Minggu, 08 Februari 2015

TOKO MEMORABILIA





Sosial media telah memberi kontribusi besar dalam membentuk, merubah dan bahkan menghilangkan berbagai tatanan dan sistem sosial  yang selama ini berlaku di dalam masyarakat. Sosial media juga telah membuka beragam peluang, kemungkinan dan interaksi baru dalam transaksi ekonomi. 

Facebook, Twitter, Path, Instagram dll telah menjelma menjadi sebuah pasar yang dipenuhi berbagai transaksi ekonomi. Beragam aneka barang dan jasa dapat dengan mudah ditemui di berbagai media sosial itu. Mulai dari hal-hal yang lumrah seperti properti, kendaraan, fashion, agen perjalanan wisata, umroh, dsb sampai pada hal-hal yang tidak lumrah seperti sex, pelangsing dan penambah tinggi badan, aneka pusaka keramat dsb.

Begitupun juga dengan dunia periklanan. Banyak hal baru yang muncul di seputar dunia perkilanan. Bagaimana iklan bisa dapat diterima dengan mudah dan cepat. Apapun caranya. Berbeda dengan iklan-iklan yang ada di tv,  iklan-iklan di media sosial justru bisa menjelma menjadi teror yang kerap menghantui kita tanpa bisa dibatasi oleh ruang dan waktu.

Toko Memorabilia adalah respon saya dalam menyikapi berbagai modus transaksi dan beragam ‘aksi teror’ yang terjadi di media sosial. Dengan membuka on-line shop yang menjual berbagai aneka barang komoditi fiktif, Toko Memorabilia hadir dan turut 'meramaikan' geliat perekonomian di lini masa kita. 




Agan Harahap 
*Seniman fotografi yang tinggal dan menetap di Yogya







Rabu, 14 Januari 2015

Membaca Orisinalitas Fotografi Dengan Hati



Suasana dari pagi ke siang ini cukup dihebohkan dengan berita beredarnya foto mesra orang yang diduga mirip dengan Abraham Samad (Ketua KPK) dengan Elvira Devinamira (Putri Indonesia 2014). Berita ini semakin gencar karena disinyalir adanya intrik politik untuk menjatuhkan kredibilitas Abraham Samad sebagai ketua KPK. 

Sebagian kawan-kawan di media sosial bersikukuh bahwa foto mesra tersebut adalah palsu, sementara sebagian lagi kawan-kawan bersikeras bahwa foto itu adalah asli, sehingga terjadi pro dan kontra di masyarakat terkait dengan keorisinalitasan foto tersebut. Sebagai orang seniman yang menggantungkan hidup dari fotografi dan perkembangan teknologinya, saya pun merasa terpancing untuk meneliti keorisinalan foto itu. Apakah foto itu adalah rekayasa atau tidak. 
Setelah menelaah berkali-kali, jujur saja, saya tidak bisa menemukan tindakan manipulasi yang dilakukan terhadap foto-foto tersebut. Bahwa media menyebutkan, ada seorang pakar photoshop yang mengatakan bahwa foto tersebut discan menggunakan scanner merk Canon dan terakhir diedit photoshop jam 3 dini hari tadi, itu bisa saja. Karena memang sebuah foto bisa dibaca data riwayatnya secara digital. Tapi apakah dengan data itu kita bisa langsung memastikan bahwa foto-foto itu melalui proses manipulasi atau tidak, entahlah. Saya tidak begitu yakin. Mungkin sang manipulator itu terlalu hebat, atau (bisa saja) saya yang terlalu bodoh. Sehingga saya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa foto orang yang diduga Abraham Samad dan Elvira adalah bukan rekayasa.

Tapi tentu saja,  manipulasi fotografi tidak hanya sebatas urusan edit mengedit  di photoshop. Banyak faktor-faktor atau elemen-elemen lain dalam memanipulasi/ merekayasa sebuah foto. Bisa saja itu adalah orang yang kebetulan mirip dengan Abraham Samad atau Elvira, lalu dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh masalah dengan mendiskreditkan lembaga negara.

Keluar dari berbagai intrik politik dan masalah asli atau palsunya foto mesra tersebut, timbul pertanyaan-pertanyaan di benak saya terkait dalam menyikapi foto ini dari sisi humanis yang tentu saja tidak bisa dinilai secara teknis dan data digital. 

