Senin, 30 September 2013

Berziarah Ke Tanah Merah (2)

Surabaya

Saya kembali terguncang-guncang di dalam bus patas. Butuh waktu 4 jam untuk mencapai Surabaya. Narasumber saya di surabaya memang belum memberikan tanggapan atas kedatangan saya. Tapi saya harus tetap ke Surabaya. Karena, untuk masuk ke wilayah-wilayah di Jawa Timur, saya harus mendapatkan izin dari ketua di Surabaya. Saya menghabiskan malam pertama saya di kota Surabaya dengan browsing dan minum bir di kamar hotel. Sinyal XL yang burukpun menambah parah hubungan saya dengan kekasih nun jauh di Kota Kembang.

Keesokan harinya, saya mendapat telepon dari ketua di Jawa Timur. Beliau akan datang dan menjemput saya di hotel, sekaligus mereka akan mengajak saya kepertemuan ex tapol yang diadakan di kantor KONTRAS Surabaya. Setelah memperkenalkan diri di hadapan para sesepuh itu, saya pun duduk dan mengikuti rapat. Rapat itu membicarakan tentang pendataan ulang korban-korban eks 65 karena data yang lama sudah tidak valid. Rapat berlangsung dengan cukup alot dengan berbagai tanggapan yang masuk di akal. Tapi saya tidak begitu ambil pusing. Maklum saja, para peserta rapat itu adalah orang-orang yang rata-rata sudah berusia di atas 70an. Mengingat faktor usia, dan trauma atas siksaan-siksaan yang mereka alami di era 65, wajar saja bila pembicaraan itu terkesan berputar- putar. Rapat ditutup, saya beserta pak Handoko ( ketua Jawa Timur), dan mas Yoyok, seorang anggota termuda berkendara menuju kediaman bapak Oey Hiem Hwie. Seorang ex tapol yang sekaligus tokoh sejarahwan di Surabaya. Entah apa pula maksud mereka mengajak saya kesini. Mungkinkah hendak'mencerahkan' saya, atau malah 'menguji' pengetahuan sejarah saya,.. Entahlah. Saya nikmati saja kunjungan itu dengan riang hati. 


Adapun pak Hwie, (panggilan akrab beliau), pada jamannya adalah seorang wartawan surat kabar Terompet Masyarakat. 
Karena dianggap pro-Soekarno, beliau akhirnya ditangkap dan di buang ke Pulau Buru. Disanalah beliau menjalin pertemanan dengan seorang penulis legendaris yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Dan oleh Pramoedya, beliau dipercayakan untuk menyimpan naskah asli (tulisan tangan dan cetak) beberapa buku-buku Pram. 

Sekembalinya dari Buru, pak Hwie bekerja menjadi tangan kanan Haji Masagung. Pak Hwie diberi kepercayaan untuk mengelola sebuah perpustakaan yang cukup istimewa karena diperpustakaan itu, kita dapat mencari segala buku yang dilarang beredar oleh rezim Soeharto. Tidak hanya buku, diperpustakaan itu (bisa juga dikatakan museum mini), kita pun dapat menyaksikan berbagai memorabilia peninggalan bung Karno seperti foto-foto, catatan pidato sampai poster dan ballpoint. Saya pun semacam mendapat pelajaran sejarah baru yang tidak pernah saya dapatkan di sekolah. Mulai dari 65, Supersemar, bahkan sampai pemberontakan Poh An Tui di Semarang dan etnisitas Wali Songo. Sebagai wartawan, beliau juga pernah berkesempatan untuk mengunjungi Peking ( Beijing) dan berfoto bersama ketua Mao Ze Dong.
Cukup lama kami berbincang-bincang dengan pak Hwie. Tanpa terasa waktu sudah semakin sore dan mas Yoyok harus menjemput anak-anaknya. Malam itu saya tinggal di tempat mas Yoyok. Kebetulan beliau memiliki sejumlah kamar yang disewakan untuk kos-kosan.

