Senin, 20 Desember 2010

The Jakarta International Photo Summit “City of Interaction”The Jakarta International Photo Summit “City of Interaction”

*GALERI NASIONAL INDONESIA
Jl. Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat 10110
Tel: 021 34833954, 34833955, 3813021, Fax: 021 3813021
email: galnas@indosat.net.id


Safari & Superhero @ Galeri Nasional :




Other works that i like :












By :

ADEK BERRY | AGAN HARAHAP | AIKO URFIA RAKHMI | AKBAR NUGROHO GUMAY | ALDY PRADIKTA | ANDI ARI SETIADI | A.P. JAKA UTAMA G. S. | ARDILES RANTE | AYE KO | BAHANA PATRIA GUPTA | BARMEN SIMATUPANG | BEAWIHARTA | BOBY NOVIARTO | BOY T HARJANTO | BUDI ASTONI | CHARLES LIM | CLARA PRIMA | DENNY YOSHUA LUMONDANG | DENY ADAM ARFIANTO | DHEMAS REVIYANTO ATMODJO | DONANG WAHYU | DWI OBLO | DWIANTO WIBOWO | EDDY HASBY | EDY PURNOMO | ERIK PRASETYA | FANNY FAJARIANTI | FERGANATA INDRA RIATMOKO | GAYATRI SUROYO | HANNY DWI JAYANTHI | HARI ATMOKO | I GEDE MANGKU ANTERO JAYA | ILHAM THAMRIN | INDAH PRATIWI | ISMAR PATRIZKI | IWAN SETIYAWAN | JAN BANNING | JOHANNES CHRISTO | JULIA SARI SETIATI | KEMAL JUFRI | LAM HIEU THUAN | LAVANDA WIRIANATA | MAKIYAH MUNAWAROH | MAMUK ISMUNTORO | MARIA GORETTI | MATAHARI MAHADHIKA | MERAPI VOLCANO MUSEUM | MOCHAMMAD RANDY | NGUYEN TUONG LINH | NIKEN LARASATI | NOVERADIKA | NUGROHO ADIWEDA | NURHAYATI | PANJI NAYANTAKA | PAUL KADARISMAN | RADITYO WIDYATMOJO | RAHMAD GUNAWAN | RAMDANI | RENO ESNIR | RICKY ADRIAN | RINO ANUGRAWAN | RIZKY ARIEFANTO | ROKI PANDAPOTAN | RUTH HESTI UTAMI | SLAMET RIYADI | STEPHANY YAYA SUNGKHARISMA | SURYO WIBOWO | SUSANTO | TAN CHEE HON | THORIQ RAMADANI | TRISNADI | WAHYU PUTRO A | ZHUANG WUBIN | ZUL EDOARDO


Minggu, 12 Desember 2010

Chinesse Food 55

agan harahap
Chinesse Food 55

Di suatu siang, ibu saya berkata :
" Bang, pergi dulu lah kau ke 55, beli 5 nasi goreng dibungkus "
Dan seperti yang sudah-sudah, tanpa banyak bicara dan penuh suka cita,saya pun bergegas pergi ke restoran mungil yang berdiri di pasar Sumur Batu. Tidak jauh dari tempat tinggal kami.

Siang itu, si engkoh juru masak sedang duduk-duduk sendiri sambil mendengarkan instrumen musik khas China. " Nasi goreng haa? Pake babi ? " begitu tanyanya dengan logat Cina yang kental. Dan tanpa banyak cingcong dia segera membuat pesanan saya. Umur si engkoh mungkin saja sudah 60-an. Gerakannya masih gesit.