Kalaulah foto Abraham Samad dan Elvira Devinamira itu ternyata foto asli, lalu kenapa memangnya?
Kalaulah foto Abraham Samad dan Elvira Devinamira itu ternyata foto rekayasa, lalu kenapa juga memangnya?

Apa pentingnya kita, sampai hari ini masih sibuk meributkan foto orang yang sedang bermesraan?

Bahwa jelas, kita pasti akan memilih seorang yang berakhlak mulia dan taat beragama dalam menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan, tapi bukankah sudah banyak tokoh-tokoh baik budi dan pakar agama beristeri banyak yang terbukti mencuri uang dan menyalahgunakan kepercayaan rakyat? Kenapa kita hari ini masih mementingkan moral dan akhlak seseorang ketimbang kinerjanya? Apakah kita merasa bahwa moral dan akhlak kita sudah sebegitu sempurnanya, sehingga kita bisa-bisanya langsung menghakimi orang lain yang 'berada di luar jalur' ?


Besar harapan saya bahwa kita bisa menyikapi fotografi (dan perkembangan teknologinya) tidak melulu dari soal teknis belaka, tapi dari berbagai sisi humanis serta pertimbangan logisnya demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa . 



Agan Harahap

* Seniman fotografi tinggal dan menetap di Yogyakarta 



Oiya, nganu..  : 

Yang sabar yaa masnya.. Badai pasti akan berlalu.. *Pijet dulu ah biar gak tegang.


Senin, 12 Januari 2015

Sebuah Cerita Dari India


Seorang kawan datang ke rumah bercerita panjang lebar mengenai lawatan singkatnya ke negeri India. Mulai dari ketibaannya di bandara, pengalamannya terlibat cinta lokasi dengan salah seorang figuran film action, sampai turut serta menjadi alay-alay di sebuah tayangan musik 'Dahsyat alla India'. Menjelang tengah malam, kawan tersebut berpamitan dan menyerahkan beberapa buah tangan yang dibawa dari negeri Mahabaratha itu.
Kawan saya ini memang cukup unik. Selain memang memiliki paras yang 'khas', perilakunya juga sungguh tidak terduga. Tidak heran jika begitu banyak wanita yang tergila-gila kepadanya. Selain memberikan saya miras dan beberapa obat gosok khas India untuk isteri saya, Itta, tanpa disangka-sangka kawan saya yang unik itu memberikan susu formula untuk putri saya, Merdu.
Entah bagaimana pula mengucapkan merk susu formula itu, karena merk susu formula itu dituliskan dengan aksara India yang tidak bisa dimengerti. Awalnya saya enggan menerima susu tersebut, karena memang saya tidak begitu yakin akan kemasan dan khasiatnya bagi anak saya. 
Namun setelah kawan saya menceritakan bagaimana susu formula inilah yang menjadi salah satu pemicu pertumbuhan teknologi di India, maka saya pun percaya dan dengan berat hati menerima pemberiannya itu. 

Susu cap Ganesha yang dipercaya menjadi salah satu penyebab revolusi teknologi di India.


Sampai suatu hari, ketika susu Nutrilon yang biasa dikonsumsi oleh anak kami, habis. Dan untuk membeli susu baru terasa agak sulit, karena maklum saja, sebagai keluarga yang sepenuhnya menggantungkan nasib pada dunia seni terkadang membuat kami hidup dalam ketidakpastian. Setelah menimbang, berdiskusi secara alot dengan isteri saya, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba memberikan sedikit susu formula dari India tersebut kepada anak kami, sebagai pengganti sementara, sampai kami punya uang cukup untuk membeli susu Nutrilon andalannya itu. 

Susu itu cukup unik, dengan lambang serupa dengan logo ITB (Ganesha) yang sedang duduk di atas bunga teratai. Maka saya dan isteripun berkesimpulan bahwa memang susu formula ini ditujukan untuk perkembangan otak anak 6-18 bulan. Dan tentu saja, sebagai orang yang gagal diterima masuk FSRD ITB, maka besar harapan kami supaya Merdu dapat mewarisi kecerdasan Ganesha agar kelak dapat meneruskan cita-cita ayah dan ibunya untuk dapat masuk kampus yang ternama itu.