Salah satu koleksi pak Hwie ( naskah asli Pramoedya Anantatoer yang dibuat ketika di Pulau Buru)
Saya berfoto bersama pak Hwie
Keesokan harinya, saya dijemput pak Handoko untuk berkeliling kota Surabaya. Kami berdua mengendarai motor membelah kota Surabaya yang panas dan macet. Tujuan pertama adalah penjara Kalisosok. Penjara yang dibangun pada era kolonial ini sudah tidak terpakai. Namun oleh pemerintah bangunannya dijadikan semacam cagar budaya. Namun sayangnya bangunan itu nampak seperti tidak terawat dan kamipun tidak bisa masuk ke dalam. 
Pak Handoko sendiri pernah dipenjara di Kalisosok akibat dituduh terlibat dalam G30S. 
Karena kehidupan di dalam penjara yang begitu berat, hampir ada 4-6 orang yang mati setiap harinya. Bahkan menurut cerita, pernah ada sampai 12 orang yang mati dalam 1 malam. Baik itu karena disiksa ataupun mati karena kelaparan. Adapun para tahanan hanya diberi nasi jagung yang sudah bercampur dengan kerikil dan pasir sebagai konsumsi sehari-hari. 
Pak Handoko pun menuturkan, apabila ada rekan 1 sel yang meninggal, maka rekan-rekannya tidak akan segera melapor kepada petugas. Jenazah itu didiamkan begitu saja sampai beberapa hari agar jatah makanan tidak berkurang. Setelah jenazah mulai membusuk, barulah mereka melapor kepada petugas agar jenazah itu dibawa keluar sel.
Setelah dari Kalisosok, kami kembali berkendara menuju pekuburan umum ditengah kota Surabaya. Kuburan itu bernama Njarak. Pada tahun 65, setiap ada tahanan yang meninggal di Kalisosok, baik itu karena siksaan atau (kebanyakan) meninggal karena kekurangan gizi, pasti dikuburkan di areal belakang pekuburan ini. Saya pergi kesana dan melihat beberapa gundukan-gundukan yang ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Tak hanya itu, di area ini pun tampak juga beberapa nisan-nisan yang tidak bernama. Dulu daerah ini adalah daerah 'tempat jin buang anak'. Begitulah kira-kira istilah Betawi untuk menggambarkan daerah yang sepi dan jauh dari pemukiman. Namun seiring berjalannya waktu, maka daerah sekekeliling pekuburan itu kini sudah berubah menjadi daerah pemukiman padat penduduk. 
Saya dan pak Hadoko kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju ke arah hilir sungai Brantas di pinggiran kota Surabaya. Pak Handoko berkisah, semasa dia di dalam penjara, hampir setiap malam ada saja tahanan yang di 'bon' (dipanggil untuk dipindah). Namun istilah bon itu hanya sebatas istilah saja. Sebagaimana yang sudah diketahui, apabila ada  seseorang yang di 'bon, artinya, keesokan paginya hampir bisa dipastikan kalau ia sudah mati dibunuh. Dan sebagian besar para tahanan yang di 'bon dari Kalisosok, akan berakhir riwayatnya di hilir sungai Berantas ini.
Pada akhir 60-an sampai awal 70-an, hampir semua penduduk Surabaya tidak ada yang mau memakan ikan hasil tangkapan dari sungai Brantas. Konon, ikan-ikan sungai itu tumbuh sedemikian gemuk dan besar karena mengkonsumsi bangkai manusia yang dibuang di sungai Brantas itu.


Salah satu pojok penjara Kali Sosok
Pintu gerbang beserta salah satu tembok dari Penjara Kali Sosok
Suasana di Pemakaman Njarak

Hilir sungai Berantas, pelabuhan terakhir bagi orang-orang yang di 'bon dari Kalisosok.
Sayang sekali saya tidak bisa bercerita banyak tentang sejarah 65 di kota ini. Karena selain materi dan bahan yang saya pelajari sebelumnya, tidak begitu banyak yang menyinggung kota Surabaya. Dan beberapa titik situs yang berkaitan dengan sejarah 65 di kota ini pun sudah beralih fungsi bahkan sudah berubah sama sekali. Tapi bagaimanapun juga Surabaya adalah pintu masuk saya untuk meng-explore lebih jauh ke Jawa Timur. 
Keesokan paginya, ada sms dari pak Handoko, 'Dik Agan silakan menuju Blitar, nanti tinggal cari pak Budi di depan stasiun Blitar. Nanti beliau yang akan mengurus perjalanan anda selanjutnya'. 
Tanpa menunggu lama, mengingat waktu dan biaya yang semakin menipis, saya langsung berpamitan dengan mas Yoyok sang tuan rumah atas kebaikannya meminjamkan kamar kos-kosannya dan segera beranjak menuju terminal Bungurasih untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju Blitar.

Bersambung,..

Berziarah Ke Tanah Merah (1)




"Aku cinta kepada mu.. Tak terbatas waktu.. takkan ada selain dirimuu..dst dst.."

Suara sopran Annie Carrera sayup-sayup terdengar mengiringi perjalanan malam saya menuju Boyolali. waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3 pagi, artinya masih 2 setengah jam lagi saya masih harus menempuh perjalanan ini.
Entah kenapa sopir-sopir bus malam itu gemar sekali memutar lagu-lagu nostalgia yang menyayat-nyayat. Saya teringat suatu masa dalam perjalanan dari Jakarta menuju Sidikalang di Sumatera Utara, ketika itu almarhum ayah saya memutar lagu trio Ambisi berulang-ulang karena keterbatasan radio kami untuk menerima gelombang. Saya yang pada saat itu masih duduk di bangku SMP 'terpaksa' larut dalam nuansa sendu. Dan semenjak saat itu, tidak bisa saya pungkiri, lagu nostalgia dan kerlip pijar lampu-lampu jalan dan dinginnya udara malam adalah sebuah kombinasi sempurna dalam menambah rasa rindu saya kepada si dia nun jauh di Kota Kembang.
Tapi perjalanan ini bukanlah sebuah perjalanan yang ditempuh untuk menemui kekasih. Perjalanan ini saya lakukan untuk menemui seorang yang saya kenal hanya melalui sms. Satu dari sekian banyak orang yang masih menyimpan cerita asli dari sejarah kelam bangsa ini di era 65. Orang itu bernama Supomo. Atau lebih akrab dipanggil pak Pomo. Pada tahun 1965,beliau adalah salah seorang anggota BTI ( Barisan Tani Indonesia) yang ditangkap, dipenjarakan dan disiksa karena dituduh terlibat dalam peristiwa G30S. Dan atas dasar inilah, saya pergi untuk menemui beliau di kediamannya di Teras, Boyolali.


