Senin, 20 Oktober 2014

20 Oktober 2014




Saya duduk sendiri di suatu pojok sepi di seputaran Monas. Di kejauhan nampak gemerlap panggung besar dengan ribuan orang yang memadati. Selain karena badan saya sudah lelah karena dari tadi siang saya ikut menonton arak-arakan Presiden RI ke-7, Joko Widodo, saya juga baru saja mengalami suatu peristiwa yang cukup traumatis sehingga membuat saya menjadi tidak begitu antusias lagi untuk mengikuti keseluruhan acara itu. 
Di tengah keramaian arak-arakan yang mengiringi Jokowi siang tadi, iphone saya dicopet orang. Sebagaimana kebanyakan orang lain yang pernah kehilangan hp, saya pun cukup merasa gundah karena begitu banyak data-data dan foto-foto penting di hp saya. Dan tentu, butuh perjuangan tersendiri untuk bisa mendapatkan data-data itu seperti semula. Belum lagi dengan kondisi keuangan keluarga kecil kami sedang dalam posisi yang  mengkhawatirkan, sehingga untuk sekedar membeli iphone baru dalam waktu dekat ini, rasa-rasanya agak mustahil. 

Tapi di tengah kemasygulan akibat kehilangan hp, jujur saja, saya menemukan sedikit ketenangan sehingga saya bisa menulis blog ini. Di tengah 'kesunyian' seperti ini, saya seolah merasa seperti dulu, ketika sosial media belum merasuk ke dalam lini-lini kehidupan saya. Biasanya, dalam keramaian seperti ini, saya sudah disibukkan oleh berbagai mention dan postingan di berbagai jejaring sosial media yang saya ikuti. Belum lagi dengan serangkaian 'terror' dari isteri yang sedang kewalahan mengurus anak kami yang baru tumbuh gigi.  Karena kecopetan iphone, paling tidak saya bisa jadi lebih peka terhadap keadaan sekitar. Minimal dalam radius 20 meter di sekeliling saya. Saya jadi bisa melihat sepasang kekasih yang saling bercengkrama di pinggir trotoar, saya bisa melihat anak kecil yang tertidur di samping lapak ibunya yang sibuk berjualan teh botol, saya bisa melihat keluarga yang sedang bersuka ria 'piknik' ditengah hingar-bingar perayaan itu. Imaji-imaji itu berkelindan dengan cepat dan membawa pikiran saya berkelana tentang banyak hal seputar harapan-harapan akan penghidupan yang lebih layak di era pemerintahan yang baru ini. 

Hari  ini, 20 Oktober, adalah hari ulang tahun almarhum ayah saya. Kebetulan bertepatan dengan hari pelantikan Jokowi menjadi presiden yang baru. Sepintas saya terbayang akan wajahnya yang selalu terlihat antusias bila berbicara soal demokrasi serta orang-orang baik dan jujur yang mendukung kelangsungan negara ini. Dan raut wajahnya akan semerta-merta berubah bila obrolan mulai bergeser pada sistem pemerintahan yang carut marut serta politisi-politisi maling disana. Saya membayangkan, andai kata beliau masih hidup, tentu saya tidak akan sendiri duduk di tempat ini. Paling tidak ada seseorang yang bisa saya ajak berdiskusi atau hanya untuk sekedar meminta rokok ( merk rokok kami sama dan kebetulan rokok saya sudah habis). 
Saya teringat pernah suatu kali, keluarga kami sedang dalam keadaan sulit secara ekonomi. Dan dalam suatu dialog yang bersifat tertutup, saya melayangkan protes, karena saya yang waktu itu masih mura belia, punya banyak keinginan yang ternyata tidak mampu untuk dipenuhi ayah saya. 
 "Amang, (alm ayah saya selalu memanggil saya dengan sebutan amang, apalagi kalau sedang dalam posisi yang tidak menguntungkannya), apa yang kita alami sekarang masih 'ecek-ecek' dibanding dengan orang lain". Beliau lalu mencontohkan kisah-kisah para kerabat dan handai taulan yang memang nasibnya lebih 'naas' dari dari apa yang kami alami saat itu. Saat itu saya hanya bisa terdiam tanpa menanggapi setitikpun akan 'solusi'nya itu. 

