Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri superhero. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri superhero. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2009

SUPERHERO

For me, Nowadays, history/war is only the news on the television or newspapers or some borring lessons in a class room.
War (or History), also being modified into many cultural aspect of human being like a movie,novel, game, even art work..

Superhero is a portrait of now generation who 'enjoy' war/history as entertainment of our daily lives without care about the actual impact.
We see and we know about a history trough 'borring lessons',movie,game , etc..

Sometimes maybe we a concerned and felt pity for a moment, and then, ..we forget about it..


Stolen Art at Neuschwanstein Castle, 1945

Soldiers from the 7th US Army carry the priceless artworks down the steps of Meunschwanstein Castle where hoards of European art treasures, stolen by the Nazis, were hidden during World War II.



Soldats américains se livrant à des combats de rue, avenue de Paris, Cherbourg-Normandy 1944



Curtis Bay
Navy Coast Guard, in October 1943



Following the unconditional surrender of the Wehrmacht which went into effect on 8 May 1945, some Wehrmacht units remained active, either independently (e.g. in Norway), or under Allied command as police forces.[7] By the end of August 1945, these units had been dissolved, and a year later on 20 August 1946, the Allied Control Council declared the Wehrmacht as officially abolished



Fidel Castro - MATS Terminal Washington 1959



Conference of the Big Three at Yalta makes final plans for the defeat of Germany. Here the "Big Three" sit on the patio together, Prime Minister Winston S. Churchill, President Franklin D. Roosevelt, and Premier Josef Stalin. February 1945.



Afghan resistance fighters returning to a village destroyed by Soviet forces, 1986



He gives the order of the Day : 'Full victory-nothing else !' to paratroopers in England, just before they board their airplanes to participate in the first assault in the invasion of the continent of Europe.

Greenham Common Airfield in England about on June 5, 1944.


Superhistory.


by : Yesaya Sandang

Sejarah, konon ditulis oleh pihak yang menang. Oleh karenanya sejarah bisa jadi sepihak bahkan semena-mena. Jean Francois Lyotard (1924-1998) salah seorang pemikir postmodern mencoba keluar dari pandang tersebut dengan memandang sejarah sebagai kesatuan yang saling tergantung, atau sebagai serangkaian peristiwa aksidental yang mungkin saja memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak diharapkan. Artinya, sejarah disini merupakan suatu jalinan cerita-cerita yang seharusnya diproduksi oleh banyak pihak, bukan pihak yang menang saja. Lebih jauh ia berpendapat bahwa kita tidak dapat lagi mengandalkan narasi besar ataupun cerita-cerita yang bertujuan untuk mengungkapkan kedalaman makna dan tujuan dari sejarah dunia secara sepihak. Dalam masyarakat dan budaya kontemporer, masyarakat post-industri, dan budaya postmodern, pertanyaan legitimasi pengetahuan (sejarah) dirumuskan dengan model yang berbeda. Narasi besar (grand narative) telah kehilangan kredibilitasnya, apapun model unifikasi yang digunakannya (Lyotard, 1984).

Salah satu narasi yang mengiringi sejarah umat manusia adalah perang. Perang adalah antitesa dari perdamaian. Perdamaian hanyalah perang yang tertunda, demikian ujar Machiavelli. Perang selalu sarat dengan perayaan akan kematian, ia selalu meminta korban tanpa pandang bulu. Tak ada yang baik dari perang karena ia hanya hanya berujung pada kehancuran. Namun toh perang selalu hadir menghiasai perjalanan sejarah umat manusia. Disini fotografi hadir sebagai salah satu media yang mengabadikan momen-momen dalam peperangan. Secara monumental, Robert Capa adalah salah satu sosok yang menjadikan fotografi sebagai penanda perang. Dalam esainya yang berjudul The Great War Photographs: Constructing Myths of History and Photojournalism, Michael Griffin mengutarakan bahwa gambaran dalam salah satu foto Robert Capa yang terkenal dengan judul The Death of Loyalist Militiaman sebagai ”non-specific encapsulation of an idea that transcends the moment or specific instance of the subject of the photo”. Dengan kata lain foto tersebut mampu keluar melampaui dari momen atau kejadian spesifik dari subjek foto itu sendiri. Menyaksikan foto ini membawa kita pada keheningan sesaat karena terhentak oleh sebuah gambaran kematian yang seketika.

