Tampilkan postingan dengan label Itta S Mulia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Itta S Mulia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Sing Fest #7





Sesungguhnya, sudah lebih dari 10x saya memutar video di atas. Dan sampai malam ini, saya masih saja terkesima dengan nuansa intim di video itu. Duduk bersama, bermain gitar dan bernyanyi membagi suara dengan penuh harmoni sambil diselingi tuak dan rokok. Buat saya, hal lain yang menambah keistimewaan video di atas adalah ketika 3 orang yang (kemungkinan besar) beretnis Batak tersebut menyanyikan lagu dari daerah Minang. Ya, memang itu bukanlah hal yang baru. Tapi entah kenapa, ketika kita bisa memainkan lagu 'di luar pakem', rasanya sungguh istimewa sekali.
Video di atas mengingatkan saya akan sebuah momentum kehidupan ketika saya, Andies dan Itta mencoba menyanyiakan lagu "你怎麼說" yang dipopulerkan oleh Teresa Teng. Dalam beberapa kali percobaan, selalu saja lagu itu gagal dibawakan karena satu dan lain hal yang tiba-tiba membuat kami terpingkal, sehingga lagu itu tidak pernah selesai. Namun setelah kami menemukan 'selahnya', rasa-rasanya kami seolah terbius dalam suasana tertentu yang menembus sukma walaupun kami tidak mengerti sepatah katapun dari lirik lagu itu.

Memutuskan untuk pindah kota, tentu saja bukan hal yang mudah. Ada berbagai hal-hal baru yang harus dihadapi sekaligus juga harus beberbesar hati meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama demi menyesuaikan diri terhadap sistem sosial yang berlaku di lingkungan baru. Dan salah satu hal yang jarang saya temui di kota ini (Jogja) adalah ketika pada sahabat dan handai taulan berkumpul, bermain gitar dan bernyanyi bersama. Mungkin karena perbedaan kultural, atau suasana yang kurang kondusif, sehingga saya jarang menemukan momen ketika para sahabat duduk berkumpul dan bernyanyi membagi suara bersama.

Kebiasaan duduk, bermain gitar sambil bernyanyi berbagi suara sudah sering saya lakukan. Apalagi ketika masa kuliah dulu di Bandung belasan tahun silam. Mungkin atas kesamaan nasib (anak rantau ditambah jomblo menahun), maka saya  dan kawan-kawan kuliah saya secara tanpa sengaja membentuk grup vokal di sebuah warung di pinggir jalan Wastu Kencana. Adapun lagu-lagu yang kami nyanyikan biasanya seputar tembang kenangan ataupun lagu-lagu baru yang kebetulan saja sesuai dengan suasana hati kami pada saat  itu.
Dan dalam bernyanyi, kami sangat menghargai perbedaan dan permakluman yang ada. Perbedaan yang saya maksudkan disini adalah ketika kawan saya menyanyikan sebuah lagu yang hanya diketahui dirinya sendiri. Sebagai contoh, ketika kawan saya, Markus, menyanyikan sebuah lagu sedih ( saya lupa judulnya), namun menurutnya, itu adalah semacam lagu wajib yang harus dinyanyikannya ketika masih tinggal di panti asuhan Katolik di Malang dulu. Atau ketika kawan saya, Yoppie Liliweri menyanyikan sebuah lagu daerah  Kupang, yang notabene tidak ada seorangpun diantara kami yang mengerti, tapi karena  kami menganggap bahwa lagu itu mempunyai arti yang mendalam baginya, maka kami mencoba mengiringinya bernyanyi sebisa kami. Bagi saya, yang biasanya terposisikan sebagai penggenjreng gitar, ada sebuah perasaan yang tidak tergantikan bila saya bisa menyesuaikan keselarasan vokal dan chord gitar, sehingga menghasilkan nada yang pas dan enak didengar.

