Senin, 11 Juli 2011

BEASTLY 2011 @ Rumah Seni Cemeti

agan harahap

Memandang Mereka

Heru Hikayat *

Ada film-film berbiaya amat besar seperti “Water World” dan “Avatar”, menceritakan tentang keruntuhan peradaban manusia. Kenapa kisah kehancuran peradaban bisa disukai amat banyak orang?

Sindhunata, dalam pengantar Basis Edisi Khusus Perubahan Iklim, mengajukan pokok soal teologi kristiani yang mengkafirkan pemujaan pada alam turut bertanggung jawab terhadap perusakan alam. Karena alam tidak lagi dipuja, maka maka alam diperas. Manusia jumawa di hadapan alam. Dengan memegang premis ini, sekarang saya mau mengajukan diskusi: bahwa pokok-soalnya adalah cara pandang.

Kapan terakhir kali Anda melihat kawanan binatang di dekat Anda? Mengambil teladan esai John Berger “Why Look at Animals?”, saya mengajukan di sini bahwa kata “melihat” dalam kalimat sebelumnya menunjukan jarak. Jarak ini akan lebih terentang lagi jika kita merinci kawanan binatang yang dimaksud: antara binatang ternak dan binatang liar. Jika Anda merasa pengalaman melihat kawanan binatang—baik ternak atau apalagi liar—langka, maka bisa Anda bayangkan, orang-orang yang terbiasa hidup di antara kawanan binatang liar (bukan sekedar melihat) berada nun jauh di sana, di masa lalu, atau di ruang-ruang yang belum (banyak) terjangkau oleh peradaban kita.

Berger mendaku, retakan antara manusia dan binatang dimulai di abad IX dan disempurnakan oleh kapitalisme abad XX.



Bagi saya pribadi, saat ini, binatang terdekat adalah anjing peliharaan. Samar-samar saya teringat, bertahun-tahun lalu, pernah melihat siaran di tivi mengenai satu unsur yang selalu ada dalam kampanye calon-calon presiden Amerika Serikat dari jaman ke jaman: anjing. Sepertinya bagi para calon presiden tersebut, dalam menunjukan citra kebaikan keluarga mereka, anjing adalah unsur penting. Barangkali saya terpengaruh oleh kebiasaan ala kelas mengengah-kota ini, mungkin juga oleh hal-hal lain; yang jelas memang ada sensasi tersendiri—dalam ungkapan James Herriot: anjing memuja manusia. Sebelumnya, setiap kali pulang ke rumah, tak ada siapapun yang menanti saya. Kini, setiap kali pulang, saya disambut dua makhluk yang benar-benar tampak gembira, dan mereka gembira karena saya datang. Anjing adalah binatang yang paling ekspresif menunjukan kegembiraan mereka. Saya memandang mereka, mereka juga memandang saya. Saya punya perasaan, mereka juga punya.


Bagaimanapun anjing dekat dengan manusia dalam keadaan terdomestifikasi. Pola hubungannya hierarkis. Ini berkaitan dengan sejarah panjang hubungan manusia dan anjing. Berger kemudian membandingkan kebun binatang dengan galeri seni rupa: pengunjung berjalan dari kandang ke kandang, memandangi binatang-binatang itu, serupa dengan kelakuan pengunjung galeri, berjalan memandangi satu lukisan ke lukisan lain. Di sini tidak ada lagi saling melihat. Tindak melihat datang dari satu arah: manusia.

Hari-hari ini, salah satu berita aktual di media massa kita adalah penyiksaan atas binatang di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Penyiksaan ini kemudian mengganggu hubungan dagang Indonesia dan Australia. Berita ini, selain mendedahkan pertanyaan tentang seberapa kita tahu bagaimana makanan kita diproduksi juga mengajukan pertanyaan lain: apakah memandang binatang sebagai makanan adalah sesuatu yang wajar atau merupakan penurunan cara pandang?


