sekolah ini bisa dikata cukup cemerlang. Karena kemampuan saya sudah diketahui oleh beberapa senior, maka saya langsung ditarik sebagai pemain inti sekolah kami. Sebuah posisi yang cukup membanggakan bagi seorang siswa kelas 1 seperti saya.

Waktu itu ada seorang siswa kelas 2 yang berbadan besar, bertampang seram, berkulit hitam dan konon katanya, dia tidak beragama. Orang itu bernama Erwin Manik. Sebagai siswa kelas 2, dia sama sekali tidak menunjukkan ketakutannya pada guru. Apalagi senior-seniornya kelas 3. Terkadang bahkan ia berlaku seolah-olah sebagai yang empunya sekolah. Bagi kami, siswa baru di sekolah itu, Erwin menjadi sosok yang cukup ditakuti.  Namun tak hanya dikenal akan keberingasannya di sekolah, Erwin merupakan siswa yang paling jago dalam bermain basket. Erwin pun mempunyai kawan-kawan yang bernama Petrus Panjaitan dan Julifin Sianturi. Sosok dan kelakuan mereka sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Erwin. Namun karena saya sudah terlebih dahulu kenal dengan mereka di lapangan Don Bosco, maka saya pun merasa sedikit ‘aman’ dari kedigdayaan begundal- begundal sekolah ini dengan kawan-kawannya. Tapi terkadang saya pun tidak luput dari ulahnya. Beberapa kali dia meneriakkan nama saya dari lapangan untuk sekedar bermain basket satu lawan satu. Saya yang sedang makan di kantin atau sedang bercengkrama dengan kawan-kawan, terpaksa harus turun dan meladeni tatangannya. Dalam setiap kompetisi antar SMA, Erwin Manik selalu tampil dengan totalitas penuh.  Tak hanya dalam mencetak skor, Erwin bahkan kerap beradu jotos dengan pemain lawan yang tidak bisa menerima kelakuan Erwin acap kali bermain kotor atau memaki-maki dalam bahasa Batak. 
  
Tim basket sekolah kami tidak pernah punya pelatih basket. Semua anggota tim berlatih sendiri secara otodidak baik itu di sekolah maupun di lingkungannya masing-masing. Pada kelas 2, beberapa kawan mengambil inisiatif untuk mendatangkan seorang pelatih basket guna membidani tim kami. Pelatih kami bernama : Opung Radja Simanungkalit. Pada saat itu, Opung merupakan pemain basket senior di liga Kobatama dan beliau adalah salah satu playmaker di club ASPAC. Klub nomor 1 di liga itu. Opung tidak lama melatih kami. Karena memang sekolah kami tidak mengalokasikan dana untuk membayar pelatih. Tapi dengan hadirnya Opung, saya dan kawan-kawan bisa menyaksikan Liga Kobatama secara gratis.

Selain tergabung dengan tim basket SMA, saya juga tergabung dengan beberapa tim lain di luar sekolah. Saya bermain untuk 2 tim gereja. GKI Kwitang dan HKBP Soeprapto. Selain itu saya juga cukup sering bermain sebagai pemain cabutan dari beberapa tim lain yang membutuhkan tenaga saya. Asal transportasi dan konsumsi tercukupi, saya pasti akan mencurahkan segenap kemampuan saya demi kemenangan tim tersebut.
Pada tahun 1998, saya sempat bergabung dengan tim Pelita Jaya Junior. Kiprah saya di club itu terhenti karena pecah kerusuhan Mei 98. Yang berujung pada keluarnya ‘fatwa’ dari orang tua saya untuk pergi ke daerah Senayan.





Tahun-tahun berganti. dan kami sudah menjelma menjadi pemain utama di tim sekolah. Namun tim basket kami sudah tidak sekuat dulu lagi. Bersama sahabat-sahabat saya seperti Rubein Novelino, Ronald Menrofa dan Jemmy Syukur, kami juga kerap mengikuti berbagai pertandingan basket yang pada masa itu menjadi trend di kalangan anak sebaya saya. 
Adidas Street Ball di Sarinah, menjadi awal kecanduan saya dalam mengikuti berbagai pertandingan. Rasanya hampir tidak ada pertandingan basket 3 on 3 yang tidak saya ikuti. Dan asal tau saja, nama tim saya sejak dulu adalah ‘Tequilla’ hehehe. Nama yang cukup seksi dan 'akrab' dengan keseharian saya saat ini.
Walaupun jarang menang, namun akses saya dalam dunia basket, perlahan semakin terbuka. Dari pertandingan-pertandingan itulah saya mulai mengenal nama-nama ‘bintang’ basket seperti Nyong, Agus Sigar, Teguh, Batam, Andre Tamara, Dimas ‘Mbot, Marcel, dan lain-lain.

