Selasa, 17 Januari 2012
Senin, 02 Januari 2012
TTS : Temen-Temen Seleb

Berikut adalah petikan obrolan saya via chat dengan seorang "pemerhati fotografi" yang juga kawan saya.
Q : Bagaimana awalnya loe bisa membuat project TTS ini ?
A : Project ini berawal pas gw iseng buka-buka album facebook temen yang memajang sejumlah foto dirinya bersama dengan selebriti-selebriti tanah air.
Q : Apa yang mau loe sampaikan lewat serial ini ?
A : Sebenernya ini isu basi sih. Ketika loe yang merasa berteman dengan figur2 popular, dan loe 'memamerkan' pertemanan loe kepada publik. Apa sih manfaatnya? apakah dengan 'pertemanan' loe itu, lantas loe merasa udah jadi seleb?
Nah, fenomena-fenomena kayak gini nih yang pengen gw angkat.
Q : Oh.. Social Climber ?
A : Yaa.. Kurang lebih gitu lah bro.
Q : Kok Seleb luar semua sih bro? Kenapa gak ada yang lokalan?
A : Kata mama, temenan ga boleh pilih-pilih broh. haha Tanggung lah! Sekalian internasional gitu..
Q : Haha.. loe suka nonton infotainment gak sih ?
A : Gw ga ada tv. Paling tau2 dari twitter. Tapi beberapa waktu yang lalu, gw ga sengaja denger obrolan ibu2 di sebuah gerai makanan di mall. Ada satu ibu-ibu yang dominan sekali menceritakan 'pengetahuannya' tentang gosip-sodip selebriti. Dan ibu-ibu yang lain terlihat dengan seksama mendengarkan. Menurut gw, kalo si ibu-ibu dominan itu sekalian mamerin foto-fotonya sama 'oknum' yang diceritain, tentu foto2 itu akan lebih 'memantapkan' posisi nya secara sosial yaa..
Q : Maksudnya ?
A : Sampai saat ini, foto masih merupakan bukti yang dipercaya oleh publik. Maksud gw, kalau tuh ibu memang beneran berteman dgn seleb, dan cerita yang disampaikannya adalah cerita langsung dari temen selebnya, tentu strata sosial si ibu dominan tadi, jelas akan terangkat. Yaa.. gitu deh kira-kira.
Q : Bukannya malah norak yah ?
A : Norak itu kan relatif bro.. Kalo loe yang hidup metropolis gini yaa mungkin buat loe norak. Tapi kalo loe tinggal jauh dari metropolitan, lantas loe pajang foto2 loe sama artis/seleb.. Beuh.. Strata sosial loe naik bro.. Dijamin.
Q : Tau darimana loe ? bukannya loe tinggal di Jakarta ?
A : Makanya gaul bro..
Q : Wuihh.. gaul dimana loe ??
A : Rahasia bung.. Ntar loe ikut2an..
Q : Haha.. Btw, ini foto2 loe asli apa editan photoshop neh ?
A : Editan lah!! hahaha ngehek loe!!
Q : Haha.. Tapi kenapa sih, loe gak foto langsung sama seleb2nya? kan loe punya akses pas kerja di majalah ?
A : Nah.. ini menariknya bro.. Ini tentang realita. Tentang pertemanan semu. Dengan teknologi digital, gw bisa membuat seolah2 gw memang seakrab itu dengan Snoop Dogg atau Celine Dion misalnya.. Sehingga, orang-orang percaya bahwa gw memang berteman dengan para pesohor itu.
Q : Realitanya dimana? jelas-jelas loe bilang bahwa TTS ini editan potosop ?
A : Realitanya : bahwa memang ada orang- orang yang seperti ini. Orang yang memamerkan 'pertemanannya' dengan seleb-seleb. Walaupun bisa saja foto2 nya itu dilakukan ketika jumpa fans atau ketemu ga sengaja di mall, lantas dia menjadi 'lebih penting' diantara pertemanan sosialnya.
Q : Wah, lucu juga yah.. memunculkan realita dari sebuah kepalsuan.
A : Lucu yaa..?
Q : Haha..Ok lah. Sip bro.. Salam buat temen2 nya yah ?
A : Hahaha Siap..
*Salam hangat dari kami berdua :
Love, Peace and Gaul !!
Sabtu, 24 Desember 2011
Senin, 19 Desember 2011
MONEY CULTURE
Behind The Scene : The Revenge of King Kong
The Idea :
Saya membuat karya ini dalam rangka merespon tema pameran "Money Culture" yang diadakan di Garis Art Space.
Setelah selama sekian waktu saya berpikir, entah kenapa tiba-tiba saya teringat akan film King Kong yang sempat marak beberapa tahun yang lalu. Pada adegan terakhir, King Kong, raksasa primitif itu tewas di tengah-tengah kota megapolitan.
Saya lantas menganalogikan adegan ini dengan hubungannya dengan tema pameran itu.
Kekuatan fisik (otot) adalah bentukan primitif dan bukan lagi menjadi tolak ukur akan kekuasaan. Sementara uang adalah bentuk kekuatan absolut. Segalanya dapat diraih dengan uang. Jodoh,kecantikan sampai nyawa, semua dapat dibeli dengan uang.
Makin kuat jumlah nominal uang yang dimiliki, makin besar pula kekuatan dan kekuasaan yang dapat diraih.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka saya membuat lakon 'pembalasan King Kong' yang kembali ke kota megapolitan dengan 'kekuatan baru-nya'.
The Process :
Setelah tau bahwa Willy Jonjot, (tetangga apartemen saya) ternyata mempunyai 'tabungan' uang logam yang cukup banyak (1 ember), maka saya meminjamnya untuk membuat kostum si king kong.
Dengan dibantu sahabat saya, Angga, maka selama 2 hari kami sibuk merangkai uang-uang itu. Setelah melalui berbagai percobaan, akhirnya kami menemukan cara yang cukup efektif untuk menempelkan koin-koin itu. Alhasil, koin-koin itu melekat secara sempurna dan permanen ( Sorry yah mas Jot).







