Sesungguhnya, sebagai orang yang mengaku seniman fotografi saya tidak punya kamera. Saya memang pernah memiliki Nikon D300s dan Panasonic-Leica namun sayangnya status mereka sekarang sudah almarhum. Ditambah lagi dengan smart phone saya yang bermasalah di touch screen, jadi demikianlah sedikit laporan pandangan mata dari perhelatan seni rupa terbesar di Shanghai ini.
Sabtu, 10 Desember 2016
SINGAPORE BIENALE 2016 : AN ATLAS OF MIRRORS
MADIJKERS PHOTO STUDIO
Harahap reworks archival photographs to present fictive portraits of the Mardijkers, a community of descendants of freed slaves found in major cities in the East Indies (present-day Indonesia). Comprising indigenous people from conquered Portuguese territories, as well as people of Portuguese ancestry, the Mardijkers occupied an in-between status: despite adopting European religion and culture, they were classed with the ‘natives’ by the colonial government. The superimposition of European faces on ‘native’ bodies, and vice versa, captures the fluidity and instability of identities within this community, a situation which the artist views as analogous to contemporary Indonesia’s negotiation with ‘global’ culture. In this series of arresting and enigmatic portraits, some subjects appear to adopt foreign dress and ways of life confidently, while others reveal their uncertainty or hesitation. These images also comment on colonial photography, which often exoticised its subjects, as well as our expectations of the photographic image as ‘truth’ and ‘document’.
Senin, 09 Mei 2016
SEEKOR IKAN BERLOGO PKI DIAMANKAN POLISI
YOGYAKARTA-- Tim aparat gabungan Polres Bantul dan Intelgab Kodam Jaya berhasil mengamankan seekor ikan jenis louhan yang memiliki corak menyerupai palu arit di kepalanya. Ikan louhan tersebut dijual di sebuah kios di PASTY (Pasar Hewan Dan Tanaman Hias Yogyakarta) Jalan raya Bantul.
Melalui keterangannya, pihak Kepolisian melaporkan bahwa pada pukul 14.30 hingga 16.00 WIB, penjual dan pemilik ikan lohan yang berinisial AH itu telah digelandang ke kantor polisi untuk diamankan dan dimintai keterangan. Pihak Kepolisian juga menambahkan bahwa saat ini sedang dilakukan penyelidikan intensif terkait dengan dugaan makar. Dalam penangkapan ini, tim gabungan juga berhasil mengamankan barang bukti berupa enam ekor ikan dan tanaman hias yang diduga memiliki corak serupa.
Berdasarkan keterangan saksi, Itta (30 tahun), ikan louhan bercorak logo PKI itu sudah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat sejak ikan tersebut dijual sejak kurang lebih sebulan yang lalu.
Sementara menurut Zulfansyah Purbandono, tokoh pemuda yang juga turut serta dalam penggerebekan tersebut mengatakan, bahwa warga Yogyakarta tidak akan mentolerir segala bentuk upaya kebangkitan komunis yang akan menghancurkan Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara.
Sabtu, 02 April 2016
COSTUME NATIONAL: CONTEMPORARY ART FROM INDONESIA
Segala sesuatu sudah saya persiapkan dengan sebaik mungkin. Mulai dari urusan-urusan teknis seperti pengurusan visa yang cukup tergopoh-gopoh, mengingat tengat waktu yang sempit, sampai membeli pernak-pernik untuk mengatasi cuaca dingin disana. Tidak hanya itu, istri dan anak-anak pun sengaja saya antarkan ke rumah mertua saya di Bandung, supaya istri saya tidak terlalu repot dalam mengasuh kedua anak saya yang masih kecil. Setelah berpamitan dengan handai taulan, saya pun dengan mantap melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
Mengingat kondisi lalu lintas Jakarta yang penuh dengan ketidak pastian, maka saya memutuskan untuk sengaja berangkat jauh lebih cepat dari jadwal yang sudah ditentukan. Sesampainya di Cengkareng, saya disambut oleh adik saya dan beberapa kawannya. Kebetulan adik saya bekerja disana, sehingga tentu saja, segala urusan perihal keberangkatan bisa saya lalui dengan mudah. Tak hanya itu, dengan adanya kawan-kawan yang bekerja di bandara, saya berkesempatan untuk bisa menunggu di lounge yang cukup mewah serta menikmati berbagai fasilitas yang disediakan di lounge itu. Menjelang keberangkatan, saya pun berpamitan sambil tak lupa mengucapkan terimakasih atas berbagai keramah-tamahan yang saya dapatkan di bandara.
