Senin, 30 September 2013

Berziarah Ke Tanah Merah (2)

Surabaya

Saya kembali terguncang-guncang di dalam bus patas. Butuh waktu 4 jam untuk mencapai Surabaya. Narasumber saya di surabaya memang belum memberikan tanggapan atas kedatangan saya. Tapi saya harus tetap ke Surabaya. Karena, untuk masuk ke wilayah-wilayah di Jawa Timur, saya harus mendapatkan izin dari ketua di Surabaya. Saya menghabiskan malam pertama saya di kota Surabaya dengan browsing dan minum bir di kamar hotel. Sinyal XL yang burukpun menambah parah hubungan saya dengan kekasih nun jauh di Kota Kembang.

Keesokan harinya, saya mendapat telepon dari ketua di Jawa Timur. Beliau akan datang dan menjemput saya di hotel, sekaligus mereka akan mengajak saya kepertemuan ex tapol yang diadakan di kantor KONTRAS Surabaya. Setelah memperkenalkan diri di hadapan para sesepuh itu, saya pun duduk dan mengikuti rapat. Rapat itu membicarakan tentang pendataan ulang korban-korban eks 65 karena data yang lama sudah tidak valid. Rapat berlangsung dengan cukup alot dengan berbagai tanggapan yang masuk di akal. Tapi saya tidak begitu ambil pusing. Maklum saja, para peserta rapat itu adalah orang-orang yang rata-rata sudah berusia di atas 70an. Mengingat faktor usia, dan trauma atas siksaan-siksaan yang mereka alami di era 65, wajar saja bila pembicaraan itu terkesan berputar- putar. Rapat ditutup, saya beserta pak Handoko ( ketua Jawa Timur), dan mas Yoyok, seorang anggota termuda berkendara menuju kediaman bapak Oey Hiem Hwie. Seorang ex tapol yang sekaligus tokoh sejarahwan di Surabaya. Entah apa pula maksud mereka mengajak saya kesini. Mungkinkah hendak'mencerahkan' saya, atau malah 'menguji' pengetahuan sejarah saya,.. Entahlah. Saya nikmati saja kunjungan itu dengan riang hati. 


Adapun pak Hwie, (panggilan akrab beliau), pada jamannya adalah seorang wartawan surat kabar Terompet Masyarakat. 
Karena dianggap pro-Soekarno, beliau akhirnya ditangkap dan di buang ke Pulau Buru. Disanalah beliau menjalin pertemanan dengan seorang penulis legendaris yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Dan oleh Pramoedya, beliau dipercayakan untuk menyimpan naskah asli (tulisan tangan dan cetak) beberapa buku-buku Pram. 

Sekembalinya dari Buru, pak Hwie bekerja menjadi tangan kanan Haji Masagung. Pak Hwie diberi kepercayaan untuk mengelola sebuah perpustakaan yang cukup istimewa karena diperpustakaan itu, kita dapat mencari segala buku yang dilarang beredar oleh rezim Soeharto. Tidak hanya buku, diperpustakaan itu (bisa juga dikatakan museum mini), kita pun dapat menyaksikan berbagai memorabilia peninggalan bung Karno seperti foto-foto, catatan pidato sampai poster dan ballpoint. Saya pun semacam mendapat pelajaran sejarah baru yang tidak pernah saya dapatkan di sekolah. Mulai dari 65, Supersemar, bahkan sampai pemberontakan Poh An Tui di Semarang dan etnisitas Wali Songo. Sebagai wartawan, beliau juga pernah berkesempatan untuk mengunjungi Peking ( Beijing) dan berfoto bersama ketua Mao Ze Dong.
Cukup lama kami berbincang-bincang dengan pak Hwie. Tanpa terasa waktu sudah semakin sore dan mas Yoyok harus menjemput anak-anaknya. Malam itu saya tinggal di tempat mas Yoyok. Kebetulan beliau memiliki sejumlah kamar yang disewakan untuk kos-kosan.

