Senin, 30 September 2013

Berziarah Ke Tanah Merah (3)


Blitar 

Pemuda itu tampak gelisah. Berkali- kali ia merubah posisi duduknya seraya sebentar-sebentar merapihkan poni lemparnya. Dari Earphone yang dipasang di telinganya, terdengar lagu 'Diari Depresi ku' yang dibawakan oleh Last Child. Sebuah band yang kini sedang digandrungi 'para remaja lintas lapisan'. Itulah pemandangan yang terpaksa harus saya saksikan selama hampir 4 jam ketika duduk di sebelahnya menuju kota Blitar. Sesampainya disana, atas instruksi dari pak Handoko, saya pun menemui pak Budi. SMS dari pak Handoko mengatakan bahwa, untuk menemui pak Budi, saya harus mencari toko jam dan kacamata di depan stasiun Blitar. "Alamak, bagaimana pula saya bisa menemui orang yang benama Budi? Bukankah ada jutaan orang yang bernama Budi di negara ini?" pikir saya. Seturunnya di terminal, saya langsung meminta ojek untuk mengantar saya ke stasiun Blitar. Dan ternyata, di depan stasiun Blitar terdapat puluhan toko yang menjual jam dan kacamata. Sungguh sulit sekali mencari orang yang benama Budi diantara puluhan toko serupa. "Mas, kenal yang namanya pak Budi?" tanya saya pada seorang mas-mas yang menunggu pelanggan di tokonya. "Wah,. Budi yang mana nih mas? Ada tiga orang yang namanya Budi disini". Dengan spontan saya pun langsung menjawab, " Oh.. Pak Budi yang sudah Tua". Sudah tentu pak Budi yang saya maksudkan, pasti sudah sepuh. "Ohh.. Itu mas tokonya" sambil menunjuk sebuah toko yang terletak beberapa belas meter dari tokonya. Ketika saya temui, beliau sedang melayani pelanggannya. Pak Budi tampak sedang memasang lensa kacamata yang baru selesai di buatnya. 

" Kamu Agan yaa? Saya sudah tunggu kamu. Duduk saja dulu disitu." 
Pak Budi adalah seorang ahli kacamata dan jam tangan. Selesai melayani pelanggan, kami mengobrol sebentar seputar maksud dan tujuan saya datang ke kotaBlitar. 
Dengan mengendarai sepeda motor, kami berdua menuju rumah pak Yatman yang berada di sebuah desa di Blitar Selatan. Cukup jauh jarak yang harus kami tempuh untuk mencapai rumah pak Yatman. Kurang lebih sekitar 1 jam berkendara menuju arah selatan Blitar. 

Rumah pak Yatman yang menjadi 'base camp' saya selama di Blitar Selatan
Bapak Suyatman atau biasa dipanggil dengan nama pak Yatman
Rumah itu cukup menyenangkan. Sebagaimana layaknya seorang yang tumbuh di kota besar, saya pun terkesima dengan kehidupan agraris yang di jalani oleh pak Yatman dan keluarga. Di halaman depan, tampak hamparan padi dan jagung yang sedang dijemur. Dan di dalam rumah dipenuhi oleh karung-karung beras. Setelah menaruh barang-barang di kamar yang telah disiapkan oleh pak Yatman, kami pun segera larut dalam sejarah kelam di kota Blitar. Tahun 65, di kota Blitar tidak begitu banyak anggota/ simpatisan PKI yang di tangkap dan di bunuh. Bahkan rumah keluarga pak Yatman pun sempat dijadikan 'pos bayangan' untuk TNI yang beroperasi disana. Keadaan justru bertambah kacau 3 tahun kemudian. Tepatnya tahun 68. Menurut penuturan pak Yatman, akibat berbagai peristiwa pembunuhan yang terjadi di tahun 65, sebagian besar anggota PKI yang masih tersisa mencoba melarikan diri dan membangun kekuatan di Blitar Selatan. Maka dari itu digelarlah sebuah operasi besar-besaran untuk menumpas habis PKI di daerah itu. Operasi itu dikenal dengan nama Operasi Trisula. Begitu banyak kisah-kisah tragis yang diceritakan pak Yatman. TNI bisa dengan sembarang menangkap dan membunuh siapapun yang dicurigai sebagai anggota dan simpatisan PKI. Seorang peternak sapi dihabisi di depan keluarganya hanya karena semata-mata di kebunnya ditemukan arit. Oleh TNI, peternak itu dituduh PKI lantas dibunuh dan sapi-sapi nya kemudian diambil dan dijual. 
Pada masa itu penduduk Blitar Selatan berkurang drastis. Dan yang lebih menyedihkan, bahwa sebagian yang ditangkap dan dibunuh adalah para guru ( terkait dengan PGRI Kongres dan PGRI Non Vaksentral). Sehingga banyak siswa yang terlantar karena tidak adanya tenaga guru pengajar. Tidak hanya guru, namun para pejabat aparatur desa pun mengalami nasib yang sama. Ditangkap, ditahan dan hilang begitu saja.
Sebagai tindak lanjutan dalam rangka re-stabilisasi, TNI pun menunjuk seseorang yang dinamakan 'caretaker', untuk menjaga ketertiban di daerah itu. Pada prakteknya, caretaker, yang notabene adalah seorang perwira TNI, dapat bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk. Bibi dari mantan pacar pak Yatman pada waktu itu, terpaksa harus rela menikah dengan caretaker setelah suaminya dibunuh. Namun cerita belum selesai sampai disitu. Rupanya sang caretaker itupun menikahi keponakan istrinya yang notabene adalah kekasih pak Yatman pada masa itu. Singkat cerita Pak Yatman yang mengaku hanya sebagai simpatisan pada masa itu ikut di tangkap dan dipenjarakan di penjara Kali Sosok, Surabaya. Kami terus berbincang sampai dini hari ditemani kacang rebus dan kopi panas. 