Boyolali Dan Sukoharjo

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi lewat sedikit. Atas instruksi dari pak Pomo,maka saya turun di desa Teras ( beberapa kilometer setelah kota Boyolali). Saat itu masih pagi. Hanya satu dua kendaraan yang terlihat melintas di jalan raya itu. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, ahirnya ada juga utusan yang menjemput saya menuju rumah pak Pomo.
Rumah pak Pomo sangat sederhana namun bersahaja. Di antara foto-foto yang dipajang di dinding, tampak sebuah foto Bung Karno. Sosoknya yang kecil, ramah menyambut saya. Setelah perkenalan, kami pun larut dalam obrolan panjang seputar sejarah dan pengalaman-pengalaman pak Pomo ketika menjalani masa tahanan yang penuh siksaan dan kerja paksa. Untuk seorang yang berusia 70-an, pak Pomo tergolong cerdas dan tetap up to date dalam mengikuti berita. Pak Pomo bercerita tentang bagaimana keadaan pada saat itu. Pak Pomo beserta jutaan korban lain, memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta (G30s). Tiba-tiba saja keadaan menjadi kacau balau. Tentara menangkapi dan membunuh orang-orang yang diduga terlibat dengan PKI. Pak Pomo yang kala itu masih berusia 20-an di tangkap dan disiksa. Tubuhnya pun tak luput dari tebasan dan irisan samurai. Pak pomo lalu memperlihatkan bekas-bekas sabetan samurai itu di tubuhnya. Leher, punggung dan kaki, bahkan kuping pak Pomo pun terbelah karena bacokan samurai. Bersama ratusan korban yang lain pak Pomo pun di masukkan penjara tanpa proses peradilan. Selama menjalani masa tahanan, tenaga pak Pomo pun diperas untuk pembangunan jalan, gedung dan berbagai sarana infrastruktur pemerintah di wilayah itu. Untunglah dengan berkat Sang Khalik, pak Pomo mampu bertahan hidup dan sanggup menceritakan kesaksiannya sebagai korban kebiadaban pada era 65. Saya yang hanya membaca cerita sejarah di buku dan berbagai artikel internet, langsung saja bertanya banyak kepada pak Pomo yang 'khatam' dengan sejarah seputar 65.
Tanpa terasa, 5 jam telah berlalu. Sayapun berpamitan karena saya harus ke Salatiga untuk meminjam kendaraan kepada Yesaya ( sahabat saya yang kebetulan menjadi dosen disana) untuk bisa membawa kami berkeliling meninjau lokasi-lokasi pembantaian massal di seputar Boyolali dan Salatiga. 



Jembatan Bacem - Sukoharjo
Salah satu titik kuburan massal di Gunung Butak

Keesokan paginya, saya kembali ke Teras. Pak Pomo sudah siap untuk mengantar saya berkeliling untuk 'ziarah' ke titik-titik lokasi pembunuhan massal.
Kami berkendara menuju jembatan Bacem di kabupaten Sukoharjo. Di majalah Tempo edisi 'Algojo', reporter memotret reruntuhan jembatan sebagai lokasi pembunuhan orang-orang PKI 65. Ternyata, menurut pak Pomo, reruntuhan itu sudah ada sejak perang dunia ke 2. Jembatan asli di hancurkan oleh pejuang guna memutus jalur transportasi pihak Belanda. Sementara eksekusi itu terjadi justru di jembatan yang sekarang masih berdiri. Saya turun ke sisi bawah jembatan itu untuk memotret sambil membayangkan apa yang terjadi di era itu. Ketinggian jembatan berkisar 20 meter sampai ke permukaan air sungai Bengawan Solo. Setelah memotret beberapa kali, kami pun beranjak pergi menuju lokasi yang lain.


Kami menuju ke arah gunung Butak. Sebetulnya ini hanyalah kawasan pebukitan yang berupa ladang tani yang  mendekati perbatasan Salatiga. Menurut pak Pomo, disini ratusan anggota dan simpatisan PKI telah dibunuh dan di tanam di beberapa titik. Kami pun turun dan memasuki perkebunan itu. Konon, menanam pohon di atas kuburan massal merupakan salah satu cara efektif TNI untuk menghilangkan jejak.
Ketika kami memasuki area tersebut, Pak Pomo tampak berkomat-kamit dalam bahasa Jawa. Entah apa yang diucapkannya, saya tidak mengerti. Beberapa langkah menuju tengah perkebunan itu, kamera saya mendadak mati. Dan tubuh saya lemas diikuti pandangan saya yang mendadak gelap dan berkunang-kunang. Tapi saya tidak begitu mempedulikannya. Berhenti sejenak seraya mencopot batre kamera, dan saya pun mulai memotret lagi. Tidak lama berselang, kamera saya kembali mendadak mati. Dan pandangan saya pun gelap seperti mau pingsan diikuti keringat yang tiba-tiba mengucur dengan deras. Saya tidak mau berlama-lama lagi di gunung Butak. Setelah memulihkan tenanga sejenak, saya langsung bergegas menuju mobil dan  meminta supir untuk segera meninggalkan lokasi itu.