Di luar dugaan, Merdu yang biasanya agak sulit meminum susu formula, ternyata dengan lahap menghabiskan susu India tersebut sampai tetes penghabisan. Karena anak kami tidak menunjukkan gejala-gejala aneh yang mengkhawatirkan, maka kamipun dengan sukacita memberikannya susu formula cap Ganesha tersebut sambil tak lupa mengiringinya dengan lantunan doa-doa agar kelak Merdu dapat tumbuh cerdas, sehat dan kuat serta bisa unggul di tengah kancah persaingan global yang semakin lama semakin edan ini.
Singkat kata, setiap kali bangun tidur, sehabis makan siang dan menjelang tidur malampun selalu diawali dengan susu India. Paceklik perekonomian yang tak putus menerpa kami pun serasa tak berarti apa-apa ketika melihat Merdu semakin hari semakin menunjukkan perkembangan ke arah progres.

Sebagai pasangan yang cukup disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di luar rumah pada siang hari, maka kami terpaksa harus mempercayakan pengurusan Merdu kepada Ibu Tujilah, pembantu yang merangkap babysitter untuk Merdu. Mendekati minggu kedua setelah mengkonsumsi susu cap Gajah tersebut, bu Tujilah menangkap keanehan yang terjadi pada tubuh anak kami. Selain memang Merdu jadi bertambah kuat, lincah dan mulai bisa berkata-kata, pada bagian ketiak anak kami ternyata ditumbuhi bulu-bulu halus. Pada awalnya kami santai saja dan tidak curiga dengan gejolak hormonal yang terjadi di tubuh Merdu. Namun setelah semakin hari bulu-bulu di bawah ketiaknya semakin tebal, maka kamipun panik dan segera membawa anak kami untuk berkonsultasi dengan dokter yang merupakan sahabat lama kami, yang baru kami ketahui, ternyata masih merupakan keturunan India.

Bulu-bulu di bawah ketiak yang semakin hari semakin tebal.

Alih-alih menganjurkan agar memeriksakan anak kami ke rumah sakit atau laboratorium terdekat, dokter itu hanya menyarankan supaya kami tidak lagi memberikan susu formula dari India itu untuk dikonsumsi oleh Merdu sambil tak lupa memberi salep racikan khusus untuk meredam pertumbuhan bulu ketiak anak kami. Dokter itu mengatakan bahwa susu formula itu memang sudah sangat terkenal di India. Susu tersebut mengandung suatu zat khusus yang berguna untuk mempercepat perkembangan otak dan fisik anak. Dan bulu ketiak yang tumbuh itu disebabkan karena kandungan nutrisi pada ASI (Air Susu Ibu) yang tidak sama dengan ASI yang biasa dikonsumsi oleh bayi-bayi di India. Bahwa memang ada suatu hormon yang bisa berkembang dengan pesat apabila tidak diikuti dengan zat-zat yang terkandung dalam masakan kari. Selain itu, faktor penggunaan AC yang terlalu dingin juga menjadi pemicu gejolak hormonal yang menyebabkan bulu-bulu di bawah ketiak Merdu jadi tumbuh subur (maklum saja, cuaca Jogja yang panas memaksa kami untuk menyetel AC pada suhu terendah).

Walau agak curiga dan khawatir, dengan berat hati kami turuti juga saran dari dokter itu sambil tak lupa mengoleskan salep pemberiannya di bawah ketiak Merdu setiap sehabis mandi sambil memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa agar Merdu dijauhkan dari segala sakit penyakit. Puji Tuhan, hanya dalam waktu beberapa hari setelah mengoleskan salep itu, bulu-bulu di bawah ketiak Merdu rontok dengan sendirinya dan tidak tumbuh lagi.

Saat ini, Merdu sudah memasuki usia 9 bulan. Dia makin bertambah lincah dan kuat dan sudah mulai melangkahkan kaki sedikit-demi sedikit. Walau bila dibandingkan dengan bayi-bayi lain seusianya Merdu memang agak terlihat bongsor, namun kami sebagai orang tuanya, merasa lega dan bersyukur karena Merdu sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala aneh lagi akibat pemberian susu formula India itu.

