Sabtu, 02 April 2016

COSTUME NATIONAL: CONTEMPORARY ART FROM INDONESIA



Segala sesuatu sudah saya persiapkan dengan sebaik mungkin. Mulai dari urusan-urusan teknis seperti pengurusan visa yang cukup tergopoh-gopoh, mengingat tengat waktu yang sempit, sampai membeli pernak-pernik untuk mengatasi cuaca dingin disana. Tidak hanya itu, istri dan anak-anak pun sengaja saya antarkan ke rumah mertua saya di Bandung, supaya istri saya tidak terlalu repot dalam mengasuh kedua anak saya yang masih kecil. Setelah berpamitan dengan handai taulan, saya pun dengan mantap melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Mengingat kondisi lalu lintas Jakarta yang penuh dengan ketidak pastian, maka saya memutuskan untuk sengaja berangkat jauh lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan. Sesampainya di Cengkareng, saya disambut oleh adik saya dan beberapa kawannya. Kebetulan adik saya bekerja disana, sehingga tentu saja, segala urusan perihal keberangkatan bisa saya lalui dengan mudah. Tak hanya itu, dengan adanya kawan-kawan yang bekerja di bandara, saya berkesempatan untuk bisa menunggu  di lounge yang cukup mewah serta menikmati berbagai fasilitas yang disediakan di lounge itu. Menjelang keberangkatan, saya pun berpamitan sambil tak lupa mengucapkan terimakasih atas berbagai keramah-tamahan yang saya dapatkan di bandara.

'Eh Bowo, fotoin gw sama abang gw dong..' Pinta adik saya, Riri kepada temannya yang memang sedang bertugas disana. Klik.. Klik.. Klik.. Dan kamipun berfoto di depan meja check in seraya menunggu petugas counter mengurus surat-surat saya. Senyum saya mengembang dan dada membuncah membayangkan petualangan baru yang sebentar lagi akan saya alami. Namun tanpa saya sadari, drama babak pertama baru saja dimulai.
"Maaf pak, memang disini tertera nama bapak, tapi ini baru berupa booking saja. Tiketnya belum dibayar.." Ujar petugas counter Air France itu dengan ramah. Adik saya segera bergerak cepat dengan menelpon rekan-rekan sejawatnya untuk memastikan kabar tersebut.
Seorang rekan adik saya mengatakan bahwa nama saya tidak hanya tertera di maskapai Air France. Namun ada juga di Air Nippon. Tak menunggu lama, kami segera bergegas menuju kantor Air Nipon untuk mendapatkan tiket keberangkatan saya. Namun ternyata, semua masih hanya berupa booking saja. Pihak agen dari Canada ternyata belum membayar tiket saya.

Dengan lemas, kami pun berjalan menuju pintu keluar sekedar untuk merokok guna menenangkan pikiran. Di tengah kepulan asap rokok, saya mencoba menghubungi Stefan, pihak penyelenggara yang mengundang saya ke Canada. Dengan penuh rasa penyesalan dia meminta maaf dan berusaha untuk menebus kesalahan itu dengan mencarikan saya tiket untuk penerbangan berikut. Menit demi menit saya lalui dengan rasa berdebar. Sekelebat terbayang wajah anak dan istri saya ketika kami berpamitan di Bandung. Ada sedikit rasa sedih yang timbul mengingat saya terpaksa harus meninggalkan mereka tepat di hari ulang tahun Merdu, anak saya yang pertama.
Lebih dari setengah bungkus rokok yang saya habiskan dalam suasana penantian yang menegangkan itu sampai akhirnya Stefan, pihak penyelenggara di Canada, mengirimkan tiket pengganti. Saya terpaksa harus menginap sehari lagi di Jakarta, tapi setidaknya tiket Philiphine Air, maskapai yang akan menerbangkan saya ke Canada sudah dibayarkan, dan kami pun bisa kembali bernafas lega. Walaupun terlambat sehari, dan perjalanan akan memakan waktu lebih lama, karena harus transit di Manila, San Francisco dan Toronto, tapi setidaknya sudah bisa dipastikan kalau saya akan berangkat besok. Kami memutuskan untuk menutup hari yang melelahkan itu dengan makan bakmi di Pantai Indah Kapuk.

Hari berganti. Walau masih sedikit lelah akibat drama kemarin di bandara, namun saya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia saya. Bayangkan saja, setelah kemarin nyaris tidak jadi berangkat, semua pengorbanan waktu, tenaga, serta berbagai biaya yang sudah dikeluarkan untuk persiapan perjalanan ke Canada akan terbayar tuntas.
Jam keberangkatan saya adalah pukul 1.45 siang, namun sejak jam 10 pagi saya sudah bergegas kembali menuju bandara. Saya tidak ingin keberangkatan saya gagal hanya karena saya terlambat check in. Jam 11 lewat saya sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Setelah menghabiskan rokok sambil menunggu adik saya yang ingin mengantar, kami bergegas menuju counter check in Philipine Air. Sedikit rasa was-was sempat timbul, mengingat tragedi kemarin malam. Namun untungnya semua baik-baik saja. Petugas counter dengan ramah mencetak boarding pas dan menempelkan stiker rute perjalanan saya di koper. Sampai seorang penyelia senior menghampiri petugas counter yang melayani saya. Mereka nampak berbisik-bisik dengan serius. Saya dan adik saya kembali dilanda kecemasan.