Sebuah makam di Pekuburan Sonolayu

Makam-makam Tionghoa yang berdampingan dengan makam korban 65


Setelah beristirahat dan makan siang, kami menuju ke pekuburan Sonolayu. Menurut keterangan pak Pomo, di belakang pekuburan inilah terjadi pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh aparat. Sekilas pekuburan itu tampak seperti kuburan umum biasa. Namun setelah saya memperhatikan dengan seksama, dibagian belakang pekuburan tersebut terdapat nisan-nisan yang polos tak bernama. Pengurus makam menanam berbagai tanaman seperti singkong dan pepaya di antara deretan makam-makam tersebut. Di beberapa titik saya juga melihat beberapa kendi yang sudah pecah. Saya pun menanyakan kepada pak Pomo, kenapa banyak kendi di lokasi itu. Pak Pomo menjelaskan,  untuk mengidentifikasi kerangka sanak familinya yang dibunuh di tempat itu, keluarga korban menggunakan jasa dukun dan kendi-kendi itulah sebagai media 'identifikasi' nya. 
Selain kuburan tanpa nisan, ada juga beberapa gundukan-gundukan tanah yang terlihat tak wajar. Sebaigan hanya diberikan batu sebagai penanda, dan sebagian lagi dibiarkan begitu saja.
Pada era 90-an, ada sebuah pekuburan Cina yang terpaksa di gusur untuk dijadikan pasar. Dan oleh keluarga, makam-makam itu dipindahkan sehingga 'bertetangga' dengan makam-makam korban 65. Jadi, disela sela detetan kuburan Cina, tampak 1-2 makam tanpa nama. Selain itu, ada juga beberapa makam baru ( yang dibuat sekitar tahun 2000-an). Menurut pak Pomo, banyak keluarga yang ingin dikebumikan bersama-sama sanak famili yang menjadi korban 65. Karena sebagian famili tidak tahu secara presisi kuburan keluarga mereka, jadi anggota keluarga yang baru meninggal dikuburkan saja secara acak disana. Jarak yang kami tempuh hari itu, cukup jauh dan melelahkan. Setelah mengantarkan pak Pomo kembali ke Teras, saya pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke terminal, dan kemudian berangkat menuju Pati.

Pati


"Dik Agan nanti turun di pertigaan Tugu Sukun, Juana Nanti akan ada yang menjemput".
Begitu sms yang dikirimkan oleh pak Pardi, narasumber saya di Pati.

Saya sangat maklum dengan petunjuk-petunjuk yang terkesan misterius seperti ini. Rasa traumatis akibat peristiwa 65 masih sangat membekas di hati mereka. Belum lagi dengan banyaknya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang hanya memanfaatkan mereka demi kepentingan pribadi.

 Tugu Sukun yang dimaksud ternyata sebuah iklan yang menyerupai tugu/monumen yang disponsori oleh rokok merk Sukun. Setelah menunggu beberapa saat, seorang kakek-kakek menghampiri saya. Dengan tatapannya yang tajam dan sura pelan, dia bertanya, "mas dari Jakarta?" Saya cukup gugup dan lantas mengiyakan. Bapak itu memerintahkan saya untuk mengikutinya. Di ujung jalan telah menunggu sebuah mobil yang segera mengangkut saya masuk melintasi persawahan dan ladang Tebu menuju rumah Pak Pardi. Seraya sedikit berbasa- basi, saya pun berkenalan dengan para 'penjemput' saya. Sang pengemudi bernama pak Bambang, dan temannya yang tadi menghampiri saya bernama pak Jasri.


Pak Jasri, Pak Tarub, Pak Bambang, Pak Pardi dan Pak Rasno


Setelah kira-kira sejam terguncang-guncang dalam kendaraan, akhirnya saya sampai di desa Bulumulyo, kediaman pak Pardi. Saya yang tadinya agak sedikit tegang mendadak menjadi santai dan rileks ketika maksud dan tujuan kedatangan saya direstui oleh pak Pardi dan teman-temannya. Di dalam rumah pak Pardi terdapat seperangkat alat tetabuhan khas Jawa. Di rumah itu, saya juga berkenalan dengan pak Tarub. Rekan-rekan sesama ex tapol. Kecuali pak Tarub, Semua bapak-bapak tadi adalah 'lulusan' Pulau Buru. Tidak lama beristirahat, kami semua beranjak untuk langsung menuju lokasi. Lokasi yang kami tuju jaraknya sangat jauh. Pak Bambang dengan tenang mengemudikan kendaraan dan sebagai tamu, saya disuguhi berbagai cerita sejarah yang tidak tertulis yang dialami oleh bapak-bapak itu.Akhirnya kami pun sampai disebuah rumah di pinggir hutan jati. Konon pada era 65, hutan itu dikenal dengan sebutan 'hutan PKI' karena begitu banyaknya korban yang dibunuh di daerah itu. Di rumah itu tinggal seorang kawan mereka yang bernama pak Rasno. Beliau sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Dikarenakan kondisi pak Rasno yang tidak memungkinkan untuk mengantar kami, ditambah lagi siang itu hujan turun dengan lebatnya, maka pemotretan di hutan jati itu terpaksa ditunda.

Lubang-lubang yang sedianya akan dipakai untuk diisi dengan jenazah-jenazah korban 65 tampak dibiarkan begitu saja
Salah satu titik kuburan massal yang tidak ditumbuhi rumput
Setelah bercerita dan berfoto bersama, kami pun melanjurkan perjalanan menuju lokasi kedua.  Jarak yang harus ditempuh tidak kalah jauhnya. Untung saja pak Bambang mempunyai mobil dan stamina yang baik untuk mengantar kami semua. Di lokasi kedua, terdapat 8 lubang untuk mengubur para anggota dan simpatisan PKI dari daerah sekitar itu. Dari 8 lubang yang tersedia, hanya 3 lubang yang diisi jenazah. Dua lubang sudah ditimbun dan ditanami pisang. Sementara 3 lubang lagi dibiarkan menganga begitu saja. Konon menurut keterangan dari pak Pardi, penduduk sekitar tidak berani untuk menutup lobang-lobang tersebut. Bahkan semak-semak rimbun yang menutupi lobang tersebut tidak 'mempan' dibakar.
Cerita 'ghoib' tidak berhenti sampai disitu. Di antara kuburan massal itu terdapat sebuah kubur yang tidak bisa ditumbuhi rumput. Menurut cerita, ada seseorang anggota PKI yang memiliki kesaktian dan terpaksa harus dikubur hidup-hidup disana karena tidak mampu mati ditembak atau diparang. Tidak lama memotret, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Dan kami pun segera berlari menuju mobil dan kembali ke rumah pak Pardi. Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Pak Bambang dan pak Jasri pamit karena perjalanan mereka masih jauh menuju rumah masing-masing.