Kebiasaan-kebiasaan ini, bernyanyi sambil menghargai berbagai perbedaan dengan mudah saya dapati ketika saya memutuskan untuk menetap di Jakarta. Sahabat-sahabat saya, Andries Sembiring, Joey Christian, Willy Jonathan dan istri saya Itta. S. Mulia, kami biasa berkumpul di apartemen saya dan bernyanyi bersama. Walau memang diantara kami cuma Itta yang memiliki kualitas vokal di atas rata-rata, namun dengan berbagai substansi yang tersedia pada waktu itu, saya rasa vokal grup kami tidak kalah dengan vokal grup-vokal grup Batak di pakter-pakter tuak di sana.
Dan berkat pengalaman saya di Bandung, maka perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami dapat dengan mudah terselesaikan. Saya yang sebelumnya tidak tahu akan lagu-lagu dari daerah Manado, setelah sekian lama bernyanyi bersama Joey Christian,  lama-lama bisa dengan lihai memainkan chord-chord lagu semacam 'Balada Pelaut', 'Polo Pakita', dsb. Atau kami kerap kali harus memaklumi lagu-lagu reggae mainstream yang menjadi favorit Willy. Begitupun juga dengan Itta,  istri saya, setelah beberapa kali mencoba akhirnya saya bisa memainkan chord gitar sebuah lagu kenangan bagi Itta, yaitu sebuah lagu pembuka untuk suatu acara radio di Bandung sana, yang pamannya adalah penyiar utama di radio tersebut.

Malam ini, setelah anak saya, Merdu dan Damir tidur, seperti biasa saya menyibukkan diri dengan berselancar di dunia maya. Lagi-lagi saya menjelajah jauh ke tanah nenek moyang saya di Sumatra Utara sana. Maklum saja, sebagai orang Batak yang lahir  di Ibu Kota dan kini menetap di Jogja, saya selalu saja punya ketertarikan yang besar terhadap budaya dari tanah leluhur saya. Sejujurnya, saya sama sekali tidak mengeti sepatah katapun bahasa Batak. Apalagi bahasa Minang. Dan seperti biasanya, saya membiarkan rasa sok tahu saya mengalahkan segalanya. Saya bisa dengan bebas berasumsi dan mengartikan lagu-lagu ini sesuai dengan suasana hati saya.

Entah kenapa, sejak lama saya percaya bahwa orang Batak dan Padang mempunyai kedekatan tertentu walaupun berbeda secara kultural dan teritorial (tentu saja saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang hikayat Perang Bonjol dan Tuanku Tambusai yang berekspansi sampai ke tanah Tapanuli). Tapi karena letak geografis yang bersebelahan dan jalur transportasi darat yang menyatukan segalanya, maka sangat mungkin bila terjalin ikatan-ikatan tertentu akan kedua etnis ini. Saya teringat akan lagu-lagu Padang yang dibawakan dengan seksama oleh Eddy Silitonga, Trio Ambisi, maupun penyanyi-penyanyi Batak lainnya. Atau sebaliknya, ketika seorang Edi Cotok berkisah tentang perangai orang Batak.
Saya pun memiliki sebuah kedekatan tertentu dengan orang-orang beretnis Minang ini. Adapun salah seorang anggota vokal grup kami semasa di Bandung dulu bernama Doni Jukatri, asli Bukit Tinggi. Pernah dalam suatu masa perkuliahan dulu, saya terlibat perkelahian fisik satu lawan satu dengannya karena memperebutkan sebongkah tanah liat untuk keperluan tugas nirmana trimatra. Namun seiring berjalannya waktu, persahabatan kami tetap terjalin sampai hari ini. Salah satu dosen favorit saya, Amrizal Salayan, yang menyaksikan perkelahian saya dengan si Juki itu pun beretnis Minang. Bahkan sampai hari ini, saya cukup terlibat baik secara profesi maupun emosional dengan uda-uda ini.