Kami berboncengan bertiga mengelilingi Blitar Selatan
Keesokan paginya, setelah mandi dan sarapan kami pun berkendara menuju lokasi kuburan massal dengan menyewa ojek. Karena saya dan pak Yatman tidak bisa mengendarai motor kopling, maka kami pun berboncengan bertiga menuju ke sebuah daerah perbukitan perkebunan tebu. Jarak yang harus kami tempuh cukup jauh, sementara kondisi jalan yang kami lalui begitu buruk. Tidak jarang kami pun harus turun dulu supaya motor bisa menanjak membelah jalan setapak menuju perkebunan tebu itu. Sesampainya disana, saya tidak melihat adanya tanda-tanda bekas kuburan massal. Hanya ribuan pohon tebu yang tumbuh dengan subur. 
"Masuk saja dik ke dalam, lurus saja" ujar pak Yatman. Saya yang bersemangat langsung saja menerobos kerimbunan pohon-pohon tebu itu. "Bah, tau gitu gue pakei jeket" ujar saya dalam hati setelah tangan saya lecet-lecet tergores pinggiran daun tebu yang memang cukup tajam. Setelah berjalan beberapa meter, saya menemukan sebuah 'kandang' (adapun kandang disini merupakan sebuah kuburan yang diberi atap sebagaimana layaknya rumah kecil). Setelah memotret dan berjalan lebih dalam lagi, saya menemui beberapa nisan dan kandang lain. Rupanya, inilah lokasi yang diceritakan oleh pak Yatman. Saya pun lansung dengan sigap memotret komplek kuburan massal tersebut. Menurut cerita seorang buruh tebu yang kami temui disana, dalam satu lubang, bisa diisi antara 10-15 jenazah. Dengan berdasarkan cerita itu, saya kalkulasikan kurang-lebih ada sekitar 70 an orang yang dibantai di tempat itu. 
Cukup 'puas' dengan lokasi tadi, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat yang cukup 'legendaris'. Tempat itu bernama Gua Tikus. Adapun sejarah Gua Tikus itu sendiri dimulai ketika ada hama tikus yang menyerang daerah Blitar Selatan sehingga memusnahkan hampir seluruh hasil panen di daerah tersebut. Warga pun secara bergotong royong membasmi tikus-tikus itu. Ketika dikejar dan dibasmi, tikus-tikus itu lari dan menghilang di bawah batu besar. Dan ketika batu besar itu digeser, ternyata terdapat gua kecil yang menjadi sarang dari tikus-tikus tersebut. Itulah asal-muasal kenapa tempat itu dinamakan Gua Tikus.
Jarak yang harus di tempuh untuk menuju gua Tikus itu cukup jauh dan kondisi jalan tidak kalah buruknya ketika kami pergi ke ladang tebu tadi. Terkadang kami harus turun dari motor untuk sekedar berbasa-basi dengan penduduk sekitar yang sedang mencari kayu atau berladang. Pak Yatman nampaknya cukup dikenal di daerah yang terpencil ini.
Setelah turun dari motor, kami harus berjalan kaki cukup jauh menembus ladang dan menyeberangi sungai kecil untuk mencapai Gua Tikus itu. Di atas gua itu tampak pohon bambu yang besar sekali. Konon pohon bambu itu sengaja ditanam sebagai penanda agar tidak ada orang atau ternak yang terjerembab masuk ke dalam lubang itu. 
Gua itu sangat kecil. Dengan diameter kira-kira 1,5 - 2 meter namun dalam sekali. Saya tidak bisa melihat dasar gua itu. Di dasar gua itu terdapat aliran sungai bawah tanah. Kembali menurut penuturan pak Yatman, para tersangka anggota atau simpatisan PKI yang di 'bon dari rumah-rumah tahanan sekitar, digiring ke gua itu pada subuh dini hari kemudian disuruh berjongkok di mulut gua itu lalu dipukul dengan besi di belakang kepalanya sehingga para korban secara otomatis jatuh ke dasar gua. 
Beberapa tahun yang lalu rupanya telah ada LSM dan mahasiswa pecinta alam yang sudah melakukan evakuasi. Mereka turun ke dasar gua dengan tali, memotret dan mengangkat tulang belulang manusia untuk dikuburkan secara normal. Saya tidak berlama-lama di lokasi itu, selain udara yang cukup panas, saya pun tidak bisa memotret banyak karena harus menghemat memory card. 