Para pemusik berfoto sejenak sehabis berlatih di rumah pak Pardi

Rumah pak Pardi cukup asri dan nyaman. Seperti rumah pak Pomo di Boyolali, pak Pardi pun memajang foto Bung Karno di ruang tamunya. Dengan ditemani oleh pak Tarub, pak Pardi pun menceritakan pengalamannya seputar tahun 65 sampai beliau kembali dari pengasingan di pulau Buru. Pak Pardi mempunyai seorang istri dan dua orang anak. Namun, kedua anak pak Pardi bukanlah anak kandungnya. Melainkan anak dari istri pak Pardi dari suami pertamanya. Adapun suami pertama bu Pardi ini adalah sahabat pak Pardi yang pada saat itu sama-sama aktif di organisasi PKI. Tidak seperti pak Pardi yang dibuang ke Buru, suami pertama bu Pardi ternyata dibunuh oleh tentara. Dan sekembalinya pak Pardi dari pulau Buru, pak Pardi pun menikahi ibu ini dan menafkahi keluarga barunya hingga anak-anaknya lulus kuliah dan berkeluarga. 

Hari itu adalah hari Jumat. Dan setiap hari Jumat, orang- orang dari seputar desa itu berkumpul di rumah pak Pardi untuk berlatih bermain gamelan. Selepas maghrib, satu persatu mereka datang memenuhi ruangan tamu. Mengambil posisi di instrumen masing-masing, dan larut dalam irama gamelan yang membius sekaligus menghiasi malam itu. Saya sebagai tamu mendapatkan pengalaman yang sungguh berharga pada malam itu. Tidak hanya gamelan, tapi kerukunan dan keakraban antara warga yang terdiri dari berbagai lintas profesi dan agama. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Para musisi ini pun satu per satu pamit, karena esok hari masih harus bekerja di sawah dan ladang mereka. Akhirnya tinggallah saya, pak Pardi dan pak Tarub. Sambil ditemani kopi panas dan penganan ringan mereka banyak membagi berbagai cerita sejarah pada era 65. 
Adapun salah satu cerita yang menarik saya ialah tentang tarian Anjangsana dan tarian Genjer-Genjer yang dilarang oleh pemerintah, padahal budaya tarian yang hampir punah itu seharusnya dilestarikan dan diperkenalkan demi lurusnya sejarah sekaligus memperkaya khazanah kebudayaan bangsa.
Pak Pardi pun bercerita bahwa rumah kediamannya pernah dijadikan untuk pertemuan eks-tapol se-jawa Tengah. Dalam kesempatan itu, ibu-ibu dari alumni Plantungan ( tempat tahanan perempuan di daerah Semarang) membawakan tarian genjer-genjer yang disaksikan oleh ratusan warga kampung bahkan beberapa aparat dari kepolisian. Pak Tarub menuturkan bahwa tarian yang semestinya dibawakan dengan ceria, berubah menjadi tarian yang mengharukan dan dipenuhi derai air mata karena masing-masing penari dan peserta pertemuan teringat kembali akan masa-masa kelam yang mereka pernah lewati selama puluhan tahun. 

Bersama pak Trub dan pak Pardi

Keesokan harinya hujan kembali mengguyur Pati dan Juwana padahal saya harus melanjutkan perjalanan menuju Jawa Timur sementara pak Pardi harus melayat ke rumah salah satu kerabatnya yang baru saja meninggal di kota Juwana. Setelah mandi dan sarapan, dengan mengenakan matel saya dan pak Pardi memutuskan untuk menempuh hujan menggunakan motor. Saya yang memang kurang lancar dalam mengemudikan kendaraan roda dua itu, terpaksa harus memberanikan diri untuk mengendarainya sebab pak Pardi tentu akan sangat kesulitan bila dia harus berkendara menempuh hujan dengan mengenakan kacamata tebalnya. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, Akhirnya kami sampai di perlintasan bus,di pinggir kota Juwana. Kami bersalaman erat seraya mengucapkan terimakasih dan selamat jalan.

Bersambung,..

Kamis, 29 Agustus 2013

METALLICA - Kebon Kosong, Kemayoran 2013



Seperti kata peribahasa lama, " Ada uang, abang disayang. Tak ada uang, abang ditendang". Kurang lebih seperti itulah yang saya alami.

Saya teringat pada masa-masa kejayaan saya dahulu, ketika uang bukanlah suatu masalah bagi saya. Ketika uang menjadi kekuatan utama saya, maka secara otomatis saya pun terseret masuk ke dalam dunia selebritas yang gemerlapan dan terkadang menyilaukan banyak mata. Musisi, bintang film, atlet, sampai para politikus kelas dunia pun rasa-rasanya hampir tidak ada yang tidak saya kenal.

