MELMAN AND THE HIPPO

by Agan Harahap

Minggu, 01 November 2009

KORAN TEMPO - Senin, 2 November 2009

SUPERHERO


Stolen Art at Neuschwanstein Castle, 1945

Soldiers from the 7th US Army carry the priceless artworks down the steps of Meunschwanstein Castle where hoards of European art treasures, stolen by the Nazis, were hidden during World War II.



Soldats américains se livrant à des combats de rue, avenue de Paris, Cherbourg-Normandy 1944



Curtis Bay
Navy Coast Guard, in October 1943



Following the unconditional surrender of the Wehrmacht which went into effect on 8 May 1945, some Wehrmacht units remained active, either independently (e.g. in Norway), or under Allied command as police forces.[7] By the end of August 1945, these units had been dissolved, and a year later on 20 August 1946, the Allied Control Council declared the Wehrmacht as officially abolished



Fidel Castro - MATS Terminal Washington 1959



Conference of the Big Three at Yalta makes final plans for the defeat of Germany. Here the "Big Three" sit on the patio together, Prime Minister Winston S. Churchill, President Franklin D. Roosevelt, and Premier Josef Stalin. February 1945.



Afghan resistance fighters returning to a village destroyed by Soviet forces, 1986



He gives the order of the Day : 'Full victory-nothing else !' to paratroopers in England, just before they board their airplanes to participate in the first assault in the invasion of the continent of Europe.

Greenham Common Airfield in England about on June 5, 1944.


Superhistory.


by : Yesaya Sandang

Sejarah, konon ditulis oleh pihak yang menang. Oleh karenanya sejarah bisa jadi sepihak bahkan semena-mena. Jean Francois Lyotard (1924-1998) salah seorang pemikir postmodern mencoba keluar dari pandang tersebut dengan memandang sejarah sebagai kesatuan yang saling tergantung, atau sebagai serangkaian peristiwa aksidental yang mungkin saja memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan. Artinya, sejarah disini merupakan suatu jalinan cerita-cerita yang seharusnya diproduksi oleh banyak pihak, bukan pihak yang menang saja. Lebih jauh ia berpendapat bahwa kita tidak dapat lagi mengandalkan narasi besar ataupun cerita-cerita yang bertujuan untuk mengungkapkan kedalaman makna dan tujuan dari sejarah dunia secara sepihak. Dalam masyarakat dan budaya kontemporer, masyarakat post-industri, dan budaya postmodern, pertanyaan legitimasi pengetahuan (sejarah) dirumuskan dengan model yang berbeda. Narasi besar (grand narative) telah kehilangan kredibilitasnya, apapun model unifikasi yang digunakannya (Lyotard, 1984).

Salah satu narasi yang mengiringi sejarah umat manusia adalah perang. Perang adalah antitesa dari perdamaian. Perdamaian hanyalah perang yang tertunda, demikian ujar Machiavelli. Perang selalu sarat dengan perayaan akan kematian, ia selalu meminta korban tanpa pandang bulu. Tak ada yang baik dari perang karena ia hanya hanya berujung pada kehancuran. Namun toh perang selalu hadir menghiasai perjalanan sejarah umat manusia. Disini fotografi hadir sebagai salah satu media yang mengabadikan momen-momen dalam peperangan. Secara monumental, Robert Capa adalah salah satu sosok yang menjadikan fotografi sebagai penanda perang. Dalam esainya yang berjudul The Great War Photographs: Constructing Myths of History and Photojournalism, Michael Griffin mengutarakan bahwa gambaran dalam salah satu foto Robert Capa yang terkenal dengan judul The Death of Loyalist Militiaman sebagai ”non-specific encapsulation of an idea that transcends the moment or specific instance of the subject of the photo”. Dengan kata lain foto tersebut mampu keluar melampaui dari momen atau kejadian spesifik dari subjek foto itu sendiri. Menyaksikan foto ini membawa kita pada keheningan sesaat karena terhentak oleh sebuah gambaran kematian yang seketika.