agan harahap
Si Engkoh dengan sigap memasak pesanan saya

Sambil menunggu pesanan saya dibuat, saya membakar rokok dan ingatan saya pun kembali kebeberapa belas tahun silam.
Itu adalah saat pertama kali almarhum ayah saya 'memperkenalkan' kami sekeluarga untuk pergi makan ke restoran itu. Waktu itu, si engkoh masih dibantu oleh kedua anaknya. Entah kemana anak-anak itu sekarang. Mungkin saja sudah menikah atau merantau pergi ketempat lain, mencari penghidupan yang lebih baik dari sekedar pembuat nasi goreng di pasar yang kumuh itu.
Tidak banyak yang berubah dari bangunan restoran itu. Dapur kecil dimana si engkoh 'mengeluarkan segala jurus-jurus maut nya' tampak masih dekil seperti dulu. Pintu kayu dengan kawat kasa penghalang nyamuk yang menjadi penambung dengan rumah kediaman si engkoh di belakang masih berdiri membisu seperti dulu. Satu hal yang pernah saya ingat, ada sebuah kalender besar bergambar harimau. Yak, kalender itu masih terpampang dengan gagahnya di dinding restoran itu. Kalender itu menunjukkan tahun 1986. Mungkin saja itu adalah tahun dimana restoran itu berdiri. Entahlah..
Pernah juga dulu, saya melihat bahwa restoran itu dijadikan tempat kongkow-kongkow ( baca : bermain judi) oleh orang-orang Cina di sekitar tempat itu. Namun nampaknya kegiatan itu sekarang sudah tidak ada lagi.

agan harahap
masih seperti dulu, kalender bergambar harimau itu pun masih dipajang disana.

Restoran itu cukup terkenal di daerah kami. Selain harganya yang murah, rasa masakannya pun tidak kalah dengan restoran-restoran mahal disana. Nasi campurnya dulu sempat menjadi andalan saya. Nasi putih dengan babi panggang, babi merah dan telur yang disiram dengan kuah kental. Walaupun sederhana dan murah, tapi rasanya sedap sekali. Seingat saya, untuk menu nasi campur selalu saja dikerjakan oleh si enci (istri si engkoh). Tapi saya tidak pernah melihat lagi si enci itu. Mungkin saja si enci sedang sakit, atau bahkan mungkin sudah meninggal. Saya enggan menanyakan kabarnya pada si engkoh. Pernah beberapa kali saya memesan nasi cumpur favorit itu, dan anaknya yang menggantikan si enci membuatkan saya menu itu. Namun rasanya sudah tidak sama lagi. Sejak itu saya tidak pernah lagi memesan nasi campur.

agan harahap
pintu dengan kawat nyamuk yang masih tetap seperti dulu

Lamunan saya terhenti. Pesanan saya sudah siap. Si engkoh membungkus nasi goreng itu dengan daun pisang. Hmm.. Saya rasa hampir tidak ada lagi restoran di Jakarta yang membungkus sajiannya dengan daun pisang.
Musik instrumen Cina itu masih terus diputar. Beberapa pembeli lain datang dan memesan menu favorit mereka, dan si engkoh kembali dengan sigap melayani semua pesanan mereka.

agan harahap

Kamis, 09 Desember 2010

16 September 2010 lalu.. Tanpa kemegahan, tanpa kemewahan, kami melepas kau pak.
Sangat sederhana sekali... Tanpa adat-adat dan tetek bengek yang menyita banyak uang itu.
Entah kenapa pak, saya pun tidak mengerti, tapi hari ini saya merasa sangat sedih sekali.
Bukan hanya saya, tapi Mama dan Riri juga.
Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi hari ini saya merasa sangat teramat kehilangan pak.
Saya (yang selama ini, sangat 'malas' membuka facebook bapak) , entah kenapa hari ini saya iseng-iseng, ingin melihat-lihat, apa saja sih yang bapak pernah posting disana,..
Dan itu membuat saya sangat kehilangan sekali pak..

Pak, Ingat kan, dulu kita pernah saling 'adu banyak ' search nama di google ?
Hari ini, entah kenapa, saya iseng saja menulis nama bapak di google (dan lagi-lagi) , bapak lah yang keluar sebagai pemenang.
Ah pak, jujur saja, baru setelah bapak pergi, saya merasa sangat bangga, bangga sekali punya bapak seperti bapak...Seumur-umur, saya belum pernah merasakan kesedihan teramat sangat seperti sekarang pak,.. Bahkan, di hari kepergian bapak pun, rasa-rasanya, rasa kehilangan saya tidak seperti hari ini...

Saya ingat, beberapa hari sebelum bapak pergi, ditengah batuk-batuk dan muntah-muntah itu, entah kenapa, bapak memeluk saya..Di tengah hangover itu, ketika saya mau pergi ke kantor, bapak menyempatkan memeluk saya. Dan hari ini, terasa sekali pelukan itu kepada saya, pak..