Pernah lihat piring plastik bergambar motif daun pisang? Dulu makanan dibungkus dengan dedaunan, terutama daun pisang. Daun pisang juga dipergunakan untuk piring sekali pakai. Orang Sunda bilang “pincuk”. Kata pincuk menunjuk bendanya sekaligus kerjanya: tindak membungkus makanan. Kini lebih banyak bentuk piring, dari kertas dan plastik, amat murah dan praktis. Pincuk menghilang. Piring plastik bermotif daun pisang menunjukan alam dirindukan sekaligus dinafikan–kita tahu, plastik sangat tidak ramah lingkungan. Alam dirindukan, alam eksotis: memikat, sekaligus misterius dan berjarak.

Alfred Russel Wallace-lah yang pertama kali mengajukan proposisi tentang pergerakan benua. Dia takjub atas kedekatan jarak antara Pulau Bali dan Lombok, namun flora dan faunanya begitu berbeda. Kontras ini bagi Wallace bisa dijelaskan jika kita mau menerima proposisi yang lebih radikal: dahulu kala kedua pulau ini tidak dekat. Bagi ilmuwan alam macam Wallace, memandang flora dan fauna merupakan cara untuk meningkatkan pemahaman kita mengenai dunia.

Ilmuwan macam Wallace adalah juga penjelajah. Wallace hidup di masa rute ke “dunia baru” telah cukup mapan hingga memungkinkan misi penjelajahan yang lebih ragam. Di masa ini ada banyak orang menjadi terkenal karena penemuan-penemuannya. Berbagai-bagai misi penjelajahan mengalirkan kekayaan ke jantung peradaban Eropa. Museum dipenuhi berbagai benda eksotis dari Timur. Selain benda-benda eksotis, binatang juga dilayarkan ke Eropa untuk memuaskan hasrat memandang masyarakat yang haus akan keajaiban dari dunia baru. Kebun binatang mulai dikenal pada masa-masa ini. Kebun binatang adalah juga museum: tempat penyimpanan unsur dari masa lalu yang makin menghilang.

Penyiksaan di beberapa RPH di Indonesia yang belakangan ini banyak diberitakan, barangkali benar adanya, barangkali juga tidak sepenuhnya demikian. Barangkali benar ada penyiksaan namun tidak lebih buruk daripada penderitaan yang dialami binatang-binatang ternak di Concentrated Animal Feeding Operations (CAFO). Di CAFO tak akan ada peternak yang punya hubungan emosional dengan ternaknya. Ini sangat ambigu: binatang dimanja sekaligus dimakan. Di CAFO ambiguitas itu tak ada. Karena CAFO bukanlah peternakan, melainkan pabrik. Tindak saling memandang antara manusia dan binatang makin menghilang.

Adegan pembuka film The Last of The Mohicans adalah perburuan rusa oleh ketiga anggota suku Mohicans yang nyaris punah itu. Sebelum si rusa yang tertembak disembelih, Si Indian menyatakan hormatnya atas kecepatan dan kekuatan binatang itu. Industri makanan hari ini makin tidak punya tempat bagi cara pandang menghormat pada binatang.

Apakah kita ingat pernah memandang binatang sebagai ibu? Ataukah kita terlalu terbiasa memandangnya sebagai makanan?

Sebuah pameran seni rupa yang menjelajahi hubungan manusia dan binatang bisa menjadi representasi atas cara pandang manusia pada binatang atau sekalian pernyataan keberpihakan pada cara pandang tertentu. Rasanya tidak akan ada orang yang bisa menyangkal keberhasilan Raden Saleh dalam menggambarkan keagungan dan kekuatan binatang. Namun bukan hanya itu: di sana juga ada keliaran. Liar adalah di luar kendali manusia. Bagaimanakah kita, seniman-seniman di masa sekarang, memandang binatang?

*) Heru Hikayat, kurator seni rupa, tinggal di Bandung