Rabu, 13 Oktober 2010

AK-47

agan harahap

Ak-47 ( Weapon series)
neon box , 150 x 60.5 x 20 cm


During the Cold War, the Soviet Union, China, and the United States provides equipment and technology to countries with their allies, along with the rebel forces they support. At that time the spread of large-scale AK-47 by the Soviet Union and China to countries and groups with pro-communists, such as the Nicaraguan Sandinistas and Viet Cong. AK-47 design spread to 55 armed forces of the world.

The spread of the AK-47 is not only seen from the numbers alone, the AK-47 is in the flag and coat of arms of Mozambique. Also found on the coat of arms of Burkina Faso, and the flag of Hezbollah. "Kalash", short for "Kalashnikov", is used as the name for boys in some African countries.

Senin, 04 Oktober 2010

Daegu, Korea

Setelah 6 jam terhempas oleh turbulance dan terkatung-katung di awang-awang, akhirnya saya mendarat pada jam 7 pagi di bandara Incheon, South Korea.
Untuk saya yang tidak biasa menggunakan AC, udara pagi itu cukup dingin. Bersama seorang kawan, Angki Purbandono, seorang kampiun fotografi kontemporer Indonesia, kami berdua diundang untuk menghadiri Daegu Photo Biennale 2010. Sebuah acara perhelatan fotografi terbesar se Asia.

Heejun Park, salah seorang panitia yang menjemput kami di bandara mengatakan bahwa kami adalah peserta pertama yang datang untuk menghadiri biennale itu. Sementara ia masih menunggu beberapa peserta lain yang akan berdatangan dari seluruh penjuru Asia.
Sementara kereta kami menuju Daegu baru akan berangkat pukul 6 sore. Untuk itu, kami memutuskan untuk sekedar 'meninjau' kota Seoul yang sedemikan besarnya dengan sedikit waktu yang tersedia..

Indonesians @ Incheon intl airport


Kawan saya Angki, sebetulnya pernah residensi selama 1 tahun di Seoul, tapi sejak 5 tahun yang lalu, tentu saja sudah banyak perubahan yang terjadi..

Dengan jalur subway yang cukup rumit dan sulit dimengerti, wajar saja kalau kami kebingungan.


Dari stasiun ke stasiun, akhirnya kami pun sampai di sebuah distrik yang cukup menyenangkan ( saya lupa namanya)



Udara yang dingin, ditambah lagi kondisi fisik yang terus merosot karena kami banyak berjalan kaki, otomatis membuat perut kami lapar. Kami pun memberanikan diri untuk mencoba memasuki 'warteg' disana dan mencicipi makanan khas Korea. Tak lama setelah kami memasuki tempat itu, tampak beberapa pekerja konstruksi bangunan yang bergabung bersama kami untuk bersantap siang. 'Warteg' itu cukup mewah ( untuk ukuran saya), dengan suasana yang bersih dan menyenangkan, serta makanan yang sangat lezat ( lagi-lagi ini menurut ukuran saya)..




Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke daerah yang dipenuhi dengan bar,club dan tempat hiburan malam ( lagi-lagi saya lupa nama kawasan itu). Semacam jalan Jaksa, namun lebih luas dan lebih terorganisir. Sayangnya, waktu masih menunjukkan pukul jam 1 siang ketika kami mendaratkan kaki disana. Sungguh alangkah menyenangkannya apabila kami berada disana malam hari. Tentu banyak pengalaman-pengalaman menarik yang akan terjadi disana.


Ada saja 1-2 bar yang sudah buka di siang hari. Walaupun masih 'pagi' untuk minum-minum, tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan untuk sekedar mencicipi berbagai 'menu' yang tersedia disana.



Setelah merasa sedikit lebih 'segar', kami pun kembali menjelajah kota Seoul. Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Kami harus segera bergegas menuju Seoul Station. Sebetulnya, apabila saja kami paham akan rute kereta, mungkin jarak yang jauh itu cukup bisa ditempuh dalam waktu setengah jam saja. Tapi kami tidak takut.. Dengan percaya diri yang cukup tinggi, kami, 2 orang Indonesia yang sok tau itu mencoba kembali menjelajah kota Seoul.

"mesin penjual kondom otomatis" ( diucapkan dengan suara Doraemon)






tukang 'gorengan'


skip..skip..skip. .


Daegu City

Setelah mengalami berbagai 'perjuangan' berpacu melawan waktu, akhirnya kami pun tiba di Daegu.
Daegu, adalah sebuah kota ke-2 terbesar di Korea setelah Seoul. Di kota inilah tempat dilangsungkannya perhelatan fotografi terbesar di Asia. Daegu Photo Biennale 2010.
Saya, bersama 244 fotografer lainnya dari 22 negara di Eropa dan Asia berkesempatan untuk berpameran di kota ini.
Setelah tiba di hotel dan melepas penat sejenak, maka kami berkumpul di loby untuk meneruskan acara dengan makan malam di sebuah bar kecil di tengah kota Daegu.

Angki, Li Wei, Saya, Wang Qinsong dan Chen Jiagang

acara ramah-tamah yang menyenangkan

saya dan Wang Qingsong


Dan acara pun semakin 'ramah' lagi


Satu-persatu partisipan mulai mengundurkan diri dalam acara 'ramah-tamah ' tersebut, namun saya dan beberapa fotografer lain bersikukuh untuk mengikuti 'prosesi' sampai tetes penghabisan.

semakin lama, semakin 'ramah'


Dan malam panjang itu pun diakhiri dengan berfoto bersama



Jam 10 pagi, kami sudah dibangunkan oleh panitia untuk city tour di kota Daegu, melihat-lihat beberapa galeri dan art center yang juga merupakan bagian dari Daegu Photo Biennale 2010. Sungguh senang rasanya, saya sebagai 'anak bawang' di kancah fotografi dapat berpartisipasi dalam acara 'kumpul-kumpul fotografi' berskala besar seperti itu.