"Maaf bapak, apakah bapak punya visa transit untuk di San Francisco nanti?" tanya penyelia senior itu dengan ramah. Tentu saja saya tidak punya. Bagaimana mungkin saya bisa mengurus visa, secara tiket itu baru saya dapatkan tadi malam. Dan saya baru tahu, bahwa untuk hanya sekedar 'numpang lewat' di negara Paman Sam itu, saya harus mengantongi ijin dari kedutaan Amerika yang prosesnya memakan waktu paling cepat 3 hari. "Maaf pak, kami tidak mungkin bisa menerbangkan bapak tanpa adanya visa transit dari Kedutaan Amerika". Saya hanya bisa terdiam mendengar kata-kata penyelia senior tadi. Dengan lemas saya menyaksikan petugas-petugas counter check in mempereteli stiker-stiker rute transit yang menempel di koper saya. Saya kembali menghubungi Stefan di Canada untuk mengabarkan peristiwa ini. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Stefan mengangkat telepon saya. Dan dengan berat dia berkata bahwa dia tidak punya solusi lain untuk memberangkatkan saya ke Canada.

Cukup lama saya duduk di sebuah kedai di bandara sambil menatap layar handphone saya. Seraya berharap semoga ada keajaiban yang terjadi di detik-detik terakhir. Waktu terus berjalan tanpa ampun. Pesawat yang sedianya akan memberangkatkan saya ke Canada sudah lama bertolak. Saya mematikan rokok terakhir, mengemas paspor, handphone yang bercecer di atas meja dan menyeret koper saya menuju pangkalan taksi untuk pulang menuju rumah.


Agan Harahap


berikut cuplikan video dari pameran tersebut

Selasa, 19 Januari 2016

Sing Fest #7





Sesungguhnya, sudah lebih dari 10x saya memutar video di atas. Dan sampai malam ini, saya masih saja terkesima dengan nuansa intim di video itu. Duduk bersama, bermain gitar dan bernyanyi membagi suara dengan penuh harmoni sambil diselingi tuak dan rokok. Buat saya, hal lain yang menambah keistimewaan video di atas adalah ketika 3 orang yang (kemungkinan besar) beretnis Batak tersebut menyanyikan lagu dari daerah Minang. Ya, memang itu bukanlah hal yang baru. Tapi entah kenapa, ketika kita bisa memainkan lagu 'di luar pakem', rasanya sungguh istimewa sekali.
Video di atas mengingatkan saya akan sebuah momentum kehidupan ketika saya, Andies dan Itta mencoba menyanyiakan lagu "你怎麼說" yang dipopulerkan oleh Teresa Teng. Dalam beberapa kali percobaan, selalu saja lagu itu gagal dibawakan karena satu dan lain hal yang tiba-tiba membuat kami terpingkal, sehingga lagu itu tidak pernah selesai. Namun setelah kami menemukan 'selahnya', rasa-rasanya kami seolah terbius dalam suasana tertentu yang menembus sukma walaupun kami tidak mengerti sepatah katapun dari lirik lagu itu.

Memutuskan untuk pindah kota, tentu saja bukan hal yang mudah. Ada berbagai hal-hal baru yang harus dihadapi sekaligus juga harus beberbesar hati meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama demi menyesuaikan diri terhadap sistem sosial yang berlaku di lingkungan baru. Dan salah satu hal yang jarang saya temui di kota ini (Jogja) adalah ketika pada sahabat dan handai taulan berkumpul, bermain gitar dan bernyanyi bersama. Mungkin karena perbedaan kultural, atau suasana yang kurang kondusif, sehingga saya jarang menemukan momen ketika para sahabat duduk berkumpul dan bernyanyi membagi suara bersama.

Kebiasaan duduk, bermain gitar sambil bernyanyi berbagi suara sudah sering saya lakukan. Apalagi ketika masa kuliah dulu di Bandung belasan tahun silam. Mungkin atas kesamaan nasib (anak rantau ditambah jomblo menahun), maka saya  dan kawan-kawan kuliah saya secara tanpa sengaja membentuk grup vokal di sebuah warung di pinggir jalan Wastu Kencana. Adapun lagu-lagu yang kami nyanyikan biasanya seputar tembang kenangan ataupun lagu-lagu baru yang kebetulan saja sesuai dengan suasana hati kami pada saat  itu.
Dan dalam bernyanyi, kami sangat menghargai perbedaan dan permakluman yang ada. Perbedaan yang saya maksudkan disini adalah ketika kawan saya menyanyikan sebuah lagu yang hanya diketahui dirinya sendiri. Sebagai contoh, ketika kawan saya, Markus, menyanyikan sebuah lagu sedih ( saya lupa judulnya), namun menurutnya, itu adalah semacam lagu wajib yang harus dinyanyikannya ketika masih tinggal di panti asuhan Katolik di Malang dulu. Atau ketika kawan saya, Yoppie Liliweri menyanyikan sebuah lagu daerah  Kupang, yang notabene tidak ada seorangpun diantara kami yang mengerti, tapi karena  kami menganggap bahwa lagu itu mempunyai arti yang mendalam baginya, maka kami mencoba mengiringinya bernyanyi sebisa kami. Bagi saya, yang biasanya terposisikan sebagai penggenjreng gitar, ada sebuah perasaan yang tidak tergantikan bila saya bisa menyesuaikan keselarasan vokal dan chord gitar, sehingga menghasilkan nada yang pas dan enak didengar.