'Eh Bowo, fotoin gw sama abang gw dong..' Pinta adik saya, Riri kepada temannya yang memang sedang bertugas disana. Klik.. Klik.. Klik.. Dan kamipun berfoto di depan meja check in seraya menunggu petugas counter mengurus surat-surat saya. Senyum saya mengembang dan dada membuncah membayangkan petualangan baru yang sebentar lagi akan saya alami. Namun tanpa saya sadari, drama babak pertama baru saja dimulai.
"Maaf pak, memang disini tertera nama bapak, tapi ini baru berupa booking saja. Tiketnya belum dibayar.." Ujar petugas counter Air France itu dengan ramah. Adik saya segera bergerak cepat dengan menelpon rekan-rekan sejawatnya untuk memastikan kabar tersebut.
Seorang rekan adik saya mengatakan bahwa nama saya tidak hanya tertera di maskapai Air France. Namun ada juga di Air Nippon. Tak menunggu lama, kami segera bergegas menuju kantor Air Nipon untuk mendapatkan tiket keberangkatan saya. Namun ternyata, semua masih hanya berupa booking saja. Pihak agen dari Canada ternyata belum membayar tiket saya.
Dengan lemas, kami pun berjalan menuju pintu keluar sekedar untuk merokok guna menenangkan pikiran. Di tengah kepulan asap rokok, saya mencoba menghubungi Stefan, pihak penyelenggara yang mengundang saya ke Canada. Dengan penuh rasa penyesalan dia meminta maaf dan berusaha untuk menebus kesalahan itu dengan mencarikan saya tiket untuk penerbangan berikut. Menit demi menit saya lalui dengan rasa berdebar. Sekelebat terbayang wajah anak dan istri saya ketika kami berpamitan di Bandung. Ada sedikit rasa sedih yang timbul mengingat saya terpaksa harus meninggalkan mereka tepat di hari ulang tahun Merdu, anak saya yang pertama.
Lebih dari setengah bungkus rokok yang saya habiskan dalam suasana penantian yang menegangkan itu sampai akhirnya Stefan, pihak penyelenggara di Canada, mengirimkan tiket pengganti. Saya terpaksa harus menginap sehari lagi di Jakarta, tapi setidaknya tiket Philiphine Air, maskapai yang akan menerbangkan saya ke Canada sudah dibayarkan, dan kami pun bisa kembali bernafas lega. Walaupun terlambat sehari, dan perjalanan akan memakan waktu lebih lama, karena harus transit di Manila, San Francisco dan Toronto, tapi setidaknya sudah bisa dipastikan kalau saya akan berangkat besok. Kami memutuskan untuk menutup hari yang melelahkan itu dengan makan bakmi di Pantai Indah Kapuk.
Hari berganti. Walau masih sedikit lelah akibat drama kemarin di bandara, namun saya tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia saya. Bayangkan saja, setelah kemarin nyaris tidak jadi berangkat, semua pengorbanan waktu, tenaga, serta berbagai biaya yang sudah dikeluarkan untuk persiapan perjalanan ke Canada akan terbayar tuntas.
Jam keberangkatan saya adalah pukul 1.45 siang, namun sejak jam 10 pagi saya sudah bergegas kembali menuju bandara. Saya tidak ingin keberangkatan saya gagal hanya karena saya terlambat check in. Jam 11 lewat saya sudah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Setelah menghabiskan rokok sambil menunggu adik saya yang ingin mengantar, kami bergegas menuju counter check in Philipine Air. Sedikit rasa was-was sempat timbul, mengingat tragedi kemarin malam. Namun untungnya semua baik-baik saja. Petugas counter dengan ramah mencetak boarding pas dan menempelkan stiker rute perjalanan saya di koper. Sampai seorang penyelia senior menghampiri petugas counter yang melayani saya. Mereka nampak berbisik-bisik dengan serius. Saya dan adik saya kembali dilanda kecemasan.