Kandang/ penanda kubur yang berbentuk seperti rumah kecil di tengah ladang tebu
Sebuah makam yang berisi 10-15 jenazah tersembunyi di tengah-tengah ladang tebu
Gua Tikus
Pusara yang tersembunyi di tengah ladang milik pak Markus Talam
Kami pun meneruskan perjalanan untuk beristirahat dan makan siang di monumen Trisula yang hanya berjarak setengah jam dari lokasi Gua Tikus tadi. Sesampainya disana, lokasi itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa anak sekolah yang sedang belajar merokok. Saya pun mendengarkan penjelasan pak Yatman tentang nama-nama 'pahlawan' yang terukir di monumen itu. Menurut penuturan beliau, beberapa nama anggota TNI yang meninggal disana, ternyata bukan mati terbunuh akibat kontak senjata dengan PKI. Melainkan mati tenggelam ketika sedang terjadi musibah banjir besar pada waktu itu. Sementara ada seorang anggota tentara lagi yang meninggal karena sakit. Saya pun hanya tertawa kecil setelah mendengarkan penjelasan pak Yatman yang cukup menggelikan itu. 
Setelah memotret dan beristirahat di monumen itu, kami pun melanjutkan perjalanan dengan memutar kembali menuju daerah Tambak Rejo. Disana pak Yatman mempertemukan saya dengan temannya, sesama eks tapol yang bernama Markus Talam. Adapun pak Markus ini dulu bekerja di dinas perkebunan di daerah Blitar. Dan tanpa sebab yang jelas, pak Markus pun di tangkap dan di buang ke pulau Buru. Setelah bercerita tentang pengalamannya, pak Markus pun mengantar kami menuju lokasi kuburan massal berikutnya. 
Ladang itu cukup asri, pohon-pohon jagung dan singkong terlihat ditata dengan rapih. Sekitar 30 meter di belakang ladang itu, terdapat rerimbunan semak dan pepohonan yang oleh pak Markus, sang empunya ladang dibiarkan begitu saja. Di pinggiran ladang, tampak 2 buah nisan tanpa nama yang saling berdekatan. Menurut cerita pak Markus, para anggota/simpatisan yang tertangkap dalam operasi Trisula, dibawa dan dihabisi di lokasi ini yang dulunya adalah hutan. Jumlah korban pun kurang lebih sama seperti di tempat-tempat lain. Antara 10-15 orang dalam 1 lobang. Setelah memotret kuburan itu, kami pun berpamitan karena pak Markus harus segera pergi ke Jakarta karena ada adiknya yang sedang sakit keras. 
Menjelang maghrib, kami pun kembali tiba di rumah kediaman pak Yatman. Setelah mandi dan makan malam, saya pun berkenalan dengan anak pak Yatman yang baru datang dari desa sebelah. Anak pak Yatman itu bernama sama dengan nama saya, Yohanes. Walaupun dia beragama Islam. Beliau menamai anaknya Yohanes, untuk mengingat nama seorang sahabatnya semasa dipenjara dahulu. 

Jari saya yang melepuh karena tidak terbiasa mengupas jagung.
Nasi pecel, dan tahu goreng yang menjadi sarapan kami pagi itu.
Sekitar pukul 9 malam Yohanes kembali ke rumahnya. Di ruang tamu terdengar suara acara talkshow yang ditayangkan di televisi swasta. Saya lebih memilih untuk duduk di halaman depan menemani pak Yatman dan istri untuk mengupas jagung yang baru selesai dijemur siang tadi. Saya lebih tertarik untuk mengobrol untuk menggali secara lebih dalam tentang peristiwa Trisula 68 serta kehidupan keseharian keluarga pak Yatman.
Pak Yatman kembali bercerita tentang operasi Trisula serta penangkapan tokoh-tokoh PKI di Blitar. Sebagian petinggi-petinggi dan simpatisan PKI melarikan diri dan bersembunyi di gua-gua kapur selatan Blitar. Para petinggi dan simpatisan itu menggunakan taktik ngalah, ngalih, ngalas dan ngantem yang kurang lebih artinya, mundur, pindah, mengalah, masuk hutan, lalu kemudian melawan. Menurut pemaparan beliau, para anggota dan simpatisan PKI yang bertahan masih beberapa kali mengadakan perlawanan dan kontak senjata sebelum akhirnya kalah akibat kekuatan yang tidak seimbang. Para petinggi yang tertangkap dan dibunuh antara lain adalah Ir. Surahman dan Oloan Hutapea. Pak Yatman pun bercerita tentang penangkapan ibu Putmainah yang pada saat itu menjabat sebagai ketua Gerwani. Menurutnya, ibu Putmainah merupakan salah satu 'kloter terakhir' yang ditangkap tentara dari perbukitan kapur Blitar Selatan. 
Selain sejarah 65 dan 68, pak Yatman bercerita tentang keistimewaan telur di daerah Blitar Selatan. Menurutnya, telur ayam yang di produksi di daerah itu kulitnya cukup keras dan lebih bergizi karena air dan makanan ayam-ayam itu mengandung kadar mineral yang tinggi. Hari semakin larut dan kami pun mulai mengantuk. Saya izin untuk beristirahat karena keesokan paginya saya harus segera menuju stasiun Blitar untuk pulang ke Jakarta.

Pagi itu udara cukup dingin, tapi saya memberanikan diri untuk mandi ala kadarnya, sebab hari itu akan menjadi hari yang cukup panjang dan membosankan. Yak, saya akan kembali ke Jakarta. Setelah menyantap sarapan nasi pecel yang sudah dibuat oleh bu Yatman, saya pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih atas segala 'materi kuliah sejarah' yang sudah saya terima dari pak Yatman.  

Dalam perjalanan pulang
Sesampainya di kota Blitar, saya pun segera memesan tiket ke Jakarta. Karena jadwal keberangkatan kereta masih lama, saya pun mampir ke kios pak Budi yang terletak di depan stasiun.
Seperti biasa, pak Budi sedang sibuk melayani pelanggan yang hendak membuat kacamata ataupun hendak membeli jam. Cukup lama saya menemani beliau. Diusianya yang tidak lagi muda, dengan kacamata tebalnya ia tampak masih tangkas dan kecekatan membuka dan memasang mur-mur kecil untuk pengunci lensa kacamata. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya berpamitan dan segera bergegas menaiki kereta.
Kereta yang menuju Jakarta sangat ramai. Saya dikelilingi oleh serombongna keluarga dari Malang yang hendak menghadiri pernikahan di daerah Keramat Jati, Jakarta. Alih-alih bisa tertidur, saya terpaksa melayani obrolan mereka yang duduk di sekeliling saya. 

