Khotbah Minggu kemarin cukup membosankan. Saya bisa memahami perasaan pendeta yang cukup tertekan ketika harus berkhotbah tentang 'kemerdekaan' di tengah kondisi negara yang centang perenang ini. Tapi setidaknya pendeta sempat melanturkan joke tentang 'pengupas bawang' yang cukup menghibur. Selepas itu, khotbahnya kembali flat dan saya membuka hp melihat berita soal bendera Bulan Bintang yang gagah berkibar di Aceh.
Lagu 'Betapa Kita Tidak Bersyukur' dikumandangkan ketika kantong kolekte diedarkan. Lagu itu terasa menjadi ironi yang mengiris hati ketika mengingat pidato Kenegaraan Presiden Prabowo kemarin, ditambah dengan kondisi saldo ATM yang berada dalam posisi prihatin, aneka tagihan yang bertubi- tubi, sementara meteran listrik di rumah sudah berbunyi dengan ganas.
Saya lantas teringat sebuah artikel yang pernah saya tulis bertahun lalu tentang komponis bernama Subronto K Atmodjo, seorang anggota Lekra, pencipta lagu ‘Nasakom Bersatu’, ‘Madjoe Sukarelawan’, yang juga merupakan pencipta lagu ‘Betapa Kita Tidak Bersyukur’ yang diciptakannya setelah bebas dari camp Pulau Buru. Bagaimana mungkin beliau masih bisa bersyukur setelah ‘dikhianati’ oleh negara yang dicintainya dan harus bertahan di camp kerja paksa selama bertahun- tahun tanpa proses pengadilan. Jika seorang tahanan politik yang hidupnya dirampas, disiksa, dan dibuang ke pulau terpencil tanpa peradilan masih sanggup menulis himne syukur yang begitu megah, rasanya terlalu cengeng jika saya harus mengutuki nasib hanya karena persoalan finansial.
Lagu ‘Betapa Kita Tidak Bersyukur’ itu seketika menyadarkan saya bahwa bersyukur bukanlah sebuah reaksi reaktif atas keadaan yang sempurna. Syukur adalah sebuah keputusan iman. Syukur adalah bentuk perlawanan spiritual yang paling tinggi. Syukur adalah menolak untuk hancur dan menolak untuk membiarkan penderitaan mematikan harapan dan memerdekakan pikiran.
Sesampainya di rumah, meteran listrik masih meraung- raung. Saya membuka aplikasi dompet digital dan sambil menghela nafas panjang saya mengisi token listrik sambil menggumamkan lagu ‘Sayur Kubis Jatuh Harga’.
Yogyakarta, 17 Agustus 2026
Agan Harahap