Jalan-jalan yang menyenangkan




Selah dirasa cukup kami berputar-putar di kota Daegu, maka panitia pun membawa kami menuju perhelatan fotografi terbesar di Asia. Bertempat di Daegu Culture and Arts Center, disini lah tempat kami menunjukkan 'hasil kerja keras kami' selama ini.






dilanjutkan disini :

http://melmanandthehippo.blogspot.com/2010/10/daegu-photo-biennale-2010.html

Minggu, 03 Oktober 2010

Daegu Photo Biennale 2010

agan harahap

Daegu Photo Biennale adalah ajang festival fotografi terbesar di Asia yang pertama kali diadakan tahun 2006. Acara ini diselengarakan di Daegu Culture and Arts Center, Bongsan Culture Center dan beberapa galeri lain di kota Daegu, Korea Selatan.

Dengan tema “true(E)motion,” or “Landscape Calling Us,” festival tahun ini memperkenalkan foto-foto yang menunjukkan sudut pandang yang menarik antara manusia dan lingkungannya. Tema yang memiliki multi arti antara 'E' untuk emosi dan 'E' untuk ekologi dan lingkungan. Terdapat 245 fotografer dari 22 negara di Eropa dan Asia memamerkan karya-karya terbaik mereka.

Festval ini dibagi menjadi beberapa section.

"Asia Spectrum " adalah salah satu 'special exhibition' yang diikuti oleh 23 fotografer yang berasal dari negara-negara Asia seperti Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, China, Jepang dan Korea. Section ini mencoba mengetengahkan trend fotografi terbaru di Asia.

"Speaking Out Peace " adalah 'special exhibition' lainnya yang diadakan di sebuah hall sendiri memamerkan karya foto-foto dokumentasi perang dari fotografer legendaris Robert Capa.

Ada juga satu section terpisah yang memamerkan karya dari "Helsinski School". Fotografer-fotografer kontemporer lulusan dari University of art and Design Helsinski , sebuah sekolah seni yang paling bergengsi di Finlandia yang telah berdiri sejak 140 tahun yang lalu.

Dua sections lainnya adalah ― “Seconds of Life” and “Breaking the Edge” ― masing-masing berfokus pada hubungan antara manusia dan lingkungannya. Aneka karya-karya fotografi dan video dengan mengeksplorasi beragam gambar realistis dan fiktif ditampilkan dalam section ini.

prescon, opening ceremony and blablabla..










ASIA SPECTRUM :

( me, my friends and their works )



Wang Qingsong


Kim Joon


Angki Purbandono


Shoei Nishino and Maleonn


Li Wei


Takashi Homma


Yoo Hyun Mi


About Me And My Superhero :




Helsinski School :

Noomi Ljungdell


Hannu Karjalainen


Heli Rekula


Nelli Palomaki


Ulla Jokisalo


Salah satu peserta Daegu Photo Biennale 2010 :



Berikut, adalah beberapa karya foto dari section lain yang cukup menarik menurut sudut pandang saya :

Adam Panczuk and Danielle Van Ark


Denise Gruenstein and Ori Gersht


Ryu Ho-Yeol


Yeorrock and Koo Sung Soo


Yoon Jeong Mee


Saya sebagai 'new comer' dan salah satu perserta yang paling muda dari "Asia Spectrum" sungguh berbangga hati dapat berpameran bersama kampiun-kampiun fotografi Asia yang sudah malang melintang di ranah fotografi kontemporer dunia. Beberapa nama besar Asia seperti Wang Qingsong, Li Wei, Maleonn, Sherman Ong, Angki Purbandono, Shoei Nishino, Manit Sriwanichpoom, serta beberapa 'jagoan-jagoan' lain dapat bersama-sama di bawah satu atap menunjukkan karya-karya mutakhir mereka dalam perhelatan foto terbesar di Asia ini.

Rasa-rasanyawaktu 1 hari tidak akan mungkin untuk menikmati ribuan karya-karya foto mutakhir yang dipamerkan di main hall exhibition (saja). Belum lagi belasan pameran foto lain yang diselenggarakan di berbagai tempat dan galeri-galeri yang tersebar di penjuru kota Daegu.
Namun, dalam waktu 1 menit, saya sudah bisa untuk merasa iri apabila membandingkannya dengan pameran-pameran fotografi atau seni rupa yang berlangsung di Indonesia. Dengan segala daya upaya, mereka mampu mengangkat derajat fotografi sehingga bisa mendapat porsi tersendiri dan berdiri sejajar dengan karya-karya seni rupa lainnya.

Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? entahlah..
Dengan mentalitas dan berbagai sumber daya yang masih jauh tertinggal, rasa-rasanya memang tidak mungkin untuk negara kita membuat perhelatan fotografi akbar semacam ini.

Akan tetapi, dari jauh lubuk hati yang paling terdalam, besar harapan saya agar di kemudian hari negara kita mampu mendapat pengakuan dan kepercayaan dalam kancah internasional dengan menyelenggarakan event-event budaya seperti ini dan negara kita dapat berdiri sejajar dengan negara-negara lainnya di dunia.

Terimakasih

Agan Harahap