Kebiasaan-kebiasaan ini, bernyanyi sambil menghargai berbagai perbedaan dengan mudah saya dapati ketika saya memutuskan untuk menetap di Jakarta. Sahabat-sahabat saya, Andries Sembiring, Joey Christian, Willy Jonathan dan istri saya Itta. S. Mulia, kami biasa berkumpul di apartemen saya dan bernyanyi bersama. Walau memang diantara kami cuma Itta yang memiliki kualitas vokal di atas rata-rata, namun dengan berbagai substansi yang tersedia pada waktu itu, saya rasa vokal grup kami tidak kalah dengan vokal grup-vokal grup Batak di pakter-pakter tuak di sana.
Dan berkat pengalaman saya di Bandung, maka perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami dapat dengan mudah terselesaikan. Saya yang sebelumnya tidak tahu akan lagu-lagu dari daerah Manado, setelah sekian lama bernyanyi bersama Joey Christian,  lama-lama bisa dengan lihai memainkan chord-chord lagu semacam 'Balada Pelaut', 'Polo Pakita', dsb. Atau kami kerap kali harus memaklumi lagu-lagu reggae mainstream yang menjadi favorit Willy. Begitupun juga dengan Itta,  istri saya, setelah beberapa kali mencoba akhirnya saya bisa memainkan chord gitar sebuah lagu kenangan bagi Itta, yaitu sebuah lagu pembuka untuk suatu acara radio di Bandung sana, yang pamannya adalah penyiar utama di radio tersebut.

Malam ini, setelah anak saya, Merdu dan Damir tidur, seperti biasa saya menyibukkan diri dengan berselancar di dunia maya. Lagi-lagi saya menjelajah jauh ke tanah nenek moyang saya di Sumatra Utara sana. Maklum saja, sebagai orang Batak yang lahir  di Ibu Kota dan kini menetap di Jogja, saya selalu saja punya ketertarikan yang besar terhadap budaya dari tanah leluhur saya. Sejujurnya, saya sama sekali tidak mengeti sepatah katapun bahasa Batak. Apalagi bahasa Minang. Dan seperti biasanya, saya membiarkan rasa sok tahu saya mengalahkan segalanya. Saya bisa dengan bebas berasumsi dan mengartikan lagu-lagu ini sesuai dengan suasana hati saya.

Entah kenapa, sejak lama saya percaya bahwa orang Batak dan Padang mempunyai kedekatan tertentu walaupun berbeda secara kultural dan teritorial (tentu saja saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang hikayat Perang Bonjol dan Tuanku Tambusai yang berekspansi sampai ke tanah Tapanuli). Tapi karena letak geografis yang bersebelahan dan jalur transportasi darat yang menyatukan segalanya, maka sangat mungkin bila terjalin ikatan-ikatan tertentu akan kedua etnis ini. Saya teringat akan lagu-lagu Padang yang dibawakan dengan seksama oleh Eddy Silitonga, Trio Ambisi, maupun penyanyi-penyanyi Batak lainnya. Atau sebaliknya, ketika seorang Edi Cotok berkisah tentang perangai orang Batak.
Saya pun memiliki sebuah kedekatan tertentu dengan orang-orang beretnis Minang ini. Adapun salah seorang anggota vokal grup kami semasa di Bandung dulu bernama Doni Jukatri, asli Bukit Tinggi. Pernah dalam suatu masa perkuliahan dulu, saya terlibat perkelahian fisik satu lawan satu dengannya karena memperebutkan sebongkah tanah liat untuk keperluan tugas nirmana trimatra. Namun seiring berjalannya waktu, persahabatan kami tetap terjalin sampai hari ini. Salah satu dosen favorit saya, Amrizal Salayan, yang menyaksikan perkelahian saya dengan si Juki itu pun beretnis Minang. Bahkan sampai hari ini, saya cukup terlibat baik secara profesi maupun emosional dengan uda-uda ini.

Kembali pada segi musikalitas. Walaupun saya tidak mengerti lirik lagu  'Pulanglah Uda', yang dipopulerkan oleh Ria Amelia ini, tapi atas berbagai alasan dan pertimbangan yang telah saya jabarkan di atas tadi, secara otomatis sayapun terlarut dalam suasana di video tersebut sembari membayangkan saya sedang berada di lapo itu dan turut bernyanyi bersama mereka. Namun keceriaan malam ini serta tulisan yang penuh drama sentimentil ini terpaksa harus berakhir karena anak saya tiba-tiba terbangun. Mungkin karena  mendengar suara sumbang bapaknya yang bernyanyi terlalu keras sehingga mengganggu mimpi indah mereka.



Jogja, 19 Januari 2016


Agan Harahap

Senin, 28 Desember 2015

Mulan Jameela Dan Potret Suram Masyarakat Gagal Paham



Sebagai seorang laki-laki yang hidup bersama dua orang ibu-ibu (kebetulan ibu saya sedang berlibur Jogja), tentu saja saya tidak bisa menghindar dari yang namanya infotainmen. Berita seputar selebriti adalah topik yang selalu menarik untuk dibahas oleh istri dan ibu saya. Ibu saya yang memang sangat fasih dalam melahap berita-berita seputar selebriti, seolah mendapat kawan bicara yang sepadan ketika berbincang dengan istri saya. Dan berita paling hangat minggu ini adalah peristiwa minta maaf Mulan Jameela yang marak beredar di seantero media. Saya yang tadinya tidak pernah mau tau soal urusan rumah tangga orang, perlahan mulai bisa 'menikmati' prahara ini. Tapi terus terang saya tidak sanggup menyaksikan video wawancara Mulan dan Deddy Corbuzier yang penuh dengan cengangas-cengenges dan derai air mata. Selain juga durasinya yang menurut saya terlalu lama. Saya lebih tertarik untuk menyaksikan komentar-komentar orang baik di Youtube maupun di postingan-postingan lain di dunia maya.