Kemarin, sofa hijau tempat bapak biasa tidur-tidur kalau capek menulis di laptop itu, sudah diganti. Warnanya sekarang sudah berganti jadi kuning cerah. Bolong-bolong bekas bara rokok kita itu sekarang sudah tidak ada lagi. Jujur saja, sebetulnya tidak suka kalau sofa itu diganti. Keinginan saya, biarlah sofa itu tetap ada disitu.
Tadi pagi, mama sempat cerita sama saya kalau dia mulai kehilangan 'bau' bapak. Ah pak,. saya sedih sekali pak,.. Tapi saya yakin, bapak di sana sudah senang,. bapak sedang merokok dan minum kopi paling enak di sana. Bapak sedang sibuk menjalani profesi baru,menjadi 'staff sorgawi' disana..

Oiya, tadi juga saya tidak sengaja dengar lagu ini dari youtube,..

Ditogu Tuhan Jesus au, i do na mangapuli au.
Diganup dalan nang tung maol,tanganna do tongtong huhaol,
Ditogu togu Jesus au, tanganna sai maniop au,
Tongtong ma siseanna au, paima boi tu surgo lao...

Yaa,. bapak tau lah, saya tidak mengerti mengerti bahasa batak, dan saya tidak tahu apa itu arti liriknya.. Setahu saya, itu ada di Kidung Jemaat yang biasa kita nyanyikan.
Bukannya sok 'batak-batakan' , tapi saya ingat,.. 16 September 2010, dan sampai sekarang lagu itu melekat erat di otak ini pak..

Ya sudah pak yah,. Maaf kalau saya terlihat melankolis begini..
Baik-baik lah disana yaa pak,.. Jangan ikut-ikutan stress mikirin kami disini. Kami semua pasti bisa jaga diri baik-baik.
Salam lah buat 'kerabat-kerabat' disana. Cepat atau lambat, kita akan bersama-sama lagi pak.

Anak mu,

Yohanes Paganda Halasan Harahap












" Dulu, kami adalah keluarga yang sederhana, solid dan bahagia. Dan sampai sekarang, dan sampai kapanpun, Keluarga solid nan bahagia itupun akan tetap ada sampai kelak kami bersatu lagi di sana.. Amen.."

Selasa, 07 Desember 2010

(bad) NEWS

agan harahap



agan harahap



BEHIND THE SCENE :
Siang itu saya dan seorang kawan, Andries Sembiring bermaksud untuk membuat sebuah karya fotografi.
Karya ini sedianya akan disertakan dalam sebuah pameran seni rupa di salah satu galeri di kawasan Jakarta. Kami memulai 'prosesi' ini sekitar jam 3 sore dan baru selesai pada jam 11 malam. Ini adalah karya saya yang memakan waktu paling lama dan paling menyita performa otak serta tenaga dalam se-umur hidup saya.
Begitu foto selesai, saya lantas langsung mengirimkannya via e-mail kepada pihak galeri.
Tapi karena suatu sebab,saya dan pihak galeri pun akhirnya memutuskan untuk menggugurkan karya ini. Adapun penyebab pembatalan karya ini adalah dikarenakan oleh kemiripan konsep dengan karya lukis yang pernah dipopulerkan oleh seniman Budi Ubrux.

Berikut karya lukis beliau:


'Kecelakaan' ini cukup mengecewakan saya. 8 jam persiapan dan pemotretan menjadi sia-sia. Akibat kurangnya "jalan-jalan dan melihat-lihat' ,maka konsep koran-koran ini pun bertabrakan.
Mungkin saja statement dan ide pemikiran kami berbeda. Tapi karena sama-sama dengan menggunakan koran sebagai 'alat pegara', maka karya saya pun terasa garing..Untuk itu saya pun memutuskan untuk membatalkan karya ini dan memamerkannya di blog saja..
Kedepannya, saya sebagai 'anak bawang' dalam dunia kesenian ini, harus lebih sering 'menjelajah' agar tidak terjadi kecelakaan-kecelakaan seperti ini lagi di kemudian hari.

