Rabu, 02 Oktober 2019

Ketika Warga Net (Ingin Terlihat) Berusaha Dalam Mendidik Anak

Sebetulnya, dimana lokasi yang tepat untuk menyimpan obat anti serangga di rumah? Apakah di dekat tempat mainan anak-anak? Atau jangan-jangan di kulkas di sebelah kotak susu? Atau mungkin di samping tempat tidur anak anda?

Beberapa hari yang lalu, saya membeli dua buah tumbler unik yang bertuliskan brand Baygon dan Anggur Merah dari seorang kawan. Kedua tumbler tersebut saya berikan kepada kedua anak saya untuk dibawa ke sekolah. Kebetulan, botol minum mereka sudah lama. Sedotannya sudah penuh dengan bekas gigitan dan gambar-gambarnya sudah mengelupas. Kehadiran tumbler-tumbler tersebut justru membawa keceriaan tersendiri di sekolah. Terutama dari para guru dan orang tua murid lain ketika saya menjemput mereka di sekolah. Bahkan ada orang tua murid yang ingin membelinya. Walaupun demikian, sebagai sekolah yang baik, pihak sekolah tak lupa menuliskan catatan kecil di buku penghubung yang menyarankan agar tumbler bergambar Baygon itu sebaiknya diganti. Dan sebagai orang tua, tentu saja saya menuruti anjuran dari pihak sekolah.




Kehebohan terjadi setelah saya mengunggah foto anak saya yang sedang meminum air putih dari tumblernya yang bertuliskan Baygon. Tidak lupa, sayapun turut mengunggah catatan dari sekolah. Adapun alasan saya menyertakan catatan sekolah itu adalah, selain humor, unggahan catatan sekolah itu penting untuk 'pengamanan' dari 'penghakiman' para netizen yang mulia. Tentu saja, kalau dicermati dengan baik dan seksama, urusan tumbler, anak-anak dan sekolah itu tentu sudah tuntas. Namun rupanya masih banyak warga net yang kurang mencermati unggahan saya. Sehingga dalam semalam, ratusan atau mungkin ribuan netizen tiba-tiba langsung menjelma bak KPAI. Tidak sedikit yang melontarkan makian dan kata-kata pedas lainnya terhadap unggahan saya. Beberapa bahkan menyumpahi agar anak saya benar-benar meminum cairan pestisida tersebut. Sebagai orang yang sering 'berinteraksi' di media sosial, tentu saja saya sudah biasa dan tidak ambil pusing dengan makian dan sumpah serapah tersebut. 

Yang menjadi perhatian saya adalah, ketika para orang tua itu mengemukakan kembali alasan-alasan mereka yang sebetulnya sudah ditulis oleh pihak sekolah. Sehingga menurut saya jadi lebay dan tidak masuk akal. Bagaimana kalau seandainya ada anak-anak lain yang mencontoh perbuatan anak saya. Bagaimana, seandainya, kalau nanti, takutnya. Dan puluhan kekhawatiran-kekhawatiran lain yang menurut saya omong kosong. Semakin siang, narasi semakin melebar ke arah yang lebih tidak masuk akal lagi. Alasan soal penjerumusan yang membahayakan, pembodohan publik, ditambah lagi soal bagaimana kalau ada anak kecil yang melihat postingan saya. Hahaha. 

Berbagai 'respon bijak' dari netizen yang bermoral ini membuat saya jadi bertanya-tanya. Sebetulnya bagaimana sih  para warga net ini mendidik anak-anaknya? Apakah mereka benar-benar terlibat langsung dalam tumbuh kembang anak-anaknya? Sejauh apa sih mereka terlibat dan berinteraksi dalam lingkungan sosial anak-anaknya? Dan seberapa berbahayanya sih postingan ini terhadap kehidupan berumah tangga para netizen?

Atau jangan-jangan komentator-komentator yang budiman ini hanya mampu marah-marah terhadap postingan saya, sementara di sisi lain mereka mencekoki anak mereka dengan gadget terkini dan segala aplikasinya agar sang anak tidak rewel? Wallahualam..



Agan Harahap

Rabu, 10 Juli 2019

Cerita Tentang Penjual Bawang





Cerita ini dimulai puluhan tahun silam. Seperti hari-hari biasa saya mendapat mandat dari ibu saya untuk berbelanja harian ke pasar dekat rumah. Setelah melewati kios oncom dan ikan asin, tiba-tiba sayup-sayup saya mendengar senandung seorang wanita yang menyanyikan lagu berbahasa Inggris yang kira-kira liriknya berbunyi demikian: "Confessing single to every women, actually his warehouse is full of his grandson..dst dst.. Saya lupa kelanjutannya.

Sebagai seorang anak kecil yang menaruh minat besar terhadap bahasa, saya mencari sumber suara itu. Ternyata lagu berbahasa Inggris itu dinyanyikan dengan lirih oleh seorang mbak penjual cabai keriting dan aneka bawang dengan tatapan mata yang nanar. 
Sambil pura-pura memilah bawang, saya berpikir keras bagaimana caranya saya bisa berbincang dengan kakak bersuara merdu itu. "Mbak, punya kunci inggris ?.." Saya mengeluarkan jurus berkenalan yg cukup ampuh di era itu demi memancing obrolan. 

Singkat kata sayapun berkenalan dengannya. Rupa-rupanya lagu yang dinyanyikannya tadi berjudul ‘ Old Caladium’ yang terinspirasi dari kehidupan di pasar.
Dalam beberapa perjumpaan berikutnya di kios bawang itu, si mbak sempat mengutarkan keinginannya untuk menjadi penyanyi yang go international. Sambil malu-malu dia memperlihatkan coretan-coretan lirik berbahasa Inggris untuk saya koreksi grammar dan spellingnya. Salah satu lagu yang masih saya ingat adalah yang berjudul ‘The Shadow of Illusion’, menurutnya lagu itu ditulisnya setelah menonton pertunjukan sulap di TVRI. Begitupun juga dengan sebuah lagu yang berjudul ‘Mimpi’ yang menceritakan tentang kisah cinta nelayan di pesisir Jakarta.

Waktu berlalu dan saya semakin jarang bisa dipercaya oleh ibu untuk berbelanja ke pasar, karena uang kembalian selalu saya pakai untuk membeli obat-obatan dan minuman keras. Dan perlahan si mbak penjual bawang itupun perlahan menghilang dari ingatan saya.

Manusia boleh berencana, namun Tuhan jua lah yang berkehendak. Siapa yang menyangka bahwa puluhan tahun kemudian, si mbak penjual bawang itu kini telah menjadi seorang penyanyi terkenal, sementara saya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan sosial. Beberapa kali, saya terkekeh haru saat mendengar beberapa lagu-lagu hits-nya yang saya tahu pasti bercerita tentang masa lalunya sebagai penjual bawang.

Siang tadi, setelah membeli voucher listrik di Indomaret terdekat, saya menyalakan komputer dan membrowsing gambarnya. Dan atas nama masa lalu, saya mem-photoshop foto-foto ini.