Namun, dewasa ini liputan perang bukan hanya soal foto. Liputan media lainnya yang kian canggih mampu menghadirkan nuansa perang hingga ke ruang keluarga kita dalam bentuk yang terdistorsi. Perang kemudian hanya merupakan jalinan cerita tak bertepi, menggugah namun sekaligus hampa. Bagi generasi muda dewasa ini perang bahkan telah menjadi objek permainan menarik. Tengok saja permainan komputer semisal Call of Duty, Medal of Honor, dan masih banyak lainnnya. Narasi perang dijadikan media untuk meleburkan diri dalam suasana bermain-main. Unsur sejarah yang dikemas dalam permainan tersebut tak dapat dipungkiri adalah sejarah versi pemenang. Asumsinya, mana ada orang yang mau main jika ia jadi yang kalah. Menang dengan embel-embel kepahlawanan adalah misi sakral yang harus dicapai.

Dalam peperangan selalu dikisahkan tentang tokoh-tokoh yang memiliki peranan penting. Tokoh tersebut diberi kriteria pahlawan, entah karena keberaniannya atau keteguhan dalam mengemban tugas. Dalam kosakata umumnya, pahlawan memang orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, seorang pejuang yang gagah berani. Dari sana kata kepahlawanan dijelaskan sebagai perihal sifat pahlawan (seperti; keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan).

Dalam ruang imanjinasi yang tidak mengandalkan narasi besar, cara pandang terhadap sejarah bisa saja mengalami pergeseran. Termasuk cara pandang terhadap pahlawan. Agan disini bisa jadi terinpirasi dari model-model petualangan imajiner yang lekat dengan kehidupan generasinya. Sejarah yang disikapi dengan santai. Dan dalam kesantaiannya tersebut, Agan kemudian mengolah tangkapan sejarah dalam fotografi kedalam ruang imajinasinya dengan gaya satire yang unik. Ia menggeser pemaknaan fotografi perang kedalam versinya.

Namun uniknya, dalam karya Agan kali ini ia memilih untuk memasukan tokoh-tokoh “superhero” yang umum dikenal melalui komik-komik DC dan Marvel. Judul besar karya-karyanya memang SUPERHERO. Namun, apa maksudnya ketika ia menyajikan kehadapan kita secara berhadap-hadapan antara narasi sejarah dan sosok superhero? Mungkinkah Agan sementara hendak menyindir kita bahwa kita sementara hidup dalam narasi komikal? Atau bahwa sejatinya serorang pahlawan hanya ada dalam dunia komikal? Atau beginilah caranya memandang sosok pahlawan, yakni secara komikal? Entah lah. Walau demikian, dunia komikal memang memiliki daya tariknya sendiri. Kisah seru dalam jalinan aksi lengkap dengan bumbu-bumbu romantika adalah daya tarik utamanya. Dalam dunia komikal sosok superhero adalah tokoh dengan kemampuan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya, entah itu bawaan, ataupun diciptakan. Batman misalnya berbeda dengan Superman yang memiliki kemampuan bawaan khusus. Batman hanya mengandalkan olah raganya disertai alat-alat canggih yang ia miliki. Namun toh keduanya sama-sama memiliki seperangkat kekuataan yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Tokoh-tokoh ini dengan latar belakangnya masing-masing menjadi sosok pembela kebenaran dan kebajikan demi kepentingan orang banyak.

Lantas apa jadinya jika Batman ternyata turut andil dalam revolusi Sosialis Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro. Atau dalam medan tempur Cherbourg-Normandy bersama-sama dengan pasukan sekutu ada Spiderman dengan gayanya yang khas. Dan ada pula Batman ditengah-tengah Company E, 2502nd PIR (U.S. 101st Airborne Division). Ini semua pertama-tama membuat saya tertawa. Lucu memang, namun kemudian saya tertegun sejenak dengan suatu pertanyaan yang mengganggu. Dengan cara semacam inikah kita memahami narasi sejarah perang? Bukan tidak mungkin kisah sejarah yang mulai dipreteli unifikasi narasinya atas nama narasi kecil, dan dikemas dalam bentuk bermain-main akan menimbulkan problem dikemudian hari, di generasi yang akan datang. Dari sini entah mengapa tiba-tiba saya malah berpikir, bagaimana jika suatu waktu kelak, perang tak lebih sekedar simulasi dalam satu ruangan dengan banyak layar dan tombol. Dan orang-orang yang mengoperasikan sementara melakoninnya seakan-akan mereka sedang “bermain”. Ia tak lagi hadir dalam kehidupan kita. Terdengar janggal mungkin, namun yang janggal inilah yang saya tangkap sementara disasar oleh Agan. Bahwa kian lama perang kian kehilangan nuasa krisisnya. Ia hanya berita di televisi, foto-foto di medan perang yang dihargai sebagai foto tahun ini secara berkala. Perang di modifikasi kedalam bentuk simulasi permainan tanpa perduli dengan dampak yang sebenarnya dapat terjadi. Dan kepahlawanan kemudian hanya fiksi, layaknya dalam dunia komik dan permainan.