"Maaf bapak, apakah bapak punya visa transit untuk di San Francisco nanti?" tanya penyelia senior itu dengan ramah. Tentu saja saya tidak punya. Bagaimana mungkin saya bisa mengurus visa, secara tiket itu baru saya dapatkan tadi malam. Dan saya baru tahu, bahwa untuk hanya sekedar 'numpang lewat' di negara Paman Sam itu, saya harus mengantongi ijin dari kedutaan Amerika yang prosesnya memakan waktu paling cepat 3 hari. "Maaf pak, kami tidak mungkin bisa menerbangkan bapak tanpa adanya visa transit dari Kedutaan Amerika". Saya hanya bisa terdiam mendengar kata-kata penyelia senior tadi. Dengan lemas saya menyaksikan petugas-petugas counter check in mempereteli stiker-stiker rute transit yang menempel di koper saya. Saya kembali menghubungi Stefan di Canada untuk mengabarkan peristiwa ini. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Stefan mengangkat telepon saya. Dan dengan berat dia berkata bahwa dia tidak punya solusi lain untuk memberangkatkan saya ke Canada.
Cukup lama saya duduk di sebuah kedai di bandara sambil menatap layar handphone saya. Seraya berharap semoga ada keajaiban yang terjadi di detik-detik terakhir. Waktu terus berjalan tanpa ampun. Pesawat yang sedianya akan memberangkatkan saya ke Canada sudah lama bertolak. Saya mematikan rokok terakhir, mengemas paspor, handphone yang bercecer di atas meja dan menyeret koper saya menuju pangkalan taksi untuk pulang menuju rumah.
Agan Harahap
berikut cuplikan video dari pameran tersebut
Selasa, 19 Januari 2016
Sing Fest #7
Sesungguhnya, sudah lebih dari 10x saya memutar video di atas. Dan sampai malam ini, saya masih saja terkesima dengan nuansa intim di video itu. Duduk bersama, bermain gitar dan bernyanyi membagi suara dengan penuh harmoni sambil diselingi tuak dan rokok. Buat saya, hal lain yang menambah keistimewaan video di atas adalah ketika 3 orang yang (kemungkinan besar) beretnis Batak tersebut menyanyikan lagu dari daerah Minang. Ya, memang itu bukanlah hal yang baru. Tapi entah kenapa, ketika kita bisa memainkan lagu 'di luar pakem', rasanya sungguh istimewa sekali.
Video di atas mengingatkan saya akan sebuah momentum kehidupan ketika saya, Andies dan Itta mencoba menyanyiakan lagu "你怎麼說" yang dipopulerkan oleh Teresa Teng. Dalam beberapa kali percobaan, selalu saja lagu itu gagal dibawakan karena satu dan lain hal yang tiba-tiba membuat kami terpingkal, sehingga lagu itu tidak pernah selesai. Namun setelah kami menemukan 'selahnya', rasa-rasanya kami seolah terbius dalam suasana tertentu yang menembus sukma walaupun kami tidak mengerti sepatah katapun dari lirik lagu itu.
Memutuskan untuk pindah kota, tentu saja bukan hal yang mudah. Ada berbagai hal-hal baru yang harus dihadapi sekaligus juga harus beberbesar hati meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama demi menyesuaikan diri terhadap sistem sosial yang berlaku di lingkungan baru. Dan salah satu hal yang jarang saya temui di kota ini (Jogja) adalah ketika pada sahabat dan handai taulan berkumpul, bermain gitar dan bernyanyi bersama. Mungkin karena perbedaan kultural, atau suasana yang kurang kondusif, sehingga saya jarang menemukan momen ketika para sahabat duduk berkumpul dan bernyanyi membagi suara bersama.