Mencermati drama wanita asal Malangbong ini, tiba-tiba saya teringat akan Thenzara Zaidt, atau yang lebih dikenal sebagai  Ibu Subangun, tokoh antagonis di sinetron TVRI 80an 'Keluarga Rahmat' yang pernah benar-benar ditampar orang ketika sedang berbelanja di pasar hanya karena peran antagonisnya di film itu. Sangat mungkin terjadi bahwa pada zaman itu ada sebagian orang yang begitu terpukau dalam melihat teknologi layar kaca, sehingga tidak mampu lagi membedakan antara fiksi dan realita. Dan memang sangat disayangkan bila Ibu Subangun mendapat tamparan dari orang yang logikanya telah terbutakan oleh tayangan televisi.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa salah satu imbas utama dari kemajuan teknologi adalah timbulnya perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Dan bagi sebagian orang yang tidak siap menerima percepatan teknologi dan dampak sosialnya, teknologi selalu saja dianggap sebagai kambing hitam penyebab terjadinya segala degradasi moral di masyarakat. Walau memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada begitu banyak tayangan-tayangan yang tidak mendidik yang dibuat demi mengejar rating dan iklan, yang semakin melenakan dan membutakan akal sehat pemirsanya. Tapi bagaimanapun juga, kita tidak bisa melulu menyalahkan teknologinya.

Hari ini televisi sudah bukan lagi merupakan satu-satunya media yang mampu membutakan logika dan hati nurani. Kemunculan sosial media seperti Instagram, nampaknya sudah menjadi 'sihir' tersendiri bagi banyak orang. Dan seperti halnya televisi dan sinetron di era 80-90an yang disikapi dengan berlebihan, begitu pula yang terjadi dengan Instagram. Ketika publik bisa secara langsung bertindak sebagai produsen materi dari sebuah drama kehidupan yang bisa semena-mena menampilkan berbagai hal yang terjadi dalam kehidupannya, baik itu hal yang pantas untuk di pamerkan, maupun hal pribadi remeh-temeh yang hanya menimbulkan rasa muak bagi pemirsanya.  Dan orang-orang kembali terlena dengan' realitas semu' yang ditemui dari balik layar ponselnya. Orang-orang jadi terlalu sibuk memamerkan citra diri mereka secara hiperbolis, sehingga lupa akan realita disekelilingnya. Tak hanya itu, sebagian masyarakat bahkan menjelma menjadi polisi-polisi moral yang bisa dengan membabi-buta menghakimi hal-hal yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya walaupun itu sama sekali tidak ada kaitan dengan dirinya.

Kembali kepada cerita Mulan Jameela yang sampai hari ini masih marak berlalu lalang di berbagai media tanah air. Mulan dan para pembencinya jelas tidak mampu lagi membedakan realitas yang terjadi di dunia nyata dan di dunia maya. Media sosial yang kerap dijadikan media pelampiasan demi mengukuhkan eksistensinya di jagat hiburan, malah akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya yang terlalu larut dalam drama yang dibuatnya sendiri. Kisah Mulan Jameela beserta ribuan polisi-polisi moral beserta 'petuah-petuah bijaknya' yang dilayangkan tak lain hanyalah potret suram kehidupan masyarakat kita hari ini yang sibuk menenggelamkan diri dalam realitas semu di berbagai sosial media. Dan saya hanya bisa berharap agar para polisi moral itu tidak buta logika dan gelap mata, supaya Mulan Jameela tidak mengalami nasib serupa seperti yang dialami Ibu Subangun.



Agan Harahap


* Sengaja menggunakan terminologi 'gagal paham' untuk mengikuti tren bahasa hari ini



Minggu, 15 November 2015

Memandang Paris Dari Linimasa



Rangkaian teror di kota Paris yang menewaskan ratusan warga sipil hari Jumat kemarin memang memilukan dan sontak menarik perhatian dunia. Berbagai linimasa di media-media sosial pun langsung dibanjiri oleh postingan-postingan seputar tragedi Paris ini. Mulai dari turut berbela sungkawa, mengecam tindakan brutal tersebut, sampai berbagai teori-teori konspirasi tentang sebab musabab terkait teror tersebut. Sebagian kawan bahkan turut menyatakan sikap simpatinya dengan menambahkan warna biru, putih dan merah (bendera Prancis) di foto profilenya. Sebagai manusia yang berhati nurani, memang sangat wajar bila kita menunjukkan rasa simpati terhadap berbagai tragedi kemanusiaan, baik itu bencana alam maupun aksi teror yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dan tentu saja tidak ada yang salah dengan 'aksi unjuk simpati' dengan mengganti foto profilnya dengan bendera Prancis, atau mungkin dengan mengibarkan bendera Prancis di halaman rumahnya sekalipun.

Sekilas memang saya merasa agak janggal bila teman-teman bisa dengan sebegitu bertubi-tubinya menunjukkan sikap simpatik terhadap negara nun jauh disana yang terkena 'musibah kecil' seperti itu, tapi justru malah seolah memalingkan muka terhadap berbagai musibah besar yang kerap terjadi di sekeliling kita. Tapi saya tidak akan berpanjang-lebar mengenai hal ini. Karena seperti yang sudah-sudah, berbagai aksi unjuk simpati dan empati di berbagai linimasa tentu hanya berlangsung sesaat saja. Esok hari, linimasa kita pasti akan kembali seperti biasa dengan beragam postingan 'maha penting' lainnya seputar makan apa, lagi dimana, sedang apa, sama siapa, dsb dsb.