Awal perkenalan saya dengan Metallica, dimulai pada medio 2009.  Seorang model yang kebetulan dekat dengan saya, mengajak saya untuk menemaninya menghadiri sebuah party yang diadakan oleh Lars Ulrich (drummer Metallica). Sebagaimana yang kita ketahui, selain penggebuk drum di band nomor 1 dunia, Lars pun seorang kolektor karya seni rupa. Wajar saja kalau saya dan Lars lekas menjadi seorang karib. Bisa dikata, di tiap party yang saya hadiri, pasti akan ada Lars.
Teman-teman Metallica yang lain, James Hetfield, Kirk Hammett dan Robert Trujillo sudah menganggap saya seperti saudaranya sendiri.
Apapun kesulitan yang mereka alami, baik itu dari segi keuangan sampai masalah-masalah pribadi, saya selalu siap untuk mendampingi dan membantu mereka.

Kedekatan saya dengan para personel Metallica secara otomatis membawa saya ke dalam kancah pertemanan yang lebih luas dan brutal lagi. Alkohol, narkoba sampai seks bebas sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi saya. Akibatnya, saya menjadi tidak konsisten dalam bekarya dan ini berdampak buruk pada keuangan saya. Pertemanan serta gaya hidup jetset yang saya jalani, mau-tidak mau menguras segalanya. Harta kekayaan yang saya kumpulkan dari hasil memotret selama ini, habis begitu saja dalam sekejap.
Teman-teman dari Metallica menyatakan kesediannya untuk membantu saya dengan menjadikan saya sebagai oficial fotografer mereka. Bahkan Lars Ulrich sempat meminta saya secara pribadi untuk menjadi art advisor baginya. Namun saya tidak mau merepotkan dan membebani mereka. Saya tahu bahwa kapasitas saya bukanlah disitu. Dan saya berprinsip tidak mau hidup dari rasa iba dan belas kasihan orang lain. Maka walaupun pedih, saya secara perlahan-lahan pun menarik diri dari dunia musik dan hiburan yang selama ini turut membantu karier saya.
Di tengah beban perekonomian yang semakin menghimpit, maka saya memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dan mencoba untuk memulai lagi kehidupan saya dari awal.

Saat ini saya tinggal di sebuah apartemen sederhana di bilangan Kebon Kosong, Kemayoran. Sudah beberapa tahun belakangan ini saya mulai kembali menata kehidupan saya yang sempat carut-marut.
Bagi beberapa sahabat karib yang sempat berkunjung ke apartemen saya, mungkin merasa bingung  dan heran akan 'perbedaan' hidup yang saat ini saya jalani. Hampir tidak ada perabot mewah di apartemen saya. Hanya ada sebuah kompor kecil, lemari, 1 kasur tanpa tempat tidur dan sebuah komputer sederhana untuk menunjang pekerjaan saya. Oiya, dan saya baru saja membeli kulkas.

Bersama James Hetfield dan Lars Ulrich  - circa 2010
Waktu menunjukkan pukul 00.17 WIB. Saya yang baru saja selesai menyantap indomie masih memantau sosial media seputar konser akbar Metallica di GBK yang baru saja usai. Menurut beberapa praktisi musik tanah air, konser itu merupakan konser termegah yang pernah berlangsung di negara ini. Walaupun punya keinginan yang cukup menggebu-gebu untuk kembali menyaksikan sahabat-sahabat saya beraksi di atas panggung, namun saya tidak dapat hadir di pagelaran akbar tersebut karena (jujur saja) keterbatasan biaya. Sebatang rokok saya nyalakan guna mengusir bosan dan gelisah yang bergemuruh di dada.

" Ndrrttt..ndrttt.." Handphone saya bergetar tanda ada SMS yang masuk. Di layar monitor tampak sebuah nomor yang tidak saya kenal. Biasanya saya selalu mengacuhkan SMS dan tidak pernah mau mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal. Maklum saja, saya pernah punya pengalaman traumatis karena diterror oleh debt collector guna mempertanggung jawabkan segala hutang piutang saya.

Selamat malam mas Agan, saya G*n*w*n  (sengaja namanya saya samarkan) dari B*l*k R**k E*t*rt*i*n*e*t. Saya diminta oleh James Hetfield dari Metallica untuk meminta alamat mas. Karena beliau hendak berkunjung. 

Di bawah kalimat dalam SMS itu ternyata terdapat sebuah foto. Sebuah foto dari seorang sahabat lama yang jauh-jauh dari negri Paman Sam hendak berjumpa dengan saya.
Sejujurnya, ada setitik rasa curiga ketika saya membaca SMS dan melihat fotonya. Sempat terlintas apakah ini perbuatan dari orang-orang yang menaruh dendam atas perbuatan saya dahulu. Ataukah ini hanya perbuatan dari handai taulan yang iseng. Setelah bergumul dalam hati, akhirnya sayapun membalas sms tersebut dengan memberikan alamat apartemen saya beserta ancer-ancernya

James Hetfield beserta pesan singkatnya untuk saya

SMS yang saya kirimkan ke nomor yang tidak dikenal itu tidak berbalas. Satu jam lebih saya gelisah menunggu di apartemen. Satu-satunya sms yang masuk adalah dari ibu saya yang mengucapkan selamat tidur dan agar saya jangan lupa berdoa.
Walaupun kehidupan saya jauh dari kesan religius, namun saya pernah dibesarkan dalam keluarga Kristen yang cukup taat. Ditambah lagi dengan berbagai kesulitan yang saya hadapi belakangan ini, maka sebagai seorang ibu, sudah sewajarnya beliau kerap kali menasihati saya agar tetap berserah diri dan sabar menghadapi segala cobaan ini.