Di ujung sana, para artis bersama ribuan khalayak masih berjingkrak-jingkrak larut dalam pesta kemenangan itu. Sejurus kemudian, seorang bapak-bapak yang mengenakan topi bertuliskan 'Jokowi' dan kemeja kotak-kotak lusuh dengan ditemani anak laki-lakinya, meminjam korek api yang saya letakkan tak jauh dari bungkus rokok yang sudah kosong. Setelah berhasil menyalakan rokoknya dan mengucapkan terima kasih, mereka pun beranjak bergi. 
Dari kejauhan saya pun mulai beranabel-anabel (analisa gembel) dalam benak saya. Mungkin saja bapak itu adalah seorang supir mikrolet atau tukang sapu jalanan atau  apapun yang harus bapak itu lakukan esok pagi demi kelangsungan kehidupan keluarganya di rumah, dan tentu, demi masa depan anaknya kelak.
Dan tiba-tiba saja, kehilangan iphone menjadi suatu persoalan yang terlalu ecek-ecek  dibandingkan dengan perjuangan hidup orang-orang lain di sekitar saya.


Monas, 20 Oktober 2014, 21.05 WIB


Agan Harahap



Rabu, 03 September 2014

Lagu Untuk Merdu


 

Sepanjang siang ke sore ini saya kebagian tugas untuk mengurus Merdu, nama anak saya. Kebetulan istri saya ada keperluan di luar rumah. Setelah memberikannya makan dan mandi sore, mulailah dia rewel karena mengantuk. Seperti biasa, saya mengenakannya kain gendongan, mengambil harmonika dan memainkan lagu-lagu secara acak untuk menenangkannya. Tapi usaha saya tidak membuahkan hasil. Malah membuat tangisnya semakin menjadi-jadi.
Entah kenapa tiba-tiba saja menyanyikan lagu Madekdek Ma Gambiri ini. Samar-samar saya masih ingat, ketika almarhum ayah saya mendendangkan lagu ini ketika saya masih kecil dulu. Setelah berlatih beberapa saat, sayapun bisa menyanyikan lagu ini dengan cukup baik dan Merdu sukses tertidur dengan lelap.
Saya sengaja mengulang lagu ini sekali lagi seraya mendokumentasikannya agar kelak, suatu hari nanti, anak saya tahu bahwa bapaknya pernah menyanyikan lagu ini untuk menidurkannya dan semoga di masa yang akan datang nanti, dia juga akan meneruskan mengajarkan dan menyanyikan lagu ini kepada anak-anaknya.

Agan Harahap

Senin, 25 Agustus 2014

Sepenggal Cerita Dari Jalan Pondasi



Barbershop tua yang berada di Jl. Pondasi dekat Pasar Ampera, Pulomas

Bau santer wewangian pria merk 'Brut' cukup santer memenuhi ruangan itu. Seorang bapak yang sudah tua duduk terkantuk-kantuk di meja kasir dan musik boleros dari Trio Los Panchos lamat-lamat terdengar dari kaset tape tua di pojok ruangan. Sore itu 4 kursi di barbershop Pondasi sudah terisi penuh. Sambil menunggu giliran, ayah saya bercerita tentang 'sejarah' barbershop.  "Dulu, tukang pangkas dipercaya bisa menyembuhkan luka seperti bisul dan koreng dengan memotongnya dengan pisau cukurnya yang maha tajam itu. Maka dari itu, upayakanlah agar tidak terlalu banyak bergerak, supaya pisau itu tidak melukai mu". Ujar ayah saya menjelaskan. Saya cukup tercekat mendengarkan penjelasan dari ayah saya tadi. Entah benar atau tidak cerita ayah saya tadi, tapi cerita itu langsung membuat saya bertekad untuk berusaha untuk duduk diam dan tenang ketika prosesi pangkas itu berlangsung. Saya tidak mau kehilangan nyawa di tempat  itu.
"Silakan dik" ujar seorang tukang pangkas yang berkepala plontos sambil menyeringai dengan ramah seraya mempersiapkan papan kecil yang diletakkannya di antara pegangan kursi supaya saya bisa duduk cukup tinggi dan agar lebih nyaman ketika rambut saya dipotongnya.
"Kress.. Kress.." Dan sedikit demi sedikit rambut ikal saya yang tebal itu jatuh kelantai. Sampai pada akhirnya, tukang pangkas itu mengoleskan sabun dingin di sekujur pipi dan punuk leher saya. Ya Tuhan, ini adalah saat yang mendebarkan, ketika tukang pangkas itu akan memainkan pisau cukurnya untuk membabat habis rambut-rambut tipis yang tidak mungkin terpotong oleh gunting. Tukang pangkas itu nampaknya bisa merasakan ketegangan saya. Dia pun mulai mencairkan keadaan dengan bertanya seputar studi di sekolah sambil mengasah pisaunya diselembar kulit yang menjuntai di samping kursi. Mengingat cerita ayah saya sewaktu menunggu giliran tadi, sayapun diam membatu tak bergerak sedikitpun. Pisau yang dingin terasa dibelakang leher saya. "Kreettt... Kreett.." Suaranya begitu mencekam seolah-olah siap mencabut nyawa saya setiap saat. Namun hal itu tak pernah terjadi. Setelah rambut selesai dipotong, saya bahkan merasa lebih hidup, seolah baru dilahirkan kembali.
Beres giliran saya, ayah gantian menempati kursi yang saya duduki tadi. Tentu saja, dengan badan yang tinggi besar itu, ia tidak memerlukan kayu untuk menambah ketinggian posisi duduknya. Ayah saya adalah pelanggan setia barber shop itu semenjak dia masih menumpang tinggal di rumah opung saya di Jalan Mutiara. Jauh sebelum saya 'diciptakan' atau bahkan di 'rencanakan'.
Sebagai orang yang sudah lama kenal, mereka langsung terlibat dalam pembicaraan yang cukup akrab. Pembicaraan mereka cukup ringan namun terus mengalir. Tukang pangkas itu bercerita bahwa kalau setelah barbershop itu tutup, maka ia harus menumpang omprengan untuk pulang ke daerah Bogor. Tapi saya tidak tertarik untuk mendengarkan pembicaraan mereka. 
Saya lebih tertarik untuk mencermati suasana tempat itu. Di atas meja kasir, terdapat kepala rusa yang diawetkan. Di bawahnya terdapat lukisan repro tentang suasana barbershop alla Eropa. Di kursi tunggu, terdapat majalah-majalah lama namun saya pun tidak tertarik untuk membukanya. Di belakang barbershop itu ada sebuah pintu alla saloon cowboy yang menghubungkan tempat itu ke rumah belakang yang tampak gelap. Bosan dengan ruangan itu, saya pun berjalan keluar. Di sebelah barberhop itu, terdapat toko penyewaan video dan laser disc. Dan poster film yang tertempel di kaca etalasenya adalah film "Akibat Kanker Payudara" yang dibintangi oleh Cok Simbara dan Chintami Atmanegara. Saya cukup lama memperhatikan poster itu seraya membayangkan payudara montok Chintami Atmanegara. Maklum saja, waktu itu saya belum mengerti ganasnya penyakit kanker sehingga kata 'payudara' lebih mendominasi imajinasi saya. Tidak banyak hal yang bisa saya nikmati di luar. Saya kembali masuk ke dalam barbershop itu. Rupa-rupanya ayah saya telah selesai memotong rambutnya dan kini beliau sedang menikmati pijitan tukang pangkas yang berkepala plontos tadi. Saya terus mengamat-amati tiap sudut dari ruangan barershop itu sambil perlahan menikmati lantunan suara merdu dari Trio Los Panchos.