Agan Harahap

Minggu, 08 November 2015

Logika Dan Realita Digital Dalam Masyarakat Kita Hari Ini




Perkembangan berbagai sarana teknologi digital yang terus terjadi sampai hari ini ternyata tidak sebanding dengan pertumbuhan intelektualitas, sikap, moral dan norma yang berlaku di masyarakat dalam menyikapi berbagai konsekuensi dari perkembangan teknologi hari ini.

Masih lekat dalam ingatan saya, ketika 'film dokumentasi pribadi', Bandung Lautan Asmara secara tidak sengaja tersebar ke publik luas pada awal 2000-an. Ketika hampir semua orang bertindak seolah menjadi polisi moral yang langsung menghujat kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara itu, sehingga mereka terkucilkan dari masyarakat, bahkan konon, dari keluarga mereka sendiri.
Setelah film Bandung Lautan Asmara ini beredar, dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama, beberapa film sejenis pun kembali beredar. Baik itu di lapak-lapak vcd bajakan, maupun beredar di dunia maya. Namun efeknya tidaklah begitu menghebohkan seperti film Bandung Lautan Asmara.

Beberapa tahun kemudian, masyarakat kita kembali digemparkan oleh film dokumentasi pribadi sejenis dari seorang penyanyi pria yang menjadi pujaan jutaan wanita di negara ini dengan 2 orang selebriti wanita. Lagi-lagi masyarakat resah dan sanksi sosialpun berlaku terhadap mereka bertiga. Tak hanya itu, pihak berwajib bahkan sampai memenjarakan penyanyi pria yang malang itu. Tapi tidak seperti 2 teman wanitanya yang kariernya seolah tenggelam, penyanyi pria itu kembali dengan kegemilangan baru. (tapi tentu saja, itu adalah cerita lain).

Alih-alih memberi efek jera dan membatasi penyebaran film-film sejenis,  yang terjadi malah sebaliknya. Film dan foto dokumentasi pribadi yang tersebar semakin tumbuh subur bagai jamur di musim hujan. Tak hanya masyarakat biasa, tokoh agama dan politisi pun turut terlibat dalam pembuatan dan pendistribusian film-film ini yang dapat dengan mudah diunggah dan diunduh kapanpun dan dimanapun.

Saya lantas teringat akan peristiwa 'Tata Chubby' seorang pekerja seks yang kerap menjajakan dirinya di media sosial Twitter, yang dibunuh pelanggannya belum lama ini.
Kematiannya menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Walaupun memang masih saja ada yang mencibir terkait profesi dan kematiannya, namun tidak sedikit pula yang justru berempati terhadap peristiwa ini. Begitupun juga sikap yang ditunjukkan oleh pemerintah. Alih-alih menertibkan layanan seks berbasis media sosial, aparat malah sibuk merazia tempat-tempat kos yang ditengarai dijadikan lokasi adu syahwat. Hal serupa juga terjadi di dunia pendidikan. Bukannya memberi edukasi terkait penggunaan dan dampak yang disebabkan oleh percepatan teknologi ini, pemerintah malah sibuk meningkatkan nilai-nilai moral keagamaan yang pada realitanya justru jauh kaitannya dengan fenomena ini.

Pagi tadi, saya iseng mencari kalau-kalau saja ada 'film-film dokumentasi pribadi' baru yang beredar di internet. Hasilnya, ada ratusan, atau bahkan ribuan film-film dan jutaan foto-foto sejenis yang tersebar dengan bebasnya di dunia maya. Namun anehnya, hampir tidak ada lagi pemberitaan tentang kegiatan ini di media-media masa sehingga tidak ada lagi sanksi sosial yang 'biasanya' ditimpakan masyarakat terhadap mereka. Masyarakat seolah menjadi terbiasa akan hal-hal seperti ini. Dan pihak yang berwajib pun, nampaknya seolah hilang akal dan terkesan menutup mata dalam merespon percepatan teknologi yang tidak sebanding dengan pertumbuhan intelektual dan moral yang terjadi di masyarakat kita. Artinya, tanpa disadari, setelah beberapa tahun berselang, standarisasi norma, moralitas serta intelektualitas masyarakat telah mengalami perubahan.

Kalau tadi adalah pemaparan singkat dari 'ranah esek-esek'. Lantas bagaimana halnya di ranah lain?

Saya teringat akan kasus Prita Mulyasari, yang dikenakan sanksi akibat melayangkan pendapatnya di email dan akhirnya tersebar di media terkait dengan buruknya pelayanan sebuah instansi kesehatan swasta. Akibatnya, Prita harus berurusan dengan hukum dan sempat menghuni lapas wanita di Tangerang selama beberapa waktu. Namun setelah berbagai peninjauan hukum dilakukan, akhirnya Prita dibebaskan dari segala tuntutan.

Belum lagi bila kita bicara soal kasus Florence Sihombing, yang dianggap menghina masyarakat Yogyakarta dari statusnya di media sosial Path. Walaupun memang Florence bersalah, namun harusnya, sang pengedar/penyebar status yang dilayangkan Florence tersebut juga sepatutnya dikenakan hukuman karena provokasi. Ya, Path adalah sebuah media sosial yang sifatnya semi privat. Artinya, hanya orang-orang pilihan tertentu yang mampu melihat, menanggapi dan menyebarkan status/foto/video/dll dari oknum yang bersangkutan. Lantas bagaimana konsekuensinya? Florence menerima sanksi sosial yang dikenakan masyarakat terhadapnya. Bagi saya, Florence dan penyebar statusnya adalah bagian dari generasi yang gamang dan gagap dalam memperlakukan teknologi. Mereka tidak bisa membedakan mana yang pantas dituliskan dan disebarkan di media sosial, dan mana yang hanya sebaiknya dimaklumi dan disimpan di dalam hati saja.