Namun, dewasa ini liputan perang bukan hanya soal foto. Liputan media lainnya yang kian canggih mampu menghadirkan nuansa perang hingga ke ruang keluarga kita dalam bentuk yang terdistorsi. Perang kemudian hanya merupakan jalinan cerita tak bertepi, menggugah namun sekaligus hampa. Bagi generasi muda dewasa ini perang bahkan telah menjadi objek permainan menarik. Tengok saja permainan komputer semisal Call of Duty, Medal of Honor, dan masih banyak lainnnya. Narasi perang dijadikan media untuk meleburkan diri dalam suasana bermain-main. Unsur sejarah yang dikemas dalam permainan tersebut tak dapat dipungkiri adalah sejarah versi pemenang. Asumsinya, mana ada orang yang mau main jika ia jadi yang kalah. Menang dengan embel-embel kepahlawanan adalah misi sakral yang harus dicapai.

Dalam peperangan selalu dikisahkan tentang tokoh-tokoh yang memiliki peranan penting. Tokoh tersebut diberi kriteria pahlawan, entah karena keberaniannya atau keteguhan dalam mengemban tugas. Dalam kosakata umumnya, pahlawan memang orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, seorang pejuang yang gagah berani. Dari sana kata kepahlawanan dijelaskan sebagai perihal sifat pahlawan (seperti; keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan).

Dalam ruang imanjinasi yang tidak mengandalkan narasi besar, cara pandang terhadap sejarah bisa saja mengalami pergeseran. Termasuk cara pandang terhadap pahlawan. Agan disini bisa jadi terinpirasi dari model-model petualangan imajiner yang lekat dengan kehidupan generasinya. Sejarah yang disikapi dengan santai. Dan dalam kesantaiannya tersebut, Agan kemudian mengolah tangkapan sejarah dalam fotografi kedalam ruang imajinasinya dengan gaya satire yang unik. Ia menggeser pemaknaan fotografi perang kedalam versinya.

Namun uniknya, dalam karya Agan kali ini ia memilih untuk memasukan tokoh-tokoh “superhero” yang umum dikenal melalui komik-komik DC dan Marvel. Judul besar karya-karyanya memang SUPERHERO. Namun, apa maksudnya ketika ia menyajikan kehadapan kita secara berhadap-hadapan antara narasi sejarah dan sosok superhero? Mungkinkah Agan sementara hendak menyindir kita bahwa kita sementara hidup dalam narasi komikal? Atau bahwa sejatinya serorang pahlawan hanya ada dalam dunia komikal? Atau beginilah caranya memandang sosok pahlawan, yakni secara komikal? Entah lah. Walau demikian, dunia komikal memang memiliki daya tariknya sendiri. Kisah seru dalam jalinan aksi lengkap dengan bumbu-bumbu romantika adalah daya tarik utamanya. Dalam dunia komikal sosok superhero adalah tokoh dengan kemampuan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya, entah itu bawaan, ataupun diciptakan. Batman misalnya berbeda dengan Superman yang memiliki kemampuan bawaan khusus. Batman hanya mengandalkan olah raganya disertai alat-alat canggih yang ia miliki. Namun toh keduanya sama-sama memiliki seperangkat kekuataan yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Tokoh-tokoh ini dengan latar belakangnya masing-masing menjadi sosok pembela kebenaran dan kebajikan demi kepentingan orang banyak.

Lantas apa jadinya jika Batman ternyata turut andil dalam revolusi Sosialis Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro. Atau dalam medan tempur Cherbourg-Normandy bersama-sama dengan pasukan sekutu ada Spiderman dengan gayanya yang khas. Dan ada pula Batman ditengah-tengah Company E, 2502nd PIR (U.S. 101st Airborne Division). Ini semua pertama-tama membuat saya tertawa. Lucu memang, namun kemudian saya tertegun sejenak dengan suatu pertanyaan yang mengganggu. Dengan cara semacam inikah kita memahami narasi sejarah perang? Bukan tidak mungkin kisah sejarah yang mulai dipreteli unifikasi narasinya atas nama narasi kecil, dan dikemas dalam bentuk bermain-main akan menimbulkan problem dikemudian hari, di generasi yang akan datang. Dari sini entah mengapa tiba-tiba saya malah berpikir, bagaimana jika suatu waktu kelak, perang tak lebih sekedar simulasi dalam satu ruangan dengan banyak layar dan tombol. Dan orang-orang yang mengoperasikan sementara melakoninnya seakan-akan mereka sedang “bermain”. Ia tak lagi hadir dalam kehidupan kita. Terdengar janggal mungkin, namun yang janggal inilah yang saya tangkap sementara disasar oleh Agan. Bahwa kian lama perang kian kehilangan nuasa krisisnya. Ia hanya berita di televisi, foto-foto di medan perang yang dihargai sebagai foto tahun ini secara berkala. Perang di modifikasi kedalam bentuk simulasi permainan tanpa perduli dengan dampak yang sebenarnya dapat terjadi. Dan kepahlawanan kemudian hanya fiksi, layaknya dalam dunia komik dan permainan.