Pada masa itu itu, hampir dalam tiap pertandingan 3on3 selalu ada ‘calo’ yang memasangkan berbagai pemain yang dianggap layak untuk digabungkan dalam satu tim. Biasanya tim bayaran ini memakai nama Borobudur. Dan dalam tiap pertandingan selalu saja ada tim yang benama Borobudur 1, Borobudur 2,3,4 dst. Saya pun pernah ditarik menjadi pemain Borobudur ini namun kalah ketika berhadapan dengan tim Borobudur lainnya. Rata-rata eks pemain Borobudur itu kini berkiprah di liga mahaiswa atau bahkan Kobatama (kini IBL).
Dulu, selain kompetisi 3on3 marak digelar, ada pula pertandingan 1on1. Karena saya memiliki postur yang cukup tinggi, maka saya pun kerap menjuarai beberapa pertandingan satu lawan satu ini.
Kecintaan saya terhadap bola basket pun semakin menjadi-jadi. Namun kali ini, urusan fashion dan kartu basket tidak lagi menjadi prioritas saya. Saya lebih berfokus untuk meningkatkan permainan agar kelak bisa mendapatkan beasiswa dari salah satu universitas dan setelah itu bisa bermain di liga mahasiswa dan akhirnya bisa bermain dan bekerja sebagai pemain basket professional di Liga Kobatama.


Antara Senirupa Dan Bola Basket

Memasuki tahun akhir saya di SMA, karier saya semakin cemerlang. Beberapa tawaran dari kampus-kampus pun berdatangan. Singkat kata, masa depan saya di dunia basket terasa dekat di depan mata. Tapi entah kenapa semua universitas yang menawarkan diri untuk merekrut saya dalam tim basketnya semuanya universitas ekonomi dan manajemen. Sementara saya sama sekali tidak pernah menaruh minat sedikitpun terhadap bidang-bidang tersebut.
Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, akhirnya saya menyerahkan keputusan ke tangan ayah saya. Beliau berpendapat bahwa dunia olahraga bukan lah bidang yang sesuai untuk masa depan saya. Ditambah lagi saya sama sekali tidak memiliki mentalitas seorang atlet yang disiplin dan taat akan peraturan.



Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya di bidang seni rupa yang notabene sangat bertolak belakang dengan dunia olahraga, khususnya bola basket. Karena letak kampus yang berada di Kota Kembang, maka secara otomatis, kegiatan bermain basket semakin jarang karena selain mulai disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang terkadang menyita waktu sampai larut malam, jumlah lapangan di kota itu juga terbatas. Tidak sebanyak di Jakarta. Daya fisik saya juga perlahan-lahan menurun karena kebiasaan merokok dan begadang. Pernah suatu kali saya mendaftar di Club basket bernama Laconix , yang terletak di GOR Padjajaran. Sekedar mencoba untuk sekiranya masih bisa mengukir prestasi di basket. Tapi rupa-rupanya keadaan sudah tidak sama seperti masa SMA. Setiap selesai latihan, saya kerap tidak enak badan karena terlalu kelelahan. Tak sadar akan kondisi fisik yang sudah tak mumpuni, ‘side job’ sebagai pemain cabutan pun beberpa kali tetap saya lakukan. Walau di tiap pertandingan nafas selalu tersenggal-senggal, namun lumayan lah untuk sekedar menghemat uang makan siang.
Tapi tidak bisa dipungkiri, kehidupan baru di dunia perkuliahan lebih menggoda saya untuk terlibat dan larut di bidang kesenian sehingga karier basket saya pun perlahan-lahan meredup dan akhirnya selesai.

Saat ini saya tinggal di Jogjakarta bersama anak dan istri saya. Jauh dari hiruk pikuk dan gegap gempita basket. Anak-anak tetangga saya sudah tidak ada lagi yang bermain basket. Semua sibuk dengan futsal, sepakbola dan sebagainya. Entahlah. Mungkin dari tiap beberapa generasi punya euforia-nya sendiri. Tapi bagaimanapun sibuknya saya sehingga tidak ada waktu untuk sekedar bermain basket, namun kecintaan saya terhadap bola basket tidak pernah padam. Sampai saat ini saya masih menyempatkan diri untuk membuka youtube dan kembali terpukau oleh aksi-aksi para pemain NBA yang sudah tidak saya kenali lagi sambil mengenang berbagai kisah cinta saya terhadap bola basket yang pernah saya jalani dulu.

" Tinggi semakin makin tinggi kau melompat. Cepat semakin makin cepat kau melesat.
Masukkan bola sekarang ke dalam keranjang.. Dong nombok dong nombok dong.. "


Dalam sebuah sesi latihan semasa SMA