Lalu bagaimana lagi dengan berbagai status, artikel, foto/video hujatan dan fitnahan sejenis yang terus terjadi dan berkembang sampai hari ini? Cuitan Jonru, Trio Macan dan berbagai artikel, foto, video dari kelompok radikal yang isinya kerap menghasut dan menghujat pemerintah dan golongan agama dan etnis tertentu, yang jelas-jelas (kalau ditinjau dengan logika) justru lebih membahayakan ketimbang 'hal remeh-temeh' dari Prita dan Florence, malah justru didiamkan. Lagi-lagi masyarakat kita menjadi 'terbiasa' dengan hal-hal seperti ini dan (seperti yang sudah-sudah) pemerintah nampaknya belum dapat menemukan 'formula yang tepat' untuk membentuk landasan hukum yang jelas untuk bertindak.

Demikian pula halnya yang terjadi dalam fotografi hari ini. Transisi fotografi dari era film ke era digital ternyata tidak melulu memberi dampak pada berkembangan teknis semata. Tapi lebih jauh daripada itu, fotografi digital bahkan telah berkontribusi dalam merubah  logika, sistem, serta berbagai tatanan sosial dan moral yang selama ini berlaku dalam kehidupan kita. Terlebih lagi bila kita bicara dalam keterkaitannya dengan sosial media.

Saya teringat tentang cerita Agus Mulyadi, seorang pegawai warnet asal Magelang yang terpaksa sempat menerima sanksi sosial karena menjual jasa edit foto bersama personel JKT48 seharga 20 ribu rupiah per foto. Lagi-lagi masyarakat menjelma menjadi polisi moral yang sibuk berteriak-teriak di lini masa soal pelanggaran hak cipta dalam fotografi yang dilakukan oleh Agus Mulyadi. Mustinya, yang berhak marah dalam kasus Agus ini adalah para editor foto (digital imaging artist) yang dengan segala keahlian dan waktunya yang bernilai belasan atau puluhan juta ini, 'dilecehkan' begitu saja oleh Agus dengan seharga 20ribu Rupiah. Hahaha tapi itu soal lain..
Menurut saya, apa yang dilakukan oleh Agus Mulyadi adalah sebuah terobosan kreatif dalam menyikapi tuntutan ekonomi di tengah maraknya percepatan teknologi digital hari ini. Namun lagi-lagi, masyarakat kita nampaknya cenderung lebih senang menghakimi seorang maling sendal di mesjid-mesjid, ketimbang menghakimi para koruptor 'yang mulia' penghancur bangsa di sana.

Dan tentu saja, masih terlalu dini apa bila kita mau bicara soal hukum/ ganjaran yang pantas bagi oknum (yang katanya) melanggar hak cipta fotografi dalam kaitannya dengan distribusinya di dunia maya, selama hal-hal mendasar seperti yang sudah saya paparkan di atas belum mampu dibenahi secara norma sosial, hukum dan perundang-undangan.
Secara logika, mustinya tidak akan ada undang-undang atau hukum yang bisa diberlakukan selama teknologi digital dan peranti distribusinya masih terus berkembang. Atau dengan kata lain, dalam menyikapi perkembangan fotografi dan video digital dan distribusinya di berbagai sosial media yang terus berkembang sampai hari ini, kita tentu saja tidak bisa lagi semena-mena dalam menggunakan logika, hukum atau bahkan memberikan sanksi sosial dengan menggunakan standarisasi hukum dan moral yang lama. Intelektualitas, pemahaman serta perilaku masyarakat serta hukum dan perundang-undangan yang berlaku hari ini, seharusnya bisa terus berkembang seiring sejalan dengan percepatan teknologi digital yang tidak pernah akan berhenti berinovasi.



Agan Harahap


Rabu, 21 Oktober 2015

(Album Kenangan) Mencermati Nuansa Tarling Dalam Lagu-Lagu Pharrell Williams



Pharrell Williams bersama psikolog anak, Seto Mulyadi

 Mengetahui minat dan bakat anak adalah salah satu hal penting yang perlu diketahui orang tua sejak sang anak masih berusia dini. Ketidaktahuan tentang tumbuh kembang anak baik secara jasmani maupun rohani dapat berakibat buruk pada masa depan si anak. Selain minat dan bakat yang harus terus dipupuk dan diarahkan, para orang tua juga harus bisa mengatasi atau paling tidak meminimalisir akan trauma masa kecil yang pernah dialami anak.
Hampir semua orang pernah memiliki trauma semasa kecilnya. Dalam hal ini, orang tua jelas memegang peranan penting dalam membimbing dan membantu anak mengatasi trauma.