Cerita di atas, adalah sepenggal memori yang masih melekat di benak saya akan tempat pangkas rambut (barbershop) di jalan Pondasi Kampung Ambon, Pulomas. Memori ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar. Lebih dari 25 tahun yang lalu.



Minggu yang lalu, sewaktu berlibur ke Jakarta, saya menyempatkan diri berkunjung ke tempat itu untuk memangkas rambut yang sudah mulai meng-kribo. Barbershop Pondasi cukup ramai pengunjung. Dan sambil mengantri, saya pun melayangkan ingatan saya ke beberapa puluh tahun lalu.
Rupanya barbershop itu sudah bergeser 1 toko ke sebelah pojok. Barbershop itu kini berdiri di tempat yang dulunya adalah garasi mobil. Sementara bangunan lama sudah berubah menjadi warung pecel lele.  Interior barbershop itu tidak banyak berubah. Meja dan kaca utama tampak mengkilap sepertinya memang masih baru dan tentu saja, suara merdu Trio Los Panchos itu sudah tidak terdengar lagi. Berganti dengan suara cempreng penyiar Gen FM yang mencoba melucu dengan lawakan-lawakan menghujat fisik khas jaman sekarang. Selebihnya interior barbershop itu masih terlihat sama seperti dulu. Kepala rusa awetan itu masih tergantung dengan gagah di atas meja kasir. Dan lukisan repro suasana baerbershop alla eropa masih tergantung di bawahnya.
Tapi tukang pangkas yang berkepala plontos dulu sudah tidak ada. Begitupun juga dengan bapak yang selalu terkantuk-kantuk di balik meja kasir. Hampir semua personel barbershop itu adalah anak-anak muda yang usianya rata-rata di bawah saya. Kecuali seorang bapak berbadan bungkuk dengan rambut yang sebagian besar sudah memutih. Ya, saya ingat bapak ini. Dulu bapak ini adalah 'junior' yang kerap menyapu membersihkan sisa-sisa rambut yang berceceran di lantai. Giliran saya tiba. Dan bapak itu tersenyum ramah mempersilakan saya untuk duduk di kursi. Tentu saja, saya tidak lagi duduk di atas papan kayu.
Saya sengaja untuk tidak bertanya apapun kepada bapak tua itu. Saya masih 'memegang teguh' cerita ayah saya dulu, bahwasannya kita harus duduk diam ketika sedang dipangkas supaya tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan. Saya hanya duduk dengan diam sambil terus mengingat-ingat keadaan barbershop itu puluhan tahun yang lalu. Rupanya saya adalah 'pasien' terakhir untuk saat itu. Sebentar lagi azan Maghrib akan berkumandang sehingga wajar saja kalau barbershop itu sepi. Setelah membayar di kasir, saya mencoba berbincang dengan bapak bungkuk tadi tentang tempat itu. Tak disangka, walaupun bapak itu tidak mengenali saya, namun beliau masih ingat bahwa ada seorang laki-laki gondrong dan brewokan yang sampai empat tahun yang lalu, hampir sebulan sekali selalu mengunjungi tempat itu. Ya, dia masih ingat dengan almarhum bapak saya. Beliau kaget dan mengucapkan belasungkawanya setelah tahu bahwa pelanggan setianya kini telah tiada. Dia pun bercerita bahwa tukang pangkas berkepala botak dan kasir yang biasa duduk terkantuk-antuk itupun juga kini telah meninggal dunia. Cukup lama kami berbincang-bincang. Dia tampak tersenyum senang ketika saya bisa dengan fasih menceritakan apa yang masih saya ingat terhadap tempat itu. 