GRACIAS!
Saya membuat karya ini dalam rangka merespon tema pameran "Money Culture" yang diadakan di Garis Art Space.
Setelah selama sekian waktu saya berpikir, entah kenapa tiba-tiba saya teringat akan film King Kong yang sempat marak beberapa tahun yang lalu. Pada adegan terakhir, King Kong, raksasa primitif itu tewas di tengah-tengah kota megapolitan.
Saya lantas menganalogikan adegan ini dengan hubungannya dengan tema pameran itu.
Kekuatan fisik (otot) adalah bentukan primitif dan bukan lagi menjadi tolak ukur akan kekuasaan. Sementara uang adalah bentuk kekuatan absolut. Segalanya dapat diraih dengan uang. Jodoh,kecantikan sampai nyawa, semua dapat dibeli dengan uang.
Makin kuat jumlah nominal uang yang dimiliki, makin besar pula kekuatan dan kekuasaan yang dapat diraih.
Berdasarkan pemikiran di atas, maka saya membuat lakon 'pembalasan King Kong' yang kembali ke kota megapolitan dengan 'kekuatan baru-nya'.
The Process :
Setelah tau bahwa Willy Jonjot, (tetangga apartemen saya) ternyata mempunyai 'tabungan' uang logam yang cukup banyak (1 ember), maka saya meminjamnya untuk membuat kostum si king kong.
Dengan dibantu sahabat saya, Angga, maka selama 2 hari kami sibuk merangkai uang-uang itu. Setelah melalui berbagai percobaan, akhirnya kami menemukan cara yang cukup efektif untuk menempelkan koin-koin itu. Alhasil, koin-koin itu melekat secara sempurna dan permanen ( Sorry yah mas Jot).



Kami pun memulai sesi pemotretan. Lagi-lagi Angga memegang peran yang cukup besar sebagai asisten sekaligus model dalam pembuatan karya ini. Selama lebih dari setengah jam tersiksa dalam kepanasan dan aroma aibon, maka sang model menyerah dan menyatakan dirinya mabuk aibon. (Konon, mabuk lem adalah kasta terendah dalam ajang permabukan). hahaha...

The Result:
Inilah hasil dari perjuangan kami selama ini : " The Revenge of King Kong".
Karya ini dapat disaksikan di Garis Art Space sampai dengan tanggal 23 Desember mendatang.
Karya ini dapat disaksikan di Garis Art Space sampai dengan tanggal 23 Desember mendatang.



GRACIAS!
Senin, 05 Desember 2011
Langgan:
Entri (Atom)










