Kebiasaan duduk, bermain gitar sambil bernyanyi berbagi suara sudah sering saya lakukan. Apalagi ketika masa kuliah dulu di Bandung belasan tahun silam. Mungkin atas kesamaan nasib (anak rantau ditambah jomblo menahun), maka saya dan kawan-kawan kuliah saya secara tanpa sengaja membentuk grup vokal di sebuah warung di pinggir jalan Wastu Kencana. Adapun lagu-lagu yang kami nyanyikan biasanya seputar tembang kenangan ataupun lagu-lagu baru yang kebetulan saja sesuai dengan suasana hati kami pada saat itu.
Dan dalam bernyanyi, kami sangat menghargai perbedaan dan permakluman yang ada. Perbedaan yang saya maksudkan disini adalah ketika kawan saya menyanyikan sebuah lagu yang hanya diketahui dirinya sendiri. Sebagai contoh, ketika kawan saya, Markus, menyanyikan sebuah lagu sedih ( saya lupa judulnya), namun menurutnya, itu adalah semacam lagu wajib yang harus dinyanyikannya ketika masih tinggal di panti asuhan Katolik di Malang dulu. Atau ketika kawan saya, Yoppie Liliweri menyanyikan sebuah lagu daerah Kupang, yang notabene tidak ada seorangpun diantara kami yang mengerti, tapi karena kami menganggap bahwa lagu itu mempunyai arti yang mendalam baginya, maka kami mencoba mengiringinya bernyanyi sebisa kami. Bagi saya, yang biasanya terposisikan sebagai penggenjreng gitar, ada sebuah perasaan yang tidak tergantikan bila saya bisa menyesuaikan keselarasan vokal dan chord gitar, sehingga menghasilkan nada yang pas dan enak didengar.
Kebiasaan-kebiasaan ini, bernyanyi sambil menghargai berbagai perbedaan dengan mudah saya dapati ketika saya memutuskan untuk menetap di Jakarta. Sahabat-sahabat saya, Andries Sembiring, Joey Christian, Willy Jonathan dan istri saya Itta. S. Mulia, kami biasa berkumpul di apartemen saya dan bernyanyi bersama. Walau memang diantara kami cuma Itta yang memiliki kualitas vokal di atas rata-rata, namun dengan berbagai substansi yang tersedia pada waktu itu, saya rasa vokal grup kami tidak kalah dengan vokal grup-vokal grup Batak di pakter-pakter tuak di sana.
Dan berkat pengalaman saya di Bandung, maka perbedaan-perbedaan yang ada di antara kami dapat dengan mudah terselesaikan. Saya yang sebelumnya tidak tahu akan lagu-lagu dari daerah Manado, setelah sekian lama bernyanyi bersama Joey Christian, lama-lama bisa dengan lihai memainkan chord-chord lagu semacam 'Balada Pelaut', 'Polo Pakita', dsb. Atau kami kerap kali harus memaklumi lagu-lagu reggae mainstream yang menjadi favorit Willy. Begitupun juga dengan Itta, istri saya, setelah beberapa kali mencoba akhirnya saya bisa memainkan chord gitar sebuah lagu kenangan bagi Itta, yaitu sebuah lagu pembuka untuk suatu acara radio di Bandung sana, yang pamannya adalah penyiar utama di radio tersebut.
Malam ini, setelah anak saya, Merdu dan Damir tidur, seperti biasa saya menyibukkan diri dengan berselancar di dunia maya. Lagi-lagi saya menjelajah jauh ke tanah nenek moyang saya di Sumatra Utara sana. Maklum saja, sebagai orang Batak yang lahir di Ibu Kota dan kini menetap di Jogja, saya selalu saja punya ketertarikan yang besar terhadap budaya dari tanah leluhur saya. Sejujurnya, saya sama sekali tidak mengeti sepatah katapun bahasa Batak. Apalagi bahasa Minang. Dan seperti biasanya, saya membiarkan rasa sok tahu saya mengalahkan segalanya. Saya bisa dengan bebas berasumsi dan mengartikan lagu-lagu ini sesuai dengan suasana hati saya.