Hari sudah mulai gelap. Satu demi satu pengunjung mulai berdatangan memenuhi barbershop itu. Bapak bungkuk itu pamit karena harus kembali menunaikan tugasnya. Saya masih berdiri merokok di depan sambil memandang takzim ke arah barbershop itu. Mengingat umurnya yang sudah melampaui 2 generasi, saya yakin bahwa ada puluhan atau bahkan ratusan orang lain yang juga punya kenangan tersendiri terhadap tempat itu. Sebuah pesan dari istri masuk menanyakan keberadaan saya. Waktunya untuk pulang dan menyudahi segala cerita sentimentil ini. Saya mengayuh sepeda menuju ke rumah. Angin malam yang dingin bertiup perlahan menyebarkan semilir wangi  aroma 'Brut' di kepala saya.





Jumat, 01 Agustus 2014

Nenek Moyang Ku Bukan Orang Pelaut


Pantai Parangendog

Saya adalah pehobi mancing yang cukup fanatik. Walaupun memang sering kali tidak ditakdirkan untuk mendapat ikan, namun saya selalu antusias dengan dunia pemancingan. Setelah merencanakan dengan seksama, saya dan Pungki, seorang seniman fotografi yang juga hobi memancing memutuskan untuk menjajal pantai pasir Parangendog, sebelah barat pantai Parangtritis.
Ini adalah kali pertama saya menjajal dunia perikanan Jogja. Dengan penuh semangat dan antusiasme tinggi, kami berdua menyusuri Jalan Parangtritis dengan menggunakan sepeda motor.

Sewaktu masih berdomisili di Jakarta, saya, Andries, Willy, Joey dan Andre kerap kali pergi memancing di kepulauan seribu. Dan selalunya kami memakai teknik mancing dasaran. Kami memang tidak begitu serius menekuni hobi memancing dan lebih memprioritaskan persediaan bir yang dibawa ketimbang umpan dan joran. Tapi kami sangat menikmati nuansa perpaduan antara sentakan ikan, alkohol dan hebusan kencang angin laut yang memang tiada duanya. Namun kali ini suasananya sungguh berbeda. Saya sama sekali tidak mempersiapkan 'amunisi' apapun untuk bergembira ria di pantai. Yak. Kali ini saya bertekad untuk serius untuk menangkap ikan.

Sesampainya di lokasi, tampak begitu banyak turis lokal yang sedang menikmati keindahan dan mistisme laut selatan itu. Adapun teknik memancing yang kami terapkan siang itu adalah mancing pasiran. Bagi saya, ini adalah teknik yang cukup sulit mengingat bahwa ketahanan fisik, penguasaan teknik dan pengalaman memegang peranan penting dalam menerapkan teknik mancing jenis ini. Sementara saya, sama sekali tidak punya pengalaman dalam mancing pasiran. Ditambah lagi dengan  fisik saya yang sudah tidak bisa lagi dibilang muda.