Dengan dibantu oleh sahabat saya, Andries Sembiring, maka untuk kesekian kalinya, kami pun kembali 'membuang' masa muda kami dengan sia-sia. Hahaha.
Berikut, adalah persiapan dan pemotretan selama 8 jam yang sangat berkesan.


saya memutuskan untuk membungkus ruangan kantor, TRAX Magz sebagai 'ajang hura-hura dan huru-hara'..


bermodalkan selotip,koran dan tekat bulat, kami pun membungkus ruangan ini.



se koran demi se koran, maka kantor majalah ini pun berubah menjadi koran banget


"saya lama di koran mas.. "





Akibat dari kecelakaan tersebut, saya dan Andries pun mencoba mengobati kekecewaan dengan 'mendinginkan hati dan kepala' kami di sebuah bar kecil di bilangan Wahid Hasyim.
Dan lagi-lagi, bintang-bintang yang bertaburan di sana mampu mengembalikan keceriaan hati kami.

Rabu, 01 Desember 2010

HOLY WAR

agan harahap

Terrorism to some people considered as a holy act. Wrapped in religious dogmas, this act of terrorism is becoming complicated as it sometimes interwoven with political agendas.

The socio-political dynamic in this era of globalization sharpens the conflict of any interest based on different ideological view, the gaps between rich and poor, conservative economic versus so called neo-liberalism, and also what is stated by scholars as clash of civilizations.

Armored by the possibilities of advance technology on communications, information, and weaponry, all the idea even on single living individual is ready to be operated in combative action. All radical actions find its way to act. In this turmoil and delicate atmosphere we now live in.

To die for religion consider holy and can purify ones and or collective sins and for believers in this action they declare war against impurities or any bad influences outside of their religion dogmas. History has its darkest ages that religion became too dogmatic and then corrupted as it was twisted by some of the leaders. Religion is hijacked by the idea to homogenize the world, the universe, into one single belief that claims itself the righteous one.








agan harahap



Behind The Scene :





Jumat, 19 November 2010

Last Words

Beberapa saat,sesudah saya memposting blog terakhir ( catatan-catatan penting), saya mendapat respon dari seorang kawan alm bapak melalui facebook msg, bahwa ternyata bapak pernah membuat sebuah tulisan ttg saya di sebuah milis..
Tulisan ini di buat pada 23 juli, kurang dari 2 bulan sebelum Tuhan memanggilnya untuk di rekrut menjadi 'staff' NYA di surga..

Jujur saja, saya terkejut sekaligus terharu membaca 'kata2 terakhir' beliau..
Bapak yang saya tau, adalah pribadi yang cuek. Saya sama sekali tidak pernah menyangka, bahwa bapak pernah membuat sebuah 'ulasan yg menditel' tentang saya.

Dan ini lah kata-kata terakhirnya untuk saya:



Re: sekolah anak - RE: taruhan ala lapo ini

Ketika anak lelaki saya masih duduk di bangku SD (dia bersekolah di sebuah SDBPK Penabur) kami sering bingung dibuatnya. Dia sering sekali mengalami sakitperut. Kami tidak tahu apa yang menyebabkannya. Tapi kalau melihat erangannyadan keringat yang bercucuran di wajahnya, kami bisa memahami bahwa dia sedang mengalami kesakitan yang parah. Kami membawanya ke dokter anak. Dia diberi obat tertentu. Tapi keluhan itu tetapsaja berlanjut. Kemudian kami membawanya ke spesialis penyakit dalam, dan dokter menganjurkan agar anak itu dibawa ke RSCM untuk dirontgen. Hasil rontgen tidakmemperlihatkan ada yang aneh di dalam perutnya. Dokter pun menjadi bingung. Tapi kemudian, ketika kami sedang berkonsultasi itu, seperti mendapat inspirasi dari langit, dokter berkata, "Tampaknya ini adalah gejala psikis, dan boleh jadi iniada kaitan dengan sekolah. Cobalah kalian tanya dia baik-baik, mungkin ada yangmembuatnya takut dan cemas di sekolah....."

Setiba di rumah isteri saya mencoba mengorek dari anak itu apa sebenarnya yangterjadi di sekolah. Ternyata dia tidak suka dengan guru kelasnya dan tidak suka juga dengan mata pelajaran matematika. Kami pun mencoba menenangkannya danmengatakan bahwa kami tidak menuntut dia untuk memperoleh nilai tinggi dalam matematika. Asalkan dia sudah mengerti sedikit apa yang diterangkan guru, makabagi kami itu sudah baik. Keadaan pun kembali berjalan normal selama satu tahun. Anak itu berhasil naik kekelas IV. Tapi menjelang akhir tahun pelajaran di kelas IV itu, saya dipanggil oleh guru kelasnya. Guru menyampaikan sebuah kabar yang mengejutkan. Ternyata sekolah memutuskan bahwa anak saya (bersama 10 anak lain di kelasnya) memperolehnilai matematika yang sangat jelek, dan karena itu tidak mungkin dinaikkan kekelas V. Guru menganjurkan agar saya mencari sekolah yang lain, dan untuk itu sekolah bersedia mengeluarkan "raport bayangan" yang tetap menaikkan anak saya ke kelas V, dan itu berarti tak perlu harus mengulang kelas.