Setelah banyak bereksperimen di wilayah surealis, saya mengira Agan sekarang mulai lebih konsern masuk pada dimensi yang lebih bernuansa satire. Kesan dangkalnya memang hanya sekedar lelucon, buat lucu-lucuan. Namun, kalau mau dimaknai lebih dalam, kita dapat menemukan keprihatinan yang tidak main-main. Revolusi digital hari-hari ini dipakai Agan untuk melakukan perlawanan terhadap revolusi itu sendiri. Sebuah revolusi superhistory.

History is the present. That's why every generation writes it anew. But what most people think of as history is its end product, myth.

-E.L.Doctorow-



http://www.trendhunter.com/trends/super-hero-photgraphy

http://www.formatmag.com/news/agan-harahap-super-hero-photography/

http://www.hanshaupt.com/2009/10/16/heroes-and-villains-escaping-reality/


Selasa, 29 September 2015

Hari Hoax Nasional






Hoax/ Sebuah pemberitaan palsu, adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya. 


Mungkin karena terlalu sering menggunakan photoshop dalam berkarya, sehingga apapun yang saya posting atau bahkan yang saya tuliskan, terlanjur dianggap hoax oleh followers saya di sosial media. Bahkan beberapa kerabat dekat sampai keluarga saya juga kerap meragukan apapun yang saya sampaikan kepada mereka.
Tapi tentu saja, (gambar dan narasi) hoax yang saya hasilkan selama ini berbeda secara praktik dan tujuannya dengan segala macam hoax yang dilancarkan oleh saudara-saudara dari Piyungan dan Trio Macan, misalnya. Tapi bagaimanapun juga hoax adalah hoax. Apapun bentuknya itu.

Sama halnya dengan hal-hal lain yang menyangkut kepentingan hajat hidup orang banyak, saya rasa kita sebagai bangsa yang besar, perlu membuat satu hari agar dirayakan (diperingati) sebagai Hari Hoax Nasional. Dan waktu yang tepat untuk memperingati Hari Hoax Nasional adalah tanggal 1 Oktober. Ya, hari yang sama dengan Hari Kesaktian Pancasila yang setiap tahunnya digelar berbagai ritual (upacara)  guna mengenang wafatnya 7 pahlawan revolusi sekaligus mengikrarkan kebulatan tekad agar terus waspada akan berbagai bahaya laten yang mengancam kepentingan orang-orang tertentu di pemerintahan yang sudah merugikan negara demi kepentingannya sendiri.

Omong-omong, entah kenapa mereka malah mencantumkan kata 'kesaktian'. Yaa memang sih tidak bisa dipungkiri bahwa kita adalah bangsa penggemar klenik. Tapi ada sedikit rasa kurang nyaman di hati saya ketika harus mengakui dan mempercayai kesaktian dari sebuah paham atau ideologi yang menjadi dasar negara kita. Sebab bagi saya, kata sakti atau kesaktian itu kesannya lebih pantas bila disandangkan dengan praktik-praktik klenik dan ritual-ritual magis dari seorang dukun. Buat saya, kata kesaktian itu juga erat kaitannya dengan tokoh-tokoh fiksi superhero yang memiliki kemampuan supranatural diluar nalar.

Setelah reformasi, dan keruntuhan rezim Orde Baru, rangkaian peristiwa seputar 65 yang selama ini diselimuti kabut misteri, secara perlahan namun pasti mulai terungkap. Bahwa pada tanggal 1 Oktober, 50 tahun yang lalu, adalah hari dimulainya tahapan kudeta terhadap pemerintahan Soekarno dengan serangkaian hoax. Ya, hoax dengan skala dan efek yang jauh lebih besar dan dahsyat dari hoax-hoax yang saya atau saudara-saudara Piyungan itu pernah lakukan (da aku mah apa atuh..). Hoax yang mengakibatkan menurunnya populasi bangsa ini secara drastis dalam waktu singkat. Hoax yang membutakan hati nurani dan akal sehat selama puluhan tahun. Hoax yang menyebabkan bangsa kita terpuruk dalam belitan hutang luar negeri yang efeknya masih kita rasakan dengan jelas sampai hari ini. Tapi saya tidak akan berpanjang lebar perihal hoax tentang kesaktian mandra guna serta efeknya maha dahsyat itu dalam tulisan ini.