Menjelang pagi, saya beranjak ke bordes untuk mencari kesempatan supaya bisa merokok. Rupanya sudah tidak boleh lagi merokok di sambungan kereta itu. Tapi saya tidak peduli. Sekian jam tanpa asap rokok rasanya sungguh menyiksa buat saya. Saya membuka pintu bordes dan segera menyulut sebatang rokok.
Matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Nampaknya saya sudah berada di Jawa barat, dan beberapa saat lagi saya akan tiba di Jakarta.
Dari pintu bordes yang terbuka, saya melihat sekelebatan tampak anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah. Sepintas saya teringat akan pelarangan dan pembakaran buku-buku pelajaran sejarah yang tidak mencantumkan kata PKI di peristiwa G30S. Dan entah apapula yang dikatakan oleh guru-guru sekolah terhadap murid-muridnya seputar peristiwa 65. Entah sampai kapan kebohongan ini akan terus berlanjut. Semoga di masa-masa yang akan datang masyarakat perlahan-lahan mulai bisa membuka diri dan menerima fakta-fakta yang terjadi tentang G30S dan 65 supaya kebenaran dapat terkuak dan keadilan dapat ditegakkan.
Pemandangan sawah dan gunung pagi itu tampak seperti fragmen-fragmen yang terlihat samar berjalan dengan cepat seiring laju kereta. Saya menghisap asap rokok terakhir, menutup pintup pintu bordes dan kembali ke tempat duduk.



Agan Harahap





Berziarah Ke Tanah Merah (2)

Surabaya

Saya kembali terguncang-guncang di dalam bus patas. Butuh waktu 4 jam untuk mencapai Surabaya. Narasumber saya di surabaya memang belum memberikan tanggapan atas kedatangan saya. Tapi saya harus tetap ke Surabaya. Karena, untuk masuk ke wilayah-wilayah di Jawa Timur, saya harus mendapatkan izin dari ketua di Surabaya. Saya menghabiskan malam pertama saya di kota Surabaya dengan browsing dan minum bir di kamar hotel. Sinyal XL yang burukpun menambah parah hubungan saya dengan kekasih nun jauh di Kota Kembang.

Keesokan harinya, saya mendapat telepon dari ketua di Jawa Timur. Beliau akan datang dan menjemput saya di hotel, sekaligus mereka akan mengajak saya kepertemuan ex tapol yang diadakan di kantor KONTRAS Surabaya. Setelah memperkenalkan diri di hadapan para sesepuh itu, saya pun duduk dan mengikuti rapat. Rapat itu membicarakan tentang pendataan ulang korban-korban eks 65 karena data yang lama sudah tidak valid. Rapat berlangsung dengan cukup alot dengan berbagai tanggapan yang masuk di akal. Tapi saya tidak begitu ambil pusing. Maklum saja, para peserta rapat itu adalah orang-orang yang rata-rata sudah berusia di atas 70an. Mengingat faktor usia, dan trauma atas siksaan-siksaan yang mereka alami di era 65, wajar saja bila pembicaraan itu terkesan berputar- putar. Rapat ditutup, saya beserta pak Handoko ( ketua Jawa Timur), dan mas Yoyok, seorang anggota termuda berkendara menuju kediaman bapak Oey Hiem Hwie. Seorang ex tapol yang sekaligus tokoh sejarahwan di Surabaya. Entah apa pula maksud mereka mengajak saya kesini. Mungkinkah hendak'mencerahkan' saya, atau malah 'menguji' pengetahuan sejarah saya,.. Entahlah. Saya nikmati saja kunjungan itu dengan riang hati. 


Adapun pak Hwie, (panggilan akrab beliau), pada jamannya adalah seorang wartawan surat kabar Terompet Masyarakat. 
Karena dianggap pro-Soekarno, beliau akhirnya ditangkap dan di buang ke Pulau Buru. Disanalah beliau menjalin pertemanan dengan seorang penulis legendaris yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Dan oleh Pramoedya, beliau dipercayakan untuk menyimpan naskah asli (tulisan tangan dan cetak) beberapa buku-buku Pram. 

Sekembalinya dari Buru, pak Hwie bekerja menjadi tangan kanan Haji Masagung. Pak Hwie diberi kepercayaan untuk mengelola sebuah perpustakaan yang cukup istimewa karena diperpustakaan itu, kita dapat mencari segala buku yang dilarang beredar oleh rezim Soeharto. Tidak hanya buku, diperpustakaan itu (bisa juga dikatakan museum mini), kita pun dapat menyaksikan berbagai memorabilia peninggalan bung Karno seperti foto-foto, catatan pidato sampai poster dan ballpoint. Saya pun semacam mendapat pelajaran sejarah baru yang tidak pernah saya dapatkan di sekolah. Mulai dari 65, Supersemar, bahkan sampai pemberontakan Poh An Tui di Semarang dan etnisitas Wali Songo. Sebagai wartawan, beliau juga pernah berkesempatan untuk mengunjungi Peking ( Beijing) dan berfoto bersama ketua Mao Ze Dong.
Cukup lama kami berbincang-bincang dengan pak Hwie. Tanpa terasa waktu sudah semakin sore dan mas Yoyok harus menjemput anak-anaknya. Malam itu saya tinggal di tempat mas Yoyok. Kebetulan beliau memiliki sejumlah kamar yang disewakan untuk kos-kosan.