Pukul 01.55 suara bel apartemen saya berbunyi. Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. James datang ditemani oleh seorang crew dari B*l*k R**k E*t*rt*i*n*e*t  yang memegang sebah kamera pocket guna mendokumentasikan kegiatan Mettalica selama di Jakarta. James yang memang sudah menganggap saya sebagai saudaranya sendiri tampak berkaca-kaca melihat kenyataan hidup yang saya alami kini.  Tak lupa James menyampaikan salam dari rekan-rekan sejawatnya di Metallica yang kebetulan berhalangan hadir. Sebuah pertemuan yang cukup mengharukan.
Tangis haru segera berganti dengan keceriaan ketika saya dan James mulai bercerita tentang kegilaan-kegilaan masa lalu yang pernah kami lewati bersama. Namun kini itu semua hanya tinggal cerita saja. Baik saya maupun James udah berubah, kami tidak bisa dibilang muda lagi. Kami sudah memulai untuk hidup lurus, menjauhi narkoba dan pesta pora serta lebih mendekatkan diri pada Sang Khalik.

Perjumpaan antara dua sahabat yang sempat terpisah lama


Banyak hal yang kami perbincangkan dalam kesempatan yang berbahagia itu.  Mulai dari pawai FPI yang baru saja berlangsung siang tadi, suasana panggung politik di Senayan, sampai pada musisi lokal tanah air.
Tanpa disangka  James ternyata memiliki ketertarikan yang cukup besar pada geliat musik dalam negeri. Wajar saja, namanya juga musisi. James, yang notabene seorang penggemar musik country, punya rasa ingin tahu yang cukup besar terhadap band-band tanah air yang setia mengusung musik country.

JH: 'Dude, please tell me more about Coboy Junior! Are they good? Because i love country music! And I'm a big fan of Willie Nelson, Dolly Parton and Shania Twain! Ucapnya antusias..

Setelah saya menjelaskan lebih lanjut tentang grup musik Coboy Junior dan sepak terjangnya di blantika musik Tanah Air, James hanya terdiam kecewa sambil menatap kosong.
Kekecewaannya berlanjut ketika saya bercerita tentang grup vokal Coboy ( boyband 90-an yang digawangi oleh Ali Mustafa, Gilbert, Ponco, dan Fery) ternyata tidak membawakan musik country. 

JH: 'Dude, do you have something to drink? I'm thirtsy man.. I haven't drink anything since the concert'. Ucapnya memotong penjelasan saya.

Me: 'Well, Im sorry man, I dont know you would come. And I don't prepare something good for you. I only have a vodka.

Saya lalu mengeluarkan beberapa botol vodka gepeng Mansion House yang sengaja saya simpan untuk moment-moment khusus seperti ini. Maklum saja, dengan keadaan ekonomi seperti sekarang, saya hanya mampu untuk membeli yang vodka murah namun cukup ampuh untuk menceriakan hidup.
James nampak sejenak agak terlihat enggan untuk meminum vodka gepeng yang saya suguhkan. Namun dengan didasari oleh rasa persahabatan dan masa lalu, maka kami pun meminum air api itu.



Ekspresi James ketika saya menghidangkan vodka gepeng

Gelas-demi gelas meluncur mulus membasahi tenggorokan kami. Didasari oleh rasa penasaran yang begitu tinggi terhadap band Coboy Junior, maka James memohon kepada saya untuk memutarkan lagu-lagu mereka.

"Kenapaa De lagi de lagi de lagi.. Kok gak er er.. Er er.."
( adapun D dan Rr adalah kode yang menunjukkan sudah dibacanya atau belum dalam sebuah pesan blackberry messenger)

Lagu 'Kenapa Mengapa' dari Coboy Junior menghentak keras dari komputer di kamar saya. Dan James yang sudah mulai oleng tampang ber-headbang mengikuti irama musik pop anak-anak itu.
James ternyata sangat kagum dengan sistematika penggunaan gadget (blackberry) dalam lirik lagu itu. Menurutnya, ini adalah lagu yang cukup kontemporer, ketika anak-anak sedini mungkin dapat berkenalan dan bersahabat dengan teknologi yang dapat memudahkan kehidupan ini.

JH: 'Dude, this is not a country music! But they're awesome man!'

Katanya sambil tetap menggoyang-goyangkan kepalanya (headbang).

Menurut James, andai saja Coboy Junior memulai karier mereka di Amerika, tentu nasib mereka akan berbeda dari sekarang. James yang sudah mulai melantur berbicara banyak seputar lirik melayu yang menurut nya cukup puitis dalam menyampaikan pesan dalam musikalitasnya. Dalam satu kesempatan di malam yang berbahagia itu, James pun menyatakan keinginan terdalam dari dasar lubuk hatinya untuk berkolaborasi dengan musisi tanah air. Sambungnya lagi, dalam beberapa pagelaran beberapa tahun lalu, Metallica pernah mencoba membawakan lagu berbahasa Indonesia, dan mereka pun menuai tanggapan positif dari para penggemar dan kritikus musik dunia.

Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi kurang. James harus segera berangkat untuk pulang ke negaranya.