Angin keras menerpa wajah saya, antusiasme saya memuncak untuk segera menangkap ikan. Umpan sudah siap dan kami langsung berlari menerjang ombak dan dengan sekuat tenaga melemparkan umpan sejauh mungkin. Semenit, dua menit, tiga menit dan 'drttt.. drttt..'
Tali senar menegang, terasa ada yang menarik di bawah sana, langsung saja saya menggulung reel dengan penuh semangat. Rupa-rupanya yang saya kira tarikan ikan tadi hanyalah timah pemberat yang tertarik arus. Sementara umpan masih dalam keadaan utuh. Setelah menunggu momen yang tepat, saya pun kembali mencambukkan joran sekuat tenaga ke tengah laut. ( Untuk memancing di pantai pasir seperti ini, memang dibutuhkan joran yang panjang dan lentur untuk mencapai jarak lempar yang maksmimal). Semenit, dua menit, lima menit, sepuluh menit saya menunggu namun tidak ada sentakan sama sekali. Beberapa getaran kecil saya acuhkan karena saya tidak mau tertipu untuk yang kedua kalinya oleh timah pemberat yang tergulung arus. Bosan dengan keadaan statis itu,  saya menggulung reel untuk memeriksa keadaan umpan. Ternyata umpan sudah ludes dimakan ikan. Artinya memang ada ikan di pantai itu. Walau memang belum menyangkut di kail, namun setidaknya umpan dimakan. Dan itu menumbuhkan semangat dan harapan besar di dalam hati.

Dengan semangat tinggi tanpa kenal lelah, saya kembali melemparkan umpan sekuat tenaga ke tengah lautan yang menggelora. Semenit, dua menit, sepuluh menit, dan saya kembali menggulung reel dengan hasil yang masih sama. Nol. Kejadian itu terus berulang berkali-kali. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Itu artinya saya sudah 3 jam lebih terendam di tengah hempasan ombak. Harapan hanya tinggal harapan. Saya memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk sekedar merokok dan melemaskan badan yang sudah mulai kejang. Beberapa anak kecil yang sedang bermain pasir menghampiri dan dengan ramah bertanya pada saya, 'Sudah dapat berapa oom?' 'Kenapa mancing disini oom?, kan disini gak ada ikannya oom'. Pertanyaan- pertanyaan yang cukup menampar hati, mengingat perolehan buruan yang masih nihil. Saya tidak mau berlama-lama mendengar celoteh anak-anak yang nampaknya sangat berpengalaman itu. Saya memutuskan untuk kembali memancing ke tengah. Semenit, sepuluh menit, dua puluh menit, saya sengaja tidak menarik reel karena dari kejauhan saya melihat bahwa sekelompok anak-anak tadi masih bermain di tempat tadi dan saya tidak ingin terlibat dalam dialog-dialog yang hanya menyakitkan hati.

Pungki masih memancing
Di tengah rasa dingin dan pegal yang mendera, serta sambil terus berharap akan adanya seekor ikan yang tulus ikhlas memakan umpan, saya mencoba merenungkan dan menganalisa sebab-musabab tidak adanya ikan yang mau menyangkut di kail saya. Semua teori analisa seputar perpancingan berkelindan dengan cepat di benak saya. Mulai dari teori-teori ilmiah seputar perubahan iklim, arah arus, teknik yang salah, sampai kepada teori-teori imajinatif yang tidak masuk akal. Apakah karena kepergian saya ini tidak direstui 100% oleh anak-istri di rumah, apakah karena sebelum memancing tadi saya bersalaman dengan orang yang menularkan kesialannya pada saya, dan belasan anabel-anabel (analisa gembel) lainnya.

Tiba-tiba saja saya teringat akan sebuah lagu yang kerap dinyanyikan oleh almarhum ayah saya ketika sedang bercanda dengan cucu-cucuya, Gisella dan Karissa. Sebuah lagu yang dulu juga sering dinyanyikan ketika sedang bercanda dengan saya dan adik saya.
Lagu itu merupakan 'plesetan' dari lagu 'Nenek Moyangku Orang Pelaut'. Adapun judul dan lirik lagu itu digubah menjadi : ' Nenek Moyangku Orang Benggali'.
Begini liriknya :

Nenek moyang ku orang Benggali
Rambutnya panjang bertali-tali
Pergi ke ladang, mencari ubi
Di tengah jalan, di sodok babi.

Walaupun nenek moyang saya bukan orang Benggali, namun terdapat kesamaan antara orang Benggali di lagu itu dan nenek moyang saya. Mereka adalah sama-sama masyarakat agraris yang pola hidupnya bergantung dari hasil ladang dan hutan yang sama sekali jauh dari kehidupan maritim. Dan saya percaya, bahwa bakat atau talenta yang dimiliki seseorang adalah bawaan keturunan. Baik itu dari ayahnya, kakeknya atau nenek moyangnya. Ayah saya adalah seorang penulis yang membuka usaha penerbitan buku. Sementara Opung saya adalah seorang pegawai kantor pekebunan di Medan. Dan konon, nenek moyang saya pun berprofesi sebagai petani karet dan penyadap kemenyan di rimba Tapanuli sana. Mereka bukan nelayan, pelaut ataupun marinir. Jadi memang 'udah dari sono-nya' saya jauh dari kehidupan maritim dan tidak punya bakat memancing.