Salah satu koleksi pak Hwie ( naskah asli Pramoedya Anantatoer yang dibuat ketika di Pulau Buru)
Saya berfoto bersama pak Hwie
Keesokan harinya, saya dijemput pak Handoko untuk berkeliling kota Surabaya. Kami berdua mengendarai motor membelah kota Surabaya yang panas dan macet. Tujuan pertama adalah penjara Kalisosok. Penjara yang dibangun pada era kolonial ini sudah tidak terpakai. Namun oleh pemerintah bangunannya dijadikan semacam cagar budaya. Namun sayangnya bangunan itu nampak seperti tidak terawat dan kamipun tidak bisa masuk ke dalam. 
Pak Handoko sendiri pernah dipenjara di Kalisosok akibat dituduh terlibat dalam G30S. 
Karena kehidupan di dalam penjara yang begitu berat, hampir ada 4-6 orang yang mati setiap harinya. Bahkan menurut cerita, pernah ada sampai 12 orang yang mati dalam 1 malam. Baik itu karena disiksa ataupun mati karena kelaparan. Adapun para tahanan hanya diberi nasi jagung yang sudah bercampur dengan kerikil dan pasir sebagai konsumsi sehari-hari. 
Pak Handoko pun menuturkan, apabila ada rekan 1 sel yang meninggal, maka rekan-rekannya tidak akan segera melapor kepada petugas. Jenazah itu didiamkan begitu saja sampai beberapa hari agar jatah makanan tidak berkurang. Setelah jenazah mulai membusuk, barulah mereka melapor kepada petugas agar jenazah itu dibawa keluar sel.
Setelah dari Kalisosok, kami kembali berkendara menuju pekuburan umum ditengah kota Surabaya. Kuburan itu bernama Njarak. Pada tahun 65, setiap ada tahanan yang meninggal di Kalisosok, baik itu karena siksaan atau (kebanyakan) meninggal karena kekurangan gizi, pasti dikuburkan di areal belakang pekuburan ini. Saya pergi kesana dan melihat beberapa gundukan-gundukan yang ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Tak hanya itu, di area ini pun tampak juga beberapa nisan-nisan yang tidak bernama. Dulu daerah ini adalah daerah 'tempat jin buang anak'. Begitulah kira-kira istilah Betawi untuk menggambarkan daerah yang sepi dan jauh dari pemukiman. Namun seiring berjalannya waktu, maka daerah sekekeliling pekuburan itu kini sudah berubah menjadi daerah pemukiman padat penduduk. 
Saya dan pak Hadoko kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju ke arah hilir sungai Brantas di pinggiran kota Surabaya. Pak Handoko berkisah, semasa dia di dalam penjara, hampir setiap malam ada saja tahanan yang di 'bon' (dipanggil untuk dipindah). Namun istilah bon itu hanya sebatas istilah saja. Sebagaimana yang sudah diketahui, apabila ada  seseorang yang di 'bon, artinya, keesokan paginya hampir bisa dipastikan kalau ia sudah mati dibunuh. Dan sebagian besar para tahanan yang di 'bon dari Kalisosok, akan berakhir riwayatnya di hilir sungai Berantas ini.
Pada akhir 60-an sampai awal 70-an, hampir semua penduduk Surabaya tidak ada yang mau memakan ikan hasil tangkapan dari sungai Brantas. Konon, ikan-ikan sungai itu tumbuh sedemikian gemuk dan besar karena mengkonsumsi bangkai manusia yang dibuang di sungai Brantas itu.


Salah satu pojok penjara Kali Sosok
Pintu gerbang beserta salah satu tembok dari Penjara Kali Sosok
Suasana di Pemakaman Njarak

Hilir sungai Berantas, pelabuhan terakhir bagi orang-orang yang di 'bon dari Kalisosok.
Sayang sekali saya tidak bisa bercerita banyak tentang sejarah 65 di kota ini. Karena selain materi dan bahan yang saya pelajari sebelumnya, tidak begitu banyak yang menyinggung kota Surabaya. Dan beberapa titik situs yang berkaitan dengan sejarah 65 di kota ini pun sudah beralih fungsi bahkan sudah berubah sama sekali. Tapi bagaimanapun juga Surabaya adalah pintu masuk saya untuk meng-explore lebih jauh ke Jawa Timur. 
Keesokan paginya, ada sms dari pak Handoko, 'Dik Agan silakan menuju Blitar, nanti tinggal cari pak Budi di depan stasiun Blitar. Nanti beliau yang akan mengurus perjalanan anda selanjutnya'. 
Tanpa menunggu lama, mengingat waktu dan biaya yang semakin menipis, saya langsung berpamitan dengan mas Yoyok sang tuan rumah atas kebaikannya meminjamkan kamar kos-kosannya dan segera beranjak menuju terminal Bungurasih untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Blitar.

Bersambung,..

Berziarah Ke Tanah Merah (1)




"Aku cinta kepada mu.. Tak terbatas waktu.. takkan ada selain dirimuu..dst dst.."