Setelah banyak bereksperimen di wilayah surealis, saya mengira Agan sekarang mulai lebih konsern masuk pada dimensi yang lebih bernuansa satire. Kesan dangkalnya memang hanya sekedar lelucon, buat lucu-lucuan. Namun, kalau mau dimaknai lebih dalam, kita dapat menemukan keprihatinan yang tidak main-main. Revolusi digital hari-hari ini dipakai Agan untuk melakukan perlawanan terhadap revolusi itu sendiri. Sebuah revolusi superhistory.

History is the present. That's why every generation writes it anew. But what most people think of as history is its end product, myth.

-E.L.Doctorow-



http://www.trendhunter.com/trends/super-hero-photgraphy

http://www.formatmag.com/news/agan-harahap-super-hero-photography/

http://www.hanshaupt.com/2009/10/16/heroes-and-villains-escaping-reality/


Kamis, 29 Oktober 2009

insomnia






COKELAT ASAM PAGI INI

Pagi ini, seperti biasanya saya menggunakan jasa ojek untuk pergi ke kantor. Kali ini, saya menumpang motor Yanto. Tukang ojek langganan sekaligus pengusaha warteg ternama di seputaran Zambrud Raya.
Kami pun menempuh rute yang sama dan jarak tempuh yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Atas nama cinta, sekali lagi saya harus memaklumi keadaan Jakarta yang panas, macet dan penuh dengan asap kendaraan. Setelah merayap berpanas-panas melalui perempatan Senen, ( seperti biasa) kami pun membelokkan motor, melanggar marka jalan melalui jalan kecil di sebelah gedung Kenanga untuk menghemat jarak.

Tak disangka, sekonyong-konyong sebentuk sosok cokelat dengan tampang tengil menghadang jalan kami seraya berteriak membentak untuk menghentikan kendaraan kami.
Sosok cokelat, kecil dan kurang gizi tersebut dengan garangnya memukul lampu sepeda motor Yanto dan dengan kasar mencabut paksa kunci motor kami lalu membawanya kedalam sebuah warung.
Di dalam warung sudah ada beberapa 'tangkapan' lain yang sedang menunggu untuk ditilang atau 'menjalin perdamaian' dengan sosok cokelat menggelikan itu.

Wah.. rupanya diujung jalan ada beberapa sosok cokelat2 lain yang sudah menanti kedatangan kami ( para pelanggar marka jalan). Mereka rupanya bersembunyi di sudut2 warung sambil menanti 'mangsa' yang lewat. Hmm.. cara yang kurang jantan pikir saya..

Yanto pun memarkirkan motornya, lalu dengan langkah gontai menuju ke dalam warung. Saya pun turut menemani nya.

Sosok cokelat menggelikan itu pun dengan suara keras namun kurang wibawa bertanya kepada Yanto. " SITU MAU KEMANA ?!? SITU TAU, SITU SUDAH MELANGGAR RAMBU LALU LINTAS?!? " INI DARI MANA!? MAU KEMANA ?!? APA OJEK?!? MAU NGANTER KE KANTOR?!? KANTORNYA DIMANA?!?"
Yanto yang malang hanya tergagap mendengar dan menjawab pertanyaan lebay yang dilontarkan oleh sosok cokelat nan tengil itu.

" Wah, biasa aja kalee..gak usah kasar2 gitu.. " ucap saya pelan membela Yanto.