Pada tahun 1980-an saya adalah orang yang sangat "idealis" dan kaku. Saya tidakpernah bisa menerima cara "tipu-tipu" seperti itu. Bagi saya, kalau anak harustinggal kelas, yah tinggal kelas. Karena itu kepada gurunya saya katakan,"Tidak. Dia tidak perlu pindah ke sekolah lain. Kalau dia memang gagal, biarlahdia mengulang....."Adik saya Ronitua Harahap yang mendengar keputusan itu berkata kepada saya, "Kau kejam. Kau korbankan anakmu demi sebuah sistem pendidikan yang nonsense..." Katasaya kepadanya, "Apa yang nonsense?" Kata dia, "Kalau di sebuah kelas yang hanyaterdiri dari 38 anak, ada 11 anak yang gagal dalam matematika dan harus tinggal kelas, maka saya pikir yang salah bukan si anak, tapi gurunya atau metode pengajarannya...." Saya pikir apa yang dikatakan adik saya itu ada benarnya juga. Tapi keputusan sudah saya ambil, dan susah untuk diubah.

Kemudian semua hal kembali berjalan normal. Anak saya berhasil menamatkan SD,kendati pun dengan nilai matematika yang "pas-pasan". Dan kami pun sudahcenderung lupa bahwa sebenarnya ada yang tidak "kompatibel" antara anak kamidengan sistem pendidikan di sekolah yang katanya elit ini. Oleh karena itu secara tak sadar kami pun memutuskan untuk kembali mendaftar di sebuah SMP yangjuga adalah milik BPK Penabur.

Ketika sedang berdiri-diri di halaman SMP itu, menunggu isteri saya mengurusi pendaftaran, tiba-tiba datanglah sebuah pikiran di kepala saya: "Apakah untuk 3tahun mendatang saya masih juga akan menyiksa anak saya yang tidak terlalu suka dengan matematika ini di sekolah elit yang sangat kompetitif ini?"Saya masuk ke kantor sekolah dan memberi isyarat memanggil isteri saya. "Mana berkas-berkasnya?" tanya saya. "Sudah masuk," kata isteri saya. "Cabut kembali!"kata saya. Isteri saya terbingung-bingung. Lalu dalam perjalanan pulang saya jelaskan apa yang menjadi pemikiran saya itu.

Kami memutuskan untuk memasukkan anak kami di SMP PSKD, sebuah sekolah yangtentu kalah hebat bila dibandingkan dengan BPK Penabur. Tapi setelah anak saya bersekolah di PSKD, kami melihat perubahan yang sangat besar pada dirinya. Diaterlihat lebih rileks, lebih percaya diri dan penuh humor. (Dia punya bakatmeniru-niru gaya dan suara gurunya, dan itu selalu membuat saya tertawa terbahak-bahak). Nilai-nilainya memang tidak istimewa. Tapi bagi saya itu tidak persoalan. Bagi saya yang penting ialah bahwa anak itu sehat secara jasmani dan rohani.

Sejak kecil anak saya berbakat dalam melukis. Lukisan-lukisannya selalu "hidup".Dan ketika di SMP bakat itu semakin terlihat. Dia pandai membuat sketsa wajahorang. (Dan dia paling suka "menjahili" ibunya dengan membuat sketsa lucu ibunya dalam berbagai peristiwa). Saya pikir anak ini akan lebih cocok untuk menjadiseniman, daripada menjadi dokter, insinyur dsb. Ketika masih di SMP ia pernahmengatakan, "Kalau boleh, sih, saya mau jadi fotografer kayak orang di National Geographic itu. Enak sekali kelihatannya. Buka baju sambil mengambil foto dipadang rumput di Afrika..." Dan atas keinginan yang seperti itu tentu saja saya berkata, "Ya, tentu saja. Siapa yang larang...?"