Suara sopran Annie Carrera sayup-sayup terdengar mengiringi perjalanan malam saya menuju Boyolali. waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi, artinya masih 2 setengah jam lagi saya masih harus menempuh perjalanan ini.
Entah kenapa sopir-sopir bus malam itu gemar sekali memutar lagu-lagu nostalgia yang menyayat-nyayat. Saya teringat suatu masa dalam perjalanan dari Jakarta menuju Sidikalang di Sumatera Utara, ketika itu almarhum ayah saya memutar lagu trio Ambisi berulang-ulang karena keterbatasan radio kami untuk menerima gelombang. Saya yang pada saat itu masih duduk di bangku SMP 'terpaksa' larut dalam nuansa sendu. Dan semenjak saat itu, tidak bisa saya pungkiri, lagu nostalgia dan kerlip pijar lampu-lampu jalan dan dinginnya udara malam adalah sebuah kombinasi sempurna dalam menambah rasa rindu saya kepada si dia nun jauh di Kota Kembang.
Tapi perjalanan ini bukanlah sebuah perjalanan yang ditempuh untuk menemui kekasih. Perjalanan ini saya lakukan untuk menemui seorang yang saya kenal hanya melalui sms. Satu dari sekian banyak orang yang masih menyimpan cerita asli dari sejarah kelam bangsa ini di era 65. Orang itu bernama Supomo. Atau lebih akrab dipanggil pak Pomo. Pada tahun 1965,beliau adalah salah seorang anggota BTI ( Barisan Tani Indonesia) yang ditangkap, dipenjarakan dan disiksa karena dituduh terlibat dalam peristiwa G30S. Dan atas dasar inilah, saya pergi untuk menemui beliau di kediamannya di Teras, Boyolali.


Boyolali Dan Sukoharjo

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi lewat sedikit. Atas instruksi dari pak Pomo,maka saya turun di desa Teras ( beberapa kilometer setelah kota Boyolali). Saat itu masih pagi. Hanya satu dua kendaraan yang terlihat melintas di jalan raya itu. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, ahirnya ada juga utusan yang menjemput saya menuju rumah pak Pomo.
Rumah pak Pomo sangat sederhana namun bersahaja. Di antara foto-foto yang dipajang di dinding, tampak sebuah foto Bung Karno. Sosoknya yang kecil, ramah menyambut saya. Setelah perkenalan, kami pun larut dalam obrolan panjang seputar sejarah dan pengalaman-pengalaman pak Pomo ketika menjalani masa tahanan yang penuh siksaan dan kerja paksa. Untuk seorang yang berusia 70-an, pak Pomo tergolong cerdas dan tetap up to date dalam mengikuti berita. Pak Pomo bercerita tentang bagaimana keadaan pada saat itu. Pak Pomo beserta jutaan korban lain, memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta (G30s). Tiba-tiba saja keadaan menjadi kacau balau. Tentara menangkapi dan membunuh orang-orang yang diduga terlibat dengan PKI. Pak Pomo yang kala itu masih berusia 20-an di tangkap dan disiksa. Tubuhnya pun tak luput dari tebasan dan irisan samurai. Pak pomo lalu memperlihatkan bekas-bekas sabetan samurai itu di tubuhnya. Leher, punggung dan kaki, bahkan kuping pak Pomo pun terbelah karena bacokan samurai. Bersama ratusan korban yang lain pak Pomo pun di masukkan penjara tanpa proses peradilan. Selama menjalani masa tahanan, tenaga pak Pomo pun diperas untuk pembangunan jalan, gedung dan berbagai sarana infrastruktur pemerintah di wilayah itu. Untunglah dengan berkat Sang Khalik, pak Pomo mampu bertahan hidup dan sanggup menceritakan kesaksiannya sebagai korban kebiadaban TNI pada era 65. Saya yang hanya membaca cerita sejarah di buku dan berbagai artikel internet, langsung saja bertanya banyak kepada pak Pomo yang 'khatam' dengan sejarah seputar 65.
Tanpa terasa, 5 jam telah berlalu. Sayapun berpamitan karena saya harus ke Salatiga untuk meminjam kendaraan kepada Yesaya ( sahabat saya yang kebetulan menjadi dosen disana) untuk bisa membawa kami berkeliling meninjau lokasi-lokasi pembantaian massal di seputar Boyolali dan Salatiga. 



Jembatan Bacem - Sukoharjo
Salah satu titik kuburan massal di Gunung Butak
Keesokan paginya, saya kembali ke Teras. Pak Pomo sudah siap untuk mengantar saya berkeliling untuk 'ziarah' ke titik-titik lokasi pembunuhan massal.
Kami berkendara menuju jembatan Bacem di kabupaten Sukoharjo. Di majalah Tempo edisi 'Algojo', reporter memotret reruntuhan jembatan sebagai lokasi pembunuhan orang-orang PKI 65. Ternyata, menurut pak Pomo, reruntuhan itu sudah ada sejak perang dunia ke 2. Jembatan asli di hancurkan oleh pejuang guna memutus jalur transportasi pihak Belanda. Sementara eksekusi itu terjadi justru di jembatan yang sekarang masih berdiri. Saya turun ke sisi bawah jembatan itu untuk memotret sambil membayangkan apa yang terjadi di era itu. Ketinggian jembatan berkisar 20 meter sampai ke permukaan air sungai Bengawan Solo. Setelah memotret beberapa kali, kami pun beranjak pergi menuju lokasi yang lain.


Kami menuju ke arah gunung Butak. Sebetulnya ini hanyalah kawasan pebukitan yang berupa ladang tani yang  mendekati perbatasan Salatiga. Menurut pak Pomo, disini ratusan anggota dan simpatisan PKI telah dibunuh dan di tanam di beberapa titik. Kami pun turun dan memasuki perkebunan itu. Konon, menanam pohon di atas kuburan massal merupakan salah satu cara efektif TNI untuk menghilangkan jejak.
Ketika kami memasuki area tersebut, Pak Pomo tampak berkomat-kamit dalam bahasa Jawa. Entah apa yang diucapkannya, saya tidak mengerti. Beberapa langkah menuju tengah perkebunan itu, kamera saya mendadak mati. Dan tubuh saya lemas diikuti pandangan saya yang mendadak gelap dan berkunang-kunang. Tapi saya tidak begitu mempedulikannya. Berhenti sejenak seraya mencopot batre kamera, dan saya pun mulai memotret lagi. Tidak lama berselang, kamera saya kembali mendadak mati. Dan pandangan saya pun gelap seperti mau pingsan diikuti keringat yang tiba-tiba mengucur dengan deras. Saya tidak mau berlama-lama lagi di gunung Butak. Setelah memulihkan tenanga sejenak, saya langsung bergegas menuju mobil dan  meminta supir untuk segera meninggalkan lokasi itu.