Merdu mulai berlatih berjalan di usianya yang menginjak 6 bulan
Merdu saat berusia 8 bulan sudah tidak muat lagi duduk di kursi bumbo-nya.
Memasuki usia 10 bulan. Merdu sedang terlelap ditemani isteri saya, Itta, yang terlihat kelelahan sehabis menggendongnya.




Maafkan kedua orang tuamu 
kalau tak mampu beli susu.
BBM naik tinggi, susu tak terbeli
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi.

Cepatlah besar bidadari ku. 
Menangis yang keras janganlah ragu.
Tinjulah congkaknya dunia, buah hati ku
doa kami di nadi mu.






Minggu, 21 Desember 2014

Ready Or Not Here I Come!



-->
Sebuah tulisan dari seorang sahabat baik tentang serial foto saya terdahulu.


Apa yang dilakukan oleh Agan Harahap kali ini adalah fotografi sebenar-benarnya. Setelah beberapa seri karyanya ia bereksplorasi tanpa atau dengan sangat minim melakukan pekerjaan memotret, kali ini ia hadir dengan kamera dan lampu studio. Namun Agan tetap konsisten pada jalurnya, yang saya sebut sebagai komedi satir fotografi.
Yang dihadirkan Agan kali ini adalah hasil eksplorasinya selama menjadi fotografer di sebuah majalah musik. Selama enam tahun bekerja sebagai seorang fotografer majalah ia berkesempatan untuk memotret baik artis papan atas, papan tengah, papan bawah, maupun artis yang memaksa untuk masuk papan. Sebagai fotografer ia mempunyai kekuasaan penuh untuk mengatur bagaimana hasil foto itu nantinya. Memang disana ada peran stylist, make up artist, dan asisten fotografer. Tetapi bagian mereka adalah para model, sang selebritis. Sang fotograferlah yang berkuasa atas kamera dan hasil fotonya. Dan selama rentang waktu enam tahun, Agan seperti sudah memahami bagaimana pakem-pakem agar sebuah foto dapat dimuat dalam majalah tersebut. Dengan sendirinya timbul sebuah standarisasi bagaimana ‘seharusnya’ sebuah foto itu layak untuk diterbitkan.
Mungkin banyak orang akan bertanya-tanya, dimanakah kekuatan sebuah karya foto artis terkenal ketika semua fotografer dan media sebenarnya sudah mampu untuk membuat karya yang sejenis. Kita dapat menemukan dengan mudah foto-foto selebritis di media massa. Kita sudah tidak asing lagi dengan wajah-wajah artis, penyanyi, model terkenal itu. Lalu apa keistimewaan serial ini dibandingkan dengan karya fotografer lain?
Seri Agan kali ini bisa dibilang istimewa karena sang fotografer berani untuk publish the unpblished. Anda tidak akan menemukan foto-foto dari artis yang sama dengan keadaan yang “dicuri” Agan pada karyanya kali ini. Ya, disini Agan seakan-akan ‘mencuri’. Ia mencuri pose, mencuri momen, dan mencuri kesempatan. Foto-foto ini bukanlah suatu ketidaksengajaan. Foto-foto ini lebih merupakan ‘tembakan peringatan’ yang dilakukan oleh fotografer untuk menandai dimulainya sebuah sesi pemotretan. Ini adalah foto-foto yang menurut ‘standar’ penerbitan majalah atau media tidak layak untuk dipublikasikan.
Tidak hanya mencuri momen dan kesempatan, Agan juga mencuri mimik dan gesture dari sang selebritis. Tidak usah repot-repot untuk menginterpretasikan mimik atau gesture dalam karya ini melalui analisis semiotika ala Roland Barthes, Ferdinand de Saussure, atau para pakar semiotik media visual lainnya. Silakan Anda menjadi pakar untuk diri Anda sendiri dalam menginterpretasikan karya ini. Interpretasi saya adalah seperti yang sudah dituliskan di atas, karya foto ini adalah ‘tembakan peringatan’ dari sang fotografer kepada model atau selebritis yang sedang dibidiknya.