"James, We should stop this alcohol..It's not good for our health. And we're not young anymore". Saya mencoba untuk menyadarkan James akan bahaya alkohol bagi orang-orang yang seusia dia. James yang sudah mabuk berat dengan sengit menanggapi nasihat saya " Like I caree..?!?!  Bring me that f*ckin vodka!! "
Atas nama pertemanan, saya dengan berat hati kembali membuka botol ketiga. Botol terakhir dari persediaan saya di lemari. Sepengetahuan saya, James sudah berhasil mengurangi kecanduannya terhadap alkohol dan narkoba serta sudah memulai kehidupan yang menyehatkan. Saya tidak mau dicap sebagai orang yang menjerumuskannya kembali ke dalam bahaya mirasantika dan maksiat.
Sembari menemaninya minum, saya berupaya untuk kembali membawanya ke jalan yang lurus sekaligus menyadarkannya dengan siraman rohani semampu saya.
Saya mencoba mengingatkannya tentang hakikat kita hidup di dunia fana ini, serta tanggung jawab kita pada Sang Pencipta saat ajal kelak akan menjemput kita.
James Hetfield yang walaupun sudah mabuk berat, sesekali menganggukkan kepalanya tanda setuju.


James pun akhirnya mabuk tertidur setelah menghabiskan 3 botol vodka gepeng

" Sio mama e....beta rindu mau pulang'e
Sio mama e....mama su lia...kurus lawang'e
Beta balom balas mama...
Mama pung cape sio dolo'e
Sio Tete Manis'e, jaga beta pung mama eeeee... " 

Tanpa sengaja playlist lagu di komputer saya memutar lagu Sio Mama. Lagu yang berbahasa Maluku itu menceritakan tentang kerinduan terhadap ibunda yang jauh di desa. James dengan terbata-bata tampak mengikuti lagu yang cukup cathcy itu..
Setelah saya menjelaskan isi dari lagu tersebut, saya melihat setitik air mata yang jatuh dari sudut matanya yang terpejam..

JH  : " Dude, this song is killing me softly..  I miss my mommy,.. I wanna go home.. " ujarnya pelan.
Me : " Relax James, you can stay here for a while until you get sober.. "

James yang sudah sangat mabuk, membuka sedikit kelopak matanya dan menatap saya dalam-dalam.
"Hey dude,.. Torang samua basudara.. "  ucapnya perlahan dengan logat Inggrisnya yang kental. Lalu James pun kembali tertidur.
Saya cukup kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya itu. Entah darimana pula dia bisa-bisanya berucap dengan bahasa Maluku. Memang ada-ada saja hal ajaib yang terjadi ketika kita sedang mabuk.

Langit sudah mulai terang dan James masih tertidur di meja makan. Saya hanya dapat duduk diam menghela nafas panjang sambil berdoa dalam hati agar kedatangan Metallica di Jakarta serta perjumpaan kami malam ini setidaknya tidak berdampak buruk pada karier musikalitas mereka di masa yang akan datang..

Amin..

Kamis, 11 Juli 2013

KUOTA #4 : Kepingan



Karya seni rupa di sekitar kita – setidaknya sejak dekade 70an- makin tampak sebagai tanda kehadiran atau presentasi yang jamak. Ungkapan rupa tidak melulu menampilkan diri sebagai yang utuh atau tunggal, yang tak terbagi. Sebaliknya, seniman kerapkali menampilkan strategi artistik yang mengesankan rupa himpunan bagian, kepingan atau penggalan. Presentasi yang satu atau yang amung, yang cenderung mengesankan kehadiran yang serba-singular menjauh dari penglihatan kita. Presentasi yang tunggal digantikan oleh rangkaian yang saling terhubung, fragmentaris, yang sambung-putus, mengesankan tata ungkapan rampak (selaras).
Melalui ungkapan rupa yang jamak, tampillah karya-karya yang mengandung ungkapan baru, seperti misalnya karya rangkaian atau serial, perulangan, sebagai himpunan acak kepingan-kepingan atau serangkaian salinan. Kepingan-kepingan sebuah karya menunjukkan relasi analogis (menampilkan segi-segi kesamaan dan kebedaan), sekaligus setara-makna, atau merepresentasikan satuan makna di dalam kepaduan mata-rantai makna-makna. Pokok soal karya tidak lagi tampak sebagai satuan yang cukup diri, tetapi mengandaikan faktor pembagi. Bagian diperlukan untuk keseluruhan, tapi bagian seolah-olah bisa dibaca sebagai keseluruhan. Agaknya, presentasi tidak sekadar soal bagaimana sesuatu ditampilkan, tetapi menyangkut asosiasi dan mediasi pemaknaan. Dengan kata lain, strategi presentasi mirip dengan tata bahasa yang memungkinkan hadirnya makna pada tuturan atau bahasa.
Apakah dilatari oleh ungkapan subjek-kedirian traumatis, kesadaran reproduksi-mekanik, pendayagunaan efek-efek simulakra, karya-karya kepingan menuntut cara melihat kita yang baru.
Melalui cara pandang itu, Langgeng Art Foundation/ LAF mengundang sejumlah seniman untuk menampilkan karya-karya mereka pada pameran “Kuota #4 -Kepingan”.
“Kuota” adalah sebuah proyek kilas balik, sebuah pameran tentang pameran, untuk mengamati kecenderungan tertentu karya-karya seniman Indonesia dalam dua tahun terakhir ini (2011-2013). Proyek ini diinisiasi oleh Langgeng Gallery sejak 2005 dan kini “Kuota #4 – Kepingan” diselenggarakan dan didukung oleh Langgeng Art Foundation (LAF).


SENIMAN
Agan Harahap
Albert Yonathan
Aminuddin TH Siregar
Anang Saptoto
FX Harsono
Maria Indria Sari
Nasirun
Theresia Agustina Sitompul
Tromarama

KURATOR
Hendro Wiyanto