Entah kenapa, sejak lama saya percaya bahwa orang Batak dan Padang mempunyai kedekatan tertentu walaupun berbeda secara kultural dan teritorial (tentu saja saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang hikayat Perang Bonjol dan Tuanku Tambusai yang berekspansi sampai ke tanah Tapanuli). Tapi karena letak geografis yang bersebelahan dan jalur transportasi darat yang menyatukan segalanya, maka sangat mungkin bila terjalin ikatan-ikatan tertentu akan kedua etnis ini. Saya teringat akan lagu-lagu Padang yang dibawakan dengan seksama oleh Eddy Silitonga, Trio Ambisi, maupun penyanyi-penyanyi Batak lainnya. Atau sebaliknya, ketika seorang Edi Cotok berkisah tentang perangai orang Batak.
Saya pun memiliki sebuah kedekatan tertentu dengan orang-orang beretnis Minang ini. Adapun salah seorang anggota vokal grup kami semasa di Bandung dulu bernama Doni Jukatri, asli Bukit Tinggi. Pernah dalam suatu masa perkuliahan dulu, saya terlibat perkelahian fisik satu lawan satu dengannya karena memperebutkan sebongkah tanah liat untuk keperluan tugas nirmana trimatra. Namun seiring berjalannya waktu, persahabatan kami tetap terjalin sampai hari ini. Salah satu dosen favorit saya, Amrizal Salayan, yang menyaksikan perkelahian saya dengan si Juki itu pun beretnis Minang. Bahkan sampai hari ini, saya cukup terlibat baik secara profesi maupun emosional dengan uda-uda ini.
Kembali pada segi musikalitas. Walaupun saya tidak mengerti lirik lagu 'Pulanglah Uda', yang dipopulerkan oleh Ria Amelia ini, tapi atas berbagai alasan dan pertimbangan yang telah saya jabarkan di atas tadi, secara otomatis sayapun terlarut dalam suasana di video tersebut sembari membayangkan saya sedang berada di lapo itu dan turut bernyanyi bersama mereka. Namun keceriaan malam ini serta tulisan yang penuh drama sentimentil ini terpaksa harus berakhir karena anak saya tiba-tiba terbangun. Mungkin karena mendengar suara sumbang bapaknya yang bernyanyi terlalu keras sehingga mengganggu mimpi indah mereka.
Jogja, 19 Januari 2016
Agan Harahap
Senin, 28 Desember 2015
Mulan Jameela Dan Potret Suram Masyarakat Gagal Paham
Sebagai seorang laki-laki yang hidup bersama dua orang ibu-ibu (kebetulan ibu saya sedang berlibur Jogja), tentu saja saya tidak bisa menghindar dari yang namanya infotainmen. Berita seputar selebriti adalah topik yang selalu menarik untuk dibahas oleh istri dan ibu saya. Ibu saya yang memang sangat fasih dalam melahap berita-berita seputar selebriti, seolah mendapat kawan bicara yang sepadan ketika berbincang dengan istri saya. Dan berita paling hangat minggu ini adalah peristiwa minta maaf Mulan Jameela yang marak beredar di seantero media. Saya yang tadinya tidak pernah mau tau soal urusan rumah tangga orang, perlahan mulai bisa 'menikmati' prahara ini. Tapi terus terang saya tidak sanggup menyaksikan video wawancara Mulan dan Deddy Corbuzier yang penuh dengan cengangas-cengenges dan derai air mata. Selain juga durasinya yang menurut saya terlalu lama. Saya lebih tertarik untuk menyaksikan komentar-komentar orang baik di Youtube maupun di postingan-postingan lain di dunia maya.