" APA SAYA KASAR SAMA SITU ?!? " katanya membentak seraya memelototkan mata culasnya kepada saya. " KAPAN SAYA PERNAH KASAR SAMA SITU ?!!? " katanya sekali lagi.

Sebenarnya, sosok cokelat itu terlihat cukup jenaka. Dengan badan kurus dan baju yang sedikit kebesaran, ia melotot dan berteriak membentak saya. " hmm.. paling umurnya baru 25an" pikir saya. Sepersekian detik, sempat terpikirkan oleh saya, apa iya sosok cokelat itu tidak diajarkan, untuk bersopan- santun ketika berbicara kepada orang yang lebih tua darinya? Sepersekian detik,ingin rasanya saya menampar atau mengajak dia berkelahi.

"Oh..enggak mas,..silahkan dilanjutkan lagi omong2nya sama teman saya.." Ucap saya sembari menarik napas panjang, tersenyum lantas membuang ludah lalu keluar dari warung itu sebentar untuk membeli rokok ketengan.

Sambil membakar rokok, saya menyaksikan bagaimana sosok2 cokelat itu menjebak,membentak dan menghardik pengendara motor yang lain.

Yeah..bagaimanapun juga kami memang salah. Kami sudah melanggar marka jalan.Tapi apa harus begitu caranya dalam menangani pelanggar rambu ? Dengan bentakan? teriakan?

Sempat terlintas di benak saya, kenapa mereka sebegitu berlebihannya dalam menyikapi pelanggar2 rambu? apa iya, dengan melanggar rambu, kami sudah menurunkan harkat dan martabatnya? apakah dengan melanggar rambu, kami sudah menghina dia dan keluarganya? Kalau saja dengan melanggar rambu, lantas dia merasa terpuruk,terhina dan dipermalukan, mungkin saya bisa memaklumi tindakan kasar dan berlebihannya.
Tapi hanya dengan melanggar rambu/ marka jalan, lalu, atas nama menegakkan keadlian, lantas mereka bisa dengan angkuhnya, memukul lampu motor, membentak dan mencabut paksa kunci motor? hmm.. sungguh tindakan kasar dan berlebihan yang tidak bisa saya terima sama sekali.

Sebenarnya, saya termasuk pelanggan surat tilang. Entah itu ketika mengendarai motor, maupun mobil. Tapi, dari dulu saya memang tidak pernah mau untuk menjalin 'hubungan damai' dengan sosok cokelat2 itu.
Ada suatu perbedaan yang mencolok ketika saya ditilang dengan menggunakan motor dan menggunakan mobil.
Ketika saya ditilang sewaktu menggunakan mobil, sosok cokelat itu terlihat lebih so swit dan berwibawa. " Selamat siang pak, anda sudah melanggar rambu lalu lintas, apakah bapak tau kesalahan bapak? " katanya dengan ramah sambil tersenyum. Saya pun dengan keramah tamahan ciri khas batak-ambon langsung dengan serta merta mematuhi dan mengikuti prosedur tilang menilang. Ketika 'prosesi' penilangan selesai, sosok cokelat itu pun mengucapkan salam selamat jalan seraya berpesan agar saya tidak mengulangi kesalahan. ' Ahh.. so swit deh.. '
Sungguh berbeda perlakuan sosok kecoklatan itu ketika menilang saya yang sedang mengendarai sepeda motor. Bentakan, makian dan tindakan kasar lain, yang mungkin rasanya lebih tepat digunakan ketika sedang menangkap maling atau teroris. Bukan kepada para pelanggar rambu.

Yanto masih memelas dengan lemas di dalam warung yang gelap itu. Yanto sepertinya ingin sekali 'menjalin persahabatan yang damai' dengan sosok angkuh berwarna cokelat itu. Terlihat lembaran dua puluh ribuan terselip diantara jemarinya. " Pak,.. apa gak bisa damai aja pak ? " ucapnya santun dengan logat Solo yang cukup medok seraya menyodorkan tangan untuk mengajak bersalaman. Sosok cokelat itu hanya tersenyum sinis melihat lembaran kehijauan ditangan Yanto sembari memainkan blackberry nya.