Sebuah makam di Pekuburan Sonolayu

Makam-makam Tionghoa yang berdampingan dengan makam korban 65
Setelah beristirahat dan makan siang, kami menuju ke pekuburan Sonolayu. Menurut keterangan pak Pomo, di belakang pekuburan inilah terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh aparat. Sekilas pekuburan itu tampak seperti kuburan umum biasa. Namun setelah saya memperhatikan dengan seksama, dibagian belakang pekuburan tersebut terdapat nisan-nisan yang polos tak bernama. Pengurus makam menanam berbagai tanaman seperti singkong dan pepaya di antara deretan makam-makam tersebut. Di beberapa titik saya juga melihat beberapa kendi yang sudah pecah. Saya pun menanyakan kepada pak Pomo, kenapa banyak kendi di lokasi itu. Pak Pomo menjelaskan,  untuk mengidentifikasi kerangka sanak familinya yang dibunuh di tempat itu, keluarga korban menggunakan jasa dukun dan kendi-kendi itulah sebagai media 'identifikasi' nya
Selain kuburan tanpa nisan, ada juga beberapa gundukan-gundukan tanah yang terlihat tak wajar. Sebaigan hanya diberikan batu sebagai penanda, dan sebagian lagi dibiarkan begitu saja.
Pada era 90-an, ada sebuah pekuburan Cina yang terpaksa di gusur untuk dijadikan pasar. Dan oleh keluarga, makam-makam itu dipindahkan sehingga 'bertetangga' dengan makam-makam korban 65. Jadi, disela sela detetan kuburan Cina, tampak 1-2 makam tanpa nama. Selain itu, ada juga beberapa makam baru ( yang dibuat sekitar tahun 2000-an). Menurut pak Pomo, banyak keluarga yang ingin dikebumikan bersama-sama sanak famili yang menjadi korban 65. Karena sebagian famili tidak tahu secara presisi kuburan keluarga mereka, jadi anggota keluarga yang baru meninggal dikuburkan saja secara acak disana. Jarak yang kami tempuh hari itu, cukup jauh dan melelahkan. Setelah mengantarkan pak Pomo kembali ke Teras, saya pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke terminal, dan kemudian berangkat menuju Pati.

Pati


"Dik Agan nanti turun di pertigaan Tugu Sukun, Juana Nanti akan ada yang menjemput".
Begitu sms yang dikirimkan oleh pak Pardi, narasumber saya di Pati.

Saya sangat maklum dengan petunjuk-petunjuk yang terkesan misterius seperti ini. Rasa traumatis akibat peristiwa 65 masih sangat membekas di hati mereka. Belum lagi dengan banyaknya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang hanya memanfaatkan mereka demi kepentingan pribadi.

 Tugu Sukun yang dimaksud ternyata sebuah iklan yang menyerupai tugu/monumen yang disponsori oleh rokok merk Sukun. Setelah menunggu beberapa saat, seorang kakek-kakek menghampiri saya. Dengan tatapannya yang tajam dan sura pelan, dia bertanya, "mas dari Jakarta?" Saya cukup gugup dan lantas mengiyakan. Bapak itu memerintahkan saya untuk mengikutinya. Di ujung jalan telah menunggu sebuah mobil yang segera mengangkut saya masuk melintasi persawahan dan ladang Tebu menuju rumah Pak Pardi. Seraya sedikit berbasa- basi, saya pun berkenalan dengan para 'penjemput' saya. Sang pengemudi bernama pak Bambang, dan temannya yang tadi menghampiri saya bernama pak Jasri.


Pak Jasri, Pak Tarub, Pak Bambang, Pak Pardi dan Pak Rasno
Setelah kira-kira sejam terguncang-guncang dalam kendaraan, akhirnya saya sampai di desa Bulumulyo, kediaman pak Pardi. Saya yang tadinya agak sedikit tegang mendadak menjadi santai dan rileks ketika maksud dan tujuan kedatangan saya direstui oleh pak Pardi dan teman-temannya. Di dalam rumah pak Pardi terdapat seperangkat alat tetabuhan khas Jawa. Di rumah itu, saya juga berkenalan dengan pak Tarub. Rekan-rekan sesama ex tapol. Kecuali pak Tarub, Semua bapak-bapak tadi adalah 'lulusan' Pulau Buru. Tidak lama beristirahat, kami semua beranjak untuk langsung menuju lokasi. Lokasi yang kami tuju jaraknya sangat jauh. Pak Bambang dengan tenang mengemudikan kendaraan dan sebagai tamu, saya disuguhi berbagai cerita sejarah yang tidak tertulis yang dialami oleh bapak-bapak itu.Akhirnya kami pun sampai disebuah rumah di pinggir hutan jati. Konon pada era 65, hutan itu dikenal dengan sebutan 'hutan PKI' karena begitu banyaknya korban yang dibunuh di daerah itu. Di rumah itu tinggal seorang kawan mereka yang bernama pak Rasno. Beliau sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Dikarenakan kondisi pak Rasno yang tidak memungkinkan untuk mengantar kami, ditambah lagi siang itu hujan turun dengan lebatnya, maka pemotretan di hutan jati itu terpaksa ditunda.

