Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2016

Di Balik Penggarapan Sampul Album PUTRA NUSANTARA



Berawal dari bincang-bincang santai diselingi beberapa botol bir dan berbatang rokok di sebuah cafe di daerah Tirtodipuran, akhirnya saya pun menyetujui untuk mengerjakan sampul album dari band ska/reggae legendaris asal Yogyakarta, Shaggydog. Demi melancarkan inspirasi, saya pun diberi 'bocoran' materi tentang album baru tersebut. Waktu berlalu begitu saja sampai akhirnya proses mixing sudah rampung, namun wangsit yang diharap tak kunjung datang. Sampai 2 hari setelah melewati tengat waktu yang disepakati, akhirnya wangsit yang dinantipun datang. Berbekal sebuah pensil 2B souvenir dari sebuah acara dan 3 lembar kertas A3, maka saya pun memulai penggarapan album Putra Nusantara dari Shaggydog. 

Dwi Estiningsih, seorang wanita asal Yogyakarta yang dilaporkan Forum Komunikasi Anak Pejuang Republik Indonesia ke Kepolisian Daerah Metro Jaya pada Rabu, (21/12/2016) memberikan klarifikasi terkait cuitannya yang dianggap menyebarkan rasa kebencian atau SARA melalui media sosial.Dwi Estiningsih mengatakan tak bisa menanggapi laporan tersebut. “Terkait dengan tuduhan (ujaran kebencian) itu ya saya tak bisa mengecap pikiran banyak orang, terserah orang akan berpikir apa, kan? Saya kan tidak bisa mengontrol apa persepsi mereka,” ujar Dwi, dikutip dari tempo.coLulusan S-1 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ini menuturkan apa yang dilakukannya (di media sosial) hanya berupa bentuk perjuangan. “Tapi saya tak berjuang atas nama golongan, suku, dan agama, melainkan NKRI,” ujar menjelaskan.
Perempuan yang kini mengelola biro pendampingan psikologi dan sering bekerja sama dengan pemerintah untuk penanganan gelandangan itu mengatakan cuitannya yang menjadi polemik adalah sebuah sikap kritis atas kegelisahan pada peristiwa yang belakangan terjadi di masyarakat. Dwi membantah cuitannya ini terkait dengan isu-isu terakhir mengenai persoalan polemik agama, seperti akibat dampak ucapan Gubernur DKI Jakarta nonaktif yang memicu Aksi Bela Islam I-III.
“Kalau mengikuti twit saya sejak beberapa tahun lalu, ya intinya saya itu hanya ingin mendudukkan persoalan pada tempatnya,” tutur perempuan yang berprofesi sebagai dosen tidak tetap di sejumlah kampus swasta itu. 

Menurut Dwi, akibat adanya media sosial yang makin populer beberapa tahun terakhir, ia melihat banyak hal yang seharusnya bukan masalah menjadi masalah. " Nah, kami ingin mendidik masyarakat, ini lho yang menjadi masalah itu, ini yang bukan, ujarnya. Terkait dengan laporan dirinya ke polisi, Dwi pun memilih menanggapi secara santai. Ia melihat laporan itu sebagai pintu untuk menyikapi persoalan yang terjadi. “Kalau perlu, saya bawa anak saya yang berusia 35 hari jika dipanggil kepolisian, tak masalah juga, perjuangan itu kan kapan pun dan di mana pun,” katanya.