Intinya, kita tidak butuh embel-embel kesaktian atau ungkapan lebay lain untuk mempertahankan dasar dan ideologi negara. Itu malah hanya akan membuat kita terdengar semakin pandir. Hoax, bagaimanapun bentuknya, hanya akan bisa diretas dengan menggunakan nurani dan akal sehat. Apakah kita akan tetap merayakan hoax itu sembari berikrar untuk tetap membenci dan membasmi saudara-saudara kita sendiri sampai ke akar-akarnya? Ataukah kita akan mulai menggunakan hati nurani dan akal sehat untuk bergerak membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik? Nah! Selagi kamu memutuskan pilihan mu, ijinkan saya mengucapkan selamat Hari Hoax Nasional! Semoga Tuhan memberkati.







Yogyakarta, 30 September 2015


Agan Harahap
 

Senin, 20 Desember 2010

The Jakarta International Photo Summit “City of Interaction”The Jakarta International Photo Summit “City of Interaction”

*GALERI NASIONAL INDONESIA
Jl. Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat 10110
Tel: 021 34833954, 34833955, 3813021, Fax: 021 3813021
email: galnas@indosat.net.id


Safari & Superhero @ Galeri Nasional :




Other works that i like :












By :

ADEK BERRY | AGAN HARAHAP | AIKO URFIA RAKHMI | AKBAR NUGROHO GUMAY | ALDY PRADIKTA | ANDI ARI SETIADI | A.P. JAKA UTAMA G. S. | ARDILES RANTE | AYE KO | BAHANA PATRIA GUPTA | BARMEN SIMATUPANG | BEAWIHARTA | BOBY NOVIARTO | BOY T HARJANTO | BUDI ASTONI | CHARLES LIM | CLARA PRIMA | DENNY YOSHUA LUMONDANG | DENY ADAM ARFIANTO | DHEMAS REVIYANTO ATMODJO | DONANG WAHYU | DWI OBLO | DWIANTO WIBOWO | EDDY HASBY | EDY PURNOMO | ERIK PRASETYA | FANNY FAJARIANTI | FERGANATA INDRA RIATMOKO | GAYATRI SUROYO | HANNY DWI JAYANTHI | HARI ATMOKO | I GEDE MANGKU ANTERO JAYA | ILHAM THAMRIN | INDAH PRATIWI | ISMAR PATRIZKI | IWAN SETIYAWAN | JAN BANNING | JOHANNES CHRISTO | JULIA SARI SETIATI | KEMAL JUFRI | LAM HIEU THUAN | LAVANDA WIRIANATA | MAKIYAH MUNAWAROH | MAMUK ISMUNTORO | MARIA GORETTI | MATAHARI MAHADHIKA | MERAPI VOLCANO MUSEUM | MOCHAMMAD RANDY | NGUYEN TUONG LINH | NIKEN LARASATI | NOVERADIKA | NUGROHO ADIWEDA | NURHAYATI | PANJI NAYANTAKA | PAUL KADARISMAN | RADITYO WIDYATMOJO | RAHMAD GUNAWAN | RAMDANI | RENO ESNIR | RICKY ADRIAN | RINO ANUGRAWAN | RIZKY ARIEFANTO | ROKI PANDAPOTAN | RUTH HESTI UTAMI | SLAMET RIYADI | STEPHANY YAYA SUNGKHARISMA | SURYO WIBOWO | SUSANTO | TAN CHEE HON | THORIQ RAMADANI | TRISNADI | WAHYU PUTRO A | ZHUANG WUBIN | ZUL EDOARDO


Minggu, 03 Oktober 2010

Daegu Photo Biennale 2010

agan harahap

Daegu Photo Biennale adalah ajang festival fotografi terbesar di Asia yang pertama kali diadakan tahun 2006. Acara ini diselengarakan di Daegu Culture and Arts Center, Bongsan Culture Center dan beberapa galeri lain di kota Daegu, Korea Selatan.