Lubang-lubang yang sedianya akan dipakai untuk diisi dengan jenazah-jenazah korban 65 tampak dibiarkan begitu saja
Salah satu titik kuburan massal yang tidak ditumbuhi rumput
Setelah bercerita dan berfoto bersama, kami pun melanjurkan perjalanan menuju lokasi kedua.  Jarak yang harus ditempuh tidak kalah jauhnya. Untung saja pak Bambang mempunyai mobil dan stamina yang baik untuk mengantar kami semua. Di lokasi kedua, terdapat 8 lubang untuk mengubur para anggota dan simpatisan PKI dari daerah sekitar itu. Dari 8 lubang yang tersedia, hanya 3 lubang yang diisi jenazah. Dua lubang sudah ditimbun dan ditanami pisang. Sementara 3 lubang lagi dibiarkan menganga begitu saja. Konon menurut keterangan dari pak Pardi, penduduk sekitar tidak berani untuk menutup lobang-lobang tersebut. Bahkan semak-semak rimbun yang menutupi lobang tersebut tidak 'mempan' dibakar.
Cerita 'ghoib' tidak berhenti sampai disitu. Di antara kuburan massal itu terdapat sebuah kubur yang tidak bisa ditumbuhi rumput. Menurut cerita, ada seseorang anggota PKI yang memiliki kesaktian dan terpaksa harus dikubur hidup-hidup disana karena tidak mampu mati ditembak atau diparang. Tidak lama memotret, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Dan kami pun segera berlari menuju mobil dan kembali ke rumah pak Pardi. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Pak Bambang dan pak Jasri pamit karena perjalanan mereka masih jauh menuju rumah masing-masing.



Para pemusik berfoto sejenak sehabis berlatih di rumah pak Pardi

Rumah pak Pardi cukup asri dan nyaman. Seperti rumah pak Pomo di Boyolali, pak Pardi pun memajang foto Bung Karno di ruang tamunya. Dengan ditemani oleh pak Tarub, pak Pardi pun menceritakan pengalamannya seputar tahun 65 sampai beliau kembali dari pengasingan di pulau Buru. Pak Pardi mempunyai seorang istri dan dua orang anak. Namun, kedua anak pak Pardi bukanlah anak kandungnya. Melainkan anak dari istri pak Pardi dari suami pertamanya. Adapun suami pertama bu Pardi ini adalah sahabat pak Pardi yang pada saat itu sama-sama aktif di organisasi PKI. Tidak seperti pak Pardi yang dibuang ke Buru, suami pertama bu Pardi ternyata dibunuh oleh tentara. Dan sekembalinya pak Pardi dari pulau Buru, pak Pardi pun menikahi ibu ini dan menafkahi keluarga barunya hingga anak-anaknya lulus kuliah dan berkeluarga. 

Hari itu adalah hari Jumat. Dan setiap hari Jumat, orang- orang dari seputar desa itu berkumpul di rumah pak Pardi untuk berlatih bermain gamelan. Selepas maghrib, satu persatu mereka datang memenuhi ruangan tamu. Mengambil posisi di instrumen masing-masing, dan larut dalam irama gamelan yang membius sekaligus menghiasi malam itu. Saya sebagai tamu mendapatkan pengalaman yang sungguh berharga pada malam itu. Tidak hanya gamelan, tapi kerukunan dan keakraban antara warga yang terdiri dari berbagai lintas profesi dan agama. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Para musisi ini pun satu per satu pamit, karena esok hari masih harus bekerja di sawah dan ladang mereka. Akhirnya tinggallah saya, pak Pardi dan pak Tarub. Sambil ditemani kopi panas dan penganan ringan mereka banyak membagi berbagai cerita sejarah pada era 65. 
Adapun salah satu cerita yang menarik saya ialah tentang tarian Anjangsana dan tarian Genjer-Genjer yang dilarang oleh pemerintah, padahal budaya tarian yang hampir punah itu seharusnya dilestarikan dan diperkenalkan demi lurusnya sejarah sekaligus memperkaya khazanah kebudayaan bangsa.
Pak Pardi pun bercerita bahwa rumah kediamannya pernah dijadikan untuk pertemuan eks-tapol se-jawa Tengah. Dalam kesempatan itu, ibu-ibu dari alumni Plantungan ( tempat tahanan perempuan di daerah Semarang) membawakan tarian genjer-genjer yang disaksikan oleh ratusan warga kampung bahkan beberapa aparat dari kepolisian. Pak Tarub menuturkan bahwa tarian yang semestinya dibawakan dengan ceria, berubah menjadi tarian yang mengharukan dan dipenuhi derai air mata karena masing-masing penari dan peserta pertemuan teringat kembali akan masa-masa kelam yang mereka pernah lewati selama puluhan tahun. 

Bersama pak Trub dan pak Pardi

Keesokan harinya hujan kembali mengguyur Pati dan Juwana padahal saya harus melanjutkan perjalanan menuju Jawa Timur sementara pak Pardi harus melayat ke rumah salah satu kerabatnya yang baru saja meninggal di kota Juwana. Setelah mandi dan sarapan, dengan mengenakan matel saya dan pak Pardi memutuskan untuk menempuh hujan menggunakan motor. Saya yang memang kurang lancar dalam mengemudikan kendaraan roda dua itu, terpaksa harus memberanikan diri untuk mengendarainya sebab pak Pardi tentu akan sangat kesulitan bila dia harus berkendara menempuh hujan dengan mengenakan kacamata tebalnya. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, Akhirnya kami sampai di perlintasan bus,di pinggir kota Juwana. Kami bersalaman erat seraya mengucapkan terimakasih dan selamat jalan.

Bersambung,..