Boikot Sari Roti terus berlanjut. Aksi boikot Sari Roti tak hanya diserukan lewat media sosial (medsos) dan grup WhatsApp, tapi juga dalam tindakan nyata dengan tidak membeli Sari Roti. Aksi boikot Sari Roti mulai menggema ketika Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengajak kaum Muslimin untuk memboikot Sari Roti. Selain Dahnil, Imam Besar FPI, Habib Rizieq Shihab juga menyerukan agar semua penjuang dan pendukung Aksi 212 berhenti membeli Sari Roti.
Akibatnya, sebagian umat Islam menyatakan tidak akan membeli Sari Roti. Bahkan, sekolah teladan nasional, SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, secara resmi menyetop pasokan Sari Roti dalam lingkup dan kegiatan sekolah. Putusan itu diambil secara bulat pada Rabu (7/12) dalam rapat internal pengurus Koperasi Syariah Asy-Syams SD Muhammadiyah 4 Surabaya.
Dikatakan Syaikhul, pasokan Sari Roti di-stop karena mereka kecewa setelah melihat pengumuman produsen Sari Roti yang mereka anggap tendensius. “Sikap pemilik atau produsen roti tersebut benderang menunjukkan ketidaksimpatiannya terhadap umat Islam terutama mereka yang tergabung pada aksi tersebut. Dia lupa dan tak menyadari bahwa konsumen terbesar dari roti produksinya adalah umat mayoritas di negeri ini,” tegasnya.
Seruan boikot Sari Roti juga berdampak serius pada pedagang keliling Sari Roti di sejumlah titik. Di perumahan Bukit Cimanggu City Kota Bogor misalnya, pedagang Sari Roti yang biasanya berjualan di pagi hari mendadak berhenti. “Sudah satu minggu gak lewat. Kasihan juga tuh, mungkin gak ada orang beli. Soalnya aksi boikot di medsos dan grup WhatsApp ibu-ibu sangat ramai,” ujar Rosmawati, ibu rumah tangga yang tinggal di bukti Cimanggu City. Rosmawati yang mengaku bergabung dengan salah satu grup WhatsApp (WA) mengatakan, boikot Sari Roti di grup WA terus berlanjut. Bahkan, seorang anggota grup WA memposting gambar Sari Roti yang masih mennumpuk di minimarket.
Sari Roti sempat dipuji dan ramai diperbincangkan di media sosial lantaran roti mereka dibagikan secara gratis saat Aksi 212 di Monas Jakarta. Produsen Sari Roti, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk sepertinya terganggu dengan foto tersebut. Pasalnya, foto itu memunculkan kesan bahwa Sari Roti mendukung dan terlibat dalam Aksi 212. Karena itu, PT Nippon membuat klarifikasi yang menyatakan bahwa Sari Roti tidak terlibat dalam kegiatan politik dan tidak ikut dalam Aksi 212.
Klarifikasi itu malah menjadi blunder. Para pendukung Aksi 212 berbalik antipati kepada Sari Roti. Sebab, klarifikasi PT Nippon mengesankan bahwa Sari Roti tidak mendukung Aksi 212. Akibatnya, seruan boikot Sari Roti disuarakan lewat media sosial dan aplikasi WhatsApp. Seruan itu membuat saham Sari Roti langsung anjlok. 






* Tulisan- tulisan di atas tidak ada hubungannya dengan pengerjaan sampul album Putra Nusantara. Saya hanya menambahkannya demi kesan estetis semata agar tampilan blog lebih sedap dipandang mata. Berikut adalah cerita yang sesungguhnya tentang penggarapan album Putra Nusantara ini.



-->

Senin, 09 Mei 2016

SEEKOR IKAN BERLOGO PKI DIAMANKAN POLISI




YOGYAKARTA-- Tim aparat gabungan Polres Bantul dan Intelgab Kodam Jaya berhasil mengamankan seekor ikan jenis louhan yang memiliki corak menyerupai palu arit di kepalanya. Ikan louhan tersebut dijual di sebuah kios di PASTY (Pasar Hewan Dan Tanaman Hias Yogyakarta) Jalan raya Bantul.

Melalui keterangannya, pihak Kepolisian melaporkan bahwa pada pukul 14.30 hingga 16.00 WIB, penjual dan pemilik ikan lohan yang berinisial AH itu telah digelandang ke kantor polisi untuk diamankan dan dimintai keterangan. Pihak Kepolisian juga menambahkan bahwa saat ini sedang dilakukan penyelidikan intensif terkait dengan dugaan makar. Dalam penangkapan ini, tim gabungan juga berhasil mengamankan barang bukti berupa enam ekor ikan dan tanaman hias yang diduga memiliki corak serupa.

Berdasarkan keterangan saksi, Itta (30 tahun), ikan louhan bercorak logo PKI itu sudah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat sejak ikan tersebut dijual sejak kurang lebih sebulan yang lalu.

Sementara menurut Zulfansyah Purbandono, tokoh pemuda yang juga turut serta dalam penggerebekan tersebut mengatakan, bahwa warga Yogyakarta tidak akan mentolerir segala bentuk upaya kebangkitan komunis yang akan menghancurkan Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara.