Hal serupa juga yang terjadi pada seorang Pharrell Williams. Siapa yang pernah menyangka bahwa Pharrell yang terkenal dengan kemampuan menyanyi dan koreografi, ternyata pernah memiliki trauma akan tari-tarian. Trauma ini diawali ketika Pharrell bersama teman-teman diminta untuk membawakan tari Saman pada sebuah pentas di sekolahnya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa tarian khas Aceh itu adalah tarian yang membutuhkan koordinasi koreografi secara presisi dari antara penarinya. Sementara Pharrell yang pada waktu itu belum bisa membedakan kanan dan kiri, tanpa sengaja malah membentur-benturkan kepalanya dengan kepala anak-anak lain yang berada di sebelahnya. Tarian  itu pun berantakan dan Pharrell harus menanggung malu akibat ditertawakan penonton. Permasalahan ternyata berlanjut sampai beberapa tahun kemudian. Pharrell menjadi trauma akan semua bentuk tari-tarian. Ia kerap menangis ketakutan setiap melihat tarian. Tidak hanya itu, Pharrel berubah menjadi sosok yang pemurung dan penyendiri.

Perubahan pada diri Pharrell jelas menimbulkan rasa khawatir pada kedua orang tuanya sehingga mereka terpaksa mengkonsultasikan masalah ini pada seorang psikolog anak. Menurut sang psikolog, trauma ini harus segera diatasi karena bisa berdampak buruk pada masa depan anak. Metode terapi yang digunakan cukup sederhana, yakni mengenalkan Pharrell dengan musik. Menurut sang psikolog, ketika mendengarkan musik ada syaraf-syaraf tertentu di otak yang bisa langsung merespon anggota tubuh yang lain untuk bergoyang mengikuti irama. Disini, pemilihan genre musik mengambil peranan penting untuk mengatasi rasa trauma akan tarian yang dialami Pharrell. Setelah melalui masa orientasi yang cukup panjang, maka disepakati bahwa Pharrell harus mendalami musik Tarling. Karena menurut sang psikolog, musik Tarling memiliki efek tertentu yang menimbulkan sensasi untuk bergoyang yang cukup dominan dibanding dengan genre musik lain.


Pharrell Williams dalam sebuah sesi latihan tari dan koreografi untuk persiapan salah satu konsernya

Masa-masa terapi pun mulai dijalani dandari waktu ke waktu Pharrell mulai menunjukkan perubahan yang signifikan. Lagu-lagu berirama Tarling seperti 'Sewulan Maning', 'Waru Doyong', Mong Diwayu', 'Padang Bulan' dll mulai akrab ditelinganya. Tidak hanya itu, dinding kamarnya pun mulai ramai dipenuhi oleh poster-poster penyanyi-penyanyi Tarling seperti Aas Rolani dan Cucun Novia yang kini menjadi idola barunya. Perlahan namun pasti, Pharrell mulai bisa mengatasi rasa traumanya akan tari-tarian yang kerap menghantuinya. Pharrell juga mulai membuka dirinya dan kembali bisa bergaul dengan teman-temannya. Menurut salah seorang teman sekolahnya, Pharell menjadi panutan murid-murid lain karena dianggap tahu banyak soal musik cutting edge.
Tak hanya berkembang secara musikalitas dan tarian, ternyata Pharrel juga semakin menunjukkan minat dan bakatnya dalam bidang sastra dan literatur. Tercatat ada ratusan puisi dan lirik-lirik romantis yang ia ciptakan dalam masa terapi penyembuhannya. Menurut pengakuan Djasimin Sihaloho, guru olahraganya di sekolah, tidak sedikit gadis-gadis yang menaruh hati kepadanya karena puisi-puisinya yang mampu meluluhkan hati banyak wanita.

Kenangan ning laut eretan.. Wong loro, nyawang ombak lautan..
Ngucap janji, sehidup semati.. Angin laut, sing dadi saksi..
Ana lintang ana ulan.. Jejer-jejer ring ndhuwuran..
Ati bungah sing karuan.. Ndeleng riko liwat ngarepan..


Wanita mana yang tak akan tergetar hatinya ketika mendengarkan sebait puisi di atas, hasil gubahannya. Gaya flamboyan Pharrell ditambah dengan tutur bahasa yang unik, sontak membuatnya menjadi idola baru bagi kaum hawa, baik tua maupun muda.

Sampai menjelma menjadi seorang mega superstar yang dipuja jutaan penggemar dari seantero jagad, kita masih bisa merasakan sentuhan warna-warna musik Tarling di beberapa lagunya. Menurut pengamat musik David Tarigan, semenjak dari album pertamanya (tahun 2006), setidaknya ada 8 lagu yang kental akan nuansa Cirebonan. David melanjutkan, bahwa aransemen lagu 'Happy' juga terasa sangat kental akan nuansa Pesisir Utara. Dalam sebuah artikel wawancara di majalah musik Trax, Pharell sempat bersikeras memasukkan suara kendang untuk menggantikan bunyi tepukan tangan di lagu 'Happy'. Namun setelah perdebatan yang cukup panjang dengan rekan-rekan sejawatnya, akhirnya Pharrell terpaksa mengalahkan ego dan idealismenya sebagai seorang musisi demi pertimbangan pasar.

David Tarigan juga menambahkan, selain referensi musik, pengalaman hidup seseorang juga secara tidak langsung akan turut berimbas dan memberi kontribusi tersendiri pada estetika yang dimiliki seorang musisi. Latar belakang serta perjalanan musikalitas Pharrell Williams yang penuh warna dan lika-liku itulah yang akhirnya membentuk pribadi seperti yang kita kenal sekarang ini.



Pharrell terpaksa harus menanggalkan idealismenya atas nama pasar





Minggu, 18 Oktober 2015

(Album Kenangan) Leonardo Dicaprio Dan Falsafah Tahu Gejrot


Masa remaja Leonardo Dicaprio di Tanah Pasundan


Dalam usianya yang masih sangat belia, Leonardo Dicaprio harus menerima kenyataan pahit akan perceraian orang tuanya. Namun tidak banyak diketahui publik, bahwa ketika kedua orang tuanya sedang sibuk mengurus harta gono-gini mereka, dan demi menghindari dampak buruk pada psikologi anak mereka, maka Leonardo Dicaprio terpaksa 'diungsikan' selama beberapa waktu ke rumah salah satu kerabat keluarganya di pinggiran kota Bandung, Jawa Barat.