Dan sebagai seorang Kristen, saya percaya akan kekuatan doa. Saya percaya, bahwa dalam berusaha untuk mencapai sebuah tujuan, kita harus bertekun, bergiat dan tak lupa untuk membawanya dalam doa. Lantas saya berpikir, apakah karena saya tidak berdoa sebelum pergi? ataukah karena sebelum melempar umpan tadi saya tidak berdoa? Baiklah. Walaupun saya tidak dilahirkan dengan bakat sebagai seorang nelayan, tapi sebelum nanti melemparkan umpan lagi ke tengah laut, saya akan berdoa. Burung pipit yang kecil saja dikasihi-Nya, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengasihi saya? Kiranya kehendakNya-lah saja yang akan terjadi atas ikan yang akan tertangkap nanti.

Saya juga teringat semacam ungkapan yang saya ciptakan sewaktu saya masih aktif di kumpulan Mahasiswa Pencinta Alam, "Manusia sudah ditakdirkan untuk hidup di kota. Bukan di gunung dan hutan. Karena manusia diciptakan Tuhan tidak dilengkapi dengan badan yang dipenuhi bulu-bulu tebal. Ungkapan itu tercipta ketika saya sedang kedinginan di puncak Gunung Gede dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Saya percaya akan suratan takdir yang menentukan jalan hidup seseorang. Dan mungkin saja, salah satu faktor penyebab tidak ada seekorpun ikanpun mau yang menyambar umpan saya, adalah karena takdir Illahi. Tapi bagaimanapun juga, takdir itu adalah rahasia Tuhan. Hidup, mati, karir, jodoh dan ikan-pun, itu ada di dalam tangan Tuhan. Biarlah saya pasrahkan semuanya kepada Yang Di Atas. Mukjizat itu nyata. Saya percaya, Tuhan akan sudi berbaik hati memberikan seekor ikan untuk saya.

Sunset di Parangendog

Langit mulai berpendar redup kemerahan, sebentar lagi gelap. Angin keras menerpa dan membelai wajah saya. Tiba-tiba saja saya merasa bersemangat dan ceria lagi. Rasanya sama seperti pertama kali melemparkan kail  siang tadi. Saya merasa 'feeling so good banget'. Sambil menggumamkan lagu-lagu rohani dari Kidung Jemaat, saya menggulung reel. 50 meter, 40 meter, 30 meter dan stop. Senar pancing meregang dengan kencang. Reel tidak mau digulung lagi. Kail saya tersangkut karang. Segala lantunan lagu dan doa yang saya kumandangkan tadi, saya hentikan. Keceriaan dan adrenalin yang sempat memuncak tadi seketika sirna. Saya memutuskan tali, menggulung benang yang tersisa dan kembali ke pantai sambil bersiul menyanyikan lagu 'Nenek Moyangku Orang Benggali'.


Parangendog, 2 Agustus 2014.


Agan Harahap









Rabu, 23 Juli 2014

Perihal 'Respon Kritis-Kreatif' Di Media Sosial





Siang tadi saya cukup terusik dengan pernyataan Tantowi Yahya, juru bicara calon presiden Prabowo Subianto, yang mengeluhkan banyaknya netizen yang membully Prabowo perihal keputusannya yang mengejutkan untuk menolak hasil rekapitulasi KPU. Sebuah pernyataan yang menurut saya mencerminkan sikap 'primitif' untuk seorang politisi sekaliber mereka dalam menyikapi timbulnya berbagai reaksi yang terjadi di jejaring sosial media. 

Tidak seperti dengan media-media konvesional yang masih bergantung pada jumlah cetak, oplah atau bahkan mungkin kolom pembaca dalam membentuk interaksi dengan pemirsanya, khalayak pengguna jejaring sosial dengan serta-merta dapat langsung merespon, menanggapi dan menyebarkan hal apapun yang berlaku di medan sosialnya.
Memang tidak ada patokan normatif yang digunakan sebagai tolak ukur dalam merespon berbagai hal yang terjadi dalam jejaring sosial. Semua orang bisa dengan serta-merta dan semena-mena menyuarakan isi hatinya. Masih segar di ingatan saya ketika ribuan pengguna media sosial menyuarakan 'pendapat kritisnya' (bullying?)  terhadap seorang ketua panitia acara yang dianggap gagal merealisasikan perhelatan musik akbar yang akhirnya menyebabkan korban memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah mengalami 'penghakiman massal' di jejaring sosial media. Tidak ada proses hukum dan peradilan yang berlaku terhadap kejadian tersebut. Sebaliknya, fenomena ini justru berbanding terbalik ketika seorang Prita Mulyasari dipaksa untuk bertanggung jawab' karena menyuarakan ketidakpuasannya atas pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional di milis. Dan saya rasa kita tidak perlu berpanjang lebar membicarakan UU ITE yang masih harus terus 'dimodifikasi' disana-sini sesuai dengan perkembangan teknologi.
Setiap orang tentu mempunyai pendapat dan respon yang berbeda dalam memproduksi atau menanggapi suatu hal atau fenomena yang sedang terjadi, tergantung dari berbagai latar belakang dan kepentingannya. Sudah semestinya, sebagai pengguna jejaring sosial mengetahui dan bisa menyikapi hal-hal yang mendasar seperti ini. Apalagi para elit politik disana yang kerap menjadi sorotan publik, sudah seyogyanya mengetahui bahwa setiap tindak tanduk dan perbuatannya dapat menimbulkan reaksi baik positif maupun negatif di jejaring media sosial.