Jumat, 10 Juli 2015

BitterSweet : Manny Pacquiao @ Cemeti Art House



Sudah dari beberapa hari kemarin, kedatangan Manny Pacquiao ke Indonesia ramai dibicarakan oleh berbagai media. Adapun tujuan utama Pacman ke Indonesia adalah dalam rangka syuting sebuah produk jamu kesehatan dan sekaligus juga demi menepati janjinya untuk memberi dukungan moral secara langsung terhadap terpidana mati kasus narkoba, Mary Jane Veloso.
Sebagai salah seorang penggemar,  hati saya pun cukup berbunga-bunga perihal kedatangannya ke Yogyakarta. Namun saya tidak pernah bermimpi untuk bisa bertemu atau sekedar berfoto bersama dan dipamerkan kepada handai taulan dan saudara. Sebab, mau bagaimanapun juga jujurnya foto saya, pasti tetap akan dibilang bahwa itu adalah hasil rekayasa. Yah, mungkin memang sudah beginilah nasib saya. Jujur salah, bohong malah lebih salah. 

Siang itu saya jalani seperti biasa. Seusai bermain dengan Merdu, saya lantas terlarut dengan acara dialog tentang psikologi anak di TVRI. Karena tayangan itu begitu menarik, maka beberapa sms dan whatsapp yang masuk saya acuhkan. Iphone yang biasanya selalu berada dalam genggaman, kali ini saya letakkan begitu saja di lantai karena memang sedang di cas. 
Satu jam berlalu dan acara dialog itu pun usai. Anak saya yang baru berusia 1,5 tahun itupun nampak rewel ingin digendong. Mungkin karena dia tidak suka tontonan bapaknya. Memang sudah menjadi kebiasaannya untuk menonton Disney Junior atau Baby First sebelum dia tidur siang. Tapi apa boleh buat, karena tv berlangganan itu belum dibayar, jadilah kami sekeluarga hanya bisa menikmati TVRI saja. Menjelang lewat tengah hari, Merdupun tertidur di dalam gendongan saya. Seusai menaruhnya di tempat tidur, saya pun kembali ke ruang tv untuk membaca pesan-pesan yang masuk sejak tadi ke iphone saya. 

Salah satu pesan whatsapp berbunyi : " Agan, kamu bisa ke Cemeti sekarang? Penting!" Pesan tersebut dikirim oleh Agni, seorang staff galeri Cemeti sekitar satu jam yang lalu. Adapun pada tanggal 2 kemarin, saya baru mengikuti pameran bersama yang berjudul BitterSweet yang diikuti oleh 12 perupa dari Jakarta, Bandung dan Yogya. Dan kebetulan, dalam pameran itu saya menyertakan serial saya yang berjudul Juara Dunia Dari Indonesia. Yang menggambarkan pertandingan tinju antara Chris John melawan Manny Pacquiao. Sambil menyalakan puntung Djarum Super yang baru dibakar setengah, saya pun menanyakan ada apa kepada Agni. Mungkin saja ada kurator atau kolektor yang meminta untuk bertemu dengan seniman, ujar saya dalam hati. Tapi Agni tidak membalas whatsapp saya. 

Sejurus kemudian saya pun larut dalam berbagai berita di Twitter dan Path seraya menikmati puntung rokok itu dengan seksama. Maklum saja udara siang yang panas membuat saya agak malas untuk ke warung. 'Ting!' Agni pun membalas whatsapp saya dengan pesan gambar yang jelas membuat saya terkesirap. Di foto itu terlihat Manny Pacquiao yang sedang berpose di depan karya saya yang sedang dipamerkan. Sontak saya pun menelpon Agni untuk menanyakan apakah saya masih sempat untuk menyusul idola saya itu ke Cemeti. 

Namun mujur tak dapat diraih, malang pun tak dapat ditolak. Manny Pacquiao sudah beranjak dari galeri karena memang jadwal acaranya yang cukup padat. Menurut Agni, Pacquiao hanya kebetulan singgah karena ingin mencicipi makan khas Yogyakarta di sebuah restoran di daerah Tirtodipuran yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari Cemeti. Kebetulan juga managemen hotel T yang memfasilitasi semua kebutuhan akomodasi dan transpotasi Pacman memang sudah menjalin kerjasama dengan galeri Cemeti dalam mempromosikan seni-seni terbaru tanah air. Maka atas alasan itu pulalah mereka sekalian lewat dan berkunjung.

Walau memang Manny sudah tidak berada di galeri Cemeti, namun dengan sejuta penyesalan di dalam dada, saya memutuskan juga untuk pergi kesana. Beberapa staff galeri masih terlihat antusias akibat kedatangan 'tamu agung' itu. Mereka sibuk memposting hasil selfie mereka dengan superstar yang terkenal ramah itu di berbagai jejaring sosial. Rasa kecewa yang bercampur dengan sesal membuat saya tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Dengan langkah gontai sayapun menuju angkringan terdekat untuk membeli rokok ketengan. 


Yogyakarta, 10 Juli 2015