Setelah menyelesaikan pendidkannya di SMA PSKD (bagian sosial budaya) diamengambil sekolah tinggi senirupa. Tadinya dia melamar untuk mengambil jurusan seni rupa ITB. Tapi tak diterima. Akhirnya dia masuk ke Sekolah Tinggi Desain Indonesia (milik gereja Baptis) di Jalan Wastukencana Bandung.Semasa kuliah di Bandung, bakatnya untuk menjadi seniman seni rupa semakinberkembang. Kalau saya berkunjung ke tempat kos-nya, kamar itu selalu penuh dengan berbagai lukisan, buku-buku tentang lukisan dan teknik melukis, dan katalog dari berbagai pameran.Suatu kali secara tak sengaja saya melihat beberapa foto hasil karyanya ditempat tidur. Ternyata dia juga menggemari fotografi. Tapi karena tidak memiliki kamera, dia hanya bisa meminjam milik temannya. Ketika saya menceritakan perkembangan ini kepada isteri saya, tentu saja dia jadi jatuh hati. Diamerelakan tabungannya yang tak seberapa itu untuk dibelikan sebuah kamera yangmerek dan modelnya merupakan pilihan anak itu.

Anak saya menyelesaikan pendidikannya di Bandung selama kurang dari 5 tahun. Kemudian ia kembali ke Jakarta. Mula-mula ia melamar di sebuah perusahaanpenerbitan buku yang memasang iklan di suratkabar untuk mencari seorangfotografer. Tapi ia urung masuk karena merasa tak enak hati. "Boss-nya, yang mewawancarai gue, rupanya kawan Bapak. Katanya, Bapak Lu juga penerbit. Ngapain Lu musti kerja sama gue...."

Akhirnya dia diterima di sebuah studio foto terkenal. Tapi dia tak lama bekerjadi situ. "Darah" senimannya semakin kenal. "Capek gue. Kerja gue memoles-molesfoto orang yang tak tahu apa-apa sehingga jadi kelihatan seperti orang yang tahumain piano, suka membaca buku, sayang sama keluarga......" Dari sana dia pindah menjadi fotografer di sebuah majalah musik. Disamping melakukan tugasnya memotret para artis dan musisi (tugas ini selalu membuat saya deg-degan karena selalu dilakukan pada malam hari di bar dan kafe) maka dia juga terus mengembangkan minatnya dalam fotogarfi. Dia terutama mengembangkan apa yang disebut sebagai "digital art".

Secara perlahan-lahan anak saya membangun karirnya sebagai seniman "digital art". Dia sudah berpameran di beberapa galeri di Jakarta, Bandung dan Jogja. Diajuga sudah diundang menghadiri festival para seniman digital di Portugal. Saya dengar dalam waktu dekat ini dia akan berpameran di Korea Selatan. Namanya pun beberapa kali telah masuk dalam pemberitaan media asing. Beberapa waktu yanglalu dia pulang membawa klipping koran The Guardian-London yang mengulas tentangkaryanya. Dan tentu saja dalam hati saya bangga akan pencapaian itu.Beberapa waktu yang lalu saya mengantarnya untuk mengurusi penjualan fotonya disebuah galeri. Saya terkejut. Ternyata uang yang diperolehnya lumayan besarjuga. Karena itu saya selalu berkata kepadanya, "Jangan boros-boros. Hemat.Kalau memang kau punya uang, simpankan ke Mamak. Dan jangan kuatir, Bapak pastitak akan berani mengutak-ngatiknya...." :-)

Saya selalu "pusing" melihat karyanya. Oleh karena itu sebenarnya saya masih berharap dia juga mengembangkan kemampuan melukisnya. Tapi karena saya sudah ketinggalan jauh dengan dunia yang digelutinya, maka saya hanya bisa memberi saran sambil lalu. Saya sering dimarahinya karena mengatakan, "Sebenarnya apasih maksud foto ini...?"

Itulah sedikit cerita tentang pengalaman saya menyaksikan perjalanan hidup anak saya yang bodoh dalam matematika itu. Perjalanannya tentu masih panjang. Dan selama saya--bapaknya--masih ada di dunia ini maka tentu saja--walau pun diasudah dewasa--saya tak akan bisa lepas dari rasa takut, gembira, bangga, sedihdsb.

Mula Harahap
Fri Jul 23, 2010 9:03