Perkembangan teknologi informatika yang sedemikian pesatnya, tanpa disadari sudah turut berkontribusi dalam pembentukan karakter masyarakat dalam suatu medan sosial tertentu dalam menyikapi suatu persoalan. Keadaan ini dipertegas (atau diperparah) lagi dalam masa kampanye pilpres, ketika begitu banyak oknum atau instansi yang dengan sengaja meniupkan isu-isu miring secara massive seputar pribadi capres demi merebut atau menjatuhkan simpati publik terhadap calon pasangan tertentu. Beberapa golongan dalam masyarakat yang masih lemah dan lugu akan aktualisasi dan akurasi informasi, dapat dengan mudah terpengaruh dan secara otomatis justru malah memperbesar efek negatif dari berita/isu yang tidak jelas asal-usulnya tersebut. Alhasil kedua kubu yang berseberangan menjadi semakin fanatik dan militan terhadap jagoannya masing-masing. Setiap berita tentang capres-cawapres yang dibaca dapat dengan mudah dijadikan bahan untuk memicu gesekan dan benturan antar netizen.

Berbagai interaksi yang terjadi di berbagai jejaring sosial semasa pilpres tidak melulu marak diisi oleh tulisan atau berita-berita miring seputar capres-cawapres terkait. Bahasa gambar (fotografi, video, meme dsb) juga turut memegang peranan penting atas dinamika yang terjadi di jejaring sosial belakangan ini. Tidak hanya berperan sebagai pelengkap berita, tapi gambar juga bisa berdiri sendiri untuk membentuk, meluruskan atau bahkan membelokkan opini publik. Akhirnya, perang visual pun tak dapat terelakkan lagi. Kedua kubu saling menyerang dengan berlomba-lomba menyebarkan gambar-gambar baik itu foto asli maupun foto rekayasa. Baik itu yang bersifat parodi ataupun fitnahan keji. Untuk gambar-gambar yang berada di ranah parodi, jelas dibutuhkan spontanitas dan kreatifitas dalam membaca situasi yang terjadi dan kemudian menggubahnya dalam bahasa komedi visual. Alih-alih terbakar karena emosi yang membabi buta,  'Perang Badar' yang terjadi di ranah parodi visual justru banyak menarik minat netizen untuk meramaikan atau bahkan terkadang malah meredakan ketegangan yang kerap terjadi di antara kedua kubu yang berseberangan. Sayangnya, perbandingan jumlah produsen gambar-gambar parodi itu tidak seimbang. Karena begitu gencarnya serangan gambar parodi kreatif ini, sehingga membuat salah satu kubu merasa dibully oleh kubu lainnya.

Kembali kepada pernyataan Tantowi Yahya perihal keluhan timnya terhadap berbagai 'respon kreatif' yang ditujukan kepada Prabowo Subianto. Saya rasa tidak sepantasnya bila sekelompok politikus kawakan yang mempunyai puluhan atau bahkan ratusan ribu followers, merasa tersinggung dan lantas mengeluh atas berbagai respon kreatif yang datang dari berbagai penjuru. Belum lagi bila kita mengingat perilaku beberapa elit pendukung koalisi yang kerap 'nyinyir' dan acap kali melontarkan statement-statement provokatif tak berdasar di lini masa yang tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mengaku negarawan. Berbagai 'respon kreatif' yang anda terima, kiranya jangan melulu dipandang sebagai suatu hal yang buruk, melainkan bisa dijadikan sebagai bahan refleksi permenungan untuk bersikap dan berlaku dengan lebih baik lagi di masa-masa yang akan datang. 