Dengan tema “true(E)motion,” or “Landscape Calling Us,” festival tahun ini memperkenalkan foto-foto yang menunjukkan sudut pandang yang menarik antara manusia dan lingkungannya. Tema yang memiliki multi arti antara 'E' untuk emosi dan 'E' untuk ekologi dan lingkungan. Terdapat 245 fotografer dari 22 negara di Eropa dan Asia memamerkan karya-karya terbaik mereka.

Festval ini dibagi menjadi beberapa section.

"Asia Spectrum " adalah salah satu 'special exhibition' yang diikuti oleh 23 fotografer yang berasal dari negara-negara Asia seperti Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, China, Jepang dan Korea. Section ini mencoba mengetengahkan trend fotografi terbaru di Asia.

"Speaking Out Peace " adalah 'special exhibition' lainnya yang diadakan di sebuah hall sendiri memamerkan karya foto-foto dokumentasi perang dari fotografer legendaris Robert Capa.

Ada juga satu section terpisah yang memamerkan karya dari "Helsinski School". Fotografer-fotografer kontemporer lulusan dari University of art and Design Helsinski , sebuah sekolah seni yang paling bergengsi di Finlandia yang telah berdiri sejak 140 tahun yang lalu.

Dua sections lainnya adalah ― “Seconds of Life” and “Breaking the Edge” ― masing-masing berfokus pada hubungan antara manusia dan lingkungannya. Aneka karya-karya fotografi dan video dengan mengeksplorasi beragam gambar realistis dan fiktif ditampilkan dalam section ini.

prescon, opening ceremony and blablabla..










ASIA SPECTRUM :

( me, my friends and their works )



Wang Qingsong


Kim Joon


Angki Purbandono


Shoei Nishino and Maleonn


Li Wei


Takashi Homma


Yoo Hyun Mi


About Me And My Superhero :




Helsinski School :

Noomi Ljungdell


Hannu Karjalainen


Heli Rekula


Nelli Palomaki


Ulla Jokisalo


Salah satu peserta Daegu Photo Biennale 2010 :



Berikut, adalah beberapa karya foto dari section lain yang cukup menarik menurut sudut pandang saya :

Adam Panczuk and Danielle Van Ark


Denise Gruenstein and Ori Gersht


Ryu Ho-Yeol


Yeorrock and Koo Sung Soo


Yoon Jeong Mee


Saya sebagai 'new comer' dan salah satu perserta yang paling muda dari "Asia Spectrum" sungguh berbangga hati dapat berpameran bersama kampiun-kampiun fotografi Asia yang sudah malang melintang di ranah fotografi kontemporer dunia. Beberapa nama besar Asia seperti Wang Qingsong, Li Wei, Maleonn, Sherman Ong, Angki Purbandono, Shoei Nishino, Manit Sriwanichpoom, serta beberapa 'jagoan-jagoan' lain dapat bersama-sama di bawah satu atap menunjukkan karya-karya mutakhir mereka dalam perhelatan foto terbesar di Asia ini.

Rasa-rasanyawaktu 1 hari tidak akan mungkin untuk menikmati ribuan karya-karya foto mutakhir yang dipamerkan di main hall exhibition (saja). Belum lagi belasan pameran foto lain yang diselenggarakan di berbagai tempat dan galeri-galeri yang tersebar di penjuru kota Daegu.
Namun, dalam waktu 1 menit, saya sudah bisa untuk merasa iri apabila membandingkannya dengan pameran-pameran fotografi atau seni rupa yang berlangsung di Indonesia. Dengan segala daya upaya, mereka mampu mengangkat derajat fotografi sehingga bisa mendapat porsi tersendiri dan berdiri sejajar dengan karya-karya seni rupa lainnya.

Lantas, bagaimana dengan di Indonesia? entahlah..
Dengan mentalitas dan berbagai sumber daya yang masih jauh tertinggal, rasa-rasanya memang tidak mungkin untuk negara kita membuat perhelatan fotografi akbar semacam ini.

Akan tetapi, dari jauh lubuk hati yang paling terdalam, besar harapan saya agar di kemudian hari negara kita mampu mendapat pengakuan dan kepercayaan dalam kancah internasional dengan menyelenggarakan event-event budaya seperti ini dan negara kita dapat berdiri sejajar dengan negara-negara lainnya di dunia.

Terimakasih

Agan Harahap