Mencermati drama wanita asal Malangbong ini, tiba-tiba saya teringat akan Thenzara Zaidt, atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Subangun, tokoh antagonis di sinetron TVRI 80an 'Keluarga Rahmat' yang pernah benar-benar ditampar orang ketika sedang berbelanja di pasar hanya karena peran antagonisnya di film itu. Sangat mungkin terjadi bahwa pada zaman itu ada sebagian orang yang begitu terpukau dalam melihat teknologi layar kaca, sehingga tidak mampu lagi membedakan antara fiksi dan realita. Dan memang sangat disayangkan bila Ibu Subangun mendapat tamparan dari orang yang logikanya telah terbutakan oleh tayangan televisi.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa salah satu imbas utama dari kemajuan teknologi adalah timbulnya perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Dan bagi sebagian orang yang tidak siap menerima percepatan teknologi dan dampak sosialnya, teknologi selalu saja dianggap sebagai kambing hitam penyebab terjadinya segala degradasi moral di masyarakat. Walau memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada begitu banyak tayangan-tayangan yang tidak mendidik yang dibuat demi mengejar rating dan iklan, yang semakin melenakan dan membutakan akal sehat pemirsanya. Tapi bagaimanapun juga, kita tidak bisa melulu menyalahkan teknologinya.
Kembali kepada cerita Mulan Jameela yang sampai hari ini masih marak berlalu lalang di berbagai media tanah air. Mulan dan para pembencinya jelas tidak mampu lagi membedakan realitas yang terjadi di dunia nyata dan di dunia maya. Media sosial yang kerap dijadikan media pelampiasan demi mengukuhkan eksistensinya di jagat hiburan, malah akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya yang terlalu larut dalam drama yang dibuatnya sendiri. Kisah Mulan Jameela beserta ribuan polisi-polisi moral beserta 'petuah-petuah bijaknya' yang dilayangkan tak lain hanyalah potret suram kehidupan masyarakat kita hari ini yang sibuk menenggelamkan diri dalam realitas semu di berbagai sosial media. Dan saya hanya bisa berharap agar para polisi moral itu tidak buta logika dan gelap mata, supaya Mulan Jameela tidak mengalami nasib serupa seperti yang dialami Ibu Subangun.
Agan Harahap
* Sengaja menggunakan terminologi 'gagal paham' untuk mengikuti tren bahasa hari ini
Minggu, 15 November 2015
Memandang Paris Dari Linimasa
Rangkaian teror di kota Paris yang menewaskan ratusan warga sipil hari Jumat kemarin memang memilukan dan sontak menarik perhatian dunia. Berbagai linimasa di media-media sosial pun langsung dibanjiri oleh postingan-postingan seputar tragedi Paris ini. Mulai dari turut berbela sungkawa, mengecam tindakan brutal tersebut, sampai berbagai teori-teori konspirasi tentang sebab musabab terkait teror tersebut. Sebagian kawan bahkan turut menyatakan sikap simpatinya dengan menambahkan warna biru, putih dan merah (bendera Prancis) di foto profilenya. Sebagai manusia yang berhati nurani, memang sangat wajar bila kita menunjukkan rasa simpati terhadap berbagai tragedi kemanusiaan, baik itu bencana alam maupun aksi teror yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dan tentu saja tidak ada yang salah dengan 'aksi unjuk simpati' dengan mengganti foto profilnya dengan bendera Prancis, atau mungkin dengan mengibarkan bendera Prancis di halaman rumahnya sekalipun.
Sekilas memang saya merasa agak janggal bila teman-teman bisa dengan sebegitu bertubi-tubinya menunjukkan sikap simpatik terhadap negara nun jauh disana yang terkena 'musibah kecil' seperti itu, tapi justru malah seolah memalingkan muka terhadap berbagai musibah besar yang kerap terjadi di sekeliling kita. Tapi saya tidak akan berpanjang-lebar mengenai hal ini. Karena seperti yang sudah-sudah, berbagai aksi unjuk simpati dan empati di berbagai linimasa tentu hanya berlangsung sesaat saja. Esok hari, linimasa kita pasti akan kembali seperti biasa dengan beragam postingan 'maha penting' lainnya seputar makan apa, lagi dimana, sedang apa, sama siapa, dsb dsb.
Agan Harahap
Langganan:
Postingan (Atom)
