Salah satu koleksi pak Hwie ( naskah asli Pramoedya Anantatoer yang dibuat ketika di Pulau Buru)
Saya berfoto bersama pak Hwie
Keesokan harinya, saya dijemput pak Handoko untuk berkeliling kota Surabaya. Kami berdua mengendarai motor membelah kota Surabaya yang panas dan macet. Tujuan pertama adalah penjara Kalisosok. Penjara yang dibangun pada era kolonial ini sudah tidak terpakai. Namun oleh pemerintah bangunannya dijadikan semacam cagar budaya. Namun sayangnya bangunan itu nampak seperti tidak terawat dan kamipun tidak bisa masuk ke dalam. 
Pak Handoko sendiri pernah dipenjara di Kalisosok akibat dituduh terlibat dalam G30S. 
Karena kehidupan di dalam penjara yang begitu berat, hampir ada 4-6 orang yang mati setiap harinya. Bahkan menurut cerita, pernah ada sampai 12 orang yang mati dalam 1 malam. Baik itu karena disiksa ataupun mati karena kelaparan. Adapun para tahanan hanya diberi nasi jagung yang sudah bercampur dengan kerikil dan pasir sebagai konsumsi sehari-hari. 
Pak Handoko pun menuturkan, apabila ada rekan 1 sel yang meninggal, maka rekan-rekannya tidak akan segera melapor kepada petugas. Jenazah itu didiamkan begitu saja sampai beberapa hari agar jatah makanan tidak berkurang. Setelah jenazah mulai membusuk, barulah mereka melapor kepada petugas agar jenazah itu dibawa keluar sel.
Setelah dari Kalisosok, kami kembali berkendara menuju pekuburan umum ditengah kota Surabaya. Kuburan itu bernama Njarak. Pada tahun 65, setiap ada tahanan yang meninggal di Kalisosok, baik itu karena siksaan atau (kebanyakan) meninggal karena kekurangan gizi, pasti dikuburkan di areal belakang pekuburan ini. Saya pergi kesana dan melihat beberapa gundukan-gundukan yang ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Tak hanya itu, di area ini pun tampak juga beberapa nisan-nisan yang tidak bernama. Dulu daerah ini adalah daerah 'tempat jin buang anak'. Begitulah kira-kira istilah Betawi untuk menggambarkan daerah yang sepi dan jauh dari pemukiman. Namun seiring berjalannya waktu, maka daerah sekekeliling pekuburan itu kini sudah berubah menjadi daerah pemukiman padat penduduk. 
Saya dan pak Hadoko kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju ke arah hilir sungai Brantas di pinggiran kota Surabaya. Pak Handoko berkisah, semasa dia di dalam penjara, hampir setiap malam ada saja tahanan yang di 'bon' (dipanggil untuk dipindah). Namun istilah bon itu hanya sebatas istilah saja. Sebagaimana yang sudah diketahui, apabila ada  seseorang yang di 'bon, artinya, keesokan paginya hampir bisa dipastikan kalau ia sudah mati dibunuh. Dan sebagian besar para tahanan yang di 'bon dari Kalisosok, akan berakhir riwayatnya di hilir sungai Berantas ini.
Pada akhir 60-an sampai awal 70-an, hampir semua penduduk Surabaya tidak ada yang mau memakan ikan hasil tangkapan dari sungai Brantas. Konon, ikan-ikan sungai itu tumbuh sedemikian gemuk dan besar karena mengkonsumsi bangkai manusia yang dibuang di sungai Brantas itu.


Salah satu pojok penjara Kali Sosok
Pintu gerbang beserta salah satu tembok dari Penjara Kali Sosok
Suasana di Pemakaman Njarak

Hilir sungai Berantas, pelabuhan terakhir bagi orang-orang yang di 'bon dari Kalisosok.
Sayang sekali saya tidak bisa bercerita banyak tentang sejarah 65 di kota ini. Karena selain materi dan bahan yang saya pelajari sebelumnya, tidak begitu banyak yang menyinggung kota Surabaya. Dan beberapa titik situs yang berkaitan dengan sejarah 65 di kota ini pun sudah beralih fungsi bahkan sudah berubah sama sekali. Tapi bagaimanapun juga Surabaya adalah pintu masuk saya untuk meng-explore lebih jauh ke Jawa Timur. 
Keesokan paginya, ada sms dari pak Handoko, 'Dik Agan silakan menuju Blitar, nanti tinggal cari pak Budi di depan stasiun Blitar. Nanti beliau yang akan mengurus perjalanan anda selanjutnya'. 
Tanpa menunggu lama, mengingat waktu dan biaya yang semakin menipis, saya langsung berpamitan dengan mas Yoyok sang tuan rumah atas kebaikannya meminjamkan kamar kos-kosannya dan segera beranjak menuju terminal Bungurasih untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Blitar.

Bersambung,..