Kembali pada segi musikalitas. Walaupun saya tidak mengerti lirik lagu  'Pulanglah Uda', yang dipopulerkan oleh Ria Amelia ini, tapi atas berbagai alasan dan pertimbangan yang telah saya jabarkan di atas tadi, secara otomatis sayapun terlarut dalam suasana di video tersebut sembari membayangkan saya sedang berada di lapo itu dan turut bernyanyi bersama mereka. Namun keceriaan malam ini serta tulisan yang penuh drama sentimentil ini terpaksa harus berakhir karena anak saya tiba-tiba terbangun. Mungkin karena  mendengar suara sumbang bapaknya yang bernyanyi terlalu keras sehingga mengganggu mimpi indah mereka.



Jogja, 19 Januari 2016


Agan Harahap

Senin, 12 Januari 2015

Sebuah Cerita Dari India


Seorang kawan datang ke rumah bercerita panjang lebar mengenai lawatan singkatnya ke negeri India. Mulai dari ketibaannya di bandara, pengalamannya terlibat cinta lokasi dengan salah seorang figuran film action, sampai turut serta menjadi alay-alay di sebuah tayangan musik 'Dahsyat alla India'. Menjelang tengah malam, kawan tersebut berpamitan dan menyerahkan beberapa buah tangan yang dibawa dari negeri Mahabaratha itu.
Kawan saya ini memang cukup unik. Selain memang memiliki paras yang 'khas', perilakunya juga sungguh tidak terduga. Tidak heran jika begitu banyak wanita yang tergila-gila kepadanya. Selain memberikan saya miras dan beberapa obat gosok khas India untuk isteri saya, Itta, tanpa disangka-sangka kawan saya yang unik itu memberikan susu formula untuk putri saya, Merdu.
Entah bagaimana pula mengucapkan merk susu formula itu, karena merk susu formula itu dituliskan dengan aksara India yang tidak bisa dimengerti. Awalnya saya enggan menerima susu tersebut, karena memang saya tidak begitu yakin akan kemasan dan khasiatnya bagi anak saya. 
Namun setelah kawan saya menceritakan bagaimana susu formula inilah yang menjadi salah satu pemicu pertumbuhan teknologi di India, maka saya pun percaya dan dengan berat hati menerima pemberiannya itu. 

Susu cap Ganesha yang dipercaya menjadi salah satu penyebab revolusi teknologi di India.


Sampai suatu hari, ketika susu Nutrilon yang biasa dikonsumsi oleh anak kami, habis. Dan untuk membeli susu baru terasa agak sulit, karena maklum saja, sebagai keluarga yang sepenuhnya menggantungkan nasib pada dunia seni terkadang membuat kami hidup dalam ketidakpastian. Setelah menimbang, berdiskusi secara alot dengan isteri saya, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba memberikan sedikit susu formula dari India tersebut kepada anak kami, sebagai pengganti sementara, sampai kami punya uang cukup untuk membeli susu Nutrilon andalannya itu. 

Susu itu cukup unik, dengan lambang serupa dengan logo ITB (Ganesha) yang sedang duduk di atas bunga teratai. Maka saya dan isteripun berkesimpulan bahwa memang susu formula ini ditujukan untuk perkembangan otak anak 6-18 bulan. Dan tentu saja, sebagai orang yang gagal diterima masuk FSRD ITB, maka besar harapan kami supaya Merdu dapat mewarisi kecerdasan Ganesha agar kelak dapat meneruskan cita-cita ayah dan ibunya untuk dapat masuk kampus yang ternama itu.

Di luar dugaan, Merdu yang biasanya agak sulit meminum susu formula, ternyata dengan lahap menghabiskan susu India tersebut sampai tetes penghabisan. Karena anak kami tidak menunjukkan gejala-gejala aneh yang mengkhawatirkan, maka kamipun dengan sukacita memberikannya susu formula cap Ganesha tersebut sambil tak lupa mengiringinya dengan lantunan doa-doa agar kelak Merdu dapat tumbuh cerdas, sehat dan kuat serta bisa unggul di tengah kancah persaingan global yang semakin lama semakin edan ini.
Singkat kata, setiap kali bangun tidur, sehabis makan siang dan menjelang tidur malampun selalu diawali dengan susu India. Paceklik perekonomian yang tak putus menerpa kami pun serasa tak berarti apa-apa ketika melihat Merdu semakin hari semakin menunjukkan perkembangan ke arah progres.