Berikut adalah petikan pembicaraan singkat saya dengan Leonardo Dicaprio melalui Skype perihal masa 'pengasingannya' di Bandung dulu. Saya cukup terhenyak ketika di tengah perbincangan, samar-samar saya mendengar lagu "Mawar Bodas'  yang diputar di itunesnya.

AH : " Hi Leo, What are you listening man ? "
LD  : " Oh.. I don't know man. My Itunes randomly playing this music"
AH  : " Do you know Darso? Legendary musician from West Java ? "
LD  : " Dare..So..? No.. I don't know him. Is he famous ?"

Entah mengapa saya mendapatkan kesan bahwa Leo, yang sekarang menjadi salah satu selebriti dunia dengan bayaran termahal, sedang mencoba menutup-nutupi kegemarannya akan musik-musik Sunda. Namun berkat ilmu interogasi yang saya pelajari sewaktu masih aktif di Resimen Mahasiswa, sedikit demi sedikit saya bisa mengorek keterangan perihal masa lalunya di Tanah Pasundan.


Tidak banyak yang bisa diingat oleh pemeran Jack Dawson dalam film Titanic itu tentang Indonesia karena waktu kunjungannya yang terbilang singkat. Masa-masa awal kedatanganya di kota kembang dihabiskan dengan menangis seorang diri di dalam kamar. Kerinduannya akan sosok ibu yang sedang mengurus perceraiannya di Amerika Serikat tak pelak membuatnya depresi. "I don't have an appetite, I Can't sleep well and oh.. I can't stop thinking about her.. " (Makan ku tak enak, tidur ku pun tiada nyenyak, selalu teringat oh diri mu..)

Leo yang sedang berbincang dengan saya melalui Skype
Merasa bosan akibat terus menerus bermuram durja di dalam kamar, Leo memutuskan untuk keluar sekedar mencari udara segar dan mulai bersosialisasi dengan lingkungan barunya. Dalam keadaan serba tak menentu akibat perceraian orang tuanya, tiba-tiba ia melihat seorang penjual tahu gejrot dan segera menghampirinya.
"Aa, meser siji A. Cengek na nu loba nya..' ujarnya kepada mamang tahu gejrot itu dengan bahasa Sunda yang terbata-bata bercampur logat Inggris yang kental.  "Yeah bro.. I do learn some Sundanese but its a long time ago.." Ujarnya berkilah.

"In that time, I feel there's some connection between me and tahu gejrot, bro..."
 
Menurut pengakuannya, setelah membayar dan memasukkan tahu gejrot itu kedalam mulutnya, seketika itu juga, seperti mendapatkan wahyu llahi, ia seolah menemukan jawaban dari segala problematikanya dalam tahu gejrot. "In that time, I feel there's some connection between me and tahu gejrot bro..." Dengan sedikit berfalsafah Leo menerangkan bahwa saat itu ia merasa ada kesamaan nasib antara dirinya dan tahu gejrot yang hanya bisa pasrah dipotong-potong dan diberi kuah pedas. "The spicy taste in the tahu gejrot is the representation of my feeling. I feel like mashed tofu, bro.." (Aku tak ubahnya seperti tahu gejrot, mas).

Keputusan untuk menjadikan tahu gejrot sebagai pelarian justru memberi dampak buruk pada kesehatannya. Alih-alih merasa senang dan terhibur, Leo malah terserang diare akut sehingga membuatnya terpaksa dirawat selama beberapa hari di RS Hassan Sadikin. Namun suasana rumah sakit yang kusam dan sepi malah membuatnya semakin merasa depresi. Sehingga dalam sebuah kesempatan, Leo memutuskan untuk lari diri dari rumah sakit itu.

"I had to run far far away from the hospital until I saw a boat on the side of the road, and suddenly I was hit by a green car. And before I passed out, I remember someone yelling about coconut .." Entah karena bahasa Inggris saya yang jelek,ditambah lagi dengan koneksi Speedy di rumah saya yang kurang baik sehingga saya tidak dapat menangkap jelas arti dari cerita-cerita surealisnya yang penuh dengan bahasa kiasan. Istri saya yang asli Bandung dan kebetulan juga mendengarkan percakapan kami, mencoba mengartikan kata-kata absurdnya tadi. Istri saya berpendapat, bahwa saat itu Leonardo lari tidak begitu jauh dari RSHS sampai Perahu Jeans, Cihampelas. Dan tertabrak oleh angkot Kalapa -Ledeng. Saya mencoba mengkonfirmasikan penjelasan istri saya kepadanya. Namun Leo sudah tidak nampak lagi di layar.

AH : " Is that true Bro? That you hit by the angkot Kalapa -Ledeng? " Leo? Are You Still there? Hello.?? "

Tidak ada jawaban sama sekali dari Leonardo Dicaprio. Sosoknya menghilang dari layar skype. Entah mungkin ada kesibukan mendadak atau menghindar karena merasa malu akan masa lalunya. Sebelum memutuskan sambungan skype, sayup-sayup saya masih mendengarkan lantunan lagu-lagu Sunda yang diputar di itunesnya.

  
Is is ulah kitu is is.. Ulah bendu is is.. Ulah belikan..