Apa yang dihasilkan dari tembakan peringatan ini ternyata luar biasa dan mencengangkan. Anda tidak akan menemukan foto-foto dengan model atau selebritis yang sama di media manapun dengan pose, mimik, gesture pada karya foto Agan. Eksklusif. Namun sekali lagi ini bukanlah ketidaksengajaan. Setidaknya dari sisi fotografer. Lihat saja bagaimana pengaturan lampu di studio maupun setting lokasi pemotretan. Contoh, pada foto Tiga Diva (Titi DJ, Ruth Sahanaya, Krisdayanti) Anda akan menemukan settingan lampu yang apik dan tertata rapi. Begitu pula dengan foto Sandi Sandoro, Giring Nidji, Sheila Marcya. Semua menunjukkan kesiapan dari sang fotografer. Agan sudah mempersiapkan semuanya. Ini bukanlah tes foto atau tes lampu. Ia tidak sedang mencari-cari settingan exposure, memilih lensa, atau mencari settingan teknis lainnya. Ia sudah siap.
Sang artis pun sebenarnya sudah siap. Tengok saja dandanan mereka. Tiga Diva (lagi-lagi) sudah siap, Ahmad Dhani dengan kostum jenderalnya. Sandi sudah siap dengan gitarnya. Stylist dan make up artist sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Lalu siapa yang belum siap? Tidak ada, semua sudah siap. Dan tidak ada yang salah. Ini adalah frame pertama dari sesi foto saat itu. Sebagai reaksi atas tembakan peringatan dari fotografer, mereka lantas menampilkan mimik dan gesture yang tidak biasa. Itu saja. Reaksi atas aksi tembakan peringatan Agan.


Tidak layak untuk dipublikasi di majalah tempatnya bekerja bukan berarti karya-karya foto ini adalah ‘foto gagal’. Tidak ada foto gagal dalam seri ini. Justru reaksi atas tembakan peringatan itulah keberhasilan Agan dalam memotret mereka sang selebritis. Beberapa reaksi memang terlihat lucu atau menggemaskan, ada pula artis yang ternyata menampilkan tingkah laku yang bertolak belakang dari yang biasanya ditampilkan di media massa.
Lantas apakah citra artis-artis yang ditampilkan dalam karya ini menjadi tercoreng? Menurut saya para selebritis ini tidak usah khawatir dengan citra mereka di mata publik dengan adanya karya ini. Publik sendiri sudah mengenal mereka lewat penampilan mereka di tempat-tempat umum, konser yang mereka lakukan, atau wawancara mereka di infotainment. Dengan kata lain, publik sudah cukup cerdas dengan penilaian mereka sendiri-sendiri. Agan hanya menampilkan sebagian kecil dari sisi lain mereka, para selebritis. 

Seri foto ini kembali menegaskan Agan adalah salah seorang fotografer yang pemikirannya nyeleneh, mbeling, dan jelas berbeda dari pakem fotografi seperti biasanya. Ketika fotografer lain berlomba-lomba menampilkan dan memamerkan foto-foto tokoh penting, selebritis, atau siapapun dalam keadaan terbaik sang model (settingan lampu, settingan properti, pose, busana, dan teknis lainnya), Agan justru mengajak kita untuk melihat sisi lain dari selebriti yang biasa dilihat publik.

Jakarta, 12 April 2012
Andries S. Pandia

Pengenalan Terhadap Satwa




Galaia Merdu Harahap
14 Maret 2014

Senin, 20 Oktober 2014

20 Oktober 2014




Saya duduk sendiri di suatu pojok sepi di seputaran Monas. Di kejauhan nampak gemerlap panggung besar dengan ribuan orang yang memadati. Selain karena badan saya sudah lelah karena dari tadi siang saya ikut menonton arak-arakan Presiden RI ke-7, Joko Widodo, saya juga baru saja mengalami suatu peristiwa yang cukup traumatis sehingga membuat saya menjadi tidak begitu antusias lagi untuk mengikuti keseluruhan acara itu. 
Di tengah keramaian arak-arakan yang mengiringi Jokowi siang tadi, iphone saya dicopet orang. Sebagaimana kebanyakan orang lain yang pernah kehilangan hp, saya pun cukup merasa gundah karena begitu banyak data-data dan foto-foto penting di hp saya. Dan tentu, butuh perjuangan tersendiri untuk bisa mendapatkan data-data itu seperti semula. Belum lagi dengan kondisi keuangan keluarga kecil kami sedang dalam posisi yang  mengkhawatirkan, sehingga untuk sekedar membeli iphone baru dalam waktu dekat ini, rasa-rasanya agak mustahil. 