Sebagai pasangan yang cukup disibukkan dengan kegiatan-kegiatan di luar rumah pada siang hari, maka kami terpaksa harus mempercayakan pengurusan Merdu kepada Ibu Tujilah, pembantu yang merangkap babysitter untuk Merdu. Mendekati minggu kedua setelah mengkonsumsi susu cap Gajah tersebut, bu Tujilah menangkap keanehan yang terjadi pada tubuh anak kami. Selain memang Merdu jadi bertambah kuat, lincah dan mulai bisa berkata-kata, pada bagian ketiak anak kami ternyata ditumbuhi bulu-bulu halus. Pada awalnya kami santai saja dan tidak curiga dengan gejolak hormonal yang terjadi di tubuh Merdu. Namun setelah semakin hari bulu-bulu di bawah ketiaknya semakin tebal, maka kamipun panik dan segera membawa anak kami untuk berkonsultasi dengan dokter yang merupakan sahabat lama kami, yang baru kami ketahui, ternyata masih merupakan keturunan India.

Bulu-bulu di bawah ketiak yang semakin hari semakin tebal.

Alih-alih menganjurkan agar memeriksakan anak kami ke rumah sakit atau laboratorium terdekat, dokter itu hanya menyarankan supaya kami tidak lagi memberikan susu formula dari India itu untuk dikonsumsi oleh Merdu sambil tak lupa memberi salep racikan khusus untuk meredam pertumbuhan bulu ketiak anak kami. Dokter itu mengatakan bahwa susu formula itu memang sudah sangat terkenal di India. Susu tersebut mengandung suatu zat khusus yang berguna untuk mempercepat perkembangan otak dan fisik anak. Dan bulu ketiak yang tumbuh itu disebabkan karena kandungan nutrisi pada ASI (Air Susu Ibu) yang tidak sama dengan ASI yang biasa dikonsumsi oleh bayi-bayi di India. Bahwa memang ada suatu hormon yang bisa berkembang dengan pesat apabila tidak diikuti dengan zat-zat yang terkandung dalam masakan kari. Selain itu, faktor penggunaan AC yang terlalu dingin juga menjadi pemicu gejolak hormonal yang menyebabkan bulu-bulu di bawah ketiak Merdu jadi tumbuh subur (maklum saja, cuaca Jogja yang panas memaksa kami untuk menyetel AC pada suhu terendah).

Walau agak curiga dan khawatir, dengan berat hati kami turuti juga saran dari dokter itu sambil tak lupa mengoleskan salep pemberiannya di bawah ketiak Merdu setiap sehabis mandi sambil memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa agar Merdu dijauhkan dari segala sakit penyakit. Puji Tuhan, hanya dalam waktu beberapa hari setelah mengoleskan salep itu, bulu-bulu di bawah ketiak Merdu rontok dengan sendirinya dan tidak tumbuh lagi.

Saat ini, Merdu sudah memasuki usia 9 bulan. Dia makin bertambah lincah dan kuat dan sudah mulai melangkahkan kaki sedikit-demi sedikit. Walau bila dibandingkan dengan bayi-bayi lain seusianya Merdu memang agak terlihat bongsor, namun kami sebagai orang tuanya, merasa lega dan bersyukur karena Merdu sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala aneh lagi akibat pemberian susu formula India itu.

Merdu mulai berlatih berjalan di usianya yang menginjak 6 bulan
Merdu saat berusia 8 bulan sudah tidak muat lagi duduk di kursi bumbo-nya.
Memasuki usia 10 bulan. Merdu sedang terlelap ditemani isteri saya, Itta, yang terlihat kelelahan sehabis menggendongnya.




Maafkan kedua orang tuamu 
kalau tak mampu beli susu.
BBM naik tinggi, susu tak terbeli
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi.

Cepatlah besar bidadari ku. 
Menangis yang keras janganlah ragu.
Tinjulah congkaknya dunia, buah hati ku
doa kami di nadi mu.