Agan Harahap









Kamis, 10 Juli 2014

Antara Sting, Jokowi Dan Saya



Dini hari, di penghujung Pemilu Presiden 2014 yang baru saja berlalu, jutaan rakyat Indonesia yang masih terjaga menunggu waktu sahur, tiba-tiba dikagetkan oleh sebuah berita yang tersebar di media sosial tentang adanya dukungan dari Sting, musisi legendaris asal Inggris, yang ditujukan untuk salah satu kandidat presiden, Joko Widodo. 
Selain Sting, musisi Jason Mraz dan grup band Arkarna pun menyatakan dukungannya kepada Jokowi. Tak hanya itu, Vicky Vette, bintang film porno yang selama ini 'cukup akrab' dengan segala permasalahan di Indonesia, turut menyatakan dukungannya untuk Jokowi. 

Berita tentang berbagai dukungan dari publik figur luar negeri itu tersebut langsung tersebar dengan cepat di berbagai jejaring sosial di Indonesia. Begitu banyak reaksi yang timbul pada dini hari itu. Sebagian pendukung Jokowi yang masih bangun (termasuk saya) lantas menyebarkan kabar gembira itu di berbagai lini masa medan sosial saya. Untuk para pendukung kandidat presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto, berita tersebut mungkin menjadi momok bagi mereka. Banyak tudingan-tudingan miring yang dilontarkan atas dukungan musisi tersebut.


KATA SIAPA DUKUNGAN STING UNTUK JOKOWI ITU HOAX?!? ini fotonya!!

Sebagai seniman yang kerap menggunakan media sosial sebagai medium dalam berkarya, saya langsung tanggap akan situasi yang terjadi pada dini hari itu dan segera merespon kehebohan itu. 
Saya segera membuat 'pembenaran hiperbolis' akan adanya dukungan Sting kepada Jokowi dengan membuat 'realita baru' sekedar untuk meramaikan suasana saat itu. Tak disangka, karya tersebut banyak mendapat respon dari netizen pada dini hari itu. Foto saya dengan cepat langsung tersebar luas di jejaring sosial. Beberapa teman yang memang sudah cukup akrab dengan gaya berkesenian saya, terhibur senang. Dan saya pun tertidur dengan pulas. Setidaknya, karya saya sudah bisa membahagiakan orang. 

Keesokan harinya, saya mendapati ratusan notifikasi perihal foto yang saya unggah beberapa waktu yang lalu. Dan saya pun tersenyum akan berbagai tanggapan yang masuk. Baik itu dengan nada yang memuji maupun dengan nada yang mencemooh. Sebagian pendukung Jokowi yang percaya, secara otomatis langsung mempertahankan perihal keabsahan foto itu. Sementara pendukung Prabowo terlihat mati-matian menampik dengan berbagai cara sampai meminta justifikasi dari promotor yang mendatangkan Sting dalam konsernya di Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Pendek kata, foto Sting dan Jokowi bikinan saya cukup menghebohkan lini masa orang-orang di pagi dan siang hari itu.

"@panca66 : Iba kita :) RT @SuleTegepe : @panca66 ini bro yang lu maksud editan. Jelas banget #editanmurahan

@BagusMarwoto hasil sotosop dari gambar Roger Friedman and Sting

Alih-alih semakin mereda, menjelang sore sebuah media memberitakan kabar bahwa foto Jokowi dan Sting itu adalah 100% rekayasa photoshop. Rupa-rupanya, untuk sebagian orang butuh waktu seharian untuk meneliti tentang orisinalitas foto ini. Dan sebagai konsekuensinya, ratusan netizen langsung bereaksi dengan merespon kembali foto tersebut dengan berbagai ekspresi. Tidak ada yang salah dengan ratusan respon itu, karena itu adalah bagian konsekuensi dan dinamika dalam berkehidupan di jejaring sosial media. 

Yang menarik disini adalah bagaimana cara pandang dan tindakan kita dalam menyikapi suatu 'realita baru' yang kadang bertentangan atau bahkan terlalu sejalan dengan hati nurani yang membutakan akal sehat, sehingga dapat dengan mudah diperdaya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab (termasuk saya?). Ditambah lagi dengan animo massa yang begitu menggelora dari kedua kubu kandidat presiden, sehingga apapun yang sesuai dengan harapannya, langsung ditelan bulat-bulat dan semua yang tidak sejalan dengan harapannya akan diterjang dan ditentang habis-habisan. 

Pemilu Presiden sudah selesai dengan segala problematikanya. Kini kita memasuki masa-masa penantian akan kandidat mana yang akan keluar sebagai pemenang, pengemban amanat rakyat Indonesia. 
Karya ini hanyalah sebagian kecil dari ratusan atau bahkan ribuan kabar hoax yang beredar seputar urusan pilpres ini. Dan di dalam masa-masa penantian yang dipenuhi berbagai kecemasan dan harapan ini, hendaknya kita selalu mengedepankan logika dan akal sehat dalam menghadapi sebuah realita baru.


Agan Harahap