" Wah.. hebat sekali yaa.. cokelat2 jaman sekarang.. Sudah mapan dan melek teknologi " ujar saya dalam hati.

" Nanti siangan langsung diambil aja di Kramat " katanya sinis sambil tetap mengutak-atik blekberi nya.

" HAH?!? Nanti siang ?? Langsung di Pos Kramat?? Gak pake pengadilan ?!? Lahh,.Kok bisa2nya ?!? Bukannya prosedur standarnya adalah harus menunggu beberapa hari untuk di 'proses' di pengadilan setempat? Atau mungkin sudah ada 'kebijakan' baru yang dibuat oleh kelompok kecokelatan itu ?!? " tanya saya dalam hati tanpa sudi untuk berdialog lebih lanjut dengan sosok kecokelatan itu.

Yanto hanya mengangguk lemas, sambil melangkah gontai menuju motornya, lantas kami pun meneruskan perjalanan menuju Thamrin.


Agan Harahap

Minggu, 25 Oktober 2009

Bersafari Di URBANTOPIA



Pada hari itu, sebenarnya saya agak kurang enak badan. Badan saya sedikit panas. Mungkin akibat terlalu 'keras' bekerja. Kami ( saya, mita dan doan), baru datang sekitar pukul setengah 6 dikarenakan susah mencari parkir. Kami pun sempat bingung mencari lokasi NAS diantara riuh-rendahnya acara urbanfest yang tengah berlangsung.

Sesampainya di depan NAS, saya agak malas juga untuk masuk karena pintu masuk dipenuhi oleh pengunjung pameran yang membeludak. Saya sempat berjumpa dengan kawan lama saya dari Bandung. Armand Jamparing dan Dadan. Mereka rupanya sedang 'meng-hajar' sesuatu di gelaran Urbanfest.
Pengunjung semakin memenuhi ruangan pameran." Ah,.. rupanya Mr. Fauzi Bowo sedang meninjau pameran " pikir saya.

Tak berapa lama, kami pun masuk kedalam ruang pameran. Ara dan Rangga tampak hadir diantara banyaknya pengunjung yang memadati ruang pameran itu.

Beberapa handai taulan yang hadir di malam yang berbahagia itu :

Mita, saya, Doan dan Ara


Mita, Ara dan Rangga

Menurut kurator pameran, Rifky Effendy dan Julian Sihombing,

Kehidupan budaya urban dengan imajinasi global menjadi salah satu arus utama dalam tiap kajian budaya saat ini. Walaupun tak semua pengamat budaya berpendapat bahwa globalisasi menciptakan wajah budaya yang seragam. Namun globalisasi menyisakan pertanyaan-pertanyaan pada nilai-nilai lokal kehidupan sebuah bangsa. Interaksi budaya dalam suatu wilayah sudah pasti bersinggungan dengan nilai-nilai yang telah ada sebelumnya dalam suatu masyarakat, terutama di perkotaan atau lebih tepat dengan sebutan metropolitan. Maka pameran Urbantopia juga diharapkan memberikan gambaran besar bagaimana wajah masyarakat perkotaan di era global, mencakup realita, imajinasi, bahkan impian-impian atau utopia-nya.

Karya2 saya yang ditampilkan:




Beberapa karya yang dipamerkan di NAS :


Jim Allen Abel - Indonesia Uniform


Wimo Ambala Bayang - Spring Time In The Park


Davy Linggar - Thinking Home


Oscar Motulloh - No Title


Hengki Koentjoro dan Ahmad Deny Salman

Ada juga beberapa karya lain yang tidak sempat saya foto karena kondisi badan yang tidak fit, ditambah perut saya yang sudah meronta-ronta minta diisi. Mungkin besok atau lusa saya akan kembali ke NAS untuk melihat-lihat.

Menjelang malam, saya,Mita, Doan,Ygksm serta Laras terpaksa meninggalkan pagelaran tersebut karena lapar..

'my' SUPERHERO

http://www.trendhunter.com/trends/super-hero-photgraphy


Kamis, 22 Oktober 2009

morning in my room


just me and my guitar with a pack of cigaretes