Tapi di tengah kemasygulan akibat kehilangan hp, jujur saja, saya menemukan sedikit ketenangan sehingga saya bisa menulis blog ini. Di tengah 'kesunyian' seperti ini, saya seolah merasa seperti dulu, ketika sosial media belum merasuk ke dalam lini-lini kehidupan saya. Biasanya, dalam keramaian seperti ini, saya sudah disibukkan oleh berbagai mention dan postingan di berbagai jejaring sosial media yang saya ikuti. Belum lagi dengan serangkaian 'terror' dari isteri yang sedang kewalahan mengurus anak kami yang baru tumbuh gigi.  Karena kecopetan iphone, paling tidak saya bisa jadi lebih peka terhadap keadaan sekitar. Minimal dalam radius 20 meter di sekeliling saya. Saya jadi bisa melihat sepasang kekasih yang saling bercengkrama di pinggir trotoar, saya bisa melihat anak kecil yang tertidur di samping lapak ibunya yang sibuk berjualan teh botol, saya bisa melihat keluarga yang sedang bersuka ria 'piknik' ditengah hingar-bingar perayaan itu. Imaji-imaji itu berkelindan dengan cepat dan membawa pikiran saya berkelana tentang banyak hal seputar harapan-harapan akan penghidupan yang lebih layak di era pemerintahan yang baru ini. 

Hari  ini, 20 Oktober, adalah hari ulang tahun almarhum ayah saya. Kebetulan bertepatan dengan hari pelantikan Jokowi menjadi presiden yang baru. Sepintas saya terbayang akan wajahnya yang selalu terlihat antusias bila berbicara soal demokrasi serta orang-orang baik dan jujur yang mendukung kelangsungan negara ini. Dan raut wajahnya akan semerta-merta berubah bila obrolan mulai bergeser pada sistem pemerintahan yang carut marut serta politisi-politisi maling disana. Saya membayangkan, andai kata beliau masih hidup, tentu saya tidak akan sendiri duduk di tempat ini. Paling tidak ada seseorang yang bisa saya ajak berdiskusi atau hanya untuk sekedar meminta rokok ( merk rokok kami sama dan kebetulan rokok saya sudah habis). 
Saya teringat pernah suatu kali, keluarga kami sedang dalam keadaan sulit secara ekonomi. Dan dalam suatu dialog yang bersifat tertutup, saya melayangkan protes, karena saya yang waktu itu masih mura belia, punya banyak keinginan yang ternyata tidak mampu untuk dipenuhi ayah saya. 
 "Amang, (alm ayah saya selalu memanggil saya dengan sebutan amang, apalagi kalau sedang dalam posisi yang tidak menguntungkannya), apa yang kita alami sekarang masih 'ecek-ecek' dibanding dengan orang lain". Beliau lalu mencontohkan kisah-kisah para kerabat dan handai taulan yang memang nasibnya lebih 'naas' dari dari apa yang kami alami saat itu. Saat itu saya hanya bisa terdiam tanpa menanggapi setitikpun akan 'solusi'nya itu. 

Di ujung sana, para artis bersama ribuan khalayak masih berjingkrak-jingkrak larut dalam pesta kemenangan itu. Sejurus kemudian, seorang bapak-bapak yang mengenakan topi bertuliskan 'Jokowi' dan kemeja kotak-kotak lusuh dengan ditemani anak laki-lakinya, meminjam korek api yang saya letakkan tak jauh dari bungkus rokok yang sudah kosong. Setelah berhasil menyalakan rokoknya dan mengucapkan terima kasih, mereka pun beranjak bergi. 
Dari kejauhan saya pun mulai beranabel-anabel (analisa gembel) dalam benak saya. Mungkin saja bapak itu adalah seorang supir mikrolet atau tukang sapu jalanan atau  apapun yang harus bapak itu lakukan esok pagi demi kelangsungan kehidupan keluarganya di rumah, dan tentu, demi masa depan anaknya kelak.
Dan tiba-tiba saja, kehilangan iphone menjadi suatu persoalan yang terlalu ecek-ecek  dibandingkan dengan perjuangan hidup orang-orang lain di sekitar saya.


Monas, 20 Oktober 2014, 21.